Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Bahasa Italia: Culo atau Ciao?
Pagi hari di Palazzo De Luca seharusnya menjadi waktu bagi sang Capo untuk memberikan instruksi tegas, meninjau laporan intelijen, dan memancarkan aura otoritas yang tak tergoyahkan. Namun, bagi Bianca yang kini menghuni tubuh Lorenzo, pagi hari adalah waktu penyiksaan linguistik. Sejak matahari belum sepenuhnya naik, Lorenzo (dalam tubuh Bianca) sudah berdiri di depan tempat tidur sambil memegang sebuah kamus tebal dan penggaris kayu, berperan menjadi guru bahasa yang paling galak se-Eropa.
"Ulangi lagi, Bianca! Pelafalannya harus tegas. Buongiorno," perintah Lorenzo dengan nada dingin.
Bianca yang masih mengantuk di atas kasur king-size-nya menguap lebar, membuat mulut Lorenzo terbuka sangat lebar. "Bonyorno... Mas, masih pagi. Suara kamu itu di telinga saya kayak radio rusak, tahu nggak? Berisik banget."
"Bukan Bonyorno! Bu-on-gior-no! Tekankan pada huruf 'G'-nya!" Lorenzo memukulkan penggaris ke telapak tangannya sendiri. "Kau tidak bisa memimpin rapat dengan bahasa 'Gue-Lo' atau mencampuradukkannya dengan bahasa planetmu itu. Jika kau bicara pada Don lain, kau harus terdengar seperti bangsawan Roma, bukan seperti turis yang tersesat di stasiun Termini!"
Bianca mengucek mata Lorenzo. "Ya elah, Mas. Bahasa itu kan yang penting paham. Tadi malam aja Mas Yuri Volkov seneng-seneng aja saya panggil 'Mas'."
"Itu keberuntungan murni karena dia pikir kau sedang meracuninya dengan istilah gaib! Sekarang, dengarkan. Aku akan mengajarimu beberapa frasa kunci untuk negosiasi hari ini. Ucapkan: Mi fa piacere conoscervi (Senang bertemu dengan Anda)."
Bianca menarik napas panjang, mencoba serius. "Mi... mi papa piciere... konosemen?"
Lorenzo menghela napas panjang, hampir saja ia ingin membenturkan kepala cantiknya ke tembok. "Bukan 'papa'! Mi fa piacere. Sekali lagi!"
"Mi fa... pi-pi... ah, susah banget sih! Kenapa orang Italia kalau ngomong kayak orang lagi kumur-kumur pasta?" keluh Bianca. "Gimana kalau yang gampang-gampang aja? Kayak 'Ciao'. Itu kan artinya halo?"
"Ya, Ciao itu dasar. Tapi kau harus tahu kapan menggunakannya. Jangan sampai kau salah mengucapkan kata yang mirip tapi artinya jauh berbeda. Misalnya, jangan tertukar antara Ciao dengan... ah, sudahlah."
Dua jam kemudian, Bianca (tubuh Lorenzo) turun ke ruang tengah untuk menemui beberapa kepala keamanan klan. Ia sudah mengenakan setelan jas abu-abu perak yang membuatnya terlihat sangat berkelas, meski di saku jasnya ia menyembunyikan sebungkus permen jahe yang ia temukan di tasnya.
Lorenzo (tubuh Bianca) mengikuti di belakang, membawa tablet digital seolah-olah sedang mencatat poin-poin penting, padahal ia sedang memantau setiap gerak-gerik bibir Bianca agar tidak salah ucap.
Di ruang tengah, sudah menunggu Antonio, kepala bodyguard keluarga De Luca yang bertubuh seperti lemari dua pintu dan memiliki wajah yang tidak pernah tersenyum.
"Capo," Antonio membungkuk hormat. "Kami sudah menyiapkan pengawalan untuk perjalanan ke gudang senjata. Apakah ada instruksi tambahan?"
Bianca teringat pelajaran paginya. Ia ingin pamer sedikit kemampuannya. Ia berjalan mendekati Antonio, menepuk pundaknya yang keras dengan tangan Lorenzo yang kuat.
"Ah, Antonio! Culo!" seru Bianca dengan suara lantang dan penuh percaya diri.
Hening seketika.
Wajah Antonio yang biasanya kaku seperti semen, mendadak berubah warna menjadi merah padam. Para penjaga di belakangnya saling berpandangan dengan mata melotot. Lorenzo yang berdiri di belakang Bianca hampir saja pingsan di tempat. Tablet di tangannya meluncur bebas ke lantai marmer.
"Che cosa?!" bisik Antonio dengan suara tertahan.
Lorenzo segera melompat maju, menutupi tubuh Bianca yang sekarang sedang kebingungan. "Maaf! Maksud Capo adalah... CIAO! Beliau ingin menyapa Anda dengan sangat akrab! Ya, sangat akrab!"
Bianca menoleh ke Lorenzo dengan polos. "Lho, bukannya tadi kamu bilang Culo itu salam ya?"
"BUKAN, BODOH!" bisik Lorenzo setengah berteriak melalui gigi yang terkatup. "Culo itu artinya... pantat! Kau baru saja menyapa kepala keamanan paling beringas di Italia dengan menyebutnya 'Pantat'!"
Mata Bianca membulat. Ia segera menoleh kembali ke Antonio yang masih tampak syok dan tersinggung. "Waduh! Sori, Mas Anto! Maksud saya itu... aduh, bahasa kalian mirip-mirip sih. Maksud saya, kamu keren! Grande Culo!"
Antonio mundur selangkah, tangannya secara refleks bergerak ke arah sarung senjatanya. "Grande Culo?! Kau menyebut pantatku besar, Lorenzo?!"
"BUKAN! STOP! JANGAN BICARA LAGI!" Lorenzo (tubuh Bianca) langsung menarik kerah jas tubuh aslinya sendiri dengan sekuat tenaga menuju ruang kerja pribadi. "Maaf semuanya! Capo sedang mengalami gangguan saraf lidah! Efek samping obat tidur! Bubar semua! BUBAR!"
Setelah pintu ruang kerja dikunci rapat, Lorenzo meledak. Ia melempar kamus bahasa Italia yang ia bawa tadi ke arah sofa.
"BIANCA! Kau hampir saja membuat kita dikudeta oleh kepala keamanan kita sendiri! Bagaimana bisa kau menyebut Antonio 'Grande Culo'?!"
Bianca duduk di kursi pimpinan dengan wajah cemberut. "Ya mana saya tahu, Mas! Tadi di telinga saya kedengarannya mirip. Lagian, kenapa sih bahasa Italia harus punya kata yang mirip-mirip gitu? Harusnya kan beda jauh, kayak 'Halo' sama 'Pantat' di bahasa Indo nggak ada mirip-miripnya!"
"Kau harus belajar, atau aku akan menjahit mulutmu!" ancam Lorenzo. "Bayangkan jika kau mengatakan itu di depan Don Pietro semalam. Dia akan langsung mendeklarasikan perang total!"
"Ya udah, maaf. Sekarang ajarin yang bener-bener aman. Yang nggak bakal bikin orang marah," pinta Bianca mulai merasa bersalah.
Lorenzo memijat pelipisnya. "Oke. Kita mulai dari yang paling sederhana. Kalau kau setuju dengan sesuatu, katakan 'D'accordo'. Kalau kau tidak setuju, katakan 'Assolutamente no'. Dan jika kau ingin memuji seseorang, katakan 'Bravo'. Hanya itu! Jangan improvisasi!"
"Siap! D'accordo, Bravo, Asu-apa tadi? Asu-luta?"
"Jangan pakai 'Asu'! Itu umpatan di daerahmu, kan?! As-so-lu-ta-men-te!"
"Oke, oke. Assolutamente no."
Tiba-tiba, interkom berbunyi. Suara Valerio terdengar. "Lorenzo, Moretti mengirimkan pesan melalui kurir. Mereka ingin mengubah lokasi pertemuan hari ini menjadi di sebuah restoran di Trastevere. Dante menyarankan kita menolak karena itu wilayah netral yang terlalu terbuka. Bagaimana menurutmu?"
Bianca menekan tombol interkom. Ia melirik Lorenzo yang memberikan isyarat menggelengkan kepala dengan panik.
"Assolutamente no!" teriak Bianca ke interkom.
"Bagus," suara Valerio terdengar puas. "Aku juga berpikir begitu. Terlalu berisiko. Tapi mereka menawarkan kompensasi berupa informasi tentang pengkhianat di klan kita. Apakah kau yakin?"
Bianca kembali menatap Lorenzo. Lorenzo tampak ragu, lalu perlahan mengangguk. Informasi pengkhianat adalah hal yang sangat vital.
"D'accordo!" ucap Bianca mantap.
"Tunggu, kau bilang 'Assolutamente no' lalu 'D'accordo' dalam sepuluh detik? Kau ini labil atau sedang main tebak-tebakan?" tanya Valerio heran.
