Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Pertama
Sudah lama Melody tidak mengeringkan dan meluruskan rambutnya. Ia pernah melakukannya sekali saat kabur dari toko bersama Naomi, teman yang mencuri alat catok itu.
Sama seperti Noah, Naomi berusia delapan belas tahun dan dikirim ke pusat rehabilitasi. Melody tak pernah mendengar kabarnya lagi dan berharap temannya itu hidup bahagia di tempat lain.
Sejak sering menjadi incaran cowok-cowok di panti asuhan, Melody belajar untuk tidak berdandan atau menarik perhatian. Ia sadar keamanannya terancam karena banyak remaja laki-laki tidur di ranjang tingkat tepat di atasnya.
Suatu malam, ada cowok bernama Rizza bertindak kurang ajar dan berhasil memerkaosnya. Namun, Noah datang membalas dendam hingga memutuskan jari cowok itu.
"Rizza nggak berani ngadu, kan?" tanya Melody dalam hati.
Noah lolos dari hukuman, mungkin karena Rizza terlalu takut bicara. Melody saat itu juga tidak peduli apa alasan yang dilaporkan ke dokter.
Kehilangan keperawanan bukanlah momen indah baginya. Malam itu, Noah menatapnya dan bertanya, "Kamu percaya sama aku, kan?"
Melody gemetar hebat dan sudah tak punya air mata lagi untuk menangis. Noah memeluknya erat, menjadi penyelamat sekaligus orang pertama yang menyentuhnya malam itu.
Saat itu, Melody bahkan membayangkan bahwa itu adalah Adden. Noah sangat lembut dan berkata, "Kamu cantik banget. Aku nggak pantas punya cewek sebaik kamu."
Sayangnya, kehidupan sebagai preman dan catatan kriminal membuat Noah menjadi pribadi yang pahit. Ia merasa sudah terlambat baginya untuk meraih kebahagiaan.
Sejak kejadian itu mereka berteman dekat dan Noah tak pernah membiarkan siapa pun menyentuh Melody. Hubungan mereka tetap terjaga meski Noah kini sudah dewasa dan tak tinggal di sana lagi.
"Tempatnya penuh banget. Aku harus ke belakang bareng tim band dan cheerleader dulu," ujar Giggi.
"Hah? Aku nggak tahu kalau kamu ikut tim cheerleader," sahut Melody kaget.
"Iya dong, aku suka sih. Tapi kesel aja kalau Luccy dan gengnya ikut campur. Mereka itu bossy parah!" Giggi menggerutu. "Jujur, koreografinya juga biasa aja. Sekolah lain jauh lebih keren. Tapi setiap kali aku kasih saran, dia malah bilang aku masih bocil."
"Mungkin dia iri kali. Soalnya kamu jauh lebih cantik dan lebih cenayang daripada mereka semua," celetuk Melody.
Giggi menelan ludah lalu menatap pantulannya di kaca spion. "Serius?"
"Seriuslah. Mata cowok-cowok itu pada natap kamu terus, cuma kamu aja yang nggak sadar."
Melody membuka pintu mobil Mini Cooper milik Giggi. Rambut panjangnya menjuntai sampai di atas bokong yang terbalut jeans, dipadukan dengan sepatu Converse dan sweater berleher rendah.
Ia melingkarkan jaket di lengan sambil melihat Giggi menutup resleting jaket sekolahnya. "Semoga lancar ya tampilnya. Aku nonton dari tribun kanan."
"Enno mau jemput kamu habis main?" tanya Giggi.
Melody baru ingat janjinya. "Iya nih. Dia bilang nunggu di dekat mobil kamu nanti."
"Oke deh. Jadi nanti ketemu di pesta ya?" Giggi berjalan mundur menuju panggung.
"Siap! Nanti ketemu di sana. Aku nggak sabar lihat gerakan kamu!" seru Melody sambil melangkah ke tribun.
Melody bersyukur Adden tidak main di lapangan, tapi ia yakin cowok itu pasti ada di tribun menonton bersama teman-temannya. Dan tentu saja, di sana juga akan ada gerombolan cewek yang biasa jadi pasangannya.
...***...
Suasana ramai sekali. Melody memilih duduk di barisan paling atas, tepat di sisi kanan tribun, agar jauh dari kerumunan di bawah.
Matahari sudah tenggelam. Lampu sorot menerangi lapangan dengan terang sementara para pemandu sorak berlatih di pinggir lapangan. Udara masih terasa hangat meski baru awal Oktober. Angin berhembus pelan menyapu rambutnya, dan aroma popcorn mulai tercium di udara.
