NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tebakan yang Salah & Pandangan Baru di Kantor

Melihat sosok yang duduk di dalam mobil pinggir jalan itu, langkah kaki Ziva seketika terhenti sesaat sebelum akhirnya ia melangkah mendekat. Di hadapannya, Arsen dengan tenang duduk di kursi penumpang sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang tampak elegan dan mahal. Sebuah hal yang langsung menarik perhatian Ziva bukan hanya mobil itu, melainkan sosok pria berpenampilan rapi yang duduk di kursi pengemudi, menunduk hormat seolah sedang menunggu perintah.

Pemandangan itu menimbulkan rasa penasaran sekaligus kecurigaan kecil di benak Ziva. Selama ini ia mengenal Arsen sebagai pria sederhana, santai, dan pekerja keras yang selalu terlihat berangkat sendiri. Namun melihat ada orang yang bertindak sebagai sopir pribadi, ditambah dengan kendaraan yang jelas-jelas b.ukan milik kalangan biasa, membuat dugaan di hatinya sedikit bergeser. “Apakah dia menyembunyikan sesuatu? Atau dia sebenarnya bukan sekadar pegawai biasa seperti yang dia katakan?” batin Ziva bertanya-tanya dalam diam.

Belum sempat Ziva membuka suara, pintu mobil sisi kiri depan terbuka lebar. Arsen melangkah turun dengan gerakan luwes dan berwibawa, senyum khas yang selalu membuat hati Ziva berdebar itu kembali terukir jelas di bibirnya. Ia menoleh ke arah sopirnya, lalu berbicara dengan nada bicara sopan namun tegas.

"Terima kasih banyak ya Pak, Bapak boleh lanjutkan perjalanan. Nanti saya akan berangkat kerja naik taksi saja, tidak perlu mengantar saya lagi ke kantor," ucap Arsen seolah sengaja menegaskan posisinya, seolah mobil ini hanyalah tumpangan sementara dan ia hanyalah penumpang biasa.

Sang sopir hanya mengangguk hormat, melirik sekilas ke arah Ziva dengan pandangan penuh arti yang tak sempat ditangkap gadis itu, lalu segera menutup pintu dan melajukan mobil itu menjauh.

Ziva menatap punggung mobil yang menjauh itu, lalu kembali menatap Arsen dengan dahi sedikit berkerut karena penasaran.

"Aku kira dirimu bos besar atau pemimpin perusahaan yang sedang berkeliling, tahu? Ada sopir pribadi dan mobilnya juga terlihat sangat mewah sekali. Katamu kamu hanya karyawan biasa, tapi fasilitasnya kok sampai segitunya," ujar Ziva blak-blakan, mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

Arsen tertawa kecil mendengar pertanyaan polos namun tajam itu. Ia mengusap tengkuknya seolah sedikit canggung, namun matanya bersinar jenaka.

"Hahaha... Mana mungkin aku bos besar. Aku ini cuma karyawan biasa yang bekerja keras, sama seperti orang lain tadi. Itu tadi cuma kebetulan dapat tumpangan dari kenalan lama, makanya agak sedikit berlebihan fasilitasnya," jawab Arsen santai, lalu ia menoleh ke arah kerumunan orang yang sedang diamankan Kevin dan Gabriel di kejauhan. Ia melihat sisa-sisa kekacauan dan orang-orang yang terkapar kesakitan akibat ulah Ziva.

"Ngomong-ngomong... Hmm, apakah kamu butuh bantuan untuk membereskan semuanya ini? Kalau perlu tangan tambahan, aku bisa bantu urusin barang-barang atau panggilkan orang kebersihan," tawar Arsen sambil tersenyum miring, matanya menatap Ziva dengan pandangan kagum yang tak disembunyikan lagi, mengingat betapa hebatnya gadis itu baru saja mengalahkan belasan orang sendirian.

Ziva menggeleng pelan, lalu menepuk-nepuk debu halus yang menempel di lengan jaketnya dengan tenang.

"Tidak perlu dipusingkan. Nanti ada orang-orangku yang datang mengurus semuanya sampai tuntas. Mereka akan memastikan tidak ada jejak yang tertinggal dan semuanya beres seperti sedia kala," jawabnya ringan, seolah sedang membicarakan hal yang paling sepele di dunia.

Suasana hening sejenak di antara mereka berdua. Angin pagi berhembus pelan, menerbangkan helai rambut Ziva yang jatuh menutupi sebagian wajahnya. Saat berdiri sedekat ini dengan Arsen, Ziva kembali merasakan gejolak aneh itu kembali hadir di dalam dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ada rasa nyaman, rasa aman, sekaligus rasa gugup yang sulit dijelaskan.

Entah karena ia sudah terlalu sering bertemu dengannya hingga terbiasa dengan kehadiran Arsen, atau karena perlahan namun pasti pintu hatinya mulai terbuka dan membiarkan pria ini masuk lebih dalam. Ada sesuatu pada diri Arsen yang membuatnya berbeda dari pria lain, sesuatu yang membuat Ziva—seorang Ratu yang dingin dan tegas—menjadi gadis biasa yang canggung dan pemalu.

Namun momen hangat itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba sebuah tangan besar menyentuh lengan Ziva dan menariknya perlahan namun tegas menjauh dari Arsen. Itu adalah Kevin. Wajah kakaknya itu terlihat sangat tidak suka, rahangnya mengeras, dan tatapannya tajam menusuk tepat ke arah Arsen.

"Jangan macam-macam atau berniat buruk dengan adikku! Dan kamu... cepat pergi dari sini sekarang juga! Jangan sampai aku melihatmu masih ada di sini sebentar lagi!" usir Kevin dengan nada tinggi dan penuh ancaman, sikap protektifnya sebagai kakak laki-laki sepenuhnya keluar.

Arsen sama sekali tidak terlihat gentar atau takut. Justru sudut bibirnya terangkat makin tinggi, menatap balik Kevin dengan pandangan menantang yang santai namun berwibawa.

"Memang kalau aku tak mau pergi, kamu mau apa? Mau mengusir paksa? Atau mau bertarung lagi denganku?" tantang Arsen balik, suaranya tenang tapi cukup untuk membuat darah Kevin mendidih dan hampir meledak seketika.

Ziva yang menyadari situasi mulai memanas kembali, segera menengahi. Ia menarik lengannya dari cengkeraman Kevin, lalu menatap kakaknya dengan pandangan meminta pengertian.

"Sudah cukup, Kak. Jangan bersikap kasar begitu, dia tidak berniat jahat apa pun. Baiklah Arsen, aku harus pergi dulu. Sampai jumpa lagi ya," pamit Ziva cepat, lalu ia segera berbalik arah dan masuk ke dalam mobil mewah milik Daniel yang sudah menunggu di belakang.

Arsen hanya berdiri diam di sana, mengawasi mobil itu hingga menghilang di tikungan jalan. Senyum kemenangan masih terlukis jelas di wajah gantengnya. Begitu kendaraan yang membawa keluarga Sterling itu benar-benar pergi, senyum itu perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin dan serius yang sama sekali berbeda.

Ia mengeluarkan ponsel tipis dari saku jasnya, lalu menekan nomor tertentu dengan gerakan cepat.

"Halo... Tolong bantu aku urus beberapa hal. Sepertinya ada pihak lain yang berani-beraninya main-main dan mengganggu ketenangan wanitaku. Cari tahu siapa dalang di balik serangan tadi, siapa yang menyuruh mereka, dan apa tujuan sebenarnya. Aku ingin mereka mendapatkan pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup," perintah Arsen dengan suara berat dan berwibawa, suara seorang pemimpin sejati yang tidak bisa dibantah, sebelum akhirnya ia mematikan sambungan telepon itu.

 

Sementara itu, mobil yang ditumpangi Ziva dan Daniel akhirnya tiba di kawasan pusat bisnis kota, tepat di depan gedung pencakar langit yang megah dan menjulang tinggi—kantor pusat perusahaan milik keluarga Sterling. Begitu mereka melangkah masuk ke lobi utama yang luas dan mewah, sepasang mata dari para karyawan yang sedang lewat atau sibuk bekerja seketika tertuju pada mereka berdua.

Perhatian utama bukan hanya pada Daniel sang pewaris perusahaan, melainkan pada sosok gadis cantik yang berjalan anggun di sampingnya. Penampilan Ziva yang sederhana namun berkelas, aura kewibawaan yang tak terlihat namun terasa kuat, serta wajah cantik yang mempesona, langsung menjadi pusat pembicaraan bisik-bisik di sana.

"Lihat deh, siapa itu wanita cantik yang berjalan di samping Tuan Daniel? Tidak pernah aku melihatnya sebelumnya," gumam seorang staf wanita sambil berbisik kepada rekannya, matanya tak lepas menatap punggung Ziva.

"Iya ya... Cantik banget dan berkelas sekali. Jangan-jangan itu pacaran Tuan Daniel? Wah, kalau iya, cocok banget sih mereka berdua," jawab rekannya lagi dengan nada kagum.

Seorang staf pria yang sedang membawa berkas ikut berkomentar saat lewat di dekat mereka. "Aku kira selama ini Natasha itu satu-satunya wanita yang akan jadi pendamping Pak Presiden Direktur. Semua orang kan tahu Natasha sering ada di sisi dan dekat sekali dengan Tuan Daniel. Tapi... melihat wanita yang satu ini, sepertinya dugaan kita semua salah besar. Ada beda kelas yang sangat jauh lho auranya. Dia terlihat lebih tinggi, lebih dingin, dan lebih berwibawa."

Bisik-bisik itu terdengar samar namun cukup jelas tertangkap oleh telinga tajam Ziva dan Daniel. Daniel hanya tersenyum kecil sambil melirik adiknya. Ia senang melihat reaksi mereka, namun juga sadar betul bahwa kehadiran Ziva akan mengubah segalanya.

Ziva sendiri berjalan tenang seolah tidak mendengar apa-apa. Ia menatap lurus ke depan, matanya mengamati setiap sudut ruangan, setiap ekspresi wajah karyawan, dan setiap detail kecil yang ada di sekelilingnya. Di dalam hatinya, ia sudah menyusun strategi. Ia tahu masalah yang menimpa perusahaan ini bukan sekadar kebocoran dokumen biasa, melainkan awal dari sebuah perang besar yang ingin dilancarkan oleh musuh keluarga mereka.

Dan saat ia melangkah masuk ke ruangan kantor Daniel yang luas dan mewah itu, Ziva berjanji dalam hati: "Aku akan pastikan, tidak ada satu pun orang jahat yang bisa merusak apa yang menjadi milik keluargaku. Mulai hari ini, di sini pun, aku akan berdiri menjaga nama baik keluarga Sterling, sama seperti aku menjaga kekuasaanku di dunia lain."

Pintu ruangan kerja tertutup rapat, menyembunyikan diskusi penting yang akan menentukan nasib perusahaan itu selanjutnya. Di luar sana, para karyawan masih saling bertanya-tanya dan bertebakan, namun satu hal yang pasti: kehadiran Ziva telah mengubah pandangan mereka semua. Ada sosok baru yang kuat, cantik, dan misterius yang kini berdiri di balik kekuatan besar perusahaan Sterling Group.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Diyanathan: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!