NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Milikmu

Lucien tidak bergeming. Alih-alih menjauh, ia justru condong ke depan dan mengikis sisa ruang di antara mereka hingga aroma koloninya yang tajam menyelimuti indra Aurora sepenuhnya.

Pria itu menatapnya lurus dengan ekspresi yang masih sekaku topeng. Namun ada kilatan gelap yang tampak berbahaya dan sedikit predator berpendar di mata abu-abunya.

"Biarkan mereka berpikir sesuka hati," gumamnya dengan suara yang merendah satu oktav. Getarannya terasa hingga ke tulang rusuk Aurora dalam kesunyian lorong itu.

Lucien sama sekali tidak tertarik pada lukisan di sekeliling mereka karena fokusnya terkunci mati pada denyut nadi yang berpacu liar di pangkal leher Aurora.

"Museum ini punyamu. Aku tidak punya minat pada sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain."

Udara di antara mereka mendadak terasa menyesakkan dan keheningan itu kini berdengung dengan ketegangan yang sangat personal.

Tatapan Lucien sempat turun ke bibir Aurora sebelum kembali menghujam matanya. Suaranya kembali terdengar dingin dan penuh perintah meskipun ia tetap tidak memberi ruang bagi Aurora untuk bernapas.

"Karena sekarang aku sudah mendapatkan perhatian penuhmu," bisiknya lagi.

"Ada urusan mendesak. Pertemuan Aristocrat & Commerce Assembly akan diadakan Jumat ini dan kehadiranmu wajib."

Ia menjeda kalimatnya dengan mata yang menyipit tajam.

"Ini adalah langkah strategis. Aku ingin kau ada di sampingku bukan sebagai kurator melainkan sebagai istriku."

Aurora mengembuskan napas pendek yang terdengar kesal sementara gurat frustrasi muncul di wajah cantiknya. Ia mendongak untuk mencari setitik saja kejujuran di balik mata abu-abu yang tak tertembus itu.

"Jadi kau datang jauh-jauh ke sini hanya untuk membicarakan ini?" tanyanya dengan nada tak percaya.

"Kau bisa mengatakannya saat kita di rumah nanti, Lucien. Kau tidak perlu datang dan mengacaukan malam pameranku."

Aurora mencoba bergerak mundur untuk melepaskan diri namun punggungnya justru menabrak dinding yang dingin. Sementara itu Lucien tetap berdiri kokoh di depannya seperti bayangan besar yang mustahil untuk dihindari.

Lucien tidak memalingkan wajah sedikit pun.

Ekspresinya tetap tertutup topeng dingin yang tak terbaca. Pria itu justru condong semakin dekat, hingga suaranya yang berat terasa bergetar tepat di atas kulit Aurora.

Lucien mundur sedikit hanya untuk memberinya ruang bernapas, meskipun sorot matanya tetap terlihat posesif.

"Bersiaplah jam tujuh malam pada hari Jumat. Aku yang akan mengurus gaunmu."

Kedua alis Aurora bertaut. Ia memprotes dengan nada suara yang lembut namun terdengar bingung sekaligus kesal.

"Kenapa pula kau yang harus mengurus gaunku?" tanyanya dengan kilatan pemberontakan yang jarang ia tunjukkan.

"Aku adalah Direktur museum ini. Aku tahu lebih banyak tentang estetika dan keanggunan daripada siapa pun di gedung ini. Aku bisa berpakaian sendiri."

Tatapan Lucien menyapu sosok Aurora perlahan. Seolah pria itu sedang menilai sebuah karya seni yang sudah ia miliki sepenuhnya.

"Karena," jawabnya datar, "aku ingin kau terlihat persis seperti apa yang kubayangkan saat kau berdiri di sampingku."

Aurora tertegun menatapnya. Ia merasa tidak percaya dengan bagaimana Lucien mengabaikan haknya secara terang-terangan. Udara di lorong sempit itu mendadak terasa sangat mencekik.

"Aku bukan salah satu barang akuisisi milikmu," bisik Aurora dengan suara yang sedikit gemetar.

Pria itu tidak bergeming.

"Kau adalah istriku. Di mata Majelis, itu menjadikanmu sebagai perpanjangan dari pengaruhku."

Lucien melangkah mundur. Hawa dingin kembali menyelimuti dirinya.

"Jumat. Jam tujuh. Jangan terlambat."

Setelah itu Lucien berbalik pergi. Ia meninggalkan Aurora yang menggigil di tengah kesunyian lorong yang mendadak terasa hampa.

Pria itu tidak menoleh sedikit pun. Langkah kakinya terdengar mantap dan berirama, seakan menegaskan otoritasnya di setiap jengkal museum itu.

Aurora masih terpaku di dinding.

Sisa malam itu menjadi kabur bagi Aurora. Segalanya terasa seperti rangkaian senyum palsu dan ucapan selamat yang hampa.

Setiap kali ia melirik ke arah pintu keluar, ia seolah merasakan beban bayangan pria itu masih tertinggal di sana.

Kehadiran Lucien membuat aula museum yang megah ini tiba-tiba terasa begitu sempit. Sangat menyesakkan baginya.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!