NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: DENYUT BUMI YANG TERLUKA

DORRRR!

Suara letusan senjata api itu merobek kesunyian malam di Jalan Sudirman. Bagi telinga manusia biasa, itu hanya satu dentuman pendek.

Namun bagi Arka Nirwana, suara itu terdengar seperti lonceng kematian yang bergerak lambat. WUUUUUUU...(Suara frekuensi rendah yang memekakkan telinga batin).

Melalui sisa-sisa Segel Ruang yang masih terkunci, ia bisa merasakan proyektil peluru kaliber 7.62mm itu membelah udara, berputar menuju jendela lantai dua.

SWUUUUTTT! Peluru itu berputar, mengincar kepala Dafa.

Waktu seolah membeku. DEG-DEG... DEG-DEG... (Suara detak jantung Arka yang melambat).

Arka berdiri di tengah jalan, dikepung oleh puluhan moncong senjata anak buah Tuan Dharma. Secara logika, ia tidak mungkin bisa sampai ke lantai dua dalam waktu kurang dari satu detik.

Namun, Arka bukan lagi sekadar manusia yang tunduk pada logika fisika. “Ampuni hamba, Gusti... jika hamba harus merusak janji senyap ini,” batin Arka menjerit.

Seketika, tato di punggung Arka berdenyut panas. DZZZZT!  Seolah-olah besi membara ditempelkan ke kulitnya. Belenggu hitam yang mengikat sukmanya menderita tekanan luar biasa.

Arka tidak mencoba membuka seluruh segelnya, ia hanya memfokuskan seluruh 1% kekuatannya ditambah sedikit 5% Segel Bumi yang baru saja ia asah ke satu titik. Kecepatan Saraf.

Dhuarr!

Bukan suara tembakan, tapi suara dentuman udara yang pecah saat Arka melesat. ZINGGG!  Tubuhnya bergerak begitu cepat hingga meninggalkan bayangan kabur yang disebut para ksatria kuno sebagai Aji Panglimunan.

Di lantai dua, peluru itu sudah memecahkan kaca jendela. Serpihan kaca melayang di udara, berkilauan terkena lampu jalan. PYAARRRRR!  Peluru itu hanya berjarak sepuluh sentimeter dari kening Dafa.

TANGG!

Suara benturan logam terdengar nyaring. Arka muncul di samping tempat tidur Dafa seolah-olah ia berteleportasi. Ia tidak menangkap peluru itu dengan tangan kosong, itu akan terlalu mencolok.

Ia menggunakan sebuah penggaris besi tua yang ia ambil dari meja belajar Dafa dengan kecepatan yang tak terlihat mata. TING!

Peluru itu terpental, menghantam dinding semen dan tertanam di sana. DUB!

Arka berdiri mematung, nafasnya tersengal-sengal. HAAH... HAAH...  Darah segar mengalir dari hidung dan telinganya.

Memaksa tubuh fisiknya bergerak secepat itu dengan segel yang masih terpasang adalah tindakan bunuh diri. Organ dalamnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa.

"Papa...?" Dafa terbangun, mengerjapkan matanya yang masih mengantuk. Ia melihat bayangan ayahnya berdiri di kegelapan, nafasnya berat. "Papa kenapa di sini? Ada suara kelereng pecah ya?"

SRET!

Arka segera mengatur nafasnya, menyeka darah di hidungnya dengan lengan baju agar Dafa tidak melihatnya. Ia tersenyum, sebuah senyum yang sangat lembut meski tubuhnya sedang hancur di dalam.

"Nggak apa-apa, Jagoan. Cuma burung nabrak kaca. Dafa tidur lagi ya? Papa ada tamu di bawah," bisik Arka pelan.

Begitu Dafa memejamkan mata kembali, wajah Arka berubah total. VREEEUMMM... (Udara di sekitar Arka mendadak berat dan dingin).

Kelembutan itu menguap, digantikan oleh aura dingin yang bisa membekukan api neraka. Ia menoleh ke arah jendela yang pecah, menatap ke arah hutan di seberang jalan, titik di mana penembak runduk (sniper) itu berada.

Di bawah, Tuan Dharma dan anak buahnya masih mematung. Mereka hanya melihat Arka menghilang dalam sekejap mata dari tengah jalan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di lantai dua.

"Mana dia?! Ke mana si tukang buku itu?!" teriak Dharma panik, tongkat naga emasnya gemetar.

Tiba-tiba, Arka melompat turun dari balkon lantai dua. BANG! Ia mendarat dengan suara dentuman pelan, debu-debu aspal terangkat di sekitar kakinya.

Ia berdiri tegak, menatap Dharma. Kali ini, Arka tidak berlutut. Ia tidak memelas.

"Tuan Dharma," suara Arka terdengar sangat rendah, namun bergema di dalam dada setiap orang yang mendengarnya.

"Kau baru saja mencoba membunuh masa depanku. Dan di tanah ini, siapa pun yang mengusik masa depan Nusantara, tidak akan memiliki masa lalu."

Dharma mencoba menguatkan nyalinya. "Hajar dia! Tembak! Jangan kasih dia bicara!" DOR! DOR!"

KLIK! KLIK! KLIK!

Puluhan preman itu menarik pelatuk senjata mereka, namun tidak ada satu pun peluru yang keluar. Seluruh mekanisme senjata mereka macet total.

Seolah-olah bubuk mesiu di dalam peluru itu mendadak menjadi air. Inilah efek dari Segel Air yang secara tidak sadar dilepaskan Arka melalui kelembapan udara di sekitar mereka.

"Apa yang kau lakukan?!" jerit Dharma.

Arka melangkah maju. Satu langkah.

Krak!

Aspal di bawah kaki Arka retak sedalam sepuluh sentimeter.

"Lembah Hitam selama ini merasa berkuasa karena uang dan senjata," ucap Arka. "Kalian merasa bisa membeli hukum dan nyawa manusia. Tapi tahukah kalian, bahwa bumi yang kalian pijak ini... punya ingatan?"

Arka mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya terbuka. Ia tidak melakukan gerakan kungfu yang spektakuler. Ia hanya melakukan gerakan menyapu udara secara perlahan. WUUUUSSSHHHH!

"Tidurlah..." gumam Arka.

Seketika, seluruh anak buah Dharma hampir lima puluh orang mendadak jatuh tersungkur secara bersamaan. BRUK! BRUK! BRUK!

Mereka tidak mati, mereka hanya kehilangan kesadaran secara instan karena Arka memanipulasi tekanan udara di sekitar kepala mereka (Aplikasi dari Segel Udara tingkat rendah).

Hanya Dharma yang tetap berdiri, dikelilingi oleh tumpukan anak buahnya yang pingsan. Tubuh pria perlente itu gemetar hebat. DRRRR... (Gigi Dharma bergemeletuk)  Tongkat emasnya jatuh ke aspal.

"Kau... kau setan atau dewa?" bisik Dharma, suaranya hilang ditelan angin.

Arka berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Dharma. Ia mengambil tongkat emas itu, lalu dengan satu tangan, ia meremas kepala naga emas tersebut hingga menjadi bola logam yang tidak berbentuk. KREEEETEEEEKKKK... CRUSH!

"Saya hanya penjual buku yang ingin hidup tenang, Tuan Dharma," ucap Arka.

"Tapi karena Anda sangat ingin tahu siapa saya, saya akan memberikan satu rahasia. Katakan pada 'The Architect' di Jenewa... bahwa Poros Keenam sudah bangun."

"Dan jika mereka mengirim satu orang lagi ke kota ini, saya akan melipat koordinat markas mereka hingga hilang dari peta dunia."

Dharma tidak mengerti apa itu Poros Keenam, tapi ia merasakan ketakutan yang murni. Ia melihat di mata Arka bukan kebencian, tapi keabadian yang dingin.

"Sekarang, pergi," perintah Arka. "Bawa semua sampahmu ini. Dan jangan pernah kembali ke Jawa Timur."

"Jika matahari terbit dan wajahmu masih terlihat di provinsi ini, aku akan memastikan namamu dihapus dari seluruh catatan kependudukan dunia. Kau akan menjadi orang yang tidak pernah lahir."

Dharma lari tunggang langgang, masuk ke mobilnya dan memacu kendaraannya seperti dikejar iblis. VREEEUMMM!  Anak-anak buahnya yang pingsan ditinggalkan begitu saja di jalanan.

Setelah suasana sunyi kembali, Reyna keluar dari ruko dengan wajah pucat. Ia membawa handuk dan air hangat. Ia melihat Arka yang sedang bersandar di tiang listrik, wajahnya sangat pucat.

"Arka! Kau melampaui batas!" seru Reyna, segera memapah Arka. "Kau menggunakan tiga elemen sekaligus dalam kondisi belenggu aktif. Jantungmu bisa berhenti!"

HOK... HOEK!

Arka batuk, mengeluarkan gumpalan darah hitam. "Mereka... mereka mengincar Dafa, Rey. Aku tidak punya pilihan. Jika aku harus mati untuk menahan peluru itu, aku akan melakukannya."

Reyna membersihkan darah di wajah Arka. "Tapi identitasmu... Tuan Dharma sekarang tahu kau bukan manusia biasa."

"Dia tidak tahu apa-apa," sahut Arka lemah. "Dia hanya akan menganggap aku adalah 'Dukun Sakti' atau 'Orang Berilmu'. Dia tidak akan menyangka bahwa aku adalah Satria Piningit yang mengendalikan elemen."

"Biarkan narasi itu berkembang. Biar dunia bawah tanah menganggap Batu dijaga oleh sosok ghaib yang tak terlihat."

SREK... SREK...

Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di seberang jalan, muncul sesosok pria dengan pakaian taktis hitam lengkap.

Ia membawa senapan runduk yang tadi digunakan untuk menembak Dafa. Namun, pria itu tidak menyerang. Ia justru berjalan mendekat dengan tangan di atas kepala.

Begitu sampai di depan Arka, pria itu membuka penutup wajahnya.

Arka menyipitkan mata. Ia mengenali pria ini. Dia adalah Kapten Danu, mantan komandan tim elit yang dulu pernah bekerja sama dengan Arka saat Arka masih menjadi agen rahasia negara (sebelum ia dikhianati).

"Lapor, Komandan Arka," ucap Danu dengan suara bergetar. Ia langsung berlutut di depan Arka.

"Danu? Kenapa kau yang menembak?" tanya Arka, suaranya mengandung ancaman kematian.

"Saya tidak menembak anak Anda, Komandan!" Danu menunjuk ke arah senapannya. "Tembakan tadi... itu berasal dari penembak runduk lain di koordinat jam dua."

"Saya ke sini justru untuk mengeliminasi dia, tapi saya terlambat. Peluru saya hanya mengenai peluru dia di udara, setidaknya itu yang saya coba lakukan sebelum Anda muncul entah dari mana dan menangkisnya!"

Arka terdiam. Jadi ada penembak runduk kedua?

"Siapa penembak kedua itu, Danu?"

Danu menelan ludah, wajahnya tampak sangat ketakutan. "Dia bukan manusia, Komandan. Dia adalah unit 'Ghost' dari Black Order."

"Mereka sudah lama mengincar Anda. Tuan Dharma hanya dijadikan umpan oleh mereka untuk memancing Anda menggunakan kekuatan Anda."

Arka memegang kepalanya yang berdenyut. Jadi, ini semua adalah jebakan yang lebih besar. Tuan Dharma hanyalah bidak catur yang dikorbankan untuk melihat sejauh mana kekuatan Arka telah pulih.

"Di mana dia sekarang?" tanya Arka.

"Sudah menghilang, Komandan. Tapi dia meninggalkan satu hal ini di posisi menembaknya," Danu menyerahkan sebuah koin perak kuno yang bergambar ular melingkari dunia. KLING.

Begitu Arka menyentuh koin itu, ia merasakan getaran dingin yang sangat familiar. Ini adalah simbol dari The Sovereign, organisasi ghaib tingkat dunia yang lebih tua dan lebih berbahaya dari The Architect.

"Sepertinya masa tenangku sudah benar-benar berakhir," bisik Arka.

Ia menatap ruko tuanya. Ia melihat Dafa yang kembali tertidur pulas di balik jendela yang pecah. Ia melihat Reyna yang cemas.

Ia menyadari bahwa melindungi kota kecil ini tidak akan cukup. Jika ia ingin Dafa aman, ia harus menghancurkan ular yang melingkari dunia itu satu persatu.

"Danu, bangunlah," ucap Arka. "Kembalilah ke kesatuanmu. Jangan katakan pada siapa pun kau bertemu denganku. Jika mereka bertanya, katakan penembak runduk itu tewas karena kecelakaan ghaib."

"Siap, Komandan. Tapi... apa yang akan Anda lakukan sekarang?"

Arka menatap koin perak di tangannya, lalu meremasnya hingga menjadi debu perak yang terbang ditiup angin malam. Krrr... SHUUU... (Suara debu terbang ditiup angin).

"Aku akan mulai berburu," jawab Arka singkat.

***

Keesokan harinya, Arka kembali menjadi "Mas Arka". Ia sedang sibuk memasang kaca jendela baru di lantai dua dengan bantuan Pak RT. Ia tersenyum, bercanda, dan menerima suguhan kopi dari warga pasar.

Namun, di dalam laci meja kasirnya, tersimpan sebuah daftar nama yang baru saja ia terima lewat jalur rahasia Wironegoro. Daftar nama para petinggi The Sovereign yang berada di Asia Tenggara.

SREK... SREK... (Suara sapu lidi).

Saat ia sedang menyapu lantai, seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat sederhana masuk ke tokonya. SRET...  Wajahnya tertutup caping, tangannya gemetar memegang sebuah buku tua yang dibungkus kain mori putih.

"Mas Arka... saya disuruh Eyang di gunung untuk menyerahkan ini pada Mas," ucap wanita itu dengan suara berbisik.

Arka menerima buku itu. Begitu ia membuka kain pembungkusnya, DEG! matanya membelalak. Itu bukan buku. Itu adalah Peta Meridian Nusantara yang hilang selama lima ratus tahun.

Peta yang menunjukkan lokasi titik-titik energi bumi yang bisa membuka belenggu tujuh segelnya secara instan tanpa perlu latihan fisik bertahun-tahun.

Di halaman pertama peta itu, tertulis sebuah kalimat dalam aksara Jawa kuno yang hanya bisa dibaca oleh Arka:

“Waktunya telah tiba bagi Sang Macan untuk meninggalkan gua. Darah akan membasuh tanah, dan emas akan menjadi debu. Carilah titik pertama di bawah laut yang bergejolak.”

Arka menatap laut di kejauhan. HUIIIIINNNGGGG...(Suara angin laut yang memanggil). Perburuan sesungguhnya baru saja dimulai.

***

Dukung Perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!