Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak menyangka
*****
Di pabrik...
Tiba-tiba saja Raka teringat sama Tania, dia berniat menelpon istrinya sebentar.
Tring...
"Hallo Mas." Terdengar suara lembut Tania di seberang sana.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" Tanya Raka, dia ingin memastikan keadaan istrinya.
"Aku lagi di kamar, tumben Mas telpon?"
"Mas kangen sayang, Oh ya. Mas mau minta maaf sama masalah yang terjadi tadi pagi, kamu jangan ambil hati sama ucapan ibu ya Dek." Raka tau istrinya pasti gelisah dan bingung sekarang mempertanyakan siapa Bella sebenarnya. Raka berniat setelah pulang kerja nanti dia akan menjelaskan semua nya sama Tania.
"Iya Mas, aku nggak apa-apa kok, Mas tenang aja." Bahkan Tania sama sekali tidak membahas atau menanyakan Bella padanya.
Padahal tadi pagi Raka bisa melihat gimana gelisah nya mata Tania.
"Dek, Mas minta maaf ya.... Soal Bella."
Terdengar tawa kecil dari Tania di seberang telpon
"Mas, memang kenapa dengan Bella? Mas nggak usah khawatir, Tania tidak mempermasalahkan sama sekali. Bella itu hanya masalalu Mas, dan yang terpenting sekarang Mas Raka masa depan aku, kamu sudah jadi milik aku Mas. Apa Mas pikir aku cemburu?" Tanya Tania masih dengan tawa kecil nya.
Tubuh Raka sempat sedikit menegang, dari mana Tania tau kalau Bella punya hubungan masa lalu dengan nya.
Istrinya itu terlihat begitu tenang, Raka merasa ada yang berbeda dari Tania kali ini.
"Sayang, kamu sudah tau kalau___
"Ia Mas, aku sudah tau, Bella mantan kekasih kamu kan?" Potong Bella cepat.
Deg
"Ka-kamu tau dari mana?Kamu nggak marah kan Dek?"
Tania kembali tertawa mendengar pertanyaan suaminya yang terdengar gugup ditelinga Tania.
"Ngapain marah Mas, memang Mas masih ada perasaan sama Bella? Nggak kan? Ya terus, ngapain aku harus marah sama Mas? Semua orang punya masa lalu Mas." Jelas Tania terdengar begitu tenang, seketika perasaan Raka yang tadi nya gelisah jadi lega.
"Syukurlah sayang kalau kamu mengerti dan percaya sama Mas. Mas janji tidak akan pernah membuat kamu kecewa, mulai sekarang Mas akan terbuka sama kamu." Janji Raka dengan yakin.
"Aku percaya kok Mas," Tania mengulas sedikit senyum mendengar janji suaminya yang terdengar tulus dan menyakinkan.
"Makasih sayang. Oh ya, kamu udah beli gelang nya kan sayang? Tadi Mas sudah kirim uang sama ibu buat kamu, sekalian Mas juga nyuruh ibu buat beli beberapa stell baju buat kamu." Tanya Raka, membuat kening Tania mengkerut.
Beli gelang?
"Gelang? Maksud Mas?" Tanya Tania bingung.
"Iya gelang, kata ibu kamu mau di belikan gelang. Punya kamu kan sudah di ambil sama Sindi kemarin." Ucap Raka lagi, kepala Tania berputar sejenak, sejak kapan dia meminta buat di beliin gelang.
Wah, ada yang mau ambil ke untungan nih dengan cara menjual namanya.
"Dek, kok diam."
"Eh, iya Mas, gimana Mas?" Tanya Tania kurang fokus.
"Mas nanya, udah di beli kan gelang nya?"
"Eum, udah kok Mas, malah aku beli nya yang sama persis kayak yang kamu kasih. Soalnya aku suka sama modelnya." Ucap Tania sedikit berbohong.
"Memang nya ada sayang? Soalnya itu gelang Mas yang request model nya special buat kamu. Kata tukang toko perhiasan nya pun belum ada yang buat model seperti itu. Itu pun di buat nya butuh waktu lumayan lama juga,"
"Gak tau juga Mas, oh ya. Mas, aku mau ke toilet sebentar ya, kebelet banget ni." Dalih Tania Kembali berbohong untuk ke dua kalinya.
"Kalau gitu Mas tutup dulu telpon nya ya, nanti kalau nggak sibuk Mas telpon lagi." Setelah panggilan berakhir, Tania menghela nafas lega. Baru kali ini Tania ber bicara bohong sama suaminya.
"Maaf Mas, aku terpaksa berbohong sama kamu," Batin nya sedikit menyesalkan.
Sebenarnya tadi Tania sudah pulang duluan dari Mall, dia pulang menggunakan taxi. Untung saja dirinya sempat membawa uang dari rumah yang di simpan nya dari sisa uang belanja, walaupun nggak banyak, setidak nya cukup untuk ongkos ia pulang sampai kerumah.
