"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PELURU DI JALANAN, BELATI DI RUMAH
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Hujan deras di Tol Lingkar Luar Jakarta malam ini bukan sekadar gangguan cuaca; bagi seorang jenderal, ini adalah tirai visual yang sempurna untuk melakukan eksekusi tanpa saksi. Di layar tablet yang kupangku, garis-garis neon biru memetakan pergerakan tiga SUV lapis baja milik unit Gorgon. Mereka bergerak dalam formasi arrowhead, formasi ofensif yang menunjukkan bahwa mereka tidak berniat untuk bernegosiasi.
"Papa, tahan kecepatan di 100 kilometer per jam. Biarkan mereka mendekat sampai radius lima puluh meter. Aku butuh mereka masuk ke zona 'Blind Pulse' yang sudah kupasang di bawah jembatan layang depan," ucapku datar melalui earpiece.
Aku melirik Damian yang duduk di kursi kemudi. Wajahnya diterangi oleh pendaran lampu dasbor, memperlihatkan garis rahang yang mengeras dan mata yang berkilat seperti predator. Ia tidak mengenakan jas mahal hari ini, hanya kaos taktis hitam yang melekat di ototnya. Di tangannya, sebuah senapan mesin ringan modifikasi terbaru yang kurancang sendiri sudah siap menyalak.
"Kau yakin sistemnya tidak akan terdeteksi oleh radar mereka, Leo?" suara Damian rendah, bergetar oleh adrenalin yang tertahan.
"Unit Gorgon menggunakan sistem komunikasi terenkripsi frekuensi tinggi. Sangat canggih, namun memiliki satu kelemahan fatal: mereka terlalu bergantung pada sinkronisasi otomatis," aku menekan tombol 'Execute' tepat saat mobil-mobil musuh masuk ke bawah bayangan jembatan.
ZAP!
Dalam sekejap, seluruh lampu jalanan di sektor itu padam. Bukan hanya lampu jalan, tapi seluruh sistem kelistrikan pada tiga mobil musuh itu mati total. Mesin mereka mati, lampu depan mereka gelap, dan yang paling penting, sistem kemudi otomatis mereka terkunci.
"Sekarang, Papa. Tiga target, sektor jam dua, jam satu, dan jam sebelas. Ingat, lumpuhkan ban lebih dulu. Aku tidak ingin ada ledakan besar yang mengundang perhatian satelit sipil," perintahku.
Damian tidak membuang waktu. Ia menginjak rem, memutar kemudi dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seorang veteran lapangan, dan mulai menembak.
Dar! Dar! Dar!
Setiap peluru menemukan sasarannya. Tanpa lampu dan navigasi, mobil-mobil Gorgon itu terpelanting, menghantam pagar pembatas jalan tol dengan suara dentuman baja yang mengerikan. Aku melihat melalui kamera drone—pintu-pintu mobil terbuka, dan sosok-sosok berpakaian hitam keluar dengan gerakan bingung. Mereka buta dalam kegelapan total ini.
"Unit Ghost, selesaikan sisanya. Jangan biarkan ada yang sempat mengirim sinyal darurat ke London," ucapku dingin.
Aku menyandarkan punggung di kursi, mematikan layar taktis lapangan. Pertempuran di jalan tol ini sudah selesai dalam waktu kurang dari lima menit. Efisiensi yang memuaskan. Namun, tiba-tiba, sebuah sinyal peringatan merah berkedip di sudut tabletku. Sinyal itu tidak berasal dari jalan tol.
Sinyal itu berasal dari kamar Mama.
“Lea! Status!” teriakku melalui Shadow Talk.
“Kak! Ada variabel tak terduga! Seorang 'Social Chameleon' dari klan pusat berhasil melewati sensor biometrik. Dia menyamar sebagai staf medis darurat yang dikirim Alexander untuk 'pemeriksaan rutin'. Dia sudah di dalam mansion. Aku sedang menjauhkan Mama, tapi dia sudah terjebak di ruang galeri atas!” suara Lea terdengar sangat mendesak.
Jantungku berdegup kencang. Bagaimana mungkin ada yang bisa melewati sensor suaraku?
"Papa! Kembali ke mansion sekarang! Seseorang menembus pertahanan dalam!" teriakku.
Wajah Damian berubah seputih kertas, namun matanya memancarkan kemarahan yang bisa membakar seluruh kota ini. "Pegang erat-erat, Leo. Kita akan melampaui batas kecepatan mobil ini."
POV: QINANTI (Mama)
Suasana mansion terasa sangat sunyi setelah Damian dan Leo pergi. Aku sedang berada di ruang galeri atas, mencoba menenangkan diri dengan mengatur posisi beberapa lukisan baru. Lea ada bersamaku, dia sedang duduk di lantai sambil memegang tablet kecilnya, sesekali bergumam tentang 'perimeter' dan 'frekuensi'.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Sangat sopan, sangat teratur.
"Nyonya Qinanti? Saya Dr. Adrian, staf medis yang dikirim Tuan Alexander untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pasca-liburan Anda," suara itu terdengar hangat dan profesional.
Aku menoleh pada Lea. Lea segera berdiri, wajahnya berubah menjadi sangat serius. Ia menatap layar tabletnya, lalu menatap pintu. "Mama, ingat latihan kita pagi tadi. Jangan biarkan dia mendekat."
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam gemetar di tanganku. Pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan jas dokter putih masuk. Ia tersenyum, senyum yang sangat ramah. Hampir terlalu ramah.
"Selamat malam, Nyonya. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda," ucapnya sambil berjalan mendekat.
Aku tidak mundur. Aku berdiri tegak, tanganku menggenggam erat kuas cat di belakang punggungku. Aku mulai memperhatikan pria itu dengan mata 'profiler' yang diajarkan Lea.
Analisis: Dia tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum—otot orbicularis oculi-nya tidak berkontraksi. Dia berbohong. Bahu kirinya sedikit lebih rendah dari bahu kanan, tanda dia menyembunyikan beban di bawah jas dokternya—mungkin senjata. Dan tangannya... dia terus-menerus menyentuh saku jasnya setiap tiga langkah.
“Mama, dia memegang belati keramik di saku kirinya. Belati itu tidak akan terdeteksi sensor logam,” suara Lea berdesir di benakku. Aku tidak tahu bagaimana Lea melakukannya, tapi aku bisa mendengarnya seolah-olah dia berbisik tepat di telingaku.
"Dr. Adrian?" ucapku, suaraku terdengar lebih tenang dari yang kukira. "Alexander tidak pernah mengirim staf medis tanpa pemberitahuan lewat asisten pribadi Damian. Dan kenapa Anda tidak membawa tas peralatan medis?"
Pria itu berhenti melangkah. Senyum ramahnya tidak berubah, namun tatapan matanya mendadak menjadi sangat dingin. "Nyonya sangat observatif. Jauh lebih cerdas daripada yang digambarkan oleh Nona Selina dalam laporannya."
Ia perlahan menarik tangannya dari saku. Sebuah bilah keramik hitam yang mengilap kini ada di genggamannya.
"Mama, lari ke arah lemari rahasia! Sekarang!" teriak Lea.
Namun, pria itu terlalu cepat. Ia menerjang ke arahku. Aku tidak sempat lari. Di saat itulah, insting protektif seorang ibu mengalahkan rasa takutku.
"Jangan sentuh anakku!" teriakku.
Aku tidak lari. Aku justru mengayunkan kaleng cat minyak yang ada di meja di sampingku tepat ke wajahnya. Prang! Cairan kental berwarna biru itu menutupi wajahnya, membutakannya sesaat.
"Aaargh! Sialan!" pria itu mengumpat, mencoba menyeka matanya.
Aku segera menarik tangan Lea dan berlari menuju ujung galeri, namun pria itu berhasil menangkap ujung gaun ku. Aku terjatuh, namun aku tidak menyerah. Aku teringat kata-kata Lea: 'Manusia yang merasa terancam akan melakukan kesalahan'.
Aku berbalik, menatapnya dengan kemarahan yang murni. "Kau pikir kau bisa mengancam keluargaku di rumahku sendiri?"
Aku mengambil sebuah patung perunggu kecil yang berfungsi sebagai pemberat pintu dan melemparkannya dengan seluruh tenagaku ke arah lututnya.
BRAK!
Pria itu berteriak kesakitan, jatuh berlutut. Di saat yang sama, Lea melakukan sesuatu di tabletnya.
"Sistem keamanan internal, aktifkan Protokol Pembersihan!" seru Lea.
