NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran Terungkap

"Untuk memperjelas hal ini..."

Adrian berdiri dengan tenang, namun ada kilatan kemenangan di matanya.

"Saya memanggil saksi kunci, Tuan Hans, petugas pencatat log keamanan Museum Seni Ashford, untuk memberikan kesaksian di bawah sumpah."

Mendengar nama itu, Bella yang duduk di barisan belakang tersentak. Wajahnya yang semula terlihat prihatin mendadak pucat pasi. Ia melirik sekilas ke arah Moltemer, yang kini tampak gelisah sambil meremas pegangan kursi kayunya.

Jantung Aurora berdegup kencang.

Ia melihat Tuan Hans, seorang pria tua yang telah bekerja di museum selama puluhan tahun, berjalan perlahan menuju mimbar saksi sambil membawa sebuah buku besar bersampul kulit yang sudah usang.

Sebelum pemeriksaan dimulai, Aurora merasa sebuah dorongan untuk menoleh ke belakang. Di sana, di antara kerumunan penonton yang tegang, Lucien Valehart tetap duduk dengan tenang.

Pria itu memberikan satu anggukan kecil yang sangat tipis—sebuah isyarat tanpa suara bahwa segala sesuatunya berada di bawah kendalinya. Seolah-olah, kesaksian Tuan Hans ini adalah bagian dari bidak catur yang telah Lucien gerakkan sejak lama.

Adrian membuka buku log tersebut di depan Hakim. "Tuan Hans, bisa Anda jelaskan kepada pengadilan, siapa yang sebenarnya masuk ke ruang arsip pada pukul dua dini hari, saat Nyonya Aurora sudah berada di kediamannya?"

Tuan Hans memakai kacamatanya, lalu menunjuk sebuah baris tulisan tangan.

"Malam itu, saya melihat seseorang menggunakan kunci cadangan. Awalnya saya pikir itu Nyonya Aurora karena perawakannya mirip, tapi setelah saya periksa kembali daftar tugas..."

Tuan Hans menjeda kalimatnya, membuat seluruh ruang sidang menahan napas.

"Nama yang tertera di sana adalah Nona Bella Rosaline."

Gumam riuh rendah seketika meledak di ruang sidang.

Aurora terbelalak, menoleh ke arah Bella yang kini menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik sapu tangan.

Rasa dikhianati itu menghantam Aurora jauh lebih keras daripada tamparan Neneknya tempo hari.

"Tunggu," Adrian mencelah, memastikan kronologi itu jelas bagi para juri.

"Tuan Hans, untuk rekod mahkamah, kejadian yang anda catat ini berlaku pada malam 14 April, bukan? Iaitu dua minggu sebelum kejadian yang dilaporkan oleh saksi lain yang melihat Nona Bella di lorong museum?"

Tuan Hans mengangguk tegas.

"Benar, Tuan Morel. Malam 14 April adalah kali pertama dia masuk menggunakan kunci duplikat untuk memecah segel dan mengakses akaun bank. Manakala malam yang dilihat oleh pihak lain itu—dua minggu kemudian—adalah ketika dia kembali sekali lagi, mungkin untuk memastikan tiada bukti yang tertinggal."

Penjelasan itu membuatkan kepingan teka-teki di kepala Aurora akhirnya bercantum.

Malam yang Neneknya ceritakan—malam di mana Bella kononnya hanya mahu mengambil shawl—sebenarnya adalah kunjungan kedua Bella untuk menutup jejak jenayahnya yang telah dilakukan malam sebelumnya. Bella tidak hanya mencuri sekali, dia telah merancang segalanya dengan sangat teliti.

Suasana ruang sidang yang tenang mendadak pecah oleh bisik-bisik yang riuh.

Pengacara pihak lawan—seorang pria bertubuh tambun dengan kumis melintang yang bekerja untuk Moltemer Ashford—langsung berdiri dengan wajah merah padam. Ia memukul meja kayu di depannya dengan keras.

"Keberatan, Yang Mulia!" serunya, suaranya menggelegar menutupi suara para juri.

"Kesaksian ini sangat meragukan! Tuan Hans sudah tua, penglihatannya mungkin sudah kabur di lorong museum yang gelap pada jam dua pagi. Bagaimana mungkin kita mempercayai ingatan seorang pria senja dibandingkan dengan bukti transaksi perbankan yang jelas-jelas mengarah pada Nyonya Aurora?"

Ia berjalan mendekati mimbar saksi dengan langkah yang mengancam, mencoba mengintimidasi Tuan Hans.

"Tuan Hans, apakah Anda sadar akan konsekuensi dari memberikan kesaksian palsu? Ataukah mungkin... ada pihak tertentu..." ia melirik tajam ke arah Adrian dan Lucien secara bergantian, "yang telah menyuap Anda untuk mencatut nama Nona Bella dan Tuan Moltemer demi membersihkan nama Ashford yang sudah tercemar ini?"

Moltemer yang duduk di barisan depan ikut mendengus keras.

Pengacara lawan kembali menatap Hakim Agung dengan penuh keyakinan.

"Yang Mulia, kami meminta pengadilan untuk mengabaikan kesaksian ini karena kurangnya bukti fisik yang konkret. Nama yang tertulis di buku log bisa saja dipalsukan oleh siapa saja yang memiliki akses ke meja penjaga malam!"

Bella, yang masih duduk di baris penonton, mulai mengeluarkan isak tangis kecil yang terdengar sangat menyedihkan, seolah-olah dia adalah korban fitnah yang keji. Hal ini membuat beberapa juri mulai terlihat ragu kembali.

Adrian Morel hanya tersenyum tenang, sama sekali tidak terganggu oleh gertakan pengacara lawan. Ia melirik ke arah Aurora, seolah memberikan kode bahwa badai ini baru saja dimulai.

Adrian Morel tidak terintimidasi. Ia justru tersenyum tipis, seolah sudah menunggu lawan masuk ke dalam jebakannya.

"Anda benar, rekan sejawatku yang terhormat," ujar Adrian sambil berjalan pelan menuju meja juri.

"Mata manusia bisa menipu. Tapi, tinta di atas kertas tidak pernah berubah warna dalam semalam."

Adrian mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku jasnya—sebuah buku catatan saku bersampul kulit hitam.

"Ini adalah buku catatan pribadi milik Nona Bella Rosaline yang tertinggal di laci kantor museum saat dia terburu-buru 'mengemasi' barang-barangnya minggu lalu. Di dalamnya, tidak hanya ada daftar aset yang akan dipindahkan, tapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga."

Adrian membuka halaman yang sudah ditandai dan membacakannya dengan lantang.

"Tanggal 14 April 1934. Sebuah catatan instruksi dari 'M'. Isinya: 'Pastikan segel pecah tepat pukul dua. Gunakan kunci duplikat. Dana akan dialihkan ke rekening perantara di Swees atas nama asisten.'"

Wajah Paman Moltemer yang tadinya merah padam kini berubah menjadi sepucat kertas. Bella, yang tadinya terisak, mendadak berhenti bernapas.

"Yang Mulia," lanjut Adrian dengan nada yang menusuk. "Kami telah memverifikasi tulisan tangan tersebut. Itu adalah tulisan tangan Tuan Moltemer Ashford. Beliau begitu yakin bahwa asistennya yang setia ini akan melenyapkan bukti ini, namun nampaknya ketakutan membuat seseorang menjadi ceroboh."

Adrian lalu mengeluarkan satu lagi "senjata pemungkas"

"Dan ini adalah salinan telegram dari Bank Swees yang baru saja kami terima pagi ini melalui kurir diplomatik. Isinya mengonfirmasi adanya upaya pemindahan dana yang divalidasi oleh tanda tangan palsu Valehart—namun kode rahasia yang digunakan justru kode milik Tuan Moltemer Ashford."

Ruang sidang yang tadinya senyao mendadak bising.

"Nona Bella," Adrian menoleh ke arah Bella dengan tatapan dingin.

"Apakah Anda ingin terus menanggung hukuman penjara sendirian demi pria yang bahkan tidak akan sudi melirik Anda saat Anda berada di balik jeruji besi? Ataukah Anda ingin bicara yang sebenarnya sekarang?"

Bella gemetar hebat.

Ia menatap Moltemer yang justru memalingkan wajah, seolah tidak mengenalinya lagi. Kesetiaan yang dibangun di atas kebohongan itu runtuh seketika di bawah lampu ruang sidang yang redup.

Keheningan di ruang sidang itu begitu pekat, hingga suara detak jam dinding besar di belakang meja Hakim terdengar seperti dentuman palu godam.

Bella Rosaline masih terpaku di tempatnya, wajahnya yang cantik kini tampak layu dan hancur. Ia menoleh ke arah Moltemer, mencari setitik pembelaan atau jaminan keselamatan.

Namun, Moltemer Ashford justru memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras, seolah-olah Bella hanyalah serangga pengganggu yang tidak pernah ia kenal.

"Nona Bella," suara Adrian memecah kesunyian, kali ini lebih rendah, hampir seperti bisikan iblis yang menawarkan jalan keluar.

"Hukuman untuk penggelapan dana publik dan konspirasi di negara ini tidaklah ringan. Anda akan menghabiskan masa muda Anda di penjara wanita yang dingin, sementara orang yang memberi Anda perintah tetap menikmati cerutu di klub pria mewahnya."

Suasana mencekam.

Adrian Morel tidak langsung mendesak Bella. Ia berbalik, membungkuk hormat ke arah meja tinggi di depan ruangan.

"Yang Mulia," suara Adrian bergema tenang. "Mengingat bukti baru yang kami ajukan sangat kontradiktif dengan kesaksian awal, saya memohon izin pengadilan agar Nona Bella Rosaline diberikan kesempatan untuk memberikan pernyataan tambahan di bawah sumpah. Hal ini krusial untuk menentukan apakah ada unsur konspirasi kriminal yang melibatkan pihak lain."

Hakim Agung, seorang pria tua dengan kacamata bertangkai perak, menatap tajam ke arah Bella yang tampak hampir pingsan, lalu beralih ke Moltemer yang mulai berkeringat dingin.

"Permohonan dikabulkan," ujar Hakim sambil mengetukkan palu sekali. "Nona Rosaline, pengadilan mengingatkan Anda bahwa Anda masih berada di bawah sumpah. Setiap kebohongan akan berakibat pada hukuman penjara yang lebih berat. Silakan bicara."

"Saya..." suara Bella gemetar, namun kali ini terdengar jelas. "Saya hanya melakukan apa yang diminta... Tuan Moltemer Ashford yang merencanakan semuanya!"

Seketika, seluruh ruang sidang riuh. Bella mulai bicara dengan terisak, kata-katanya mengalir seperti bendungan yang jebol.

"Dia yang memberikan kunci duplikat itu kepada saya! Dia yang menyuruh saya masuk ke ruang arsip pada jam dua pagi dan memindahkan dana tersebut ke rekening bank di Swees. Dia bilang, dengan membuat Aurora terlihat seperti pencuri, nama keluarga Ashford akan bersih dari skandal jika Aurora dipenjara, dan dia bisa mengambil alih seluruh aset museum secara penuh!"

"BOHONG! KAU WANITA JALANG TIDAK TAHU DIRI!" Moltemer bangkit berdiri, wajahnya merah padam. Ia mencoba menerjang ke arah mimbar saksi, namun petugas pengadilan dengan sigap menahannya.

Hakim Agung memukul palu dengan keras berkali-kali. "TENANG! Petugas, amankan Tuan Moltemer Ashford! Pengadilan mencatat pengakuan ini sebagai bukti adanya konspirasi kriminal."

Di tengah keributan itu, Aurora merasa dunianya seolah terhenti. Ia menatap Bella dengan pandangan hancur.

Wanita yang selama ini ia anggap sebagai tempat bersandar, ternyata adalah orang yang memegang pisau untuk menusuknya dari belakang.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!