"Kalian sengaja menjual nama aku, demi mendapatkan keuntungan yang besar. Oh tidak, akan aku pastikan untuk kali ini kalian tidak berhasil." Batin nya tersenyum smirk
Tania berniat mencari gelang nya yang sempat di ambil Sindi kemarin. Ia bergegas ke kamar Sindi dan beruntung nya kamar Sindi tidak di kunci.
"Mudah-mudahan aja ada." Gumam nya, Tania benar-benar gugup, baru kali ini ia nekat melakukan hal seperti itu, meski tangan nya terlihat gemetar Tania tetap memaksakan dirinya untuk masuk.
"Bismillah, maaf Sindi, aku hanya mau ambil milik aku." Gumamnya seraya menekan handle pintu yang memang tidak terkunci.
Mata Tania berbinar senang begitu melihat kunci lemari Sindi tergantung bebas pada tempatnya.
"Ceroboh sekali anak itu." Gumam Tania tersenyum senang. Lagi-lagi, keberuntungan berpihak padanya hari ini.
Tania mulai menggeledah lemari Sindi dengan begitu hati-hati, dan benar saja, tidak butuh waktu lama, sebuah kotak perhiasan Tania temukan dengan mudah, yang hanya di sembunyikan di bawah tumpukan baju.
"Alhamdulillah." Tania bergegas mengambil gelang miliknya dan menutup kembali lemari baju Sindi.
Tania sempat memperhatikan beberapa baju milik nya yang tergantung rapi didalam lemari Sindi, tapi dirinya tidak tertarik sama sekali untuk mengambil nya lagi.
Setelah di rasa semua selesai, barulah Tania keluar sembari membawa gelang berharga milik nya.
****"
"Mbak Tania...." Mata mereka melebar melihat Tania sudah berada lebih dulu dirumah.
Tania menoleh sebentar saat namanya disebut, dan ia mengabaikan keberadaan mereka yang menatap Tania dengan wajah merah padam, apalagi Bella.
Wanita itu seakan ingin menerkam Tania yang duduk dengan santai nya di kursi tamu.
"Berani sekali kamu duduk di situ hah....Bangun nggak." Dinda menarik tangan Tania dengan kasar.
"Ada apa Bu?" Tanya nya tanpa rasa bersalah membuat emosi Dinda semakin tersulut.
"Kenapa kamu bisa pulang duluan? Dan apa benar kamu yang sudah mengerjai kami tadi dengan menyuruh pelayan restoran menagih bayaran makanan kamu ke kami, hah." Tanya Dinda dengan mata melotot tajam kearah Tania.
"Ia Bu, kenapa emang nya? Kan kalian yang ajak aku ke Mall. Masak setelah itu aku ditinggal, sedang kan kalian malah enak-enak makan tanpa ajak aku. Ya, aku juga kan laper Bu." Balas Tania begitu santai dengan raut wajah dibuat buat membuat mereka semua makin kesal.
Dinda, Sindi dan Farah sedikit tercengang melihat Tania kali ini berani melawan bahkan membantah ucapan mereka terutama Dinda.
"Bu, kok Mbak Tania berani melawan ibu?" Bisik Farah, membuat Dinda semakin meradang.
"Heh b4bu, kalau mau makan ya makan aja, nggak usah ngejebak kami segala. Kenapa? Ngak punya duit ya? Dasar Misk1n, nggak punya duit sok-sokan mau makan enak." Pekik Bella dengan keras menatap nyalang Tania.
"Memang nggak ada, makanya aku nggak bisa bayar sendiri. Ngomong-ngomong makasih loh, sudah mau bayarin makanan saya." Ucap Tania santai sembari kembali menjatuhkan bokongnya ke kursi empuk kesayangan mertuanya.
"Mbak Tania, jangan kurang aj4r ya sama ibu. Awas aja, aku akan laporin kamu sama mas Raka. Biar di usir sekalian kamu, kamu tau kan kalau Mas Raka sangat sayang sama ibu." Ancam Sindi menunjuk Tania.
"Lah, kan tadi ibu nanya sama Mbak, ya Mbak jawab dong Sindi. Yang mana nya Mbak kurang aj4r sama ibu?"
"Tunggu-tunggu.....Belanjaan kita yang di mall tadi mana Mbak?" Tanya Farah tiba-tiba begitu menyadari barang mereka sama sekali tidak ada di situ.
Sontak semua menoleh ke arah Tania meminta penjelasan wanita itu.
Tania yang merasa di tatap hanya menggedikkan bahunya.
"Mana aku tau, setelah makan tadi aku langsung pulang soalnya." Balas Tania acuh sembari melangkah meninggalkan mereka yang masih tercengang menatap Tania tak percaya.
"Apa...? Di-di Mall...." Ucap mereka dengan Serempak sembari saling menatap.
"Mbak taniaaaaaa....." Teriak Sindi begitu murka.
Sedang Tania sama sekali tidak peduli dan terus melanjutkan langkah nya menuju kamar.