Para pemain mulai masuk ke lapangan. Wasit berdiri di tengah memegang bola, tampak sedang berdiskusi.
Mata Melody menyapu satu per satu. Gonzaga FC bertanding melawan Pluit United. Maskot kedua tim pun ikut masuk dan saling meledek untuk menunjukkan rivalitas.
Pandangannya berhenti pada Messy. Melody tersenyum melihat cowok itu tertawa mendengar ucapan Jojo. Tiba-tiba Messy menengok ke arah tribun dan tatapan mereka bertemu. Cowok itu mengangkat tangannya sedikit sebagai sapaan, dan Melody membalasnya.
Gerakan itu menarik perhatian siswa lain dan beberapa orang tua di sekitarnya. Mereka pun menoleh melihat Melody yang duduk sendirian.
Issac mendekati Messy, menepuk bahunya, lalu ikut melambaikan tangan ke arah Melody.
Gadis itu buru-buru menunduk dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia sadar, semenjak Messy bersikap ramah, teman-teman satu timnya pun ikut berubah sikap.
Tiba-tiba bulu kuduk Melody merinding. Ada rasa tidak nyaman seakan ada yang sedang mengawasinya. Melody mendongak dan memindai tribun di depannya. Lima tingkat di bawah sana, ia melihat sepasang mata hitam pekat menatapnya lekat-lekat. Itu Adden.
Mereka saling tatap dalam diam.
Akhirnya Melody membuang muka. Ia memindahkan rambutnya ke bahu kiri dan mengambil ponsel untuk mengalihkan perhatian. Ia di sini untuk melihat Messy bermain dan penampilan Giggi, bukan untuk memikirkan orang itu.
Lima menit kemudian, teriakan para pemandu sorak membuat Melody mendongak lagi. Matanya tertuju pada Luccy yang berdiri di depan.
Sepertinya Luccy adalah kaptennya. Melody belum pernah merasakan suasana seperti ini di sekolah-sekolah sebelumnya. Entah karena sering bermasalah atau terus pindah panti asuhan, jadi ini pengalaman baru buat dia.
Luccy melambaikan pom-pom dengan senyum manis, lalu mengirimkan ciuman udara tepat ke arah Adden. Namun Adden sama sekali tidak bergeming. Ia tidak membalas lambaian tangan maupun ciuman itu.
Melody menyimpulkan, cowok itu memang tipe yang tidak suka menunjukkan kemesraan di depan umum. Penampilannya memang selalu terlihat dingin, misterius, dan sulit didekati. Segalanya pasti harus berjalan sesuai keinginan Adden. Wajar saja kalau dia tipe yang bebas dan seenaknya berganti pasangan.
Babak pertama berjalan cepat. Tim mereka sudah mencetak dua gol.
Melody ingin sekali bersorak, tapi rasanya canggung karena tidak ada teman di sampingnya. Jadi ia simpan saja antusiasnya. Setiap kali Messy menengok ke atas, Melody akan tersenyum lebar. Ia ingin menunjukkan kalau ia sangat menikmati permainan cowok itu.
Perutnya mulai keroncongan. Untungnya ada uang dua ratus ribu yang ditinggalkan Tuan Lukita khusus untuk jajan.
Melody berdiri dan berjalan menuju toilet wanita lewat lorong samping sebelum membeli makanan. Ruangan itu kosong melompong. Ia memilih masuk ke bilik paling ujung.
Baru saja hendak menutup pintu, tiba-tiba ada tangan yang mendorongnya keras. Punggung Melody terbentur dinding hingga ia tak bisa bergerak.
Melody mau berteriak, tapi sebuah tangan besar langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Shh."
Gadis itu menggeleng kuat dan mencoba mendorong tubuh itu menjauh, tapi tubuh lawannya sama sekali tak bergeming.
"Buat siapa kamu cantik-cantik gini? Buat aku?" bisik suara berat itu tepat di telinganya.
Melody mengenali suara itu.
Itu suara Adden.
Melody memutar mata malas dan mencoba menggigit telapak tangan yang menutup mulutnya, tapi tidak berhasil.
Mata Adden menelusuri tubuhnya turun ke bawah. Dengan tangan satunya, ia menyingkirkan sweter yang tersampir di pinggang Melody.
Lutut kokohnya menyelip di antara kedua kaki Melody dan mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya.