Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Mode Mimpi Buruk dan Pemukul Pemecah Bintang
Suara derap langkah ribuan kaki menggema di dinding-dinding Babel, turun menuju mulut raksasa yang menganga menuju dasar bumi. Ini adalah pengerahan pasukan terbesar sejak era Kegelapan Orario.
Finn Deimne berada di garis depan, menatap tajam ke dalam kegelapan labirin. Di sebelahnya, Aiz Wallenstein berjalan dengan keheningan yang mematikan. Di belakang mereka, barisan elit dari Freya Familia yang dipimpin oleh Ottar, serta pasukan bersenjata berat dari Hephaestus yang dipimpin Tsubaki, bergerak dalam formasi rapat. Pasukan Hestia Familia berada di tengah, dilindungi sebagai jantung support berkat sihir Haruhime yang kini telah berevolusi.
"Lantai 1 hingga 18 seharusnya bersih," lapor Finn melalui artefak komunikasi Oculus. "Fokuskan pertahanan saat kita memasuki Lantai 19. Pohon-pohon raksasa di sana bisa menutupi jarak pandang."
Namun, saat formasi depan aliansi melangkah melewati batas Lantai 18 dan menginjakkan kaki di Lantai 19—Pohon Raksasa Labyrinth—insting pemburu Finn berteriak sejadi-jadinya.
Lingkungan di depan mereka bukanlah hutan rimbun seperti yang biasa mereka kenal. Daun-daun raksasa itu telah membusuk menjadi warna ungu kehitaman. Dinding kayunya berdenyut, memancarkan urat-urat bercahaya emas beracun. Udara di lantai itu terasa sangat berat, dipenuhi oleh partikel-partikel aneh yang membuat kulit terasa perih.
Itu adalah korosi Fragmentum.
GRRRROOOAARRR!
Bukan satu atau dua, melainkan ratusan raungan bersahut-sahutan dari segala arah. Dari balik dahan-dahan yang terkorosi, melompat keluar monster-monster mengerikan. Mereka bukan lagi Minotaur atau Hellhound biasa. Tubuh mereka telah bergabung dengan pelindung baja purba, cakar mereka terbuat dari kristal gelap, dan mata mereka menyala dengan kekosongan absolut.
"Formasi perisai!" teriak Gareth, kurcaci veteran dari Loki Familia.
Seekor Minotaur bermutasi yang tingginya mencapai lima meter mengayunkan kapak kristalnya ke arah barisan depan. Tsubaki melangkah maju. Ia mengangkat palu amber-nya, tidak untuk menghindar, melainkan menahan serangan itu secara langsung.
BLAM!
Kapak kristal raksasa itu hancur berkeping-keping saat menabrak perisai transparan berbentuk lempengan amber yang tiba-tiba muncul dari stigmata Tsubaki. Kapten Hephaestus Familia itu memutar palunya, lalu menghantamkannya ke dada sang monster. Tubuh Minotaur bermutasi itu meledak menjadi serpihan debu kosmis dalam satu pukulan.
"Maju! Jangan beri mereka ruang bernapas!" seru Tsubaki, senyum buas terbentuk di bibirnya. Berkah The Preservation membuatnya merasa seperti benteng berjalan.
Di sayap kanan, Aiz Wallenstein perlahan menarik pedang Desperate miliknya. Monster-monster mutan yang menyerbu ke arahnya bahkan tidak sempat menyentuh ujung gaunnya.
"Aiz, jangan terlalu jauh dari—" peringatan Riveria terpotong saat ia melihat apa yang terjadi.
Aiz tidak menebas monster itu. Ia hanya mengayunkan pedangnya dengan gerakan horizontal yang lambat. Api hitam-keemasan meledak dari bilah Desperate. Bukan sihir Ariel yang biasa ia gunakan. Api The Destruction itu menyapu bersih satu lusin monster bermutasi dalam sekejap mata, tidak menyisakan abu, tidak menyisakan Magic Stone. Semuanya dihapus dari eksistensi.
Bahkan Ottar, sang Level 7 terkuat di Orario, menatap punggung Aiz dengan dahi berkerut. Api itu tidak membedakan kawan atau lawan; suhu di sekitar Aiz melesat naik hingga membuat baju zirah teman-temannya sendiri mulai meleleh. Aiz sedang membakar labirin, dan jika ia tidak bisa mengendalikan percikan Nanook itu, aliansi ini akan hangus bersamanya.
"Lantai 19 tidak pernah sebrutal ini..." gumam Finn, matanya menyipit melihat gelombang monster yang jumlahnya seperti tidak ada habisnya. "Seseorang telah mengutak-atik sistem kemunculan labirin ini. Berapa pun yang kita bunuh, labirin ini melahirkan mereka lebih cepat."
Finn mengangkat tangan kanannya. Stigmata The Hunt di punggungnya berdenyut.
Mata biru kapten Pallum itu bersinar cyan. Tiba-tiba, ia tidak lagi melihat gerombolan monster sebagai ancaman individu, melainkan sebagai sekumpulan titik lemah yang dihubungkan oleh benang-benang energi.
"Haruhime!" panggil Finn.
Di tengah formasi, Haruhime memejamkan matanya. Stigmata mahkota The Harmony di dahinya bersinar. "Kembanglah, wahai bunga persatuan... Uchide no Kozuchi!"
Gelombang harmoni prismatik menyapu seluruh barisan aliansi. Level mereka tidak hanya meningkat secara paksa, pikiran dan refleks mereka terhubung. Finn bisa merasakan gerakan Ottar tanpa melihatnya. Tsubaki bisa menebak arah sihir Riveria.
"Kita terobos secara paksa. Aku akan membuka jalannya," ucap Finn dingin. Ia melempar tombaknya ke udara, menarik kembali lengannya seolah sedang menarik tali busur yang tak kasatmata. Energi pemburu berkumpul, menciptakan anak panah meteor cyan raksasa di udara.
Di Kedalaman Terdalam – Lantai 100
Jauh di bawah kaki aliansi yang sedang bertarung mati-matian, pertempuran dengan skala yang sepenuhnya berbeda sedang berlangsung.
Kawah raksasa akibat jatuhnya Menara Herta telah berubah menjadi arena es dan badai.
"Kena kau!" March 7th melepaskan tali busurnya. Panah berlian enam sisi melesat, menancap tepat di dada monster mutan raksasa tak berwajah itu. Seketika, bongkahan es absolut membekukan separuh tubuh makhluk itu, menghentikan regenerasinya yang mengerikan.
"Mundur, March!" perintah Dan Heng, melesat ke depan.
Pemuda berambut hitam itu tidak berlari di atas tanah, ia seolah meluncur di atas angin. Tombaknya, Cloud-Piercer, berputar menciptakan pusaran naga air hijau yang mengaum keras. Dengan presisi mematikan, Dan Heng menusukkan tombaknya ke titik tengah kristal gelap yang menjadi jantung monster itu.
CRAAACK!
Monster itu meraung, suara yang lebih mirip distorsi radio daripada suara biologis. Tangannya yang terbuat dari magma hitam mengayun liar, menghantam Dan Heng hingga pemuda itu terpental beberapa meter ke belakang, mendarat dengan kasar di atas puing-puing baja. Es March mulai retak, monster itu memaksakan diri untuk bergerak melepaskan diri.
Di tengah kekacauan itu, sang Trailblazer—pemuda berambut abu-abu yang baru saja terbangun—berdiri membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Ada sesuatu yang berdenyut di dalam dadanya. Suara aneh, seperti bisikan bintang-bintang yang mati, memanggilnya.
Bantu mereka, bisik instingnya.
Ia menoleh ke arah puing-puing di dekatnya. Sebuah tongkat bisbol usang tergeletak di sana, tertutup debu, tampak seperti benda fana yang sama sekali tidak berguna melawan monster setinggi gedung berlantai tiga.
Namun saat tangan sang Trailblazer menyentuh gagang tongkat itu, lambang pedang patah yang menyala emas berkedip di benaknya. The Destruction.
Trailblazer itu menarik tongkat bisbol tersebut. Saat benda itu terangkat, sebuah gelombang kejut energi memecahkan tanah di bawah kakinya. Percikan energi antariksa membungkus tongkat fana itu, mengubah kepadatannya menjadi sesuatu yang sanggup memukul balik sebuah meteor.
March menoleh dengan mata terbelalak. "H-hei! Jangan gegabah! Kau belum tahu cara bertarung!"
Trailblazer itu tidak menjawab. Wajahnya yang tadinya diliputi kebingungan, kini tergantikan oleh fokus yang tajam dan sedikit kenekatan. Ia memutar tongkat itu di tangannya, merasakan beratnya yang sempurna.
"Aturan..." gumam sang Trailblazer, kakinya menekuk, bersiap untuk melesat. Ujung tongkat bisbol itu mulai memancarkan percikan api keemasan yang sama persis dengan yang dimiliki Aiz Wallenstein, namun jauh lebih terkontrol, jauh lebih padat.
"...dibuat untuk dilanggar!"
Dengan satu tolakan kuat yang meretakkan lantai labirin, pemuda berambut abu-abu itu melompat tinggi ke udara. Ia memegang tongkat bisbol itu dengan kedua tangan, menariknya ke belakang pundak, membidik tepat ke arah kepala monster yang terbuat dari massa kegelapan itu.
Lantai 24 – Area Sumber Air Terjun Labyrinth
Aku duduk di atas tumpukan batu yang bersih dari lumut hitam, memangku perkamenku. Pena buluku bergerak tanpa henti, merangkai setiap gerakan tongkat bisbol itu di atas kertas. Di atasku, langit-langit batu bergetar pelan, sesekali merontokkan debu akibat pertempuran gila yang terjadi puluhan lantai di atas kami.
Kafka berjalan mendekat, menyodorkan sekaleng minuman energi yang entah dari mana ia dapatkan. Ia menatap tulisan di perkamenku dengan senyum mengembang.
"Ayunan yang indah," komentar Kafka, matanya seolah bisa menembus lantai di bawah kami dan melihat apa yang baru saja kudeskripsikan. "Pukulan homerun yang akan menyapu bersih separuh kepala monster itu. Benar-benar sanggahan yang manis dari seorang pendatang baru."
Aku menerima kaleng itu dan menghembuskan napas. "Aliansi di atas bergerak lebih cepat dari perkiraanku. Haruhime... berkah The Harmony itu membuat mereka bisa melewati Nightmare Mode yang dibuat Silver Wolf dengan menekan ego mereka dan menyatukan kekuatan."
"Tenang saja, Anonym," Silver Wolf menyela dari belakang, duduk bersila sambil asyik menekan layar hologramnya. "Aku baru saja selesai menyusun firewall sekunder di Lantai 50. Mereka akan tertahan cukup lama di sana saat labirin mulai memutar balik konsep gravitasi mereka."
Aku menatap ujung penaku yang berlumuran tinta hitam. Perjalanan ini masih panjang. Kereta Astral telah menyalakan mesinnya di dasar dunia, dan Aliansi Orario sedang memaksakan jalan mereka ke bawah.
Dan kami, para Pemburu Stellaron, akan menyambut mereka di tengah-tengah persimpangan takdir ini.
"Ayo," kataku, memasukkan perkamen itu ke dalam tasku dan berdiri menatap tangga turun di depan kami. "Sudah waktunya kita memotong jalan mereka. Babak kedua baru saja akan dimulai."