Tiba-tiba, dari langit-langit galeri, sebuah jaringan kawat baja tipis jatuh menyelimuti pria itu, menguncinya di lantai. Itu adalah salah satu jebakan yang kurasa Leo pasang 'untuk iseng' beberapa hari yang lalu.
Aku berdiri, napas terengah-engah, menatap pria yang kini meronta di bawah jaring kawat. Aku tidak lagi merasa takut. Aku merasa... berkuasa.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku menatap Mama dengan rasa takjub yang tak terlukiskan. Variabel keberaniannya meledak melampaui prediksi 90% yang kubuat. Dia tidak lari. Dia melawan dengan insting murni yang dipadukan dengan teknik observasi yang kuajarkan.
“Kak, target sudah dilumpuhkan. Mama aman. Dia... dia baru saja menghantam lutut penyusup itu dengan patung perunggu. Sangat tidak efisien untuk patungnya, tapi sangat efektif untuk moral musuh,” lapor kuku lewat pikiran.
“Bagus, Lea. Aku dan Papa sudah di depan gerbang. Pastikan Mama tidak menyentuh penyusup itu lagi. Aku ingin dia tetap hidup untuk kuberikan pada Alexander sebagai balasan atas 'hadiah' dokternya ini,” suara Leo terdengar penuh kemenangan namun tetap dingin.
Pintu galeri didobrak dari luar. Damian masuk lebih dulu, senjatanya terhunus, wajahnya menunjukkan kemarahan yang bisa melenyapkan satu klan. Ia berhenti mendadak saat melihat pria yang terperangkap dalam jaring baja dengan wajah penuh cat biru dan Mama yang berdiri tegak sambil memegang patung perunggu.
"Qinanti?" Damian menurunkan senjatanya, menatap sekeliling ruangan yang kacau. "Kau... kau melakukan ini?"
Mama menoleh pada Damian. Napasnya masih belum stabil, namun matanya bersinar dengan kekuatan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Dia mencoba menyentuh anak-anakku, Damian. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya lagi."
Damian melangkah maju, memeluk Mama dengan sangat erat. Aku bisa melihat tubuh Damian gemetar—bukan karena takut pada musuh, tapi karena ketakutan kehilangan wanita ini.
"Kau hebat, Qin. Kau benar-benar ratu di rumah ini," bisik Damian.
Leo masuk tak lama kemudian. Ia berjalan menuju penyusup itu, menatapnya dengan tatapan meremehkan. Leo mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya, lalu menempelkannya di leher pria itu.
"Sinyal biometrik palsu dari London terdeteksi," ucap Leo datar. "Kau menggunakan modul bypass yang sangat mahal, ya? Sayangnya, sistemku belajar dari kesalahanmu dalam hitungan detik. Sekarang, sistem ini sudah tidak berguna di seluruh dunia."
Leo menoleh padaku. "Lea, audit mentalnya besok pagi. Aku ingin tahu jalur mana yang dia gunakan untuk masuk. Aku tidak suka ada celah dalam logistikku."
"Diterima, Kak," jawabku sambil merapikan gaunku dan kembali memeluk Mochi.
Malam itu, di dalam ruang galeri yang berantakan, aku melihat sebuah pemandangan yang sangat sinematik. Damian merangkul Mama, sementara Leo berdiri tegak seperti jenderal kecil di depan musuhnya yang tak berdaya.
Kami bukan lagi keluarga yang sedang bersembunyi. Kami adalah sebuah unit tempur yang baru saja membuktikan bahwa pertahanan kami tidak hanya ada pada teknologi Leo atau otot Damian, tapi pada keberanian Mama yang baru saja bangkit.
"Mama," panggil Leo.
Mama menoleh. "Ya, Sayang?"
"Biskuit jahenya... apa masih ada sisa di bawah?" tanya Leo dengan wajah datar yang imut.
Mama tertawa—tawa yang jernih dan kuat. "Masih ada, Leo. Tapi setelah ini, Mama yang akan membacakan dongeng untuk kalian. Dongeng tentang bagaimana mawar bisa mengalahkan ular berbisa."
Leo dan aku bertukar pandang. Strategi Fase 3 baru saja mencapai titik balik yang sempurna.
Checkmate, London. Kalian baru saja memberi kami alasan untuk tidak lagi menahan diri. Dan kali ini, 'Ratu' kami sendiri yang akan memimpin langkah pembuka menuju kehancuran kalian.