NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suasana di meja makan yang seharusnya tenang setelah sarapan, mendadak kembali memanas.

Kyai Umar meletakkan gelas susu kedelainya, lalu menatap Humairah dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.

"Humairah," panggil Kyai Umar lembut. "Abah perhatikan cara mengajimu tadi subuh sangat bagus. Tajwid dan makhorijul hurufmu sempurna. Mulai hari ini, Abah minta kamu untuk mulai mengajar di kelas santriwati. Gantikan Ustadzah halaqah pagi yang sedang cuti."

Humairah tertegun, matanya membulat. "Saya, Bah? Tapi saya..."

"Abah, saya keberatan," potong Fathan tiba-tiba. Suara baritonnya memotong udara dengan dingin.

Ia meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang keras.

"Mengajar di pesantren ini bukan hanya soal suara merdu. Perlu mental dan kedalaman ilmu. Saya menganggap Humairah hanya akan menjadi beban bagi kurikulum kita jika ia belum siap."

Fathan menatap istrinya dengan tatapan meremehkan, seolah Humairah hanyalah orang asing yang mencoba menyusup ke wilayah sucinya.

Nyai Latifah langsung menyambar kesempatan itu untuk kembali menyudutkan.

"Benar kata Fathan, Bah! Dia itu sama sekali tidak layak menjadi istri seorang ustadz, apalagi mengajar di sini. Lihat saja riwayatnya, dia saja hanya lulusan SMA. Beda jauh dengan kedua putraku yang lulusan S2 luar negeri!"

Nyai Latifah mencibir ke arah Humairah yang kini tertunduk dalam, meremas ujung mukenanya di bawah meja.

"Malu-maluin pesantren kalau guru ngajinya cuma modal lulusan sekolah menengah. Apa kata wali santri nanti?"

Kyai Umar menghela napas panjang, wajahnya yang teduh kini tampak mengeras.

Beliau menatap istrinya dengan pandangan yang sangat tajam, sebuah teguran bisu yang jarang beliau tunjukkan.

"Nyai, ilmu itu luasnya dari Allah, bukan hanya dari selembar ijazah. Jangan pernah menyombongkan gelar di depan orang yang lebih beradab darimu," ucap Kyai Umar dengan nada rendah namun berwibawa.

"Tapi kenyataannya begitu, Abah! Gelar itu menunjukkan kualitas!" bantah Nyai Latifah tak mau kalah.

Kyai Umar tersenyum getir, lalu melirik ke arah kursi kosong yang seharusnya diduduki Abraham.

"S2? S2 seperti Abraham yang meninggalkan tanggung jawab dan mempermalukan keluarga tepat sebelum akad? S2 seperti itu yang Nyai banggakan?"

Pertanyaan telak itu membuat Nyai Latifah bungkam seketika.

Wajahnya memerah padam, sementara Fathan hanya bisa terdiam dengan rahang yang mengeras.

"Abah selalu saja membela wanita sihir ini! Dia sudah mencuci otak Abah!" teriak Nyai Latifah emosi, suaranya melengking memenuhi ruang makan.

"Nyai, cukup!!" bentak Kyai Umar.

"Keputusan Abah sudah bulat. Humairah akan mengajar pagi ini. Fathan, sebagai suaminya, kamu yang harus mengantarnya ke kelas santriwati dan memperkenalkannya. Jangan biarkan egomu merusak amanah ini."

Fathan tidak menjawab. Ia berdiri dari kursinya, memberikan isyarat dingin pada Humairah untuk segera mengikutinya.

Humairah melangkah dengan hati yang remuk; di satu sisi ia bersyukur atas kepercayaan Kyai Umar, namun di sisi lain, ia tahu bahwa setiap langkahnya di pesantren ini akan menjadi sasaran kebencian baru bagi suami dan ibu mertuanya.

Sesampainya di kamar lantai atas, Fathan menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras hingga membuat bahu Humairah terlonjak.

Pria itu berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang penuh dengan kilatan amarah.

Ketegangan di meja makan tadi rupanya telah mencapai puncaknya di kepala Fathan.

Fathan melangkah maju, memangkas jarak hingga Humairah terdesak ke dekat meja rias.

Ia memandang wajah istrinya dengan tatapan menghakimi, seolah sedang menatap seorang terdakwa.

"Puas kamu membuat kami berselisih?" tanya Fathan dengan suara rendah yang mengancam.

"Puas kamu melihat Abah membentak Umi hanya untuk membelamu? Sepertinya predikat 'polos' yang kamu sandang itu benar-benar senjata yang ampuh untuk memecah belah keluargaku."

Humairah mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap langsung ke dalam manik mata Fathan.

Rasa sakit akibat tuduhan suaminya terasa lebih perih daripada hinaan Nyai Latifah.

"Astaghfirullah, Mas..." suara Humairah bergetar, namun ada ketegasan di sana.

"Demi Allah, tidak ada sedikit pun niat di hatiku untuk membuat Mas Fathan berselisih dengan Abah. Abah yang memintaku mengajar, dan aku tidak pernah memintanya. Aku bahkan tidak berani bermimpi untuk mengajar di sini."

"Jangan bawa-bawa nama Allah untuk menutupi ambisimu," desis Fathan sinis.

"Kamu tahu Abah sangat menghargai kemampuan mengaji, dan kamu sengaja memamerkannya tadi subuh agar Abah terkesan. Kamu cerdas, Humairah. Kamu tahu persis cara mengambil hati orang tua yang sedang merasa bersalah atas kelakuan anaknya."

Humairah menggeleng pelan, air matanya kini benar-benar luruh.

"Mas, jika Mas memang tidak mengizinkanku mengajar, aku akan menolaknya. Aku akan bicara pada Abah bahwa aku tidak sanggup. Aku lebih memilih diam daripada harus menjadi alasan Mas membenciku lebih dalam lagi."

Fathan terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tampak begitu rapuh namun tetap bersahaja.

Ada sekelibat keraguan di hatinya, namun ego dan luka masa lalu segera menutupinya kembali.

"Sudah terlambat," ucap Fathan ketus sambil berbalik memunggungi Humairah.

"Menolak perintah Abah sekarang hanya akan menambah keributan. Persiapkan dirimu. Aku akan mengantarmu ke kelas, tapi ingat satu hal: jangan buat kesalahan sedikit pun. Aku tidak akan segan-segan menghentikanmu jika kamu mempermalukan posisiku sebagai kepala pendidikan di sini."

Fathan menyambar sorbannya dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan

Humairah yang terduduk lemas di tepi ranjang, meratapi nasibnya yang harus berjuang di antara pengabdian dan kebencian.

Baru beberapa langkah keluar, pintu kamar kembali terbuka dengan kasar.

Fathan melangkah masuk dengan langkah lebar, tangannya mencengkeram selembar kain hitam lembut.

Ia berdiri di depan Humairah yang masih menyeka sisa air matanya, lalu menyodorkan kain itu dengan gerakan yang tidak ramah.

"Mulai sekarang, pakai cadar," perintah Fathan tanpa basa-basi.

Humairah tersentak, menatap kain hitam di tangan suaminya dengan bingung.

"Cadar? Tapi Mas, biasanya ustadzah di sini hanya memakai hijab biasa..."

"Jangan membantah," potong Fathan cepat, suaranya naik satu oktav.

"Keputusan Abah sudah bulat. Kamu mengajar bukan hanya untuk santriwati, tetapi santri lainnya juga di aula terbuka karena kekurangan pengajar tajwid. Aku tidak ingin wajahmu menjadi fitnah atau bahan tontonan santri laki-laki."

Fathan menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara protektif yang posesif atau sekadar ingin menyembunyikan wajah wanita yang telah membuatnya terpaksa menikah.

"Pakai itu setiap kali kamu keluar rumah atau mengajar. Aku tidak ingin ada mata yang memandangmu lebih dari sekadar guru. Mengerti?"

Humairah menerima kain itu dengan tangan gemetar. Ia tahu, di balik alasan "menghindari fitnah", ada keinginan Fathan untuk menutupinya dari dunia, seolah kehadirannya adalah sesuatu yang memalukan untuk diperlihatkan secara bebas.

"Baik, Mas. Jika ini yang Mas inginkan agar hatimu lebih tenang, aku akan memakainya," jawab Humairah lirih.

Dengan jari-jari yang masih kaku, Humairah mengikatkan cadar itu ke wajahnya.

Kini, hanya matanya yang indah dan teduh yang terlihat, namun di balik kain hitam itu, isaknya kembali tertahan.

Ia merasa dunianya semakin sempit dan gelap, tepat seperti warna kain yang kini menutupi separuh wajahnya.

Fathan hanya menatapnya sekilas, tidak ada pujian atas kepatuhan istrinya.

"Cepatlah. Kelas akan segera dimulai. Jangan sampai santri menunggumu lebih lama lagi."

Ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Humairah yang kini berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang baru.

Sosok wanita tanpa wajah, yang suaranya mungkin akan dikagumi, namun keberadaannya tetap menjadi rahasia yang tak diinginkan oleh suaminya sendiri.

1
Atjeh ponsel
😭
keynara
nah ustadz Fathan harus tegas jangan sia siakan Humairah lagi cukup dulu aja
si Ratih dasar pelakor nggak tau malu🤭
keynara
semoga ustadz Fathan jangan berpoligami kasian Humairah 🙏
kayanya bau bau mau dijodohin sama ustadzah ratih jangan sampai ya author 🙏
Atjeh ponsel
cerita nya sangat menarik
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Masyitah Bkt
aduhhhh...kenapa bacaannya mengandung banyak sekali bawangnya😭😭 mulai bab 1 bawangggg teroosss...perih mata jdnya thorr...
Rubi Yati
istri kiyai og kyk gitu sh gk pantes bngt
Yusria Mumba
sabar
Yusria Mumba
kasiang humairah
Hatnah Batulicin
syukurin tuh nyai 😏😏
Dede Dedeh
pinter oge eta nini nini...........
falea sezi
🤣🤣 ngididik istri aja lu g becus gmna nge didik santri🤣🤣🤣 lawak bgt ne kiyai sok agamis
falea sezi
bertele tele sejauh. ini😒
falea sezi
🤣🤣🤣 bisanya nangis ikan terbang bgt thor
falea sezi
plg ke rmh ortumu lah bego males. MC. oon gini😓
falea sezi
ustadz tp galau ma cwek🤣🤣🤣 ustadz apaan 😓 kayaknya belajar agama nya setengah ta
falea sezi
bu nyai apaan kelakuan kayak. lampir kayak nya kiyai nemu istri di club ya mulutnya kayak lacur😒
keynara
nenek sihir kejam banget balas dendamnya semoga Humairah nggak kenapa kenapa dan cepat ketahuan
Hatnah Batulicin
senang nya Mak lampir di talak 😏😏
Mundri Astuti
ntu binimu kasih hukuman talak 1 sekalian kyai, omongan doang ga mempan rupanya
puji hastuti
Maaf Thor ,hatiku bertanya-tanya...setara ustadz besar di pondok pesantren,pantaskah penokohan ustadz Fathan ?
my name is pho: Halo Kak, terima kasih banyak ya atas masukan dan pertanyaannya yang sangat kritis. Aku sangat menghargai perhatian Kakak terhadap detail penokohan Fathan. 🙏❤️
Di sini, aku ingin menggambarkan bahwa Ustadz Fathan yang sedang mengalami trauma dengan wanita dan sekarang ia harus mengalami pernikahan yang seharusnya pernikahan.
Nanti di bab-bab selanjutnya. Ustadz Fathan juga manusia yang punya sisi humoris, romantis, dan ingin bermanja-manja dengan istrinya tanpa sekat formalitas.
Namun, masukan dari Kakak menjadi catatan berharga banget buat aku untuk ke depannya agar lebih pas lagi dalam menempatkan porsi pembawaan karakter Fathan. Terima kasih ya Kak, tetap kawal terus perjalanan cinta Fathan dan Humairah! 🥰✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!