Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalalu OM CEO
Zahra menemukannya tidak sengaja. Malam itu listrik di kamarnya tiba-tiba mati, bukan seluruh rumah, hanya kamarnya, entah kenapa. Mbak Reni sudah pulang, Rafandra masih di studio, dan Zahra yang tak sabaran memutuskan untuk cari senter sendiri di gudang kecil di ujung koridor lantai dua.
Gudangnya tidak besar rak-rak rapi, kotak-kotak berlabel, persis seperti yang Zahra harapkan dari rumah milik Rafandra. Senternya ketemu dalam tiga puluh detik.
Yang tak ia harapkan adalah kotak di rak paling atas yang labelnya terlepas setengah dan dari celah tutupnya yang tidak tertutup rapat, ada foto yang menyembul keluar.
Zahra tidak berniat lihat. Tapi fotonya sudah kelihatan dan yang ada di foto itu membuat tangannya berhenti di pegangan senter.
ia turun ke studio dengan foto itu di tangan.
Rafandra menengok waktu Zahra masuk dan langsung melihat apa yang Zahra pegang. Sesuatu di matanya seperti kaget, cepat, sebelum kembali ke ekspresi normalnya.
"Dari gudang," kata Zahra. Bukan menuduh. "Kotaknya nggak tertutup rapat."
Rafandra tak menjawab. Zahra meletakkan foto itu di mejanya.
Seorang perempuan. Mungkin awal tiga puluhan. Berdiri di tepi pantai, mungkin, atau tempat lain dengan air sebiru itu. Senyumnya lebar dan manis. Dan di sebelahnya Rafandra lebih muda beberapa tahun, tapi yang paling berbeda adalah ekspresinya.
Dia tersenyum.
Bukan senyum tipis yang Zahra sesekali tangkap di sudut bibirnya. Bukan juga hampir senyum atau menahan senyum. Tapi senyum sungguhan yang sampai matanya menyipit. Zahra belum pernah melihat Rafandra seperti itu.
"Siapa dia?" tanya Zahra pelan.
Rafandra menatap foto itu lama.
"Namanya Dara," katanya akhirnya.
Ia tak langsung cerita semua.
Rafandra tidak pernah langsung cerita semua Zahra udah cukup kenal dia untuk tahu itu. Tapi malam ini ia cerita lebih banyak dari yang Zahra antisipasi.
Dara. Tiga puluh dua tahun waktu foto itu diambil. Arsitek. Orang pertama yang membuat Rafandra.... kata-kata Rafandra sendiri percaya bahwa ada hal-hal di luar pekerjaan yang layak diperjuangkan.
Mereka bersama tiga tahun.
"Lalu... Kenapa berakhir Om?" tanya Zahra.
Rafandra menatap tangannya sendiri.
"Karena aku tidak bisa memberikan apa yang dia butuhkan." Pelan. Hati-hati. "Dia butuh seseorang yang hadir bukan secara fisik, tapi benar-benar hadir, bisa memahaminya. Dan aku tidak tahu caranya waktu itu."
"Om yang mengakhiri?"
"Dia yang pergi." Rafandra mendongak. "Tapi aku yang membuatnya pergi."
Zahra diam sebentar.
"Om menyesal?"
Rafandra mempertimbangkan pertanyaan itu bukan asal jawab.
"Aku menyesal menjadi seseorang yang tidak bisa inginkan," katanya akhirnya. "Bukan menyesal kehilangannya karena itu keputusan yang benar untuk dia. Tapi menyesal bahwa aku membiarkan diriku menjadi seseorang seperti itu."
Zahra menatapnya. 'Menyesal menjadi seseorang yang tidak dia inginkan.'
"Om berubah?" tanya Zahra dan ia sendiri tak yakin versi mana dari pertanyaan itu yang sebenarnya ingin dia tanyakan.
Rafandra menatap Zahra.
"Aku mencoba," jawabnya. Singkat. Tapi beratnya tak singkat.
.
.
.
Zahra tidak langsung naik ke kamar setelah itu. Mereka duduk di studio Zahra di sofa sudutnya, Rafandra di kursinya dalam diam yang berbeda dari diam-diam sebelumnya.
"Om takut?" tanya Zahra tiba-tiba.
Rafandra menoleh.
"Takut nggak bisa hadir lagi. Kayak waktu itu."
Hening cukup lama.
"Ya," jawab Rafandra akhirnya. Satu kata yang terdengar seperti sesuatu yang baru pertama kali dikeluarkan dari tempat yang sangat dalam.
Zahra menatapnya. "Jadi ini kenapa dia selalu jaga jarak. Bukan karena dingin tapi karena takut."
"Om," kata Zahra pelan.
"Hm."
"Lo udah seperti itu." Zahra jeda beberapa saat. "Mungkin Om nggak sadar. Tapi udah benar."
Rafandra tak menjawab.
Tapi matanya yang biasanya selalu punya sesuatu yang dijaga di baliknya malam ini tak ada yang dijaga. Dan Zahra melihat semuanya.
.
.
.
Listrik kamar Zahra sudah diperbaiki, waktu ia naik ternyata hanya sekring yang trip, Rafandra yang benerinnya sebelum Zahra sempat minta tolong.
Zahra rebahan di kasur, menatap langit-langit yang sekarang sudah terang lagi.
Di kepalanya, kalimat Rafandra berputar. "Aku mencoba."
Dua kata. Tapi Zahra tahu dari cara dia mengatakannya, dari ekspresinya malam ini, dari semua hal kecil yang sudah Zahra kumpulkan selama dua bulan terakhir bahwa mencoba itu bukan untuk siapapun yang abstrak.
Mencobanya untuk Zahra dan kesadaran itu mendarat di hati Zahra dengan cara yang tidak dramatis, tidak ada jantung berdegup kencang atau tangan gemetar. Hanya hangat. Pelan. Pasti.
Seperti sesuatu yang sudah lama ada, baru sekarang punya namanya.
HP bergetar. Pesan dari Rafandra.
Rafa: Senternya simpan kembali kalau sudah tidak dipakai.
Zahra tertawa kecil sendirian di kamarnya. "Ini orang. Baru saja buka salah satu bagian paling dalam dari hidupnya dan sekarang kirim pesan soal senter."
Zahra mengetik balik:
Zahra: Udah dari tadi, Om. Makasih ya udah cerita malam ini.
Tiga titik muncul. Lama. Seperti dia mengetik sesuatu, menghapus, mengetik lagi.
Lalu:
Rafa: Tidur yang nyenyak, Zahra.
Zahra meletakkan HP ke dada. Menatap langit-langit.
Tidur yang nyenyak, Zahra. Kalimat yang sama dengan malam pertama di studio itu. Tapi rasanya berbeda sekarang karena sekarang Zahra tahu lebih banyak tentang orang yang mengatakannya dan semakin banyak yang dia tahu — semakin dalam sesuatu itu berakar.
"Gue dalam masalah besar."
Tapi untuk pertama kali sejak semua ini dimulai masalah itu tidak terasa seperti sesuatu yang ingin ia hindari.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