Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Kecil Ares
“Sayang, apa kamu nggak percaya dengan kemampuan kita?”
Sena berlutut di depan Lyra seraya memegang tangan sahabatnya yang sejak tadi cengengesan sambil menceritakan perjanjiannya dengan Ares.
“Tentu saja aku percaya kita adalah dua wanita hebat, Sayang.” Lyra membalas genggaman Sena. “Tapi sehebat apa pun kita butuh tangga menuju langit, kan?”
“Jadi kamu menjadikan Ares sebagai tangga? Tidak perlu, Sayang. Kita bisa terbang ke langit dengan kemampuan kita sendiri.” Sena meyakinkan dengan dramatis, bahkan ia memasang wajah sedih dengan sorot mata sayu.
“Terbang juga butuh sayap, Sena.”
Sena langsung terduduk lesu melihat tekad Lyra yang sudah bulat. Di satu sisi, ia sangat senang ada orang yang mau membantu perusahaan kecilnya berkembang tapi di sisi lain ia mencemaskan perasaan Lyra. Firasatnya mengatakan bermain dengan Ares bukan hal baik.
“Harus aku akui, memang ada unsur impulsif saat menerima permintaan Ares tapi setelah kupikir lagi, keputusanku sudah benar, Sena.” Lyra berkata dengan sangat yakin, sorot matanya memancarkan kepercayaan diri yang jarang Sena lihat. “Orang lain bisa memanfaatkanku lalu kenapa aku nggak bisa melakukan hal yang sama? Ares adalah sumber daya yang kita butuhkan saat ini.”
Sena mengangguk mengerti. Mendapatkan dukungan dari Ares memang termasuk anugerah untuk usaha mereka yang berjalan di tempat selama dua tahun.
“Sebenarnya tanpa Ares pun perusahaan kita pasti bisa berkembang seandainya orang tuaku nggak menghalangi jalanku.” Lyra tersenyum kecut mengingat bagaimana orang tuanya tega menghalangi ia bekerja sama dengan orang lain. “Kalau nggak mau bantu nggak apa-apa tapi mereka diam-diam menghalangi orang lain kerja sama dengan kita hanya untuk memaksaku kembali ke Crystal Group.”
“Ares memang kesempatan emas kita, Ra.” Sena melempar senyum hangat. “Tapi apa mereka nggak akan mencoba menghalangi Ares membantu kita?”
Lyra terdiam sejenak lalu menggeleng. “Entah kenapa aku merasa orang tuaku nggak berani macam-macam sama Ares, bahkan mereka seperti lebih segan sama Ares dari pada sama Ryan.”
“Mungkin karena sekarang Ares sudah punya perusahaan sendiri?”
Lyra hanya mengedikkan bahu, ia tidak tahu dan tidak mau tahu. Saat ini ia hanya ingin mengembangkan perusahaannya bersama Sena.
Sementara di sisi lain, Ryan mengikuti saran dokter untuk mendapatkan ingatannya tentang Lyra. Melakukan hal yang biasa mereka lakukan, mendatangi tempat yang biasa didatangi dan sebagainya.
“Sebenarnya akan lebih efektif jika yang bersangkutan merangsang ingatan itu.”
Ryan tersenyum getir mengingat apa yang dokter katakan. Jangankan mengajak Lyra melakukan hal-hal di masa lalu, bahkan untuk bertemu saja wanita itu menolak dengan seribu satu alasan.
Alhasil, Ryan hanya bisa meminta Haris mengantarnya ke tempat yang ia dan Lyra biasa datangi.
“Non Lyra sangat suka strawberry, biasanya kalian makan kue strawberry dan ice krim di café ini.”
Ryan kembali memainkan karet rambut di pergelangan tangannya. “Pantas saja ini ada strawberry-nya.”
“Seingat saya, dulu Tuan Ryan mengambil tali rambut itu saat Non Lyra tertidur di mobil. Setelah itu Tuan Ryan selalu memakainya.”
“Apa kami pernah memiliki masalah besar sebelumnya? Masalah yang membuat hubungan kami renggang?”
Haris berpikir sejenak lalu menggeleng. “Sepertinya tidak, hubungan kalian baik, selalu baik.”
Ryan menarik napas panjang, ingatannya kembali pada saat ia terbangun dari siuman dan Cahaya langsung menarik perhatiannya, seolah wanita itu sudah disiapkan di sana untuknya. Wajah dan nama Cahaya sudah tertanam dalam ingatan hingga tak ada celah untuk orang lain.
“A-apa ….” Ryan ragu untuk bertanya membuat Haris mengernyit bingung, apalagi saat ia melihat kegelisahan di mata tuannya itu.
“Ada apa, Tuan Ryan?”
“Apa aku pernah selingkuh?” tanya Ryan sambil mengepalkan tangan. Ia yakin dirinya bukanlah pria brengsek yang tidak cukup dengan satu wanita, tetapi ingatannya akan cahaya membuat Ryan meragukan kebersihan hatinya sendiri. “Kamu asisten pribadiku, hampir 24 jam kamu sama aku, hal seperti itu pasti kamu tahu ‘kan?”
“Setahu saya, tidak,” jawab Haris dengan tegas yang membuat Ryan menghela napas lega.
“Jawab saja yang jujur, Haris. Apa aku pernah dekat dengan wanita lain termasuk Cahaya?” Ryan kembali ingin memastikan, tak ingin Haris menjawab hanya untuk menyenangkannya.
“Seperti katamu, Tuan Ryan. Sebagai asisten pribadi, saya mengurus segalanya tentang Anda, dari pekerjaan hingga kencan. Jadi saya pastikan Anda tidak pernah dekat apalagi selingkuh dengan wanita lain termasuk Cahaya, bahkan Anda tidak dekat dengannya meskipun dia adik Non Lyra.”
