Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Luka di Balik Kemegahan Benjamin
Suasana ruang makan yang tadinya riuh oleh celoteh si kembar mendadak senyap saat langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Pak Edward Benjamin dan Ibu Monica turun dengan wibawa yang menekan udara. Semua yang ada di meja makan berdiri serentak, memberikan penghormatan yang terasa lebih seperti ketakutan daripada kasih sayang.
Makan malam berlanjut dengan denting sendok yang terasa kaku. Sampai akhirnya, suara berat Pak Edward memecah keheningan.
"Sudah empat tahun rupanya kalian menikah," ucapnya tanpa menoleh, matanya fokus pada potongan daging di piringnya.
"Iya, Pah," jawab Devan dan Vanya hampir bersamaan.
"Sepertinya kamu baru menemuiku secara langsung hari ini, Devan? Setelah sekian lama?" Pak Edward mendongak, menatap Devan dengan tatapan tajam yang menguliti.
"Iya... Papa," Vanya mencoba menyela untuk melindungi Devan.
"Tiga tahun ini kamu ke mana saja? Kamu lupa punya mertua?" cecar Pak Edward lagi.
Devan mencoba bicara, "Buk—be—"
"Laki-laki kok bicaranya tidak tegas begitu!" potong Pak Edward keras.
"Pah, sudah Pah," nico mencoba menengahi, melihat suasana yang mulai memanas.
Pak Edward berdehem, lalu berdiri. "Kalian lanjutkan makan. Aku ke ruang kerja. Vanya, kamu ikut Papa."
"Iya, Pah."
Vanya berdiri dengan bahu tegang. Devan hanya terdiam, merasa sangat kecil di rumah ini. Raisha segera memberi kode pada pelayan dan mengajak Jojo serta Gempi masuk ke kamar untuk menghindari ketegangan lebih lanjut.
"Kabarmu baik, Devan?" tanya Ibu Monica datar setelah suaminya pergi.
"Baik, Mam."
"Syukurlah." Tanpa minat berbasa-basi lebih lama, Monica pun pergi menyusul ke atas. Nico, mencoba mencairkan suasana, mengajak Devan berkeliling rumah, namun pikiran Devan tetap tertuju pada Vanya.
Badai di Ruang Kerja
Di dalam ruang kerja, suasana jauh lebih mengerikan.
"Kenapa kamu tutupi semuanya?!" teriak Pak Edward. Vanya hanya berdiri mematung di tengah ruangan.
"Sebenci apa pun kamu pada orang tuamu, kamu tidak seharusnya mengambil risiko yang gegabah!" Pak Edward mendekati Vanya, menunjuk-nunjuk wajah putrinya dengan penuh amarah.
"Pah... bukankah ini kemauan kalian? Yang bilang bahwa seberat apa pun hidupku, aku hanya harus patuh?" suara Vanya terdengar bergetar, namun ia tetap berdiri tegak.
"Lalu kenapa kamu merahasiakannya? Kenapa mau mengambil risiko mengambil Jacob Group hampir hancur?"
Vanya terdiam. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa menjelaskan betapa hancurnya dia selama ini. Pak Edward yang kehilangan kesabaran meraih vas bunga di atas meja dan melemparkannya ke arah kaki Vanya. PRANK! Pecahan kaca mengenai ujung sepatu Vanya.
"Sekarang Papa mau kamu bercerai dengan pria tidak berguna itu! Papa sudah punya calon suami yang lebih baik!"
"Tapi—"
"TIDAK ADA TAPI!" bentak Pak Edward.
Pintu terbuka, Ibu Monica masuk dengan wajah dingin. "Vanya, mau sampai kapan kamu menyuntik dana untuk Jacob? Perusahaan itu harusnya sudah mati bersama pria tua itu. Lagipula, kamu masih 'bersih' kan? Itu poin plus. Keluarga Hutama jauh lebih kaya, dan itu bisa jadi suntikan besar untuk perusahaan kita. Terlebih, Billy sepertinya sangat menyayangimu."
"Aku nggak bisa, Mah," ucap Vanya lirih.
"Apa yang nggak bisa?! Pakai otakmu, Vanya! Kamu menikah dengan Devan tiga tahun diselingkuhi, sebentar lagi perusahaannya bangkrut. Kamu mau hidup miskin?!"
"Kalau begitu biarkan aku hidup miskin!" tegas Vanya dengan suara meninggi.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" Monica maju hendak menampar Vanya, namun tangan Vanya bergerak cepat menahan pergelangan tangan ibunya.
"Kamu mau bikin malu Mama, Vanya?! Kamu harus nurut! Kamu itu kebanggaan Mama!"
Vanya melepaskan tangan ibunya, lalu ia jatuh terduduk di lantai. Tangisnya pecah sehebat-hebatnya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit jantungnya.
"Kenapa... kenapa aku harus jadi kebanggaan Mama?" isak Vanya di antara tangisnya. "Semenyedihkan apa pun hidupku, apa aku tidak bisa hanya jadi anak Mama? Aku sudah jalani semuanya seperti mau Mama!"
Vanya mendongak, menatap kedua orang tuanya dengan mata yang banjir air mata. "Tak bolehkah satu kali ini aku hidup atas kemauanku? Jaga image, beretika, sopan, jadi kebanggaan, jadi penurut... aku muak dengan semuanya!" teriak Vanya histeris.
"Vanya, jaga bicaramu! Dia ibumu!" bentak Pak Edward.
"Apa kalian tidak terlalu keras padaku?! Kenapa standarnya berbeda untukku?!" raung Vanya. "Kak Nico... dia bisa menjalani hidupnya dengan baik, memilih cinta dan pernikahannya sendiri. Kenapa aku tidak?!"
"Tahukah kalian kenapa aku bertahan di pernikahan ini? Karena aku tidak ingin kalian malu! Aku menahan semuanya! Ditinggalkan suami di malam pengantin, direndahkan ibu mertua, sampai dimanfaatkan ayah mertua... aku tetap bertahan untuk apa?! UNTUK MENJAGA NAMA BAIK BENJAMIN!"
Keributan dahsyat itu membuat Nico dan Devan berlari masuk. Nico tertegun melihat adiknya bersimpuh di lantai sambil menangis hebat, ibunya menangis frustrasi, dan ayahnya yang murka.
Nico kehilangan kesabaran. Ia melihat betapa hancurnya adik kecilnya. "Devan! Bawa Vanya pulang sekarang!"
Tanpa menunggu perintah kedua, Devan langsung menerjang masuk, menggendong Vanya yang sudah lemas ke dalam pelukannya. Ia membawa Vanya keluar menuju mobil tanpa mempedulikan teriakan mertuanya.
Di dalam ruangan, Nico menatap ayahnya dengan berani. "Pah, ada apa ini sebenarnya? Kenapa jadi begini? Biarkan Vanya mengambil hidupnya sendiri!"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Nico dari tangan Pak Edward. "Kamu tidak pantas bicara begitu! Kamu juga sama saja!"
Malam itu, kemegahan rumah Benjamin runtuh oleh jeritan hati yang selama ini terbungkam. Dan Devan, yang selama ini dianggap beban, kini menjadi satu-satunya tempat Vanya menyandarkan kehancurannya.
Mobil sedan hitam itu melaju membelah keheningan malam yang dingin. Di dalam mobil, suasana begitu mencekam, hanya diisi oleh suara isak tangis Vanya yang tertahan. Devan mencengkeram setir dengan kuat, matanya sesekali melirik ke arah istrinya yang meringkuk di kursi penumpang. Vanya terlihat begitu rapuh gaun yang mewah kini tampak seperti beban yang menyeretnya ke dasar laut.
Devan tahu, kata-kata "sabar" atau "semua akan baik-baik saja" tidak akan berguna saat ini. Ia bisa merasakan sisa getaran amarah dari rumah Benjamin tadi masih tertinggal di udara. Menyadari Vanya butuh waktu untuk meledakkan segala sesak yang ia tahan selama bertahun-tahun, Devan meminggirkan mobilnya di sebuah jalan setapak yang gelap, jauh dari keramaian dan sorot lampu jalan.
Mesin mobil mati. Devan menoleh ke arah Vanya, lalu tanpa suara, ia membuka pintu dan turun. Ia berdiri di luar, bersandar pada pintu mobil sambil menyalakan sebatang rokok—sesuatu yang jarang ia lakukan sekarang—hanya untuk memberikan ruang privasi bagi istrinya.
Begitu pintu tertutup, benteng pertahanan Vanya runtuh total.
Vanya menangis sejadi-jadinya. Bukan tangisan histeris yang memekakkan telinga, melainkan tangisan tanpa suara yang jauh lebih perih. Mulutnya terbuka seolah ingin berteriak memaki dunia, namun yang keluar hanyalah napas yang terputus-putus dan isak yang menyayat hati.
Ia mulai memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan yang gemetar. Ia memukul tepat di ulu hati, seolah mencoba menghancurkan rasa sesak yang menyumbat di sana. Setiap pukulan itu adalah bentuk kebencian pada ekspektasi orang tuanya, pada takdirnya sebagai "kebanggaan" yang tidak pernah diberi hak untuk bahagia, dan pada dirinya sendiri yang terlalu patuh selama ini.
Di luar, Devan bisa mendengar suara pukulan itu mengenai dashboard dan dada Vanya. Hatinya ikut tersayat. Ia ingin masuk dan memeluknya, namun ia tahu Vanya harus menghancurkan dirinya sendiri malam ini agar bisa terbentuk kembali besok pagi.
Air mata Vanya membasahi jok mobil, riasan wajahnya hancur, namun ia tidak peduli. Selama ini ia hanya dianggap sebagai aset perusahaan, sebagai "poin plus" karena statusnya yang masih murni, atau sebagai suntikan dana bagi keluarga. Tidak ada yang pernah bertanya, "Vanya, apa kamu bahagia?"
Setelah hampir tiga puluh menit dalam badai emosi itu, pukulan Vanya mulai melemah. Tenaganya habis. Ia bersandar pada kaca jendela yang dingin, matanya kosong menatap kegelapan. Ia merasa sepi, bahkan di tengah kemegahan namanya sendiri.
Pintu mobil terbuka pelan. Devan masuk kembali ke dalam kabin. Ia tidak bicara. Ia hanya menarik kepala Vanya dengan sangat lembut untuk bersandar di bahunya. Kali ini, Vanya tidak menolak. Ia membiarkan Devan memeluknya, merasakan kehangatan dari pria yang dulu sangat ia benci, namun kini menjadi satu-satunya orang yang membawanya lari dari neraka yang bernama "keluarga".
"Menangislah, Vanya," bisik Devan parau, "Malam ini, kamu tidak perlu jadi siapa pun. Jadi Vanya saja. Hanya Vanya."
Di bawah langit malam yang pekat, Vanya akhirnya memejamkan mata dalam dekapan Devan, menyadari bahwa rumah yang sebenarnya mungkin bukan bangunan megah Benjamin, melainkan bahu pria yang kini sedang mendekapnya