"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak di Balik Debu
BOOOOM!
Pukulan pemungkas gue telak menghantam alat pemancar tengkorak ular di tangan Sakti Langit. Alat itu meledak, buyar jadi rongsokan besi dan kepulan asap hitam yang langsung lenyap disapu angin pagi. Seiring hancurnya alat itu, bayangan Sakti Langit di depan gue mendadak distorsi, retak kayak kaca, lalu menguap fana.
Dia kabur (lagi). Tapi setidaknya, frekuensi jahanam yang mengacak-ngacak otak kami hari ini resmi putus total.
Gue ambruk di atas sisa-sisa genteng ruko, napas gue Senin-Kamis. Tato naga di punggung gue rasanya adem seketika, beralih dari mode tempur gila ke mode tidur. Gue rebahan sambil natep langit Jakarta yang perlahan kembali biru bersih. Gila. Gue bener-bener capek sama urusan dunia bawah tanah yang makin hari makin fiksi ini. Robot lah, sihir ilusi lah, mitologi lah. Rasa-rasanya gue kangen masa-mana cuma jadi supir pribadi Nadia yang mikirin rute jalan macet sama nyari tempat makan siang yang enak.
TAP.
Langkah kaki ringan mendarat di deket gue. Gue nengok. Hana berdiri di sana, megangin sabit karambitnya yang udah nggak berasap lagi. Di bawah ruko, suara tembakan udah reda—tanda kalau Leo udah berhasil ngebersihin sisa robot kaku V.E.N.O.M.
"Udah beres?" tanya Hana pelan. Dia jalan mendekat, lalu duduk di sebelah gue yang masih telentang.
"Udah. Setidaknya buat sekarang, otak kita aman dari hipnotis," jawab gue sambil merem, nikmatin angin pagi yang menerpa muka. "Gue capek, Han. Pengen balik jadi manusia biasa aja rasanya."
Hana nggak langsung nyaut. Suasana mendadak hening, cuma ada suara bising klakson mobil dari jalan raya di kejauhan. Nggak ada hawa membunuh, nggak ada dendam. Cuma ada gue dan dia.
Gue ngebuka mata pas ngerasain ada sesuatu yang dingin nempel di pipi gue. Ternyata Hana lagi nempelein sapu tangan kecil ke luka gores di muka gue akibat pecahan genteng tadi.
Gue agak tersentak, refleks mau mundur. "Eh, gapapa Han. Bisa sembuh sendiri pake energi naga."
"Diem," ucap Hana pendek. Suaranya datar, tapi tangannya yang biasa dipake buat cabut nyawa orang, entah kenapa kali ini gerakannya lembut banget pas ngebersihin darah di pipi gue.
Gue natep wajah Hana dari deket. Rambut ekor kudanya agak berantakan, ada noda debu di pipinya, tapi matanya yang biasa sedingin es batu... pagi ini keliatan beda. Ada binar aneh yang belum pernah gue liat sebelumnya. Tatapan yang biasanya cuma dia kasih buat mendiang Kian, tapi sekarang, sorot mata itu tertuju tepat ke manik mata gue.
Hana buru-buru ngalihin pandangannya pas sadar gue tatep balik. Pipi cewek kuliahan yang merangkap jadi pembunuh berdarah dingin itu mendadak merona merah tipis.
"Kian dulu selalu bilang... Naga Utara itu pembawa sial," bisik Hana pelan banget, hampir kedengeran kayak gumaman. "Tapi setelah ngelewatin semua kegilaan ini bareng lu... gue rasa Kian salah."
Hana berdiri, buru-buru ngantongin sapu tangannya dengan gerakan salah tingkah yang agak kaku. "Lu... buruan turun. Nadia pasti nungguin lu di rumah. Jangan bikin CEO lu nangis lagi."
Gue bengong natep punggung Hana yang langsung melesat turun lewat tangga ruko. Gue megang pipi gue yang bekas diusap tadi. Tunggu... barusan itu Hana si assassin dingin atau gue yang masih kemakan sisa-sisa ilusi hipnotis semalem? Kok kerasa ada yang aneh ya di dada gue?
Gue megang dada gue bentar sebelum mutusin buat turun. Jantung gue agak cepet detaknya, dan ini jelas bukan gara-gara sisa energi naga. Gila, fokus, Arka! Di rumah ada Nadia yang lagi cemas nungguin lu.
Pas gue turun ke lantai bawah ruko, Leo lagi asyik nyemilin keripik singkong di atas meja kerja yang udah retak. Mukanya masih pucet, tapi gaya tengilnya udah balik 100%.
"Wuih, Tuan Muda kita udah turun," goda Leo sambil menaikkan sebelah alisnya. "Gimana di atas atap? Adem? Gue liat Hana tadi turun mukanya merah bener kayak abis ketahuan nyolong mangga. Lu apain tuh anak macan?"
"Bacot, Leo. Beresin nih ruko," kata gue sambil ngelempar kotak tisu kosong ke arahnya. Gue nengok sekeliling, Hana udah ilang. Khas assassin, kalau salah tingkah langsung kabur pelan-pelap.
Gue langsung gas motor matik gue balik ke rumah. Begitu gue buka pintu depan, Nadia langsung lari dari ruang tengah dan meluk gue erat banget. Aroma parfum melatinya yang lembut langsung ngetrigger otak gue buat balik ke dunia nyata. Dunia normal.
"Kamu dari mana aja sih, Ka?!" suara Nadia kedengeran gemeteran, matanya sembab. "Aku bangun kamu udah nggak ada, terus pintu garasi kebuka. Aku takut kamu diculik lagi..."
Gue bales pelukannya, ngelus rambutnya pelan. "Maaf, Nad. Tadi ada urusan bentar sama Leo di ruko. Udah beres kok. Semuanya aman sekarang."
Nadia ngelepas pelukannya, terus natep luka gores di pipi gue. Dia langsung megang pipi gue dengan kedua tangan lembutnya—tepat di bekas sapu tangan Hana tadi.
"Ini kenapa lagi? Kamu berantem ya?" Nadia cemberut, matanya penuh kekhawatiran yang tulus. "Katanya mau hidup tenang, tapi pulang-pulang mukanya bonyok terus."
Gue senyum tipis, agak merasa bersalah. Di satu sisi, gue sayang banget sama Nadia, cewek yang selama ini gue jagain dan punya posisi spesial di hati gue. Tapi di sisi lain, bayangan tatapan sayu Hana di atas atap ruko tadi mendadak lewat gitu aja di pikiran gue. Sial, kenapa gue jadi ngerasa kayak cowok brengsek yang lagi mendua gini?
"Cuma kena ranting pohon pas naik motor tadi, Nad. Manja banget emang nih kulit," canda gue buat ngalihin suasana.
Nadia mendengus pelan, tapi akhirnya dia senyum juga. "Ya udah, yuk masuk. Aku udah masakin sup ayam buat kamu. Biar stres kamu ilang."
Gue jalan di belakang Nadia, natep punggungnya yang keliatan rapuh tapi selalu berusaha kuat buat gue. Pertarungan fiksi lawan Sakti Langit dan V.E.N.O.M mungkin mulai mereda, tapi perang batin baru di hati gue... kayaknya baru aja dimulai.