NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 : Ujian Logika di Bengkel

Suasana di Bengkel Modifikasi Pak Edi sore itu lebih sibuk dari biasanya. Bunyi deru mesin motor yang sedang diuji coba bercampur dengan suara radio yang menyetel musik dangdut klasik. Aku duduk di sudut favoritku, menatap layar laptop dengan fokus penuh. Aplikasi Stock Management yang kubangun—yang kuberi nama "BengkelLog"—kini sudah memasuki tahap uji coba live.

Kak Luq sedang sibuk di meja kerja utama, memasang kembali karburator motor pelanggan. Keringat menetes di pelipisnya, tapi gerakannya sangat presisi. Aku memperhatikan bagaimana dia bekerja; dia tidak pernah sembarangan. Setiap baut yang dia lepas, dia taruh di wadah magnetik kecil. Setiap bagian yang dia bersihkan, dia lakukan dengan teliti.

"Rea," panggil Kak Luq tanpa menoleh. "Jangan terlalu tegang. Kalau kodenya bug, ya tinggal di-debug. Sama kayak mesin, kalau mati, ya tinggal dicari mana selang yang tersumbat."

Aku tersenyum. Kak Luq benar. Seringkali aku lupa bahwa coding bukan tentang menulis kode yang sempurna, tapi tentang memecahkan masalah.

Tiba-tiba, Pak Edi keluar dari ruang kantornya dengan wajah panik. Dia memegang kertas catatan yang kusut. "Luq! Waduh, gawat. Pelanggan motor sport yang tadi pagi mau ambil motornya sore ini, tapi gue nggak bisa nemuin piston cadangannya di mana! Catatan stok gue berantakan, gue lupa naruh di rak mana!"

Pelanggan itu adalah orang penting, dan jika motornya tidak jadi, reputasi bengkel Pak Edi bisa terancam. Suasana bengkel mendadak tegang.

Aku langsung menutup buku Mandarin-ku, lalu membuka aplikasi "BengkelLog" di laptop. "Pak Edi! Coba sebutin tipe motornya!"

Pak Edi menoleh padaku dengan ragu. "Hah? Emang bisa lewat situ?"

"Bisa, Pak. Coba sebutin!"

"Yamaha R25, piston set!" teriak Pak Edi.

Jari-jariku menari di atas keyboard. Aku mengetik perintah pencarian. search: Yamaha_R25_piston. Detik demi detik terasa seperti menit. Jantungku berdegup kencang. Tolong, jangan error, doaku dalam hati.

Loading...

BEEP.

Layar menampilkan hasil: Item Found. Location: Rak B, Box 04, Row 2.

"Rak B, Kotak 04, Baris kedua, Pak!" seruku.

Pak Edi tidak membuang waktu. Dia berlari ke arah rak penyimpanan yang cukup luas di belakang bengkel. Kak Luq ikut berlari menyusul, membantunya membongkar tumpukan kotak. Aku menunggu dengan cemas.

Tak lama kemudian, Kak Luq kembali dengan kotak kecil di tangannya. Dia tersenyum lebar ke arahku. "Ketemu, Rea! Tepat banget di kotak 04!"

Pak Edi tampak tak percaya. Dia melihat kotak itu, lalu melihat laptopku, lalu melihatku. "Gila... Luq, temen lo ini benar-benar jenius. Gue nyari hampir setengah jam nggak ketemu, dia cuma butuh lima detik!"

Sorak sorai para mekanik bengkel pecah. Aku merasa kakiku lemas karena lega. Aku baru saja membuktikan bahwa kodingan yang kubuat di kamar sempit, yang sering kubawa bolak-balik ke bengkel, benar-benar berguna bagi orang lain.

Malam itu, setelah bengkel tutup, kami merayakan "kemenangan" kecil itu dengan membeli martabak manis di depan bengkel.

"Gimana rasanya, Rea?" tanya Kak Hazel yang baru saja datang menjemput.

"Seneng banget, Kak. Rasanya... kayak semua hafalan syntax dan logika yang aku pelajarin selama ini akhirnya punya arti," jawabku tulus.

Kak Luq duduk di sampingku, masih dengan tangan yang meninggalkan bekas hitam oli. "Kamu liat kan, Rea? Coding itu bukan cuma soal teks di layar. Itu soal mempermudah hidup orang. Itu real-world impact. Kalau kamu nanti berhasil dapat beasiswa ke China, cerita ini harus kamu masukin ke esai lo."

Aku mengangguk. "Iya, Kak. Eh, ngomong-ngomong, Kak Luq gimana? Tadi aku liat Kakak bawa buku matematika pas istirahat."

Wajah Kak Luq memerah sedikit. "Gue... gue lagi nyoba ngerjain soal-soal latihan masuk PTN. Gue nggak mau selamanya jadi mekanik, Rea. Gue mau kuliah, ambil Teknik Informatika atau Sistem Informasi."

"Bagus dong!" seruku. "Kalau Kakak belajar, aku juga harus lebih giat. Besok aku bakal mulai hafal 50 karakter Mandarin baru."

"Sip. Kita saingan ya," tantang Kak Luq sambil tertawa.

Kami menghabiskan malam itu dengan berbagi martabak manis, membahas rencana masa depan di bawah lampu jalanan. Tidak ada lagi suasana "bertahan hidup" yang mencekam. Yang ada adalah rencana-rencana besar.

Saat aku pulang dan sampai di kamar, aku menatap papan tulis kecil di dinding kamarku. Di sana ada tulisan besar: TARGET: BEASISWA CHINA. Di bawahnya, aku menambahkan satu catatan baru:

"BengkelLog: Version 1.0 (Success)".

Aku membuka buku HSK Level 1. Hari ini aku belajar bahwa meskipun aku masih kelas 8 SMP, meskipun duniaku masih sebatas sekolah dan bengkel, aku sudah bisa menciptakan perubahan. Dan jika aplikasi sederhana saja bisa menyelesaikan masalah Pak Edi, aku yakin impianku ke China pun bisa kucapai jika aku terus melangkah, satu baris kode dan satu karakter Mandarin demi satu karakter.

Aku memejamkan mata, membayangkan suatu hari nanti, saat aku sudah di China, aku akan menelepon Kak Luq dan bilang, "Kak, aku udah sampai sini. Sekarang giliran Kakak yang masuk kuliah."

Malam itu, aku tidur dengan senyum yang tidak bisa lepas dari wajahku. Ujian pertama sudah lulus, dan ini baru permulaan.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!