Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Menghargai Kesepakatan
Masih saja pria itu mematung di tengah ruangan dengan lidah kaku, sementara kerongkongannya mendadak kering kerontang kala berhadapan wanita tajir yang duduk dengan gaya santai di atas sofa kulit, menyilangkan kaki jenjangnya sembari mengambil potongan apel satu per satu menggunakan garpu. Jika ditanya soal ekspresi wajah wanita itu, sudah pasti datar, meski tatapannya terasa menusuk hingga ke ulu hati pria di hadapannya.
Setiap detik yang berlalu dalam kesunyian itu terasa seperti hitungan jam bagi Darren, lantaran menyadari bahwa dia tidak bisa terus diam jika ingin selamat dari kecurigaan bosnya. Akhirnya, dia memberanikan diri membuka mulut, menjelaskan bahwa alasannya menemui Wonyoung semata-mata karena tidak sengaja mendengar adik Seo yeon itu sedang membahas perihal properti hunian. Darren berdalih bahwa Wonyoung memiliki beberapa gagasan menarik mengenai desain rumah yang bagus, dan hal itu memicu rasa penasarannya.
Seo yeon pun menghentikan aktivitas makannya. Alisnya terangkat tinggi. “Kau mendadak tertarik untuk membeli rumah? Apa tinggal di penthouse ini membuatmu merasa tidak betah?”
Darren segera menggerakkan kedua telapak tangannya dengan cepat di depan dada, tanda panik yang luar biasa. “B-bukan begitu, Nona! Sama sekali bukan karena itu!”
“Aku sudah menyuruhmu memanggil namaku saja.”
“Ahh, iya.” Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari menarik napas dalam. “Tapi sebenarnya... aku berniat membelikan rumah yang jauh lebih layak untuk ibuku. Rumah lamanya sudah banyak yang bocor jika hujan turun.”
Seo yeon menatap Darren dalam waktu yang cukup lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lebih sibuk menggigit potongan apel terakhirnya, mengunyah perlahan, lalu menelannya dengan anggun. Wanita itu meletakkan piring kecil yang sudah kosong ke atas meja kaca, lalu bangkit berdiri. Adapun Shinta yang sedari tadi menunggu dengan setia di sudut ruangan segera melangkah maju dengan sigap. Gadis itu mengambil piring kotor tersebut, membungkuk hormat, lalu segera berlalu menuju dapur.
Seo yeon melipat kedua tangan di depan dada. “Rumah model seperti apa yang sebenarnya kamu butuhkan untuk ibumu?”
“Sederhana saja, Nona—Seo yeon. Yang terpenting adalah kelayakan bangunannya agar tidak lagi bocor saat hujan,” jawaban Darren itu begitu jujur.
Meski dia sebenarnya hendak menjelaskan bahwa dirinya sudah memiliki cukup tabungan di dalam saldo Rekening Sistem miliknya. Saldo sebesar Rp7,93 miliar sudah lebih dari cukup untuk membeli hunian yang nyaman. Namun, Seo yeon mendahului kalimatnya dengan isyarat yang tidak menerima bantahan apapun.
“Aku yang akan membelikan rumah itu untukmu. Satu miliar? Dua miliar? Atau tiga miliar sekalipun? Kamu tinggal tentukan pilihannya,” Seo yeon berbicara begitu enteng.
Dan itu membuat Darren terkejut bukan main. Tanpa sempat berpikir panjang mengenai etika, dia melangkah maju dan secara impulsif meraih tangan Seo yeon.
“Nona, sungguh tidak usah. Aku sanggup membelinya sendiri dengan uang hasil kerjaku selama ini.”
Merasakan sentuhan, Seo yeon pun berusaha melepaskan genggaman tangan itu, dan Darren baru menyadari kelancangannya setelah melihat tangan bosnya bergerak menjauh. Lekas-lekas dia melepaskan pegangannya, lalu membungkuk berulang kali sebagai bentuk permintaan maaf yang tulus.
“Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar khilaf dan tidak bermaksud tidak sopan. Mohon maafkan saya.” Wajahnya sampai memerah karena malu.
Sementara Seo yeon mengibaskan tangannya di udara, seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu. “Sudahlah, urus saja kebutuhanmu sendiri. Namun jika nanti uangmu ternyata kurang, jangan pernah sungkan untuk memintanya padaku.”
Wanita itu melangkah pergi menuju kamar pribadinya, lalu menutup pintu rapat tanpa menoleh lagi. Sedangkan Darren masih berdiri terpaku di tempatnya, tidak percaya dengan interaksi yang baru saja terjadi. Setelah memastikan pintu benar-benar tertutup, Darren secara sembunyi-sembunyi mencium telapak tangannya sendiri. Tangan yang baru saja menyentuh pergelangan tangan Seo yeon itu tercium sangat wangi. Aroma parfum mahal yang sangat eksklusif bercampur dengan kesegaran sabun mandi.
“Dasar mesum, bisa-bisanya kamu berpikir seperti ini,” batin Darren sembari merutuki tindakannya. Kendati demikian, dia tidak bisa berhenti mengagumi aroma yang masih tertinggal di tangannya itu.
Keesokan paginya, Darren sudah berada di balik kemudi untuk berkeliling kota mencari perumahan yang sesuai. Alih-alih sendirian, ternyata Seo yeon memutuskan untuk ikut serta. Alasannya, mereka sekalian akan menjemput Wonyoung yang sedang menghadiri acara jumpa penggemar di salah satu pusat perbelanjaan ternama.
Mobil mewah itu melaju dengan tenang memasuki sebuah kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Darren mengamati deretan rumah layaknya istana dengan halaman luas yang asri, kolam renang pribadi, serta taman yang tertata sangat rapi oleh jasa arsitek lanskap profesional.
Sementara Seo yeon sibuk menunjukkan satu per satu unit bangunan melalui jendela mobil. “Menurut dataku, ini adalah harga yang paling murah di kawasan hunian ini.”
Darren merasa tubuhnya mendadak lemas. Sandaran kursi mobil yang sangat empuk itu kini terasa terlalu nyaman bagi tubuhnya yang ingin jatuh pingsan karena syok.
“Paling murah?”
“Dua setengah miliar rupiah,” jawab Seo yeon.
Darren menelan ludah dengan susah payah. Di matanya, rumah “murah” versi Seo yeon itu sudah menyerupai sebuah istana kecil berlantai dua dengan garasi yang sanggup menampung tiga unit mobil serta taman belakang yang memiliki pohon palem. Mereka terus berpindah dari satu lokasi perumahan ke perumahan lainnya. Seo yeon selalu melabeli setiap pilihan dengan istilah “murah”, “standar”, atau “cukuplah untuk sementara”. Darren benar-benar tidak sanggup membayangkan seberapa tinggi standar kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Han ini.
Pada akhirnya, tidak ada satu pun rumah yang dirasa cocok karena Darren menyadari bahwa ibunya sama sekali tidak membutuhkan kemewahan yang berlebihan. Sang ibu hanya butuh hunian sederhana yang bersih, aman, dan yang terpenting adalah bebas dari kebocoran atap.
Kendaraan mereka berhenti di sebuah persimpangan karena lampu lalu lintas berwarna merah. Seo yeon terus menjelaskan rincian kriteria tempat tinggal yang ideal menurut pandangannya seperti dekat dengan fasilitas kesehatan, pusat belanja, tempat ibadah, memiliki halaman yang memadai untuk taman, serta didukung sistem keamanan terpadu selama 24 jam.
Sementara Darren hanya memberikan anggukan-anggukan kecil sebagai tanggapan, namun fokus matanya mendadak tertuju pada pemandangan di luar jendela sebelah kanan. Lebih tepatnya di depan gerbang utama kantor polisi itu, terlihat dua orang pria keluar bersama seorang pejabat tinggi kepolisian yang mengenakan seragam dinas lengkap.
Mau dikucek berapakalipun matanya, dia tetap menyimpulkan jika pria itu adalah William Kusuma, sang pengusaha berparas malaikat. Adapun Budiman Santoso, pria berkumis tebal yang sempat dilihat Darren sedang melakukan transaksi narkoba di pelabuhan waktu lalu juga ada di sana. Mereka bertiga tampak berjabat tangan dengan sangat akrab sembari tertawa lepas, seolah sedang merayakan sesuatu.
Oleh sebab itulah jantung Darren jadi tidak karuan. Jika Seo yeon sampai melihat pemandangan ini, kerahasiaan penyelidikan Darren bisa terancam. Masalahnya Seo yeon mulai menggerakkan kepalanya, hendak menoleh ke arah yang sama untuk mengikuti arah tatapan Darren.
