Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap Rahasia Besar Keluarga
PT Soebrata Capital.
Tiga kata itu tercetak rapi di atas selembar dokumen yang kini tergeletak di meja Bu Ira. Zahra, yang tadinya fokus memeriksa laporan pertamanya, mendadak merasa seolah lantai di bawah kursinya bergeser sedikit.
“Mereka yang merekomendasikan namamu ke kami,” kata Bu Ira lugas, tanpa basa-basi. Cara bicara yang biasanya Zahra hargai, tetapi hari ini terasa terlalu tajam untuk diterima mentah-mentah. “Bahkan sebelum kamu mengirim lamaran. Mereka juga memberikan data tentang penelitianmu. Cukup detail. Termasuk judul skripsimu.”
Tatapan Zahra jatuh pada dokumen itu.
“Judul skripsi saya belum pernah saya publikasikan ke siapa pun, Bu.”
“Saya tahu.” Bu Ira menutup map perlahan. “Dan kami baru sadar kemarin kalau ada hubungan antara klien ini dengan suamimu.”
Kalimat itu menggantung di udara. Berat. Terlalu berat untuk langsung dicerna.
.
.
.
Zahra pulang pukul tiga sore. Dua jam lebih awal. Bu Ira yang menyuruhnya pulang bukan karena masalah pekerjaan, melainkan karena cukup bijak untuk mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diproses sambil tetap berpura-pura baik-baik saja di depan layar komputer.
Di dalam MRT yang padat, berdiri di antara orang-orang asing yang tidak tahu apa pun tentang hidupnya, Zahra menatap pantulan wajahnya di jendela.
Ia mencoba menyusun fakta-fakta yang terasa berantakan di kepalanya. Pekerjaan yang selama ini ia banggakan karena berhasil diraih tanpa membawa nama Rafandra Pekerjaan yang sengaja ia perjuangkan sendiri…
Ternyata sejak awal ada tangan lain yang diam-diam membuka jalan untuknya. Dan entah kenapa, kenyataan itu terasa mengganggu. Bukan karena pekerjaannya jadi tidak layak. Tapi karena sesuatu yang ia kira murni miliknya ternyata pernah disentuh orang lain dari balik layar.
.
.
.
Rafandra ada di studio ketika Zahra sampai. Zahra tidak langsung masuk. Ia berdiri beberapa detik di ambang pintu yang setengah terbuka, memandangi punggung pria itu, tegak seperti biasa, tenang seperti biasa, seolah dunia tidak pernah benar-benar berhasil menggoyahkannya.
Lalu ia masuk.
Tanpa banyak bicara, Zahra meletakkan fotokopi dokumen itu di atas meja. Tatapan Rafandra turun pada tulisan di bagian atas halaman.
PT Soebrata Capital.
Rahangnya mengeras nyaris tak terlihat.
“Irwan yang merekomendasikan nama gue ke lembaga itu,” ujar Zahra pelan. “Sebelum gue bahkan tahu tempat itu ada. Mereka punya data penelitian gue yang belum pernah gue publikasikan.”
Rafandra tidak langsung menjawab.
“Om tahu soal ini?”
“Tidak.” Satu kata.
“Baru tahu sekarang.”
Zahra menarik kursi dan duduk tepat di depan meja Rafandra, bukan di sofa sudut favoritnya seperti biasanya. Dan entah kenapa, posisi itu terasa berbeda.
Bukan lagi Zahra yang penuh defensif seperti bulan-bulan pertama pernikahan mereka. Bukan juga perempuan yang terus menuntut jawaban karena takut ditinggalkan dalam gelap.bKali ini ia duduk sebagai seseorang yang tahu nilai dirinya.
Setara.
“Gue nggak nanya karena panik,” katanya tenang. “Tapi karena ini hidup gue juga. Dan gue berhak ada di lingkaran yang sama dengan Om.”
Rafandra menatapnya beberapa detik.
“Duduk yang nyaman,” katanya akhirnya. “Ini akan panjang.”
.
.
.
Rafandra bicara hampir dua jam. Tentang tiga orang yang dulu membangun semuanya bersama-sama: ayahnya, Pak Hendra, dan Irwan Soebrata.
Tentang kepercayaan yang awalnya terasa kokoh seperti pondasi… sebelum perlahan digerogoti dari dalam. Tentang Irwan yang menjadi orang pertama menarik diri saat ayah Rafandra jatuh sakit.
Lalu muncul kembali ketika pembagian aset dimulai, membawa tuntutan yang jauh lebih besar dari kontribusi yang pernah ia berikan.
“Ayahku tidak mau mempermasalahkannya,” kata Rafandra. “Dia bilang, biarkan saja. Kebaikan yang ditinggalkan lebih berharga daripada aset yang diperebutkan.”
“Tapi Om nggak membiarkan itu?”
“Aku tidak bisa.” Tatapannya jatuh pada kedua tangannya sendiri. “Yang ayah tinggalkan bukan cuma kebaikan. Ada tanggung jawab yang harus dijaga.”
Lalu Rafandra bercerita tentang Irwan yang bergerak diam-diam selama bertahun-tahun.bSabar. Mengendus setiap celah. Menunggu kelemahan.
Sampai akhirnya menemukan titik masuk di keluarga Hendra dua tahun lalu.
“Kalau pernikahan ini tidak terjadi,” ujar Rafandra pelan, “Irwan punya posisi cukup kuat untuk mengakuisisi aset keluarga Hendra dengan harga yang tidak adil. Setelah itu, dia bisa menyerang Wibowo Group.”
“Tapi itu bukan satu-satunya alasan Om menikah sama gue.” Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Rafandra menatapnya lurus.
“Bukan.”
Sunyi sejenak. “Dan itu tidak pernah berubah.”
Zahra mengangguk kecil. Dadanya terasa aneh mendengar kalimat itu.bHangat, tapi juga menyakitkan di saat bersamaan.
“Soal data tentang gue,” lanjut Zahra, “Irwan dapat dari mana?”
Rafandra diam beberapa saat. Diam yang Zahra kenal. Bukan karena menolak menjawab, melainkan karena sedang memilih cara paling tepat untuk menyampaikan sesuatu yang berat.
“Ada seseorang di lingkaran keluarga Hendra yang selama ini memberi informasi ke Irwan,” katanya akhirnya. “Orangku baru memastikan identitasnya tiga hari lalu.”
Zahra menatapnya lekat.
“Siapa?”
Rafandra menarik napas pelan.
“Paman keduamu.”
Ruangan itu langsung terasa hening.bJenis hening yang muncul ketika sebuah kenyataan terlalu besar untuk langsung diterima.
“Om Dito.”
Nama itu menggantung di kepala Zahra. Tidak langsung ia pahami.bTidak langsung ia cerna. Ia hanya membiarkannya ada di sana, memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk menerima perlahan.
Om Dito.
Paman yang paling keras tertawa di acara keluarga. Yang dulu sering datang membawa cokelat diam-diam karena ibunya melarang terlalu banyak gula. Yang menyelipkan komik di balik bajunya supaya Papa tidak tahu.
Orang yang ternyata selama lima tahun terakhir membantu seseorang yang ingin menghancurkan keluarganya sendiri.
“Sudah berapa lama?” suara Zahra nyaris seperti bisikan.
“Kurang lebih lima tahun.”
“Papa tahu?”
“Belum.” Rafandra menatapnya tenang. “Aku yang akan memberitahunya. Tapi aku ingin kamu tahu lebih dulu.”
“Kenapa?”
“Karena ini hidupmu juga.” Suaranya rendah, mantap. “Kamu berhak tahu sebelum orang lain.”
.
.
.
Zahra pindah ke sofa sudut studio tempat yang entah sejak kapan terasa seperti wilayah kecil miliknya sendiri di ruangan itu.
Ia duduk diam, menatap kedua tangannya di pangkuan. Rafandra tidak mengganggunya. Tidak mendesak. Tidak mencoba menghibur dengan kata-kata yang kosong.bIa hanya kembali membuka laptopnya, membiarkan Zahra punya ruang untuk diam tanpa harus merasa sendirian.
Beberapa menit berlalu.
“Gue nggak nyalahin Om,” kata Zahra akhirnya.
Rafandra mendongak.
“Soal pekerjaan itu.” Zahra menarik napas pelan. “Irwan yang mainin semuanya. Bukan Om.”
Tatapannya turun sebentar sebelum kembali bertemu mata Rafandra.
“Dan kerjaan gue tetap hasil kerja gue. Analisisnya tetap gue yang buat. Cara berpikir gue tetap milik gue.” Ia tersenyum tipis, pahit. “Cuma… gue butuh waktu buat nerima kalau sesuatu yang gue kira murni ternyata ada yang pegang talinya dari belakang.”
Rafandra menutup laptopnya perlahan.
“Itu wajar.”
Zahra terdiam sejenak.
“Om pernah ngerasa kayak gitu?”
“Pernah.”
“Kapan?”
Rafandra menatap meja di depannya sebelum akhirnya berkata pelan,
“Waktu aku sadar… orang-orang yang ayahku percaya ternyata tidak semuanya layak dipercaya.” Ada jeda singkat sebelum ia melanjutkan. “Waktu aku harus memilih menjadi seperti ayahku yang melepaskan semuanya… atau jadi seseorang yang berdiri dan melawan.”
“Om milih melawan.”
“Ya.”
“NyeseI?”
Tatapan Rafandra bertahan cukup lama padanya.
“TIdak,” jawabnya akhirnya. “Tapi kadang aku bertanya-tanya… apakah ayahku akan setuju dengan caraku.”
Zahra memandang pria itu dalam diam. Pria yang malam ini bicara lebih banyak dibanding biasanya. Yang tanpa dipaksa membuka bagian dirinya yang selama ini terkunci rapat.
“Menurut gue,” kata Zahra pelan, “ayah Om pasti bangga.”
Rafandra tidak menjawab. Namun sesuatu di matanya bergerak samar. Hampir tak terlihat.
“Istirahat yang cukup,” katanya kemudian. “Besok kamu kerja.”
Zahra berdiri sambil meraih tas kecilnya. Ia berjalan menuju pintu. Lalu berhenti di ambang, tepat pada kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Om Rafa.”
“Hm?”
“Kita hadapi ini sama-sama.”
Ia tidak menoleh saat mengatakannya. Ruangan kembali sunyi beberapa detik.bLalu suara Rafandra terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Selalu.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kata itu terdengar seperti janji.
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