Bianca mulai panik. Ia teringat kata pujian yang diajarkan Lorenzo. "Maksud saya... Bravo, Valerio! Kamu pintar banget! Bravo! Bravo!"
"Kau memujiku seperti aku ini anjing pelacak yang baru saja menangkap bola, Lorenzo?" suara Valerio terdengar sangat tersinggung. "Kau benar-benar aneh hari ini. Aku akan bicara dengan Dante."
Sambungan terputus.
Bianca menoleh ke Lorenzo dengan wajah melas. "Mas... kayaknya saya nggak bakat jadi orang Italia. Gimana kalau saya akting jadi orang bisu aja? Saya pura-pura sariawan akut atau lidah saya kegigit?"
Lorenzo menyandarkan punggungnya ke tembok, menatap langit-langit dengan pasrah. "Jika kau jadi bisu, mereka akan berpikir aku sudah kehilangan taring. Di dunia ini, kata-kata adalah senjata yang sama tajamnya dengan peluru. Jika kau tidak bisa bicara, kau akan dimakan hidup-hidup."
Lorenzo mendekati Bianca, menatap matanya sendiri (yang kini dihuni jiwa Bianca) dengan intens. "Dengar. Kita harus berangkat ke pertemuan itu. Ini bukan lagi soal bahasa, ini soal nyawa. Di sana nanti, akan banyak orang dari klan lain. Kau harus tetap diam di sampingku. Biarkan aku yang 'menerjemahkan' setiap gumamanmu menjadi perintah yang masuk akal."
"Tapi Mas, gimana kalau mereka tanya langsung ke saya?"
"Gunakan bahasa tubuh. Anggukkan kepala perlahan jika setuju, atau tatap mata mereka dengan dingin jika kau ingin mengintimidasi. Dan jika kau benar-benar terdesak dan ingin bicara..." Lorenzo terdiam sejenak, lalu membisikkan satu kata. "Katakan saja 'Vedremo'. Artinya 'Kita lihat saja nanti'. Itu kata paling aman yang bisa menggantungkan jawaban apa pun."
Bianca mengangguk-angguk paham. "Vedremo... Vedremo... Oke, ini gampang. Kayak 'liat ntar ya' dalam bahasa Indo."
Saat mereka bersiap untuk berangkat, Bianca sempat-sempatnya melihat ke arah cermin dan merapikan rambut Lorenzo. "Mas, badan kamu ini kalau pakai jas abu-abu begini, auranya kayak CEO di drakor-drakor yang lagi mau akuisisi perusahaan ya. Gantengnya maksimal."
Lorenzo (tubuh Bianca) hanya bisa mendengus. "Berhenti mengagumi tubuhku dan fokuslah pada lidahmu. Ingat, satu kali lagi kau menyebut 'Pantat' pada siapa pun, aku akan memastikan kau hanya makan roti kering selama seminggu!"
"Siap, Bos! Vedremo!" balas Bianca sambil nyengir lebar.
Namun, di dalam hatinya, Bianca merasa sangat tegang. Bermain-main di dalam istana mungkin masih bisa diatasi dengan humor, tapi keluar ke wilayah netral untuk bertemu klan musuh? Itu adalah level permainan yang berbeda. Ia berharap lidah semprulnya bisa bekerja sama kali ini, atau setidaknya, ia berharap tidak ada yang bertanya soal ukuran pantat siapa pun di restoran nanti.
Di sisi lain, Antonio si kepala keamanan sedang berdiri di depan cermin di barak pengawal, menatap bagian belakang tubuhnya sendiri dengan ekspresi bingung. "Apa benar pantatku sebesar itu sampai Capo merasa perlu mengomentarinya?" gumamnya heran, sementara para anak buahnya hanya bisa menahan tawa sampai wajah mereka biru.
Kekacauan bahasa ini mungkin terdengar konyol, tapi di dunia mafia yang penuh kode dan simbol, satu salah ucap bisa menjadi percikan api di gudang mesiu. Dan Bianca baru saja membawa obor menyala ke sana.
......................
Glosarium Bahasa Italia di Bab Ini:
Buongiorno: Selamat pagi.
Ciao: Halo / Sampai jumpa (informal).
Culo: Pantat (kata kasar).
Grande: Besar.
Che cosa?: Apa?
Mi fa piacere conoscervi: Senang bertemu dengan Anda.
D'accordo: Setuju / Sepakat.
Assolutamente no: Sama sekali tidak.
Bravo: Bagus / Hebat (untuk memuji pria).
Vedremo: Kita lihat saja nanti.
Termini: Nama stasiun kereta api utama di Roma.