NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Tak Di Kenal

Menikahi Pria Tak Di Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Crazy Rich/Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Astri Reisya Utami

Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.

Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.

Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,

yu simak ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

POV Galang.

Ku tatap wajah cantik nan pucat di hadapan ku, wajah wanita yang paling aku cintai.

"Aku janji jika kamu sadar aku akan jujur dan akan aku perlakukan dengan baik, " ucap ku sambil memegang tangan Alika.

"Cepat sadar sayang, " lirih ku.

Sudah hampir satu minggu Alika belum sadar dan kondisinya belum menunjukan perubahan. Hati ku sedih melihat keadaan Alika seperti itu.

"Galang, " panggil seseorang dan saat aku melihatnya ternyata itu kang Arfan kakaknya Alika.

"Kang, " kaget ku.

Kang Arfan mendekati ku dan dia berdiri di samping Alika.

"Al, akang datang buat jenguk kamu. Kamu cepat sadar ibu sakit dia ingin ketemu sama kamu, " lirih kang arfan dan aku bisa melihat air mata nya.

Hanya kang Arfan yang datang karena kondisi kedua orang tua Alika tidak memungkinkan untuk datang, apa lagi setelah mendengar kabar jika Alika tak sadarkan diri.

"Kang, " panggil kau pada kang Arfan.

"Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga Alika dengan baik, " ucap ku.

"Aku gak. pernah menyalahkan kamu toh aku yakin i i sudah keputusan Alika mengorbankan nyawanya untuk kamu, " balas kang Arfan.

"Tapi kalau saja dari awal aku jujur pada Alika pekerjaan ku apa mungkin ini gak akan terjadi, " lanjut ku.

"Semuanya sudah terjadi, kalau kamu benar-benar sayang sama Alika makan tinggalkan pekerjaan itu, " ucap kang Arfan membuat aku terdiam.

"Sudah jangan kamu pikirkan, aku gak akan paksa kamu toh itu sudah pilihan kamu dan mungkin ini sudah resiko Alika sebagai istri mu, " lanjut kang Arfan membuat aku kaget karena yang aku bayangkan dia akan marah.

"Aku titip Alika karena aku gak bisa lama berada disini, aku yakin kamu akan jaga dia baik-baik, " pesan kang Arfan lalu pamit pulang karena dia tidak bisa menemani Alika lama di rumah sakit.

Namun semua itu belum berakhir, rasa bersalahku semakin besar saat mengetahui kenyataan pahit tentang Alika. Siang ini Alika di lakukan pemeriksaan dan Dokter menemukan kejanggalan dalam luka Alika dan setelah di pastikan kabar yang di beritahukan pada ku bagaikan petir di siang hari.

"Galang, " panggil mama saat aku sedang menemani Alika.

"Ada apa ma? " tanya ku.

"Ikut mama ketemu dokter, " ucap mama dan aku pun mengangguk.

Aku pun tiba di ruangan dokter namun entah kenapa perasaan ku tidak enak. Aku pun masuk dengan jantung tak karuan bahkan langkah ku terasa berat. Aku dan mama duduk di hadapan dokter yang sedang memegang sebuah kertas dan entah hasil apa.

"Sebelum saya memberitahukan berita ini, saya harap buat ibu dan Galang agar tegar, " ucap dokter membuat perasaan ku semakin tidak enak.

"Alika istri bapak kemungkinan besar tidak akan pernah bisa punya anak, "

Dar.... jantung ku terasa terhenti saat mendengar kabar itu. Mama sampai memegang erat tangan ku dan mungkin dia sama kagetnya dengan ku.

"Luka yang di alami istri anda lumayan dalam dan membuat luka itu sampai ke area rahim dan saat melakukan operasi kami langsung melakukan tindakan agar tidak parah, " penjelasan dokter.

"Mungkin kami tidak langsung memberitahu kabar ini karena ingin memastikan dulu keadaannya rahim istri anda dan tadi setelah di lakukan pemeriksaan ternyata perusakan nya dalam fungsinya lumayan parah, " lanjut dokter.

Aku hanya terdiam dan bahkan pikiran ku sudah melayang entah kemana. Mama langsung membawa ku keluar dari ruangan dokter dan menuntun ku kembali ke ruangan Alika.

"Ma, " lirih ku memanggil mama.

"Iya bang, " jawab mama sambil memeluk ku.

"Gimana cara aku memberitahu Alika tentang ini? " tanya ku.

"Jangan kasih tau Alika, " jawab mama dan aku menatap mama.

"Mama juga wanita dan mama sudah membayangkan gimana perasaan Alika jika mengetahui ini semua, " ucap mama.

"Tapi apa rasa sayang mama sama Alika akan berubah? " tanya ku.

"Enggak akan bang, toh mama sudah anggap Alika anak mama, " jawab mama.

"Makasih ma, " ucapku.

"Sekarang kamu harus kuat jangan sampai kamu sedih karena akan membuat Alika sedih. Walau Alika belum sadar namun dia bisa merasakan nya, " mama dengan lembut memberiku kekuatan akan masalah itu.

Akhirnya aku dan mama memutuskan untuk tidak memberitahu keluarga dan termasuk Alika jika sadar nanti cukup aku dan mama yang tau agar tidak merubah perlakuan mereka pada Alika.

Hari sudah malam dan aku memutuskan untuk tidur karena lumayan ngantuk dan mama dia pulang. Namun saat aku terbangun tengah malam aku kaget melihat Alika matanya terbuka namun tatapannya kosong dan bahkan dia tidak merespon ku saat di panggil aku pun segera memanggil dokter.

Dokter langsung memeriksa Alika dan aku menunggu di luar. Tak lama Dokter keluar dan aku langsung mendekatinya.

"Istri anda sudah sadar namun kondisinya masih lemas jadi untuk sementara jangan membicarakan hal yang membuat pikirannya terguncang, " pesan dokter lalu pergi dan aku masuk kembali.

Alika melihat ke arah ku dan tiba-tiba air matanya keluar begitu saja tapi dia tidak bicara apa-apa.

"Alika, " dengan ki setelah dekat dengannya.

"Abang gak apa-apa kan? abang gak terluka kan? " tanya Alika sambil memegang tangan dan wajah ku.

Aku meneteskan air mata karena Alika sangat mengkhawatirkan aku.

"Abang gak apa-apa, " ucap ku sambil tersenyum.

"Kamu kenapa menghadang pisau itu? " tanya ku.

"Karena aku gak mau kalau sampai abang terluka, kalau abang terluka aku bakal sedih, " jawab Alika membuat aku tak percaya, Alika ternyata sangat peduli pada ku padahal selama ini aku sudah jahat terhadapnya.

Aku pun menarik Alika dalam pelukan ku dan aku menangis sambil memeluk nya. Saat Alika akan melepaskan pelukan aku pun menahannya karena aku gak mau Alika melihat aku menangis.

"Aku masih ingin peluk kamu, " ucap ku dan Alika pun diam.

Setelah merasa tenang aku pun melepaskan pelukannya dan berusaha tersenyum di hadapan Alika.

"Abang nangis? " tanya nya sambil memegang wajah ku.

"Abang senang karena kamu akhirnya sadar, " jawab ku tak sepenuhnya berbohong.

"Jangan nangis abang, aku gak apa-apa kok, abang lihat saja sekarang aku sudah bangun, " ucap Alika dengan tersenyum lebar.

"Sekarang kamu istirahat lagi hari masih malam, " titah ku.

"Tapi abang gak akan ninggalin aku kan? " tanya nya sambil memegang tangan ku.

"Abang gak akan pergi, abang pasti temani Alika, " jawab ku dan Alika pun menutup matanya lagi.

Ada rasa takut, aku takut kalau ini hanya mimpi dan besok saat aku bangun ternyata Alika masih berbaring tak sadarkan diri, aku benar-benar takut.

1
Juliaty Paridy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!