Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Dulu Dan Sekarang
“Mau lollipop?”
Mata bulat Lyra memandangi Ares yang duduk bersandar di bawah pohon sambil memegang perutnya, wajah pria itu pucat, bibirnya kering dan pecah, seperti orang yang kelaparan.
Bukannya menjawab pertanyaan Lyra, remaja itu hanya mendongak, menatap langit yang cerah dengan tatapan kosong.
“Neh ….” Lyra menyodorkan lollipop kesukaannya.
“Makan sendiri, bocah.”
“Namaku bukan bocah, aku … Lily-eh-Ly … lra.”
“Lily, Lila atau Lyra?”
Lyra berdecak. Usianya sudah sepuluh tahun tapi ia memang masih sering kesulitan saat mengucapkan huruf R dengan benar.
“Panggil saja Lily. Namamu siapa?”
“Ares.”
Lyra kembali memandangi Ares yang benar-benar tampak lemah, ia semakin yakin pria itu kelaparan dan itu membuatnya merasa kasihan. “Ayo, kita beli jajan.”
Ares memicingkan mata pada Lyra yang berdiri di hadapannya, gadis kecil dengan digerai itu menggendong tas yang bahkan hampir lebih besar dari tubuhnya sendiri. “Lagian berapa uang yang kamu punya untuk belikan aku jajan?”
Lyra mengeluarkan dompet kain berbentuk strawberry dari tasnya lalu memperlihatkan isinya. “Lihat? Aku punya banyak, bisa membelikanmu banyak jajan.”
Alih-alih senang dengan hal itu, Ares justru berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis membuat Lyra kebingungan. “Kok … kok tambah sedih, kenapa?”
“Aku juga juga punya banyak uang.” Ares menjawab dengan ketus sambil mengucek matanya, ia merasa konyol karena tiba-tiba merasa ingin menangis hanya karena ditawari jajan oleh anak-anak.
“Tapi kenapa sedih?”
“Mungkin karena keluargaku nggak suka aku.” Ares tersenyum getir sedangkan Lyra langsung tertunduk mendengar itu, raut wajah cerianya langsung pudar.
Dengan lesu, ia melempar tasnya lalu duduk di sisi Ares, ia bersandar di pohon lalu berkata, “Mama Papa juga nggak suka aku.”
Ares langsung menoleh, memandangi wajah sedih bocah cilik yang entah datang dari mana ini. “Mungkin kamu nakal,” tebaknya yang langsung Lyra jawab dengan gelengan. “Atau nilamu jelek?”
Lyra kembali menggeleng. “Jadi kenapa?”
Lyra mengedikkan bahu. “Papa Mama lebih sayang Mas sama adek,” lirihnya.
Ares bisa melihat luka di mata bulat Lyra tapi ia tak mau peduli karena lukanya sendiri masih terasa begitu menyakitkan.
“Kalau kamu nggak disayang Papa Mamamu, nggak apa-apa!” Tiba-tiba Lyra berseru dengan senyum lebar, sorot matanya berubah ceria hanya dalam sekejap. “Aku saja yang sama kamu, kamu juga sayang aku nanti kubelikan makanan yang banyak, bagaimana?”
Ares menaikkan alis, hatinya yang kelabu seakan menemukan setitik cahaya melihat binar di mata Lyra juga senyumnya yang begitu murni.
“Kita bukan saudara, nggak bisa saling sayang,” tukas Ares yang langsung membuat wajah Lyra kembali mendung, ia tampak kecewa.
“Jadi bagaimana dong?”
Ares mengedikkan bahu sementara Lyra tampak berpikir keras sambil mengetukkan jarinya ke dagu. “Oh, bagaimana kalau kita menikah saja? Nanti aku nafkahi kamu.”
Ares langsung terbelalak, tak menyangka mendengar kalimat sakral itu dari bocah yang beberapa tahun lebih muda darinya, bahkan ia yakin bocah itu masih tidak bisa mandi sendiri.
“Bocah seperti kamu ini tahu dari mana kalimat itu?”
“Dari TV. “
Ares terkekeh, matanya yang sayu kini kembali berbinar, wajahnya tak lagi murung hanya karena celotehan bocah cilik yang bahkan tidak bisa menyebutkan namanya sendiri dengan benar.
“Oke, kita menikah dan kamu nafkahi aku, janji?”
“Janji, A … rres.”
“Ingat, kan?”
Ares memicingkan mata sedangkan Lyra hanya mengangguk sambil cengengesan. “Aku ingat karena waktu itu kamu menghabiskan semua uangku buat beli jajan, padahal aku niat kabur dari rumah.”
“Uh?” Ares mengerutkan dahi mendengar pengakuan Lyra. “Kabur gimana?”
“Tas besar yang aku gendong itu isinya baju sama bukuku, aku berniat mau kabur ke rumah Nenek gara-gara dimarahi Mama.” meski Lyra berbicara dengan nada datar dan tampak tenang, tetapi matanya menyiratkan luka yang tak hilang.
“Waktu itu aku sama Cahaya rebutan boneka sampai dia nangis, Mama marahin aku, bahkan cubit paha sama lenganku berkali-kali, katanya aku nakal karena bikin adik nangis. Lalu setelah itu Papa juga marahin aku habis-habisan karena nilai Mas Aran turun, Katanya nilai Mas Aran turun karena aku selalu ganggu dia pas belajar. Karena orang tuaku sangat marah, aku nggak dikasih uang jajan selama beberapa hari. Uang yang kamu habiskan itu adalah tabunganku selama beberapa bulan sebelumnya.”
Lyra tersenyum getir. Hari itu ia juga sangat terluka, ia menangis seharian di rumah karena terus dimarahi oleh orang tuanya seolah telah melakukan dosa tak termaafkan.
Sedangkan Ares terhenyak, tak menyangka gadis kecil yang waktu itu memberinya cahaya ternyata juga sedang mengalami hari yang berat.
“Tapi kenapa jadi kamu yang salah? Orang tuamu gila atau bagaimana?”
Lyra tersenyum getir. “Pernah sekali, Mas Aran mau belajar untuk ujian tapi saat itu aku justru merengek ngajak dia beli es krim. Kebetulan sekali waktu itu Papa berada di rumah dan melihat aku menganggu Mas Aran. Jadi pas nilai Mas Aran turun, dia beranggapan Mas Aran nggak pernah bisa fokus belajar pasti karena aku ganggu. Sedangkan Mama selalu menyuruhku mengalah sama Cahