NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kentos46

Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.

Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.

Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama dengan Nenek Monster

Aluna menghabiskan hampir satu jam berdiri di depan lemari besar dalam kamar yang disediakan untuknya.

Atau lebih tepatnya... kamar Arsen.

Karena meskipun laki-laki itu berkata santai soal tidur bersama, Aluna baru sadar semua pakaian di walk-in closet itu jelas milik Arsen. Jas hitam tersusun rapi berdasarkan warna. Jam tangan mahal berjajar di lemari kaca. Bahkan aroma parfum dingin khas laki-laki itu memenuhi seluruh ruangan.

Dan sekarang Aluna harus makan malam bersama neneknya.

Jantungnya sudah tidak tenang sejak tadi.

Di atas kasur king size sudah tergantung beberapa dress mahal yang entah sejak kapan disiapkan staff rumah. Semua cantik. Semua terlihat mahal. Dan semuanya membuat Aluna semakin sadar kalau dia benar-benar masuk ke dunia yang bukan miliknya.

Akhirnya dia memilih dress hitam sederhana dengan lengan panjang tipis. Tidak terlalu mencolok. Tidak terlalu murahan. Setidaknya itu yang dia harapkan.

Namun begitu Aluna selesai mengikat rambut dan keluar kamar...

langkahnya langsung berhenti.

Arsen sudah menunggu di ruang tengah.

Laki-laki itu mengenakan setelan hitam tanpa dasi dengan dua kancing atas terbuka sedikit. Rambutnya masih agak basah seperti habis mandi. Tangannya sibuk memainkan ponsel sambil duduk santai di sofa.

Tetapi ketika matanya terangkat dan melihat Aluna...

dia diam beberapa detik.

Tatapan dingin itu turun perlahan dari wajah Aluna sampai ke ujung heels yang dipakainya.

Dan entah kenapa suasana mendadak terasa aneh.

Aluna langsung salah tingkah sendiri.

“Kenapa liatin saya begitu?”

Arsen tidak langsung menjawab.

“Kamu lebih cocok diam daripada ngomel.”

Aluna langsung melotot. “Itu pujian atau hinaan?”

“Dua-duanya.”

Cowok ini emang nyebelin.

Aluna mendecakkan lidah kecil lalu berjalan mendekat. Namun baru beberapa langkah, heels yang dipakainya malah tersangkut karpet.

Tubuhnya oleng.

“Ah!”

Belum sempat jatuh, tangan Arsen sudah lebih dulu menangkap pinggangnya.

Deg.

Wajah mereka mendadak dekat sekali.

Terlalu dekat.

Aluna bahkan bisa mencium aroma parfum Arsen yang dingin dan mahal. Tatapan laki-laki itu turun tepat ke bibirnya selama sepersekian detik sebelum kembali ke mata Aluna.

“Jalan saja nggak becus,” gumamnya pelan.

Namun anehnya, tangan besar itu belum juga melepas pinggang Aluna.

Jantung Aluna langsung berdebar aneh.

“Bisa lepas sekarang,” ucapnya gugup.

Tatapan Arsen berubah datar lagi seolah momen tadi tidak terjadi.

Dia langsung mundur satu langkah.

“Malu?”

“Males dekat sama Anda.”

“Padahal mukamu merah.”

“Karena kesel!”

Sudut bibir Arsen sedikit bergerak samar sebelum dia mengambil jasnya.

“Ayo. Nenek saya tidak suka ditunggu.”

---

Mobil hitam panjang itu berhenti di depan rumah utama keluarga Asmara tiga puluh menit kemudian.

Dan untuk kedua kalinya hari itu, Aluna merasa seperti salah masuk dunia orang kaya.

Rumah itu lebih mirip istana modern daripada rumah biasa. Halamannya luas dengan air mancur besar di tengah. Lampu-lampu taman menyala hangat, sementara beberapa mobil mewah berjajar rapi di depan bangunan utama.

Aluna menelan ludah pelan.

“Kalau saya tiba-tiba kabur sekarang gimana?”

Arsen yang duduk di sebelahnya bahkan tidak menoleh.

“Bodyguard saya lebih cepat.”

“Serem banget sih.”

“Kamu baru sadar?”

Aluna menghela napas pasrah sebelum turun dari mobil bersama Arsen.

Begitu masuk ke dalam rumah, suasana langsung berubah sunyi.

Semua pelayan yang lewat buru-buru membungkuk hormat ke arah Arsen.

“Tuan muda.”

“Tuan Arsen.”

Aura laki-laki itu langsung berubah dingin dan dominan begitu memasuki rumah keluarganya. Berbeda jauh dengan sikap santainya tadi di penthouse.

Aluna diam-diam meliriknya.

Entah kenapa sekarang dia mulai sadar.

Arsen benar-benar hidup di dunia yang penuh tekanan.

Belum sempat pikirannya jauh, suara seorang wanita tua tiba-tiba terdengar dari ruang makan.

“Akhirnya kamu datang juga, bocah tengik.”

Aluna refleks menoleh.

Dan di sanalah Nenek Ros berada.

Wanita tua itu duduk anggun di kursi utama meja makan panjang. Rambut putihnya ditata rapi, sementara tatapan matanya tajam sekali meski usianya sudah tua. Aura elegannya kuat, tetapi tetap terasa menakutkan.

Aluna langsung gugup.

Sementara Arsen cuma berjalan santai mendekat.

“Bukannya Nenek sendiri yang nyuruh saya cepat menikah?”

“Ya, tapi bukan berarti kamu boleh bikin nenek nunggu.”

Tatapan tajam Nenek Ros lalu berpindah ke Aluna.

Dan untuk beberapa detik...

wanita tua itu hanya diam menatapnya dari atas sampai bawah.

Aluna langsung merasa seperti sedang diinterogasi.

“Namamu Aluna?”

“Iya, Nek...”

“Kurus.”

Aluna langsung bingung harus jawab apa.

“Nenek,” tegur Arsen datar.

Namun Nenek Ros malah mengabaikannya dan terus menatap Aluna.

“Kamu suka cucu saya?”

Deg.

Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.

“Hah?”

“Jangan hah hah.” Nenek Ros menyilangkan tangan. “Saya tanya kamu suka Arsen atau tidak.”

Wajah Aluna langsung panas.

Ini pertanyaan macam apa?!

Sementara Arsen terlihat biasa saja sambil menarik kursi untuk Aluna duduk.

“Dia tidak akan jawab kalau Nenek mengintimidasi begitu.”

Nenek Ros mendecakkan lidah kecil. “Perempuan yang dekat sama kamu biasanya matre atau takut. Saya cuma mau tahu yang ini tipe mana.”

Aluna langsung menegang.

Kalimat itu terdengar seperti jebakan.

Namun sebelum suasana makin canggung, tiba-tiba Nenek Ros berkata lagi,

“Tapi dia cantik.”

Semua orang diam.

Aluna sampai melotot kecil.

Arsen yang tadi sedang menuang air bahkan berhenti sebentar.

“Nenek suka matanya,” lanjut wanita tua itu santai. “Tidak licik.”

Entah kenapa dada Aluna mendadak hangat mendengar itu.

Mungkin karena sudah terlalu lama tidak ada orang yang memandangnya baik-baik tanpa meremehkan dirinya.

Namun momen itu tidak berlangsung lama.

Karena beberapa detik kemudian, suara heels seseorang terdengar mendekat dari arah tangga.

“Aku dengar Arsen bawa calon istri?”

Suara perempuan.

Lembut.

Namun terdengar sinis.

Dan begitu Aluna menoleh...

wajahnya langsung pucat.

Perempuan itu cantik sekali. Rambut panjang bergelombang, gaun putih mahal, dan wajah elegan yang terlihat seperti artis.

Tetapi yang membuat Aluna membeku adalah cara perempuan itu menatap Arsen.

Terlalu akrab.

Terlalu dalam.

“Aku sampai penasaran perempuan seperti apa yang akhirnya berhasil bikin kamu mau menikah,” ucap wanita itu sambil tersenyum tipis.

Nenek Ros langsung mendengus pelan.

“Jessica, jangan mulai.”

Deg.

Aluna perlahan menatap Arsen.

Dan untuk pertama kalinya malam itu...

dia melihat perubahan kecil di wajah laki-laki dingin tersebut.

Tatapan Arsen menjadi lebih tajam.

Lebih dingin.

Dan entah kenapa...

itu membuat perasaan Aluna tiba-tiba tidak nyaman.

1
MayAyunda
keren kak👍👍
Suhirno Cilok
Lanjut.👍
kentos46: sudahh yaa kak
total 1 replies
kentos46
makasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak yaa
kentos46
punya cerita lain ga kak
Clarice Diane
semangat kak💪
kentos46: makasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!