Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Terasa Nyata!!
"Aku pernah membaca di sebuah novel bahwa sentuhan orang yang kita cintai akan terasa seperti sengatan listrik bermuatan tinggi. Tapi novel itu berbohong. Saat tanganmu yang sedingin es tak sengaja menyentuhku, tidak ada sengatan listrik. Yang ada hanyalah sebuah kehangatan aneh yang merayap perlahan, mencairkan bekunya duniaku, dan membuatku sadar... bahwa kau dan segala penderitaanmu adalah hal paling nyata yang ingin kudekap erat." (Buku Harian Keyla, Halaman 31)
Waktu bergulir dengan ritme yang monoton, namun bagiku, setiap putaran jarum jam memiliki maknanya sendiri. Dua minggu telah berlalu sejak aku mengetahui kebenaran yang menghancurkan hatiku dari balik pintu ruang guru. Dua minggu pula rutinitas rahasiaku berjalan tanpa hambatan.
Setiap pagi, sebelum embun menguap dari dedaunan di halaman sekolah, aku menyelinap ke dalam kelas yang masih kosong. Sebotol susu, atau sekotak sari kacang hijau, bersanding dengan dua lembar roti gandum atau biskuit kalori tinggi, selalu kuletakkan tepat di tengah meja usangnya. Dan setiap kali Rendi datang, ia akan mematung sejenak, memindai kelas dengan tatapan curiga dan harga diri yang terluka, sebelum akhirnya—dengan sisa-sisa keputusasaan seorang kakak yang harus bertahan hidup demi adiknya—ia memasukkan makanan itu ke dalam tas ranselnya atau memakannya dalam diam saat kelas kosong.
Aku tidak pernah meninggalkan catatan. Aku tidak pernah menatapnya saat ia masuk ke kelas, berpura-pura sibuk membaca buku atau mengobrol dengan Lidya dan Bella. Aku menjadi bayangan yang sempurna, tak terlihat namun selalu ada. Dan anehnya, hanya dengan melihatnya mengunyah roti pemberianku dari pantulan kaca jendela kelas, perutku sudah terasa kenyang dan hatiku dipenuhi oleh kedamaian yang tak terlukiskan.
Hari ini adalah hari Kamis di minggu ketiga bulan September. Hari yang selalu kuhindari di bulan-bulan sebelumnya, namun kini menjadi hari yang diam-diam paling kunantikan.
Hari ini adalah jadwal piketku. Dan di dalam daftar nama yang tertempel di dinding kelas, namaku tercetak tepat di atas namanya: Rendi.
"Key, lo mau gue tungguin nggak?" tawar Lidya saat bel tanda pulang sekolah baru saja berhenti berdering nyaring. Ia sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, sementara kelas mulai riuh oleh langkah kaki siswa yang berebut keluar menuju gerbang kebebasan.
"Nggak usah, Lid. Kalian duluan aja. Nanti keburu kesorean, mendung juga tuh di luar," jawabku sambil mengambil sapu dari sudut kelas.
Bella, yang sudah berdiri di ambang pintu sambil memegang payung lipatnya, berseru lantang. "Beneran nih? Awas loh, hari ini kan jadwal piket lo bareng si Reza sama si kulkas berjalan. Si Reza udah bolos dari jam istirahat kedua tadi buat main PS. Berarti lo cuma berdua doang sama Rendi."
Bella merendahkan suaranya di kalimat terakhir, melirik ke arah bangku belakang.
"Nggak apa-apa, Bel. Cuma nyapu sama hapus papan tulis doang kok. Udah sana, kalian pulang aja, hati-hati di jalan ya," usirku halus sambil mengibaskan tangan.
Siska yang berdiri di samping Bella menatapku sedikit lebih lama. "Kamu yakin, Keyla? Kalau Rendi kabur juga dari tugas piket kayak Reza gimana? Masa kamu yang harus bersihin kelas sebesar ini sendirian? Biar aku tegur dia sekarang biar dia nggak seenaknya pergi," ancam Siska dengan suara yang amat lembut namun mengandung ketegasan yang manipulatif.
"Eh, jangan, Sis!" cegahku cepat, jantungku sedikit melompat. "Maksudku... nggak perlu. Dia nggak pernah kabur dari jadwal piket kok. Kalian pulang aja, beneran."
Siska memicingkan matanya di balik kacamata tebalnya, namun senyum malaikatnya kembali mengembang. "Yaudah kalau kamu maunya gitu. Jangan capek-capek ya, anak cantik. Kami duluan."
Aku mengangguk, mengembuskan napas lega saat melihat punggung ketiga sahabatku akhirnya menghilang di balik tikungan koridor.
