NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUNCAK BADAI DI AMBANG DOSA

Satu minggu berlalu sejak Mentari mengusir Reno, namun batinnya justru semakin bergejolak. Sisi "bar-bar" dalam dirinya mulai meronta karena merasa terpenjara oleh kesunyian pesantren. Rasa haus akan pelarian yang selama ini ia temukan di botol-botol kaca dan dentuman musik malam mulai menggerogoti pertahanannya.

Puncaknya adalah sore itu, saat sebuah paket misterius datang untuknya. Ternyata, Reno belum menyerah. Di dalam kotak yang dibungkus rapi dengan label "Skincare Import", terselip dua botol kecil minuman keras berkadar alkohol tinggi yang diselundupkan dengan sangat rapi.

"Sedikit saja... hanya untuk menenangkan saraf gue," bisik Mentari pada dirinya sendiri di dalam kamar yang sedang kosong.

Satu tegukan, dua tegukan. Bagi Mentari yang sudah lama "puasa" alkohol, cairan itu bereaksi sangat cepat. Rasa pahit yang membakar tenggorokan itu seolah-olah adalah teman lama yang ia rindukan. Namun, ia lupa bahwa ia bukan lagi di Jakarta. Ia sedang berada di tanah suci para penuntut ilmu.

Malam semakin larut. Mentari berjalan limbung keluar dari asrama. Ia tidak mengenakan kerudung, rambut pirangnya terurai berantakan, dan aroma alkohol yang menyengat keluar dari napasnya. Matanya merah, dan langkahnya tidak lagi menapak bumi dengan benar.

"Gue... gue cantik kan? Kenapa... kenapa Gus itu... nggak mau liat gue?" racau Mentari sambil tertawa kecil sendirian di bawah bayangan pohon kamboja dekat masjid.

Saat itulah, Gus Zikri muncul dari arah masjid setelah menyelesaikan wirid malamnya. Ia berjalan dengan tenang, mendekap Al-Qur'an di dadanya, berniat kembali ke kediamannya. Langkah Zikri terhenti saat ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenali sedang bersandar di tembok dengan kondisi memprihatinkan.

"Astaghfirullah... Ukhti Mentari?" Zikri mematung. Kali ini, keterkejutannya membuatnya lupa untuk langsung menundukkan pandangan.

Mentari mendongak, matanya yang sayu menatap Zikri. "Eh... si Kulkas... Mas Kulkas dateng..." Mentari terkikik, melangkah mendekat dengan goyah.

"Ukhti, kamu mabuk? Di tempat ini?" Suara Zikri yang biasanya tenang kini bergetar karena amarah dan kesedihan yang bercampur. "Apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri?"

"Gue... gue ngelakuin apa yang gue mau! Lo... lo yang bikin gue gila, Gus!" Mentari menunjuk dada Zikri dengan jari gemetar. "Lo sok suci! Lo nggak mau liat gue karena lo takut naksir gue, kan?! Ngaku lo!"

Zikri mundur selangkah, mencoba menjaga jarak. "Pulanglah ke asrama, Mentari. Sebelum santri lain melihatmu dalam kondisi sehina ini. Saya akan panggilkan Hafizah untuk menjemputmu."

"Nggak mau! Gue nggak mau Hafizah! Gue maunya lo!"

Dengan gerakan cepat yang tidak terduga, Mentari menerjang maju. Karena Zikri tidak siap melakukan kontak fisik apalagi untuk menyentuh wanita yang bukan mahramnya ia sedikit goyah. Mentari mencengkeram kerah baju koko putih Zikri dengan kasar.

"Liat gue, Zikri! Liat mata gue!" Mentari berteriak tepat di depan wajah Zikri. Aroma alkohol menusuk indra penciuman sang Gus.

Zikri mencoba melepaskan cengkeraman tangan Mentari dengan tetap berusaha tidak menyentuh kulitnya secara langsung. "Lepaskan, Mentari! Sadarlah!"

Namun, alkohol telah menghilangkan akal sehat Mentari. Rasa frustrasi karena diabaikan selama berminggu-minggu meledak menjadi tindakan nekat. Mentari menarik leher Zikri dan dengan paksa mendaratkan bibirnya di bibir pria itu.

Zikri mematung. Dunianya seolah runtuh dalam sekejap. Al-Qur'an yang ia dekap di dadanya terasa sangat berat. Ia segera mendorong Mentari dengan sekuat tenaga hingga gadis itu jatuh terduduk di tanah.

Zikri terengah-engah, tangannya gemetar hebat. Ia mengusap bibirnya dengan lengan baju kokonya, matanya memancarkan luka yang sangat dalam. "Apa yang kamu lakukan..." suaranya hampir hilang, tercekat di tenggorokan.

Mentari tertawa ngelantur di atas tanah, air mata mulai mengalir di pipinya yang merah. "Gimana, Gus? Manis kan? Itu rasa dosa... rasa dunia yang lo benci banget itu..."

"Mbak Mentari?! Gus Zikri?!"

Suara pekikan itu datang dari balik pilar. Bondan berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, di sampingnya ada Fahma yang tampak bingung namun ketakutan, dan Hafizah yang menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca karena syok.

"Hafizah... tolong bawa dia," ucap Zikri dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan putus asa. Tanpa melihat mereka lagi, Zikri berbalik dan berlari menuju rumahnya, meninggalkan keheningan yang mencekam.

Fahma mendekat pelan, melihat Mentari yang mulai meracau tak jelas. "Tari... kamu bau apa? Kok kayak bau pembersih lantai?" tanya Fahma polos, namun suaranya bergetar.

Bondan langsung menarik Mentari berdiri. "Lo gila, Tari! Lo bener-bener gila! Lo baru saja menghancurkan martabat Gus Zikri!"

Hafizah tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekap Mentari yang sudah mulai kehilangan kesadaran karena pengaruh alkohol yang semakin berat. Di bawah sinar rembulan yang pucat, kesucian pesantren itu terasa ternoda oleh satu tindakan nekat dari seorang gadis yang sedang tersesat.

Malam itu, Mentari tidur dalam pengaruh alkohol, tanpa tahu bahwa besok pagi, hidupnya dan hidup Gus Zikri tidak akan pernah sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!