“Sama sekali tidak dekat?”
Haris mengangguk yakin.
“Lalu kenapa dalam ingatanku ada dia?” Kening Ryan berkerut dalam, tak peduli sebanyak apa ia mencari tahu tentang dirinya sendiri, yang tertinggal selalu hanya sebuah tanda tanya. “Kenapa seolah ada sesuatu yang meletakkan nama dan wajah Cahaya dalam ingatanku?”
***
“Tama menerima proyek dari VC Group dengan senang hati, bahkan dia tersenyum sangat lebar saat menandatangi kontrak.” Leo menyilangkan kaki sambil menyesap sebatang rokok sementara Ares fokus memeriksa dokumen yang sahabatnya itu bawa. “Saat ini, Jatmika Group pasti merasa berada di atas awan.”
“Itu yang kumau.” Ares mengembalikan dokumennya pada Leo sambil berkata, “Semakin tinggi mereka terbang semakin sakit saat jatuh.”
“Beneran nggak mau mengubah rencana?” tanya Lian. “Dari pada dihancurkan, bukankah lebih baik direbut?”
Ares menggeleng seraya mengambil sebatang rokok. “Kalau hanya direbut, tua bangka itu Cuma akan marah setengah mati tapi kalau perusahaan yang dibangunnya mati-matian hancur, barulah itu pukulan yang sesungguhnya.”
Lian menghela napas berat. “Aku tahu akan lebih memuaskan bagimu melihat mereka hancur tapi para karyawan yang nggak bersalah_”
“Itu takdir mereka,” sela Ares dengan sorot mata dingin, membuat Lian langsung menutup mulut sementara Leo yang sudah sangat faham dengan karakter sahabatnya itu hanya bisa geleng-geleng.
“Di antara kita bertiga, memang kamu yang paling punya hati, Lian.” Leo menepuk Pundak Lian yang memasang wajah kesal. “Tapi di dunia kita, memiliki hati justru kelemahan.”
“Nggak ada manusia yang nggak punya kelemahan.” Lian mengalihkan pandangannya pada Ares yang merokok dengan tenang. “Lyra itu kelem_”
“Semua orang memang punya kelemahan, Lian.” Ares kembali memotong ucapan Lian dengan tegas. “Tapi nggak semua orang memiliki kesadaran bahwa kelemahan itu harus dirahasiakan.”
Ares mematikan rokoknya lalu beranjak pergi, meninggalkan Ryan dan Leo yang menatapnya dengan nanar.
“Ares terlalu kejam,” dengkus Lian setelah Ares tak lagi terlihat. “Kejam sama orang lain dan lebih kejam sama dirinya sendiri.”
Leo terkekeh lalu berkata, “Orang kejam karena dihantam takdir yang kejam. Jadi jangan salahkan dia.”
“Dulu aku setuju dia melompat ke neraka bersama semua orang yang menjadi target balas dendamnya, bahkan aku bersedia ikut melompat bersamanya, Leo. Tapi setelah kehadiran Lyra ….” Lian menarik napas panjang, sorot matanya berubah sayu. “Aku merasa Ares pantas hidup bahagia. Menjalani pernikahan seperti orang lain.”
“Tapi dia sudah ada di dunia yang sekarang sebelum bertemu Lyra, Lian. Tangannya yang sudah ternoda darah nggak bisa dibersihkan, hatinya yang dipenuhi dendam sudah nggak bisa dipulihkan.”
Leo menghela napas berat, teringat kembali akan masa lalunya bersama Ares yang tidak mudah.”
“Anggap saja Lyra hanya sekuntum bunga kecil yang kebetulan hadir dalam hidupnya untuk menghilangkan sedikit bau amis darah di tangannya dan memberikan sedikit perasaan yang berbeda dari benci dan dendam di hatinya. Sementara yang bisa kita lakukan hanya melindunginya dari belakang.”
Lian tak lagi bisa berkata-kata karena semua yang Leo katakan benar adanya, saat ini harapannya memang hanya satu, sahabat yang sudah dianggap sebagai kakak kandung itu memiliki akhir yang bahagia dalam hidupnya.
Sementara di sisi lain, Ares yang sedang dalam perjalanan menyadari sebuah mobil mengikutinya.
“Ke rumah Papa, Van,” pinta Ares dengan tenang.
Vano melirik mobil hitam di belakangnya dari spion. “Baik, Tuan. Apa perlu mengabari Tuan Leo dan Tuan Lian untuk mencari tahu siapa mereka?”
“Tidak usah.” Ares tersenyum miring. “Itu Barga.”
Vano mengangguk mengerti.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Ares bersikap biasa saja, pun dengan Vano.
Sementara pria bernama Barga mengawasinya dari jauh, menunggu Ares keluar lagi tapi setelah dua jam menanti tak ada pergerakan apa pun.
“Kenapa kita nggak targetkan keluarga ini aja, Barga?”
“Orang normal akan sangat peduli pada orang asing yang menjadikannya keluarga.” Barga berseringai sambil menyesap sebatang di celah jarinya. “Orang normal akan melakukan apa pun untuk balas budi pada orang asing yang memberinya cinta dan kasih sayang. Tapi Ares bukan orang normal.”
“Dia sepertinya sangat mementingkan keluarga angkatnya itu, kalau kita mengusik mereka mungkin bisa membuat Ares sedikit terguncang.”
Barga tertawa. “Kalau kita mengusik keluarga angkatnya, Ares memang akan terguncang, bahkan dia akan murka. Seperti pemburu yang murka saat orang lain menerkam mangsa yang sudah lama menjadi targetnya.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira