NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bad Obsession

DAPUR rumah masih sepi ketika Aelira mulai sibuk berkutat sejak pagi. Ia berdiri di depan kompor—mengenakan celemek biru muda. Uap mengepul dari panci berisi air kaldu ayam. Tangannya cekatan menuangkan beras ke dalam panci sambil sesekali mengaduknya supaya tidak lengket.

"Non Aelira?" Bi Lestari—asisten rumah tangga—muncul dari arah pintu dapur sambil membawa tumpukan cucian.

"Den Ravian sakit, ya?" tebak Bi Lestari. Karena jika sedang sakit, Ravian akan menjadi lebih bawel dan hanya mau makan masakan Aelira.

"Iya, Bi. Demam dia." Jawab Aelira masih mengaduk-aduk buburnya.

"Wah, kecapekan mungkin. Den Ravian kan syuting dan manggung terus, Non. Mana sekarang sekolah juga."

"Iya, makanya aku masak bubur. Dia tuh cerewet banget kalau sakit soalnya." Jawab Aelira sambil tersenyum kecil mengingat tingkah Ravian semalam yang merengek minta dibuatkan bubur.

Bi Lestari terkekeh pelan. "Ya sudah, Bibi mau nyuci dulu. Kalau butuh apa-apa, bilang aja!"

"Iya, Bi."

Aelira terus mengaduk-aduk bubur yang mulai mengental. Wangi kaldu ayam bercampur jahe memenuhi ruang dapur. Setelah matang, gadis itu menaruhnya ke mangkuk keramik putih kesukaan Ravian dan membawanya ke kamar cowok itu di lantai atas.

Ceklek!!

Pintu kamar terbuka pelan. Aelira masuk dengan hati-hati membawa nampan.

"Kamu udah bangun?" Aelira menatap Ravian yang berbaring miring sambil melihat ponsel.

Aelira menyentuh dahi Ravian—masih hangat.

"Masih hangat. Mau aku panggilin dokter nggak?" tanya Aelira.

"Nggak mau." Ravian menolak langsung. Suaranya serak. "Habis dari mana? Udah tahu gue sakit malah ditinggalin." Gumamnya dengan nada cemberut.

Aelira duduk di pinggir kasur. "Maaf, ya! Aku masak bubur buat kamu soalnya."

Ravian melirik mangkuk di nampan. Matanya sedikit berbinar. "Lo nggak sekolah, kan?" tanyanya penuh harap.

"Enggak. Aku jagain kamu."

Ravian merapatkan bibir—menahan senyum. "Plester demamnya diganti dulu. Habis itu baru makan dan minum obat."

Aelira menjulurkan tangan—melepaskan plester demam dari dahi Ravian dan meraih yang baru di laci samping tempat tidur. Dia sempat menarik rambut Ravian ke atas dan mengusap-usap dahinya— membuat Ravian menggigit bibir, tanpa sadar menikmati usapan tangannya.

Kalau gini sih, tanpa plester demam dan obat, Ravian juga sembuh.

"Kenapa lihatin aku?" tanya Aelira selesai menempelkan plester demam ke jidat Ravian.

Ravian tersentak samar dan mengerjap-ngerjap. "Nggak. Mata lo ada beleknya." Dustanya cepat.

"Masa, sih?" Aelira melihat ke kaca kecil. "Aku udah mandi, kok."

Ravian mencibir sinis untuk menutupi rasa malunya. "Buburnya dimakan!"

Aelira mengambil mangkuk dan mengaduk bubur sebentar. Tapi Ravian mendelik kecil.

"Makan sendiri...?" protesnya tidak terima. "Gue udah mau mati. Lo malah suruh gue makan sendiri?"

Aelira menatapnya dengan alis terangkat tinggi.

"Suapin, lah. Gue mau disuapin." ketus Ravian—lalu bersin kecil. Tambah dramatis.

"Iya-iya, aku suapin. Coba buka mulut pelan, ya! Masih panas sedikit..."

