Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PIL SURGAWI DAN GEGERKAN SELURUH KOTA
Butir pil emas itu melayang perlahan di udara, memancarkan cahaya hangat yang sangat lembut. Tidak ada ledakan energi, tidak ada aroma yang menyengat. Justru, aroma yang keluar sangat segar, seperti bunga musim semi yang mekar di puncak gunung bersalju.
Saat aroma itu menyebar...
HAP!
Semua orang di restoran itu secara refleks menarik napas dalam-dalam. Tubuh mereka terasa segar, pikiran mereka yang kusut menjadi jernih, dan bahkan rasa sakit akibat pertarungan tadi berkurang drastis hanya dengan menghirup wanginya saja!
"Ini... ini aromanya?!" Master Hua yang tadi marah-marah, kini mulutnya ternganga lebar, matanya menatap butir pil itu seperti melihat harta karun terbesar di dunia. Tangannya gemetar hebat, ingin mengambil tapi takut berani.
"Suci... Energinya begitu murni... Tidak ada satu pun kotoran atau efek samping..." Yue Yao, perwakilan Guild Alkemis, melangkah maju selangkah, matanya berbinar tak percaya. "Ini kualitas... Ini kualitas Pil Tinggi Suci! Bahkan lebih baik dari stok gudang utama Guild kami!"
Penghinaan yang Nyata
Chen Si menangkap kembali pil itu dengan mudah.
"Kalian lihat bedanya?" tanya Chen Si santai sambil memutar-mutar pil itu di jari-jarinya. "Pil yang kau buat, Master Hua, warnanya merah pekat tapi tidak rata. Itu tandanya api yang digunakan tidak stabil, dan bahan-bahannya tidak dimurnikan sampai akar. Memang menyembuhkan luka luar, tapi menyisakan racun di dalam darah. Pemakaian jangka panjang bikin umur pendek."
Setiap kata Chen Si seperti palu godam yang menghantam kepala Master Hua. Wajah dokter tua itu pucat pasi, keringat dingin mengalir deras di punggungnya.
"Dan bentuknya..." Chen Si menunjuk pil merah di tangan Master Hua. "Pil itu permukaannya kasar. Itu tandanya teknik pemadatanmu buruk. Energi mudah bocor keluar, jadi masa kadaluarsanya pendek."
Chen Si lalu menunjuk pil emas di tangannya.
"Lihat yang ini. Warnanya rata, permukaannya licin seperti cermin, aromanya menenangkan. Ini baru disebut karya seni. Dimasukkan ke dalam mulut, langsung luluh dan terserap sempurna tanpa membebani organ dalam."
"Omong... omong kosong!!" Master Hua berteriak meski suaranya sudah tidak yakin. "Kau pasti mencurinya dari suatu tempat! Mana mungkin anak muda sepertimu punya skill level itu! Itu mustahil!"
"Mustahil?" Chen Si tersenyum dingin. "Karena kalian lemah, maka kalian pikir orang lain juga sama lemahnya. Baiklah. Kalau kalian tidak percaya, aku buatkan di depan mata kalian sekarang juga."
Membuat Pil di Atas Meja Makan
"Apa?! Sekarang juga?!" kerumunan orang berteriak heboh.
"Di sini? Di restoran ini?"
Chen Si tidak peduli. Ia melambaikan tangannya.
"Teknik Alkemis: Ruang Pemuatan!"
WUSH!
Sebuah lapisan energi transparan meluas, menutupi meja besar di depannya. Udara di dalam area itu seketika menjadi panas namun terkendali.
Chen Si merogoh tas penyimpanannya. Ia tidak mengambil bahan-bahan mahal yang langka. Ia hanya mengambil beberapa bahan biasa yang ada di tas hasil rampokan tadi: beberapa potong akar rumput hijau, beberapa butir buah merah, dan sedikit bubuk kristal biasa.
Bahan-bahan itu adalah barang kelas rendah yang bisa dibeli di pasar mana pun!
"Lihat baik-baik," kata Chen Si.
Tanpa menggunakan tungku, tanpa menggunakan kipas, dan tanpa membaca mantra rumit.
Chen Si hanya mengangkat kedua tangannya.
"Api Roh: Nyala Suci!"
SREET!
Api berwarna biru muda muncul dari telapak tangannya sendiri! Api itu tidak membakar meja, tidak membakar bajunya, tapi sangat terpusat.
"Api dari dalam tubuh?! Api Roh Jenis Kedua?!" Yue Yao menjerit kaget. "Itu kemampuan yang hanya dimiliki Alkemis level Tiga Bintang ke atas!"
Chen Si tidak menggubris. Ia memasukkan semua bahan ke dalam api di tangannya.
Aksi selanjutnya membuat semua orang terpana mati.
Tangan Chen Si bergerak secepat bayangan. Ia memisahkan unsur-unsur kotoran dari bahan itu dengan getaran halus, ia memanaskan bagian tertentu dengan presisi mikroskopis, ia mencampur rasio bahan dengan sempurna tanpa perlu menimbang.
Gerakannya indah, mengalir seperti air, mematikan namun artistik.
Hanya dalam waktu... TIGA BELAS NAPAS!
DING!
Suara lonceng kecil terdengar saat proses selesai.
Api biru itu menghilang. Dan di telapak tangan Chen Si, kini terdapat sepuluh butir pil bulat sempurna, berwarna hijau zamrud yang bersinar terang!
Aroma obat yang luar biasa menyebar ke seluruh restoran, bahkan sampai keluar jalanan!
Dunia Terbalik
"SELESAI?!" Master Hua hampir jatuh dari kursinya. "Dari bahan sampah jadi pil bagus? Dan waktunya cuma sebentar?! Aku butuh waktu tiga hari tiga malam untuk hasil yang jauh lebih buruk!"
Chen Si meletakkan pil-pil itu di atas piring giok.
"Ini adalah Pil Perkuat Daging Hijau. Kualitasnya standar sih, lumayan untuk murid-murid level rendah," komentar Chen Si santai.
Yue Yao berlari mendekat, tangannya gemetar saat mengambil satu butir. Ia memeriksanya dengan mata spiritualnya.
"Tidak ada cacat... Sempurna... Murni 100%!" Yue Yao menatap Chen Si dengan pandangan yang berubah total. Dari penasaran, kini menjadi hormat yang luar biasa. "Tuan... Tidak! Guru! Mohon maafkan ketidaktahuan kami sebelumnya!"
Yue Yao langsung berlutut! Bukan membungkuk biasa, tapi berlutut setara menghormati tetua tertinggi!
"Guru memiliki keahlian setara Alkemis Agung! Bahkan mungkin lebih tinggi! Hamba tidak tahu gunung tinggi dan bumi tebal!"
Melihat Yue Yao—wakil Guild Alkemis yang sangat dihormati—berlutut pada pemuda itu, seluruh orang di restoran itu panik!
"Gila! Dia benar-benar bos besar yang menyamar!"
"Berlutut! Cepat berlutut! Jangan menyinggung dewa!"
Semua orang, termasuk murid-murid Sekte Pedang Awan dan pengawal keluarga Murong, langsung berlutut serentak! Suasana berubah 180 derajat!
Zhao Yun dan kawan-kawannya merangkak mundur, wajahnya pucat seperti mayat. Mereka baru sadar... mereka baru saja menantang seorang raja!
Hukuman bagi yang Sombong
Chen Si duduk kembali di kursinya, menatap Master Hua yang masih berdiri kaku dengan wajah pucat.
"Master Hua," panggil Chen Si.
"Hamba... Hamba di sini..." Master Hua gemetar.
"Kau bilang pilku curian?"
"Tidak! Tidak! Hamba buta! Hamba salah pandang! Mohon ampun, Guru Agung!" Master Hua langsung jatuh berlutut, mencium lantai. "Hamba rela memberikan semua harta dan teknikku sebagai ganti rugi! Asal jangan bunuh hamba!"
Chen Si tersenyum miring. "Aku tidak akan bunuh kau. Tapi sebagai hukuman karena sudah menyebarkan obat berkualitas buruk ke masyarakat..."
Chen Si menunjuk pil hijau di meja.
"Ambil itu. Pelajari. Dan mulai hari ini, kau akan menjadi murid tidak resmi di sini. Perbaiki teknikmu. Kalau dalam satu bulan kualitas pilmu tidak naik satu tingkat, aku akan patahkan tanganmu agar tidak bisa membuat obat lagi."
"Terima kasih! Terima kasih! Hamba janji akan belajar giat!" Master Hua menangis haru dan lega.
Undangan Resmi
Setelah kekacauan mereda, Yue Yao mendekat dengan sikap paling sopan.
"Guru Agung," katanya lembut. "Kehadiran Guru di kota kecil ini sungguh berkah besar. Malam ini, Guild Alkemis mengadakan acara Pelelangan Besar. Kami mohon dengan sangat agar Guru berkenan hadir sebagai tamu kehormatan."
Chen Si mengangkat alis. "Pelelangan itu ada barang bagus kan?"
"Ada banyak sekali! Bahkan ada kabar akan dilelang sebuah Resep Pil Kuno dan Api Roh Jenis Ketiga!" jawab Yue Yao cepat.
Mata Chen Si berbinar. "Oh? Menarik. Baiklah. Aku akan datang."
"Syukurlah! Hamba akan menyiapkan tempat terbaik untuk Guru!"
Malam Hari dan Rencana Besar
Sore harinya, Chen Si diantar ke sebuah penginapan mewah milik Guild Alkemis. Ia dimanjakan dengan pelayanan terbaik.
Namun, saat ia sendirian di kamar, wajahnya menjadi serius.
"Keluarga Murong... Sekte Pedang Awan..." bisiknya. "Mereka pasti tidak akan terima dikalahkan begitu saja. Malam ini mungkin akan ada percobaan pembunuhan, atau mereka akan melapor pada kekuatan yang lebih besar."
Chen Si tersenyum percaya diri.
"Biarkan mereka datang. Semakin banyak musuh, semakin seru. Dan malam ini... aku akan mengosongkan kantong mereka semua di pelelangan itu."
Ia duduk bersila, mulai menyerap energi lingkungan sekitar. Kekuatannya yang tadinya tertekan, perlahan mulai pulih kembali dengan cepat berkat bantuan aura pil-pil tadi.
Saat matahari terbenam, Kota Hujan Jernih diterangi lampu-lampu kristal yang indah. Namun, angin malam terasa dingin dan penuh intrik.
Di sebuah mansion mewah keluarga Murong.
"Bapak! Lapor Bapak! Tuan Muda dipukuli habis-habisan! Dan orang itu juga menghina keluarga kita!" lapor seorang pengawal pada pria paruh baya yang duduk di singgasana.
Pria itu adalah Murong Zhan, kepala cabang keluarga Murong, dengan kekuatan level Raja Sejati Awal!
Wajah Murong Zhan berubah gelap, matanya memancarkan niat membunuh yang membara.
"Berani merusak wajah anakku... dan berani menginjak harga diri kami di depan umum..."
Ia menghentakkan tangannya ke meja, meja batu itu langsung hancur berkeping-keping.
"Malam ini, di acara pelelangan... aku akan hadir. Dan aku akan membuat bocah sialan itu... menyesal pernah dilahirkan!"