“Seo yeon, coba lihat ke arah kiri itu!” seru Darren dengan cepat sembari menunjuk ke sisi jalan yang berlawanan. “Bangunan itu memiliki arsitektur yang sangat unik, bukan? Pasti mahal ya? He he.”
Dengan polosnya Seo yeon menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Darren. Pria itu mengembuskan napas lega karena berhasil mengalihkan perhatian bosnya. Namun, lampu lalu lintas masih menunjukkan warna merah yang seolah tidak kunjung berubah. William dan Budiman masih berdiri di depan kantor polisi, terlihat sedang membicarakan hal serius dengan kepala polisi tersebut sebelum masuk ke dalam mobil mewah mereka.
“Jika kita meninjau dari aspek investasi jangka panjang—” Seo yeon mulai melanjutkan penjelasannya lagi.
“Nona, sepertinya makanan di pinggir jalan sana terlihat sangat lezat. Apa itu kerak telor?” ganggu Darren lagi demi menjaga pandangan Seo yeon tetap ke arah kiri.
Seo yeon menoleh sebentar ke arah penjual makanan tersebut, lalu kembali menatap ke depan. “Kita nggak punya waktu luang untuk jajan di pinggir jalan sekarang.”
Lampu hijau akhirnya menyala, namun kendaraan di depan mereka masih belum bergeming juga. Darren yang menyadari bahwa dalam hitungan detik Seo yeon pasti akan menoleh ke arah kanan secara alami. Tanpa sempat memikirkan konsekuensi panjang, tangan Darren meluncur dengan cepat meraih dagu Seo yeon dan menahannya agar tetap menghadap lurus ke depan.
Seo yeon mendadak bisu seribu tahun kala tubuhnya membeku karena sentuhan yang tidak terduga itu. Bahkan mobil di belakang mulai membunyikan klakson dengan nyaring, memaksa mobil mereka untuk segera melaju. Darren baru menyadari tindakannya yang sangat berani itu sebelum melepaskan tangannya, lalu membungkukkan tubuhnya serendah mungkin di dalam ruang kabin yang sempit, seolah sedang bersiap menerima hukuman mati.
“Mohon ampun, Nona! Saya benar-benar khilaf lagi! Saya tidak tahu mengapa tangan saya bergerak sendiri tanpa kendali!” seru Darren dengan penuh penyesalan yang dibuat-buat.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota saat Seo yeon memilih untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sedangkan Darren tidak memiliki keberanian untuk menoleh ke samping, pandangannya hanya terpaku lurus pada aspal jalanan di depannya. Setelah beberapa saat berlalu dalam kecanggungan, Seo yeon akhirnya berbicara.
“Lain kali, jika kamu memang berniat untuk menyembunyikan sesuatu dariku, usahakan agar caranya tidak terlalu mencolok seperti tadi.”
“Anu... itu—“
Darren tidak mampu memberikan jawaban apa pun. Lidahnya seolah terkunci rapat. Sampai mereka tiba di pusat perbelanjaan untuk menjemput Wonyoung. Gadis itu naik ke kursi belakang dengan penuh semangat, menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan para penggemar setianya. Seo yeon mendengarkan setiap cerita adiknya dengan penuh kesabaran dan Darren tetap bungkam di kursi kemudi, sementara pikirannya berkecamuk memikirkan fakta yang baru saja dilihatnya.
Fakta bahwa William dan Budiman memiliki hubungan yang sangat akrab dengan kepala polisi setempat memberikan sinyal bahaya yang nyata. Hal ini berarti mereka memiliki jaringan koneksi yang sangat kuat dan berpengaruh. Jika Darren mencoba memojokkan William, dia tidak hanya akan berhadapan dengan kekuatan bisnis, namun juga potensi benturan dengan aparat hukum yang telah disuap.
Belum lagi masalah Wonyoung yang masih terlibat di dalam lingkaran tersebut. Jika Seo yeon sampai mengetahui fakta pahit mengenai adiknya, Darren yakin kedamaian keluarga Han akan hancur berkeping-keping.
“Aku tidak boleh membiarkan Seo yeon mengetahui hal ini untuk sementara waktu,” batin Darren sembari menggenggam setir dengan erat. Dia menyadari bahwa dia harus mulai bergerak dengan jauh lebih hati-hati dan sembunyi-sembunyi agar tidak memancing perhatian dari pihak lawan maupun dari pihak keluarga Han sendiri. Strategi yang lebih matang kini sangat dibutuhkan untuk menghadapi jaringan yang ternyata jauh lebih luas dari perkiraannya.