Kelas XII-IPA 1 kini benar-benar kosong. Suara bising dari luar perlahan memudar, menyisakan kesunyian yang tebal dan canggung di dalam ruangan berukuran delapan kali delapan meter ini. Cahaya matahari sore yang berwarna keemasan menyusup masuk melalui celah gorden yang setengah terbuka, menyorot debu-debu halus yang menari di udara.
Aku memutar tubuhku. Di sudut paling belakang kelas, Rendi masih ada di sana.
Ia tidak langsung pulang. Ia berdiri di samping mejanya, memasukkan buku-buku lusuhnya ke dalam ransel dengan gerakan terburu-buru. Wajahnya terlihat sangat lelah, rambutnya sedikit berantakan. Aku tahu, ia sedang dikejar waktu. Pak Budi bilang ia bekerja sebagai kuli panggul di pasar induk sejak sore hingga magrib. Setiap menit yang ia habiskan di sini adalah menit yang berharga untuk mengais rupiah demi menebus Nanda.
Hatiku teriris pedih. Seharusnya aku menyuruhnya pulang saja. Seharusnya aku membersihkan kelas ini sendirian.
Namun sebelum aku sempat membuka mulut untuk menyuruhnya pergi, Rendi sudah bergerak. Ia tidak mengambil sapu. Alih-alih menyapu, laki-laki itu berjalan menyusuri setiap barisan meja, lalu dengan lengannya yang panjang dan kuat, ia mengangkat kursi-kursi kayu yang berat itu dan menaikkannya ke atas meja satu per satu secara terbalik.
Gerakannya sangat efisien, cepat, dan bertenaga. Kemeja putihnya yang basah oleh keringat tercetak jelas di punggungnya, memperlihatkan betapa kurusnya ia. Otot di lengannya menegang setiap kali ia mengangkat kursi ganda. Ia melakukan pekerjaan yang paling berat agar aku bisa menyapu lantai dengan mudah tanpa terhalang kaki kursi.
Ia melakukan bagiannya dalam kebisuan total. Tak ada keluhan. Tak ada obrolan basa-basi seperti yang biasa dilakukan siswa laki-laki lain saat piket.
Melihatnya melakukan semua itu, mataku mulai memanas. Air mataku menggenang di pelupuk, namun secepat kilat aku mengerjapkan mataku dan menunduk, mulai mengayunkan sapuku di lantai keramik. Aku menyapu dengan ritme yang sengaja kupercepat. Aku ingin kelas ini cepat bersih agar ia bisa segera pergi bekerja.
Hanya suara gesekan sapu lidi yang beradu dengan lantai, serta suara kaki kursi kayu yang diletakkan di atas meja, yang mengisi keheningan di antara kami. Ini adalah interaksi terlama kami di dalam satu ruangan tanpa kehadiran orang lain. Tidak ada Deandra, tidak ada Lidya, tidak ada Siska. Hanya aku, dia, dan cahaya sore yang membingkai siluet lelahnya.
Setelah seluruh kursi terangkat ke atas meja, Rendi berjalan menuju pojok ruangan, mengambil tempat sampah plastik yang penuh dengan kertas bekas, lalu berjalan keluar untuk membuangnya ke tempat pembuangan akhir di belakang sekolah.
Memanfaatkan kepergiannya yang sebentar, aku bergegas menuju area depan kelas. Masih ada satu tugas tersisa: menghapus papan tulis putih whiteboard yang terbentang sepanjang tiga meter di depan kelas. Pak Heru, guru Kimia yang mengajar di jam terakhir, meninggalkan rentetan rumus struktur senyawa hidrokarbon yang sangat panjang dan rumit. Parahnya lagi, spidol yang beliau gunakan sepertinya dicampur dengan tinta permanen, karena tintanya sangat pekat dan susah dihapus.
Aku menyemprotkan cairan pembersih kaca ke papan tulis, lalu mulai menggosoknya dengan penghapus papan yang sudah kotor. Lapisan bawah berhasil kuhapus dengan sedikit tenaga ekstra. Lapisan tengah membuat tanganku sedikit pegal.
Namun, ketika aku harus menghapus deretan rumus alkana dan alkena yang ditulis melintang di bagian paling atas papan tulis—tepat di batas atas yang nyaris menyentuh bingkai aluminiumnya—aku menemui masalah. Pak Heru adalah guru yang sangat tinggi, sedangkan aku hanya setinggi dada beliau.
Aku berjinjit sekuat tenaga. Tangan kananku yang memegang penghapus terjulur maksimal ke atas. Aku menggosokkan penghapus itu ke tulisan di ujung atas, namun tekananku kurang kuat karena posisiku yang tidak seimbang. Tinta itu tidak mau hilang, hanya meninggalkan noda hitam yang berbayang.
"Aduh, susah banget sih," keluhku pelan, merutuki tinggi badanku sendiri. Aku mencoba berjinjit lebih tinggi lagi, hingga ujung sepatu pantofelku melengkung maksimal. Aku melompat-lompat kecil sambil menggosok penghapus itu. "Ayo dong, hilang..." gumamku frustrasi.
Tiba-tiba, aroma itu datang. Aroma sabun cuci batangan murah yang sangat khas, bercampur dengan wangi keringat yang tak pernah gagal membuat lututku lemas. Aroma Rendi.
Aku belum sempat menoleh ketika aku merasakan suhu udara di sekitarku mendadak berubah. Sesosok tubuh tinggi besar telah berdiri tepat di belakangku, hanya berjarak beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan radiasi kehangatan dari tubuhnya menembus kain seragamku, membuat bulu kudukku merinding seketika.
Jantungku berhenti berdetak. Paru-paruku seolah lupa cara menarik oksigen. Aku mematung dengan tangan kanan yang masih memegang penghapus papan tulis di udara.
Dan di saat yang sama, sebuah lengan yang panjang, berotot, dan terbalut kemeja putih lusuh yang lengannya digulung asal, terjulur dari arah belakang sebelah kiriku, melewati bahuku.
Tangan yang besar itu mengulur ke atas, menargetkan penghapus papan tulis yang masih berada di genggamanku.
Ia bermaksud mengambil penghapus itu dari tanganku. Namun, karena posisiku yang masih kaku akibat terkejut, aku tak melepaskan genggamanku. Alhasil, tangan kanannya yang besar itu mendarat tepat di atas punggung tangan kananku, membungkus tanganku bersama dengan penghapus itu.
Sreett.
Waktu seketika berhenti. Gravitasi seakan kehilangan tarikannya.
Tangannya menyentuh tanganku. Kulit bersentuhan dengan kulit.
Sensasi pertama yang menyergap kewarasanku adalah rasa dingin yang luar biasa. Tangan Rendi sangat dingin, seolah ia baru saja merendam tangannya di dalam es. Sangat kontras dengan tubuhnya yang berkeringat. Namun yang membuat air mataku nyaris jatuh di detik itu juga adalah tekstur kulitnya.
Di punggung tanganku yang lembut, aku merasakan kasarnya telapak tangan laki-laki itu. Ada lapisan kapalan yang menebal di pangkal jari-jarinya, bekas goresan luka kering di buku-buku jarinya, dan kulit yang mengelupas akibat gesekan kasar yang tak berkesudahan.
Itu adalah tangan seorang kuli panggul. Itu adalah tangan seorang pelayan warung tenda. Itu adalah tangan seorang kakak yang rela hancur demi menghidupi adik perempuannya.
"Tanganmu begitu dingin, Rendi. Sangat dingin. Namun saat kulit kasarmu yang penuh luka itu bersentuhan dengan kulitku, entah mengapa ada aliran kehangatan magis yang menjalar lurus ke jantungku, membuatku ingin menggenggam tangan itu dan tak pernah melepaskannya." (Buku Harian Keyla, Halaman 33)
Napasnya terdengar tertahan di atas puncak kepalaku. Ia sepertinya sama terkejutnya denganku atas insiden sentuhan yang tak disengaja ini. Ia berniat meraih penghapus, namun berakhir merengkuh punggung tanganku.
Refleks, mataku bergerak memutar menatapnya dari balik bahuku. Dan tepat di saat itu, ia juga menundukkan wajahnya menatapku.
Wajah kami hanya berjarak satu jengkal. Di bawah siraman cahaya matahari sore yang keemasan, untuk pertama kalinya, aku menatap langsung ke dalam mata kelamnya dari jarak yang begitu intim.
Ia tidak sedang memberikan tatapan kosong yang membekukan. Ia tidak membuang muka. Di detik yang membeku itu, mata elangnya menatap lurus ke dalam mataku. Matanya sedikit melebar. Aku bisa melihat pantulan diriku sendiri di dalam retinanya yang gelap. Aku bisa melihat raut lelahnya yang luar biasa, lingkar matanya yang menghitam, dan setetes peluh yang mengalir di sisi rahangnya yang tegas.
Mata kami terkunci. Napas kami saling bertabrakan di udara yang mendadak terasa begitu tipis. Dadaku bergemuruh dengan hebat, seolah ada ribuan genderang perang yang sedang ditabuh di dalamnya. Jika ia bisa mendengar detak jantungku saat ini, ia pasti tahu betapa gilanya perasaanku padanya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu layaknya seribu tahun.
Lalu, kenyataan menariknya kembali. Rendi seperti baru tersadar dari mantra magis yang menyelimuti kami. Ia tersentak pelan. Mata elangnya yang sayu seketika kembali menajam, membangun kembali benteng pertahanannya yang sempat retak.
Ia menarik tangannya dengan cepat dan kasar seolah tanganku baru saja membakar kulitnya. Ia memundurkan tubuhnya dua langkah ke belakang, menciptakan jarak yang kembali membuat udara terasa dingin.
"Maaf," gumamnya pelan. Suaranya serak, rendah, dan nyaris seperti sebuah geraman yang tertahan di tenggorokan.
Ia merebut penghapus papan tulis itu dari tanganku yang kini lemas tak bertenaga. Dengan gerakan cepat, efisien, dan setengah emosi, ia menggosok sisa tulisan di bagian atas papan tulis itu dalam sekali sapuan kuat. Tubuhnya yang menjulang tinggi memudahkannya melakukan itu tanpa perlu berjinjit sepertiku.
Dalam hitungan detik, papan tulis itu bersih tanpa noda. Ia meletakkan penghapus itu di pinggiran papan dengan bunyi tak yang cukup keras, lalu berbalik tanpa menatapku lagi.
Ia mengambil tas ranselnya di kursi depan, menyampirkannya di satu bahu, dan langsung berjalan menuju pintu keluar kelas. Langkahnya panjang-panjang dan tergesa-gesa, seperti seseorang yang sedang lari dari medan pertempuran.
"Rendi!" panggilku refleks sebelum ia melewati ambang pintu.
Langkahnya terhenti. Ia tidak berbalik, hanya berdiri mematung memunggungiku. Bahunya yang lebar terlihat kaku.
Aku menelan ludah, menekan dadaku sendiri yang masih bergemuruh hebat akibat sentuhannya tadi. Kutatap punggungnya yang selalu kesepian itu, lalu dengan segenap ketulusan yang kubisa, aku berucap pelan namun pasti.
"Hati-hati kerjanya ya, Ren. Jangan lupa makan."
Tidak ada tuntutan agar ia membalas. Tidak ada pertanyaan bernada iba. Hanya sebuah pesan sederhana dari seseorang yang tahu kemana ia akan pergi setelah gerbang sekolah ini.
Hening sejenak. Aku bisa melihat tangannya yang memegang tali ransel semakin mengerat hingga urat-uratnya menonjol. Ia tidak menoleh, ia tidak mengucapkan terima kasih. Tapi, seperti pagi-pagi sebelumnya, kepalanya memberikan sebuah anggukan pelan. Satu anggukan samar, sebelum akhirnya ia kembali melangkah dan menghilang dari pandanganku.
Aku menghela napas panjang hingga tubuhku terhuyung mundur dan bersandar pada dinding papan tulis. Aku menunduk, menatap tangan kananku yang baru saja ia sentuh. Kulit di punggung tanganku masih menyisakan sensasi dingin dan kasar dari telapak tangannya. Perlahan, aku mengangkat tanganku sendiri, menempelkannya ke dadaku, tepat di atas jantungku yang masih berdetak liar.
Air mata yang sejak tadi menggenang, akhirnya lolos dan membasahi pipiku. Tapi kali ini, ini bukan air mata penolakan atau rasa sakit. Ini adalah air mata kebahagiaan yang sangat rapuh.
Sentuhan itu terasa sangat nyata. Dan tatapan matanya yang terpaku padaku selama tiga detik tadi adalah bukti bahwa di balik dinginnya bongkahan es itu, masih ada secercah kehangatan manusia yang sedang mati-matian ia sembunyikan.
"Hari ini, di ruang kelas yang sepi ini, tangan kita bersentuhan. Meski hanya sedetik, raga kita saling menyapa. Dan mulai saat ini, tanganku tidak akan lagi sudi digenggam oleh siapa pun, karena ia telah menemukan tempat paling sempurna untuk bersandar, pada kulitmu yang penuh luka itu." (Buku Harian Keyla, Halaman 35)
Aku mengambil tasku, mengunci pintu kelas, dan berjalan menyusuri koridor dengan senyum kecil yang tak mau luntur dari bibirku. Namun, senyumku perlahan memudar saat aku menuruni tangga dan melihat sesosok perempuan berdiri bersandar di dinding dekat mading lantai satu.
Siska.
Ia tidak jadi pulang?
Siska melipat tangannya di dada, kacamata tebalnya memantulkan cahaya matahari sore yang mulai meredup. Senyum malaikatnya masih bertengger di bibirnya, namun matanya memindai wajahku dengan tatapan menguliti yang tak pernah kusukai.
"Kok kamu lama banget, Key? Aku dari tadi nungguin di sini loh," tegur Siska lembut, menghampiriku dan langsung menggandeng lenganku seperti biasa.
"Eh? Sis? Katanya tadi kamu pulang duluan sama yang lain?" tanyaku bingung.
Siska mengangkat bahunya santai. "Aku kepikiran kamu, takut kamu kewalahan bersihin kelas sendirian gara-gara si pengecut itu kabur. Bener kan, dia ninggalin kamu?" Siska melirik ke sekeliling. "Rendi udah pulang dari tadi kan? Dasar cowok egois, nggak bertanggung jawab."
"Dia nggak kabur, Sis," belaku cepat, nada suaraku sedikit meninggi tanpa kusadari. "Kami selesain piketnya bareng-bareng. Dia yang naikin semua kursi ke atas meja, dia juga yang buang sampah."
Siska terdiam sejenak. Matanya menyipit, meneliti raut wajahku yang mungkin masih menyisakan rona kemerahan akibat insiden papan tulis tadi. Ia lalu tersenyum simpul, sebuah senyum yang sarat akan belas kasihan.
Siska membelai rambutku pelan. "Keyla sayang... wajah kamu merah. Jangan bilang dia ngelakuin hal yang nggak sopan sama kamu pas kalian berdua di kelas?"
"Nggak! Dia nggak ngapa-ngapain," bantahku sedikit panik. "Kami cuma piket biasa."
Siska menghela napas panjang, merangkul pundakku dan menuntunku berjalan menuju gerbang sekolah. "Syukurlah kalau gitu. Aku cuma khawatir, Key. Kamu itu terlalu polos. Cowok yang hidupnya di jalanan, yang biasa hidup kasar dan miskin seperti Rendi, kadang mereka tau cara memanipulasi kelemahan cewek-cewek dari keluarga baik-baik kayak kamu. Mereka manfaatin rasa kasihan cewek buat dapet keuntungan."
Kata-kata Siska ibarat seember air kotor yang disiramkan ke atas kepalaku yang baru saja ditaburi bunga. Sangat menjijikkan, sangat beracun. Ia membalikkan semua narasi, menuduh Rendi sebagai manipulator miskin, padahal kenyataannya Rendi bahkan menolak pemberian Deandra mentah-mentah demi harga dirinya.
"Rendi bukan orang kayak gitu, Sis," ucapku pelan, namun nadaku dipenuhi ketegasan yang tak terbantahkan. "Dia cowok yang baik. Sangat baik."
Siska menghentikan langkahnya. Ia menatapku dari balik lensa tebalnya. Kilat di matanya bukan lagi sekadar keprihatinan palsu, melainkan sebuah percikan rasa tak suka yang mulai nyata. Ia benci melihatku memiliki opini yang berlawanan dengannya. Ia benci melihatku membela laki-laki yang ia anggap berada di kasta terendah.
Namun sekali lagi, Siska adalah aktris yang hebat. Dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali melembut. Ia tertawa pelan yang terdengar sangat merdu namun kosong.
"Tentu saja, Key. Kalau itu yang mau kamu percayai, aku sebagai sahabatmu cuma bisa mendoakan yang terbaik," ucap Siska mengalah, namun aku tahu itu bukanlah bendera putih, melainkan awal dari siasat barunya. "Aku cuma berharap, saat kamu bangun dari ilusi cinta monyet ini nanti, kamu belum hancur sepenuhnya. Karena jatuh dari tempat yang tinggi itu sakit, Keyla."
Aku tak membalas ucapan Siska. Aku hanya membiarkan ia terus merangkulku hingga kami berpisah di depan gerbang.
Aku berjalan pulang ke rumah menembus angin sore yang mulai mendingin. Ucapan beracun Siska menguap begitu saja tertiup angin, tak mampu menembus dinding pertahanan hatiku. Karena saat ini, di dalam kepalaku, hanya ada satu hal yang memutar secara terus-menerus.
Hanya ada sepasang mata kelam yang menatapku tajam. Hanya ada sentuhan tangan kasar bersuhu es yang tak sengaja merengkuh punggung tanganku. Hanya ada sebaris kalimat "Maaf" yang meluncur dari bibirnya.
Itu semua terasa nyata. Sangat nyata. Dan selama hal itu nyata, aku tak peduli jika seluruh dunia berdiri di pihak Siska untuk mencelaku. Aku akan tetap memilih membeku bersama gunung esku, Rendi.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik