NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. Harga Sebuah Pilihan

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden koridor rumah sakit sama sekali tidak membawa kehangatan bagi Alea. Setelah malam yang melelahkan dan penuh teror psikologis dari Bima, matanya kini terasa sangat berat, menyisakan lingkar hitam yang pekat di bawah kelopak matanya yang membengkak. Ia terbangun dari tidur ayamnya di kursi besi saat mendengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat.

Revan kembali dengan membawa dua cup kopi hitam hangat dan sebuah kantong plastik berisi roti sandwis. Penampilannya sudah jauh lebih segar setelah sempat pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Ia menyodorkan salah satu cup kopi itu ke hadapan Alea.

"Minum dulu. Kau butuh kafein supaya tidak pingsan saat Om Baskara bangun nanti," ujar Revan, suaranya terdengar jauh lebih melunak dibandingkan semalam.

Alea menerima cup kopi itu, merasakan kehangatan yang menjalar di telapak tangannya yang sedari tadi sedingin es. "Terima kasih, Revan... untuk semuanya," bisik Alea lirih sebelum menyesap kopi hitam yang terasa pahit di lidahnya—sebuah rasa pahit yang bahkan tidak sebanding dengan kepahitan di dalam hatinya.

Revan duduk di kursi sebelah Alea, melirik sekilas ke arah bilik kaca ICU tempat Baskara masih terpejam dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya. "Bi Ijah sudah membersihkan ruang tengah rumahmu. Bercak darah Bima dan pecahan vas bunga sudah beres. Aku juga sudah meminta satpam depan rumahmu untuk memperketat penjagaan. Jika SUV hitam itu muncul lagi, mereka tidak akan mengizinkannya masuk."

Alea mengangguk pelan, matanya menatap kosong ke arah cairan kopi di tangannya. "Bima sempat ke sini semalam, setelah kau pergi."

Mendengar nama itu, rahang Revan seketika mengatup rapat. Cup kopi di tangannya nyaris meremuk karena cengkeramannya yang tiba-tiba mengeras. "Bajingan itu ke sini? Apa yang dia lakukan padamu? Dia mengancammu lagi?"

"Dia memintaku ikut dengannya. Dia ingin aku meninggalkan Daddy," Alea menoleh, menatap Revan dengan sepasang mata yang kini memancarkan ketegasan yang dingin. "Tapi aku menolaknya, Revan. Aku mengusirnya lagi. Aku bersumpah di depan mukanya bahwa aku tidak akan pernah menjadi burung peliharaannya lagi. Aku memilih Daddy."

Revan tertegun mendengar ucapan Alea. Ada kilat kelegaaan sekaligus rasa hormat yang samar di mata pemuda itu. Selama ini, ia mengira Alea sudah sepenuhnya dicuci otak oleh Bima hingga kehilangan akal sehatnya. Namun melihat bagaimana gadis di depannya ini akhirnya berani memutuskan rantai tak kasat mata yang mengikatnya pada sang predator, Revan tahu Alea sedang berjuang keras untuk menebus kesalahannya.

"Kau mengambil keputusan yang benar, Alea," ujar Revan rendah. "Bima mungkin punya segalanya, tapi dia tidak punya jiwa. Pria seperti dia hanya akan menghancurkan apa pun yang disentuhnya."

---

Tepat pukul sepuluh pagi, tirai ruang ICU perlahan dibuka oleh perawat. Dokter yang menangani Baskara semalam keluar dengan senyuman tipis yang membawa secercah harapan bagi Alea.

"Pak Baskara sudah sadar sepenuhnya dan masa kritisnya telah lewat," ujar Dokter itu. "Alat bantu napasnya sudah bisa dilepas karena pernapasannya sudah stabil. Anda sudah boleh menjenguknya, tapi ingat pesan saya semalam: jangan bahas apa pun yang bisa memicu emosinya. Kondisi jantungnya masih sangat sensitif."

Alea langsung meletakkan cup kopinya dan berdiri dengan terburu-buru. "Baik, Dok. Terima kasih banyak."

Dengan langkah yang diselimuti rasa ragu dan ketakutan, Alea memutar knop pintu ruang ICU. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah setiap jengkal lantai yang ia pijak menuntut pertanggungjawaban atas dosa-dosanya. Begitu melangkah masuk, aroma obat-obatan yang tajam kembali menusuk hidungnya.

Di atas ranjang, Daddy bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya masih pucat, namun sepasang matanya yang sayu langsung terbuka saat mendengar suara pintu. Tatapan mata seorang ayah yang semalam menyiratkan kemarahan luar biasa, kini berganti menjadi tatapan kosong yang penuh dengan luka mendalam.

"Dad..." bisik Alea, air matanya langsung tumpah ruah tanpa bisa ditahan lagi. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di samping ranjang rumah sakit, menyembunyikan wajahnya di atas kasur sembari memegangi tangan Daddy yang terasa dingin dan dipenuhi bekas jarum infus. "Dad, maafkan Alea... Alea mohon maafkan Alea, Dad..."

Keheningan sempat merayap selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Alea. Ia bersiap jika Daddy akan menyentakkan tangannya atau bahkan mengusirnya dari ruangan itu. Namun, sebuah sentuhan perlahan dan sangat ringan mendarat di atas rambutnya.

Daddy mengusap rambut putri tunggalnya dengan gerakan yang sangat lemah, namun sarat akan kasih sayang seorang ayah yang tidak akan pernah bisa mati, sebesar apa pun kesalahan yang telah diperbuat anaknya.

"Alea..." suara Daddy terdengar sangat serak dan pelan di balik sisa-sisa sesak di dadanya. "Kau... tidak pergi bersamanya?"

Alea mendongak dengan cepat, menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan air mata yang membasahi pipi. "Tidak, Dad! Alea tidak akan pernah pergi dengannya lagi! Alea mengusirnya semalam. Alea memilih Daddy... Alea mau di sini bersama Daddy. Maafkan Alea karena selama ini sudah buta, Dad. Maafkan Alea karena tidak peka dengan penyakit Daddy..."

Baskara mengembuskan napas panjang yang terasa berat, matanya menerawang menatap langit-langit ruang ICU. "Daddy tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu karena tidak percaya padamu, Nak. Daddy hanya ingin putri kecil Daddy fokus belajar, tumbuh menjadi wanita yang terhormat, tanpa harus memikirkan sisa umur Daddy yang entah sampai kapan."

Air mata Daddy ikut menetes di sudut matanya, mengalir melewati kerutan-kerutan di wajah paruh bayanya. "Tapi melihatmu... melihat apa yang dilakukan Bima di belakangku... itu jauh lebih menyakitkan daripada penyumbatan di jantung Daddy, Alea. Bima adalah orang yang paling kupercaya setelah ibumu tiada."

"Alea tahu, Dad. Alea menjijikkan, Alea bersalah," rintih Alea, mencium telapak tangan Daddy berulang kali. "Alea bersumpah akan memperbaiki semuanya. Alea tidak akan pernah membiarkan pria itu mengusik hidup kita lagi. Alea akan menjaga Daddy."

Baskara menatap putrinya dengan tatapan teduh, namun ada ketegasan seorang kepala keluarga yang kembali muncul di sana. "Satu minggu yang Daddy katakan semalam... itu tetap berlaku, Alea. Bukan untuk mengusirmu, tapi untuk menguji hatimu. Jika kau benar-benar memilih untuk tinggal di sini, maka kau harus siap menghadapi badai yang akan dibawa oleh Bima. Pria itu tidak akan melepaskan apa yang sudah dianggap sebagai miliknya dengan mudah."

"Alea siap, Dad. Apapun jalannya, Alea akan hadapi bersama Daddy," jawab Alea tegas, menghapus air matanya dengan tekad yang baru.

---

Sementara itu, di sisi lain ibu kota, atmosfer di dalam ruang kerja Bima terasa sangat mencekam. Ruangan luas berlantai kayu jati itu tampak gelap karena tirai jendela besar sengaja ditutup rapat. Bima duduk di balik meja kerja marmer hitamnya, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku. Luka memar di wajahnya kini telah berubah warna menjadi keunguan, namun penampilannya tetap rapi dan menakutkan.

Di hadapannya, beberapa orang kepercayaannya berdiri dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap langsung sepasang mata elang sang bos yang memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

*Brakk!*

Bima melemparkan sebuah tablet digital ke atas meja hingga layarnya retak seribu.

"Bagaimana bisa sebuah kamera dasbor mobil murahan milik bocah kampus bisa luput dari pengawasan kalian?!" desis Bima dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi, membuat orang-orang di depannya gemetar ketakutan. "Aku membayar kalian mahal bukan untuk membiarkan tikus kecil seperti Revan mengacak-acak wilayah pribadiku!"

"Maaf, Pak Bima," salah satu orang kepercayaannya membuka suara dengan terbata-bata. "Kami sudah melacak pergerakan Revan, namun malam itu dia memarkir mobilnya di area buta yang tidak terjangkau oleh informan kami. Kami tidak menduga dia sengaja mengincar SUV Anda sejak seminggu yang lalu."

Bima bersandar pada kursi kulitnya, memejamkan mata sejenak sembari memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Penolakan keras dari Alea di rumah sakit semalam terus berputar di benaknya. Burung kecilnya telah berani mematuk tangannya sendiri. Alea telah memilih pria tua yang lemah itu dan mengusirnya dengan penuh kebencian. Ego dan rasa kepemilikan Bima yang ekstrem tidak bisa menerima kenyataan ini.

"Cari tahu semua hal tentang kondisi Baskara di rumah sakit," perintah Bima setelah membuka matanya kembali, kilatan dingin di matanya kini tampak semakin tajam. "Dan untuk Revan... percepat proses penyitaan seluruh aset sisa keluarganya. Pastikan besok pagi, ibunya diusir dari rumah sakit tempatnya dirawat karena kekurangan biaya. Aku ingin melihat seberapa lama bocah itu bisa menjadi pahlawan di depan Alea saat hidupnya sendiri sudah menjadi abu."

Seringai kejam yang luar biasa dingin terukir di bibir Bima yang terluka. Ia meraih sebuah korek api gas mahal, menyalakan sebatang cerutu, dan membiarkan asap tebal menguar memenuhi ruangan.

"Kau ingin bermain menjadi anak berbakti, *Little Bird*?" gumam Bima rendah pada asap yang membubung. "Silakan nikmati waktumu. Aku akan membiarkanmu merasakan bagaimana rasanya berjuang di dunia nyata tanpa perlindunganku. Dan saat kau akhirnya menyadari bahwa kau tidak punya kekuatan apa-apa untuk menyelamatkan ayahmu... kau akan merangkak kembali ke sangkar emasku dengan tanganmu sendiri."

1
Lalat
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Lalat
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!