Ravian membuka mulut malas—seperti burung kecil yang menunggu makan. Aelira menyuapkan sendok pertama ke mulut Ravian.

Cowok itu mengunyah pelan. Wajahnya yang tadinya cemberut perlahan berubah. Lalu dia mengangguk—nyaris tidak terlihat. Aelira tersenyum lega.

"Kamu suka?"

"Suka." Ravian mengangguk kecil.

Aelira menyuapkan lagi—kali ini lebih tenang. Ravian memakannya sampai habis. Bukan karena dia lapar—tapi karena bubur itu dimasak oleh Aelira.

"Lo nggak capek ngurusin gue?" tanya Ravian setelah meneguk air putih.

"Kadang. Kalau pas kamu nyebelin."

Ravian menatapnya tajam. "Lo yang nyebelin."

"Aku nyebelin apa?" heran Aelira sambil mengusap sudut bibir Ravian yang masih terkena sisa bubur.

Ravian terdiam. Jantungnya berdebar.

"Nggak tahu." Ravian mengusap hidungnya—gelagapan. "Bikin gue bete terus."

"Kamu emang hobby bete nggak sih, Van?" Aelira menyodorkan dua tablet obat demam.

"Gue bete gara-gara lo nggak pernah nurut." Ravian meneguk obat pahit itu tanpa mengeluh.

"Ya udah, maafin Aelira!"

Aelira mengangguk kecil—polos, tanpa sadar bahwa dia baru saja memanggil dirinya sendiri. Ravian mengatupkan bibir, lalu mendengus.

Sial. Dia tidak bisa marah jika Aelira sudah seimut ini.

Hening beberapa saat. Ravian tiba-tiba menarik tangan Aelira dan menempelkannya di pipinya. Kelopak matanya menyayu—lembut.

"Kenapa?"

"Ngantuk..." jawab Ravian pelan.

"Mau tidur nggak?" tawar Aelira.

Ravian mengangguk pelan—sambil menciumi telapak tangan Aelira yang masih dipegangnya.

"Ya udah, tidur lagi!"

Aelira membaringkan tubuh Ravian ke kasur dan menarik selimut tebal hingga ke dagunya.

"Temenin!" pinta Ravian—tangannya menahan pergelangan tangan Aelira.

"Kamu manja banget." Aelira mengetuk dahi Ravian dengan jari telunjuknya—pelan.

"Gue cuma manja ke satu orang. Sayangnya, dia suka bikin gue marah." Gumam Ravian pelan.

Aelira tersenyum geli. "Iya, aku temenin."

Ravian langsung bergeser pelan dan menyandarkan kepalanya ke paha Aelira—seperti anak kucing mencari kenyamanan.

"Pokoknya gue bangun nanti, lo harus masih tetep di sini." Ravian menggenggam tangan kiri Aelira—takut ditinggalkan.

"Iya." Jari-jari Aelira membelai rambut Ravian dengan lembut.

"Li..."

"Hm?"

"Gue sayang sama lo." Gumam Ravian—setipis udara, nyaris tidak terdengar.

Aelira tersenyum dan mengangguk. "Aku juga sayang sama kamu. Tidur!"

Ravian akhirnya terlelap di pangkuan Aelira, dengan napas tenang dan wajah damai. Tangannya masih menggenggam erat tangan Aelira—seperti jangkar yang menahan kapal agar tidak hanyut.

---

Sore harinya...

Ruang OSIS mendadak seperti markas perang. Kertas proposal, karton banner, cat semprot, dan daftar panitia berserakan di mana-mana.

"Ziva! Ke koperasi, beliin isolasi, spidol besar, sama dua kotak air mineral. Pakai uang lo dulu, ya, entar gue ganti." Perintah Aelira yang sudah kembali beraktivitas setelah Ravian tertidur pulas.

Ziva mendongak dengan tatapan sarkas. "Iya, digantinya pas lo punya cucu entar." Cibirnya.

Aelira mendecak. "Lebay. Entar lo bilang ke bendahara OSIS kalau gue yang suruh."

Ziva bangkit sambil mengibas roknya. "Oke, oke."

Aelira kembali fokus pada tumpukan kertas di tangannya.

"YOOOO RADIT MY BRO!" Itu suara Adit.

Aelira secara otomatis menoleh. Matanya melebar.

Sekelompok cowok berjaket tim basket dengan logo SMA Mandala Prima berdiri gagah di depan ruang OSIS. Tinggi-tinggi, postur atletis, membuat para anggota OSIS berhenti bekerja dan terpaku bengong.

Radit...?

Cowok itu tampak mengobrol dan saling ejek dengan Adit.

"Gila, cakep-cakep banget atlet dari Mandala Prima."

"Yang paling depan gantengnya nggak ngotak anjir."

"Itu kaptennya, nggak, sih?"

Beberapa cicitan anggota OSIS terdengar.

Radit menoleh—dan pandangannya langsung mengunci ke arah Aelira.

"Hai, Aelira." Dia tersenyum sambil mengangkat telapak tangan.

Semua orang membulatkan mata dan saling senggol.

Aelira mengangguk kaku dan kembali menyelesaikan pekerjaannya—berusaha tidak terlihat terlalu terkejut.

Radit belum beranjak. Bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis.

"Nggak usah dilihatin terus, Bos! Nggak ilang anaknya." Ledek Juno membuat Radit mendecak.

"Diem lo!"

Adit menoleh. "Lo kok kenal Aelira, sih?" tanyanya heran.

"Temen SMP gue. Dulu beda kelas." Jawab Radit.

"Ah, i see..." Adit mengangguk-angguk lalu tersenyum menggoda. "Napa dah muka lo begitu banget lihatin ketua gue? Naksir?"

"Dari SMP." Junet menyelatuk.

"DEMI—"

"Ssssttt!" Radit melotot tajam dan salah tingkah sendiri. "Diem lo! Bacot." Umpat Radit kasar.

"Buset selow." Adit mencibir. "Ngapain naksir sama Aelira, sih?"

Radit menatapnya tajam. "Kenapa? Jangan bilang lo ngincer juga."

"Kagak, goblok. Tapi Aelira cakep banget. Banyak senior yang ngincer. Bahkan Kak Alvandra—anaknya pemilik sekolah—suka dia. Kalah lo, kalah." Ejek Adit.

"Masa?" Mata Radit melebar. Bahunya melemas. "Tapi Aelira jomblo, kan?"

"Kayaknya jomblo. Tapi susah, Ga, seriusan. Anaknya nggak baper-an. Kerjaannya natepin buku dan tugas OSIS. Ambis banget. Kayak nggak mikirin cinta-cintaan gitu."

Mendengar itu membuat Radit tersenyum. "Bagus, deh."

"Bagus apaan? Jangan bilang lo dateng ke sini bukan buat turnamen, tapi buat ketemu cinta monyet lo?"

Radit terkesiap kecil. "Dua-duanya, mungkin."

"Anjayyyy!!" goda Juno dan lainnya.

Adit menatap tetangganya itu geli. "Lo se-suka itu...?"

"Gimana nggak se-suka itu, dari SMP ditungguin." goda Juno membuat Radit mendecak salah tingkah dan pergi meninggalkan keramaian.

---

Halaman SMA Nusa Cendekia tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Bus-bus pariwisata berjajar rapi di parkiran, membawa tim basket dari sekolah lain.

Hingga mobil sport berwarna blue metallic menderu saat memasuki halaman sekolah. Suara mesinnya mengalihkan perhatian banyak orang.

"Itu mobilnya Ravian, kan?!" pekik salah satu atlet basket cewek sekolah lain.

"OMG dia beneran sekolah di sini?! Gue pikir cuma hoax dari fanspage!"

Semua mata tertuju pada satu titik.

Pintu mobil terbuka perlahan.

Dari dalam, muncul seorang pemuda berseragam khas Nusa Cendekia—keluar dari mobil sambil melepas kacamata hitamnya.

"Ya ampun! Dia cakep banget aslinya!"

"Gue udah liat dia di konser kemarin tapi tetap aja deg-degan!"

Ravian tampak tidak terusik oleh keramaian itu. Wajahnya masih sedikit pucat—bekas demam semalam. Tapi matanya tetap tajam mencari satu orang.

Dia memasuki lobby sekolah. Matanya menatap sekeliling—lalu mengetik pesan singkat.

Ravian: Li, dimana?

Tidak ada balasan.

Ravian mendecak kesal. Dia memutuskan mencarinya sendiri.

---

Lapangan indoor SMA Nusa Cendekia sore itu ramai. Sorotan lampu menyorot cerah ke tengah lapangan, memantulkan kilauan keringat para pemain yang bergerak cepat—berlompatan, dan beradu strategi dengan intens.

"RADIT SEMANGAT!"

"OMG yang nomor punggung 5 cakep parah!"

Di tengah sorakan penonton yang membahana, Radit—sang kapten tim Mandala Prima—berdiri paling mencolok.

Cowok jangkung dengan tatapan tajam itu menggiring bola cepat, dribble-nya keras. Tatapan fokusnya menembus pertahanan lawan.

Namun, di sela intensitas itu—sekilas matanya mencuri pandang ke arah tribun sebelah kanan.

Tepat ke arah Aelira.

Gadis itu tampak sibuk berlarian ke sana kemari dengan walkie-talkie tersampir di leher. Seragam OSIS-nya terlihat rapi meskipun sibuk.

"Iya, iya—tribun barat udah penuh, kasih arahan buat mundur sedikit. Stand makanan juga kehabisan air mineral, tolong isi ulang, ya! Tim dokumentasi ke sisi kiri, cepat!"

Radit menembakkan bola ke ring dengan keras.

BRAK!!

Bola kembali masuk.

"WOAHHHHHHH!" Sorakan tiba-tiba mengguncang gedung saat skor di papan bertambah lagi untuk Mandala Prima.

Poin 62-58.

"GA, TANGKAP!" teriak Juno.

Bola melambung tinggi—operan yang terlalu kuat dari pemain Mandala Prima.

Bola basket itu tidak sempat ditangkap Radit dan malah menggelinding liar ke tepi lapangan—tepat di depan Aelira.

"Eh?" Aelira menunduk ketika bola mengenai kakinya.

"Ah, si Juno." Ketus Radit sok-sokan.

Juno hendak berlari mengambil bola—namun Radit mengangkat tangan.

"Biar gue aja!" Nada suaranya terlalu semangat untuk sesuatu yang sepele.

Para gadis di tribun merengek iri melihat itu.

Aelira mengambil bola tepat saat Radit berjalan mendekat.

"Mau ambil bola?" tanya Aelira.

Radit menggaruk tengkuknya dan tersenyum gugup. "Sorry! Bolanya hampir kena lo barusan."

Aelira mengangguk. "Nggak masalah. Nih, ambil!" Aelira melemparkan bola ke Radit.

Radit menerimanya—jari-jarinya sengaja menyentuh tangan Aelira sebentar. "Makasih, ya! Gue balik dulu!"

Aelira tersenyum kecil. "Iya, semangat!"

Radit langsung berlari kembali ke lapangan—dengan senyum lebam yang tidak bisa dia sembunyikan.

---

Di atas tribun, seorang cowok dengan hoodie abu-abu menyipit.

Ravian.

Matanya tidak beranjak dari Aelira dan cowok bernomor punggung 5 yang baru saja berbicara dengannya. Tangannya—yang dari tadi diam di saku jaket—kini mengepal erat.

Dia melihat Radit menyentuh tangan Aelira. Sengaja atau tidak, Ravian tidak peduli.

Dia melihat Aelira tersenyum pada cowok itu.

Tersenyum.

Ravian menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. Bukan karena demam.

Tapi karena sesuatu yang lebih panas.

Cemburu.

Dia meraih ponsel—mengetik pesan dengan jari yang sedikit gemetar.

Ravian: Li, ke parkiran belakang. Sekarang.

Ponsel Aelira bergetar di sakunya. Dia membaca pesan itu—lalu menoleh ke sekitar, mencari sosok Ravian.

Tidak menemukannya.

Aelira: Tapi aku lagi sibuk, Van. Ada turnamen.

Ravian: Gue bilang SEKARANG.

Aelira menghela napas—lalu pamit sebentar pada Ziva.

"Ziv, gue pergi sebentar, ya! Jaga lapangan dulu."

"Yaelah, lo mau ke mana sih? Pacar lo datang lagi?" Ziva menggoda tanpa tahu sedang terjadi apa-apa.

Aelira tidak menjawab. Dia berjalan cepat menuju parkiran belakang yang sepi.

---

Di parkiran belakang, Ravian berdiri menyandar di mobilnya. Wajahnya masam. Tangannya bersilang di dada.

"Lo manggil aku kenapa?" tanya Aelira saat sampai. "Turnamennya masih—"

"Siapa cowok itu?"

Aelira mengerjap. "Cowok yang mana?"

"Jangan pura-pura." Ravian mendekat. Matanya gelap—bukan kemarahan biasa, tapi kemarahan yang dia pendam sejak melihat Aelira tersenyum pada orang lain. "Nomor punggung lima. Tinggi. Rambut hitam. Muka kayak tau diri."

Aelira terdiam sejenak. "Oh... Radit? Dia kapten tim Mandala Prima. Temen SMP-ku dulu."

"Radit." Ravian mengulang nama itu dengan nada seperti sedang merekam musuh bebuyutan. "Dia nyentuh tangan lo."

"Enggak sengaja—"

"Dia sengaja." Ravian memotong. "Gue liat. Dia sengaja nyentuh tangan lo."

Aelira menghela napas sabar. "Van, dia cuma—"

"Lo senyum ke dia."

"Iya, karena dia minta maaf soal bola—"

"Gue nggak suka." Ravian melangkah maju—kini hanya berjarak setengah langkah dari Aelira. "Gue nggak suka lo senyum ke cowok lain. Gue nggak suka cowok lain nyentuh lo. Gue nggak suka—"

"Ravian." Aelira memotong dengan lembut. Tangannya terangkat—meraih pipi Ravian yang masih sedikit hangat bekas demam. "Dia cuma temen."

"Gue nggak peduli. Gue buta. Gue nggak peduli dia temen atau bukan. Gue nggak suka."

Aelira tersenyum kecil. "Kamu cemburu?"

Ravian mendengus—memalingkan wajah. "Enggak."

"Bohong."

"Gue nggak bohong."

"Telinga kamu merah."

"Itu karena panas."

"Panas di parkiran?"

Ravian terdiam.

Aelira tertawa kecil—lalu menarik tangan Ravian. "Ayo balik ke rumah. Kamu masih sakit. Jangan maksain diri."

"Aku belum—"

"Aku temenin." Aelira menggenggam jari-jari Ravian. "Janji."

Ravian menatap genggaman tangan mereka. Jari-jari Aelira kecil dan hangat—melingkar di tangannya yang besar.

"Lo harusnya marah," gumam Ravian pelan. "Gue posesif. Gue ngatur-ngatur lo. Gue—"

"Aku tahu." Aelira memotong. "Tapi aku juga tahu kenapa kamu begitu."

Ravian mengangkat wajah. Matanya berkaca—tapi dia menahannya.

"Kamu nggak akan pergi?"

Aelira menggeleng. "Nggak."

"Janji?"

"Janji."

Ravian menghela napas panjang—lalu membiarkan Aelira menariknya menuju mobil.

Di balik bayang-bayang parkiran, Radit kebetulan lewat mengambil bola yang keluar lapangan. Dia melihat semuanya. Aelira menggandeng tangan cowok berwajah dingin itu. Cowok yang dia kenali.

Ravian.

Pacar Aelira.

Radit menunduk—memeluk bola basketnya erat. Lalu berbalik, kembali ke lapangan.

Ternyata dia nggak jomblo, pikirnya.

Tapi kenapa dadanya terasa sakit?

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!