NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membongkar motif pembunuhan

Langit Jakarta tahun 2046 seolah memendam amarah yang tertahan, tertutup tirai mendung tebal berwarna kelabu pekat yang menggantung rendah seakan hendak meremukkan gedung-gedung pencakar langit.

Angin menderu dingin, menyapu debu-debu polusi di antara celah beton dan menyisakan aroma logam yang tajam, sementara kilat sesekali menyambar di balik gumpalan awan, menerangi kota dengan cahaya pucat yang membuat setiap sudut tampak seperti bayang-bayang sejarah yang terlupakan.

Suasana kantor Bimo yang biasanya tenang mendadak terasa dingin saat seorang wanita muda bernama Maya masuk dengan mata sembab. Ia membawa setumpuk dokumen kepolisian yang sudah lecek—laporan resmi yang menyatakan bahwa kakaknya, seorang teknisi siber berbakat, tewas akibat kecelakaan arus pendek di kamarnya.

"Polisi bilang itu murni kecelakaan," suara Maya bergetar. "Katanya charger Xiaomi dan Oppo yang terpasang di satu stopkontak yang sama mengalami short circuit atau korsleting hebat, menyebabkan ledakan kecil yang fatal. Tapi kakak saya sangat teliti. Dia tidak mungkin membiarkan kabelnya terkelupas atau membiarkan arus berlebih."

Bimo menatap Aris yang berdiri di balik partisi kaca. Aris mengangguk pelan. Kasus korsleting memang sering menjadi modus operasi sempurna untuk menutupi pembunuhan di tahun 2046, di mana perangkat elektronik adalah bagian dari kehidupan setiap manusia.

Aris segera menuju apartemen korban. Kondisi kamar itu memang tampak seperti lokasi korsleting—dinding di sekitar stopkontak gosong dan dua ponsel yang meleleh tergeletak di lantai. Namun, bagi Aris, ini adalah teka-teki yang harus ia baca di dimensi waktu.

Ia mengaktifkan gelang peraknya. Kali ini, ia mengatur durasi maksimal. Ia melompat mundur tepat ke momen satu jam sebelum kematian sang kakak.

Aris menjadi hantu di ruangan tersebut. Ia melihat korban sedang asyik bekerja. Tiba-tiba, seorang pria masuk dengan kartu akses duplikat. Pria itu tidak terlihat seperti perampok; gerak-geriknya sangat teknis. Ia tidak menyentuh barang berharga, melainkan mengganti adapter asli milik korban dengan perangkat tiruan yang memiliki modul pemicu jarak jauh.

Pria itu kemudian menyemprotkan cairan konduktor super tipis di antara kabel kedua ponsel tersebut. Begitu dia keluar dan mengaktifkan sinyal frekuensi dari jarak jauh, charger itu akan memicu arc flash (loncatan bunga api) yang sangat besar, cukup untuk menyebabkan ledakan yang tampak seperti kecelakaan arus pendek biasa.

Aris merekam wajah pelaku—seorang pria dengan lencana perusahaan keamanan swasta yang sering disewa oleh korporasi besar di Jakarta.

Kembali ke masa kini, Aris segera mentransfer data tersebut ke tablet Hana. "Hana, pria ini bukan sembarang pembunuh. Dia bekerja untuk BlackTech Security. Dan lihat charger modifikasi itu... itu bukan korsleting biasa. Itu adalah pembunuhan yang dirancang agar terlihat seperti kegagalan teknis perangkat."

Bimo yang melihat rekaman itu langsung memahami polanya. "Kakak Maya ternyata sedang mengerjakan proyek Reverse-engineering untuk membongkar perangkat keamanan ilegal milik BlackTech. Mereka membunuhnya untuk membungkam temuan tersebut."

Kasus ini kini menjadi sangat personal bagi Aris. Bukan lagi soal korupsi, melainkan pembunuhan berencana yang menutup mulut seorang jenius. Aris, Bimo, dan Hana kini menyadari bahwa musuh mereka telah menggunakan teknologi yang mereka miliki sendiri untuk membunuh target mereka.

"Kita akan menjebak mereka dengan cara yang sama," ujar Aris dengan nada yang gelap. "Jika mereka suka bermain dengan listrik dan perangkat elektronik, kita akan membuat mereka merasakan 'korsleting' yang sebenarnya."

***

Sidang tersebut menjadi pusat perhatian publik Jakarta. Ruang pengadilan dipenuhi wartawan dan perwakilan dari BlackTech Security yang tampak angkuh, yakin bahwa kasus ini akan segera ditutup sebagai kecelakaan tragis.

Bimo berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Ia tidak membawa tumpukan dokumen hukum yang membosankan. Di belakangnya, layar lebar menampilkan simulasi visual yang sangat bersih dan mudah dimengerti oleh hakim maupun orang awam.

"Yang Mulia," Bimo memulai dengan suara tenang namun tegas. "Sebuah charger tidak akan meledak tanpa alasan. Jika kita melihat secara logika, ledakan arus pendek membutuhkan pemantik. Dalam kasus ini, pemantiknya bukanlah kerusakan pada ponsel Xiaomi atau Oppo milik korban, melainkan sebuah Modul Pemicu Jarak Jauh (Remote Trigger Module) yang diselipkan ke dalam adapter."

Bimo menunjuk ke arah simulasi visual:

1.Analogi Jembatan:

"Bayangkan aliran listrik di rumah kita seperti aliran air di jembatan. Charger normal adalah jembatan yang kuat. Namun, terdakwa telah memodifikasi jembatan tersebut dengan bahan peledak yang hanya bisa aktif jika diberikan 'kata sandi' frekuensi tertentu."

2.Bukti Konduktor:

 "Kami menemukan jejak cairan konduktor super tipis di stopkontak. Cairan ini bertindak sebagai bahan bakar. Saat pelaku mengirimkan sinyal dari jarak jauh, adapter yang dimodifikasi itu menciptakan loncatan bunga api (arc flash). Dalam hitungan milidetik, cairan itu memicu ledakan kecil yang langsung membakar kedua perangkat ponsel tersebut."

3.Logika Keamanan:

"Korban adalah seorang teknisi yang mengerti proteksi perangkat. Dia tidak akan membiarkan kabelnya terkelupas. Bukti bahwa perangkat tersebut meledak di dua titik yang berbeda secara bersamaan—Xiaomi dan Oppo—membuktikan bahwa ledakan itu berasal dari sumber luar, yakni stopkontak yang telah dirusak, bukan dari kerusakan baterai ponsel itu sendiri."

Bimo menatap tajam ke arah perwakilan BlackTech yang mulai gelisah.

"Terdakwa membunuh korban karena korban menemukan bahwa perangkat keamanan milik BlackTech dapat dengan mudah diretas melalui modul pemicu seperti ini. Mereka tidak membunuh karena kecelakaan teknis, mereka membunuh untuk menutupi cacat produk fatal yang bisa membahayakan jutaan warga Jakarta."

Bimo kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat yang membuat seluruh ruang sidang terdiam

"Kematian kakak Maya adalah pesan yang dikirim BlackTech kepada siapa pun yang berani membongkar kebohongan mereka. Mereka menyebutnya korsleting, kami menyebutnya eksekusi."

Hakim ketua tampak tercengang, lalu menatap tajam ke arah pengacara BlackTech. Logika yang disampaikan Bimo terlalu sederhana, terlalu masuk akal, dan didukung oleh bukti visual yang tidak bisa dibantah. Keheningan di ruang sidang pecah oleh bisik-bisik ketakutan dari para pejabat yang hadir—mereka semua menggunakan perangkat keamanan dari BlackTech di rumah masing-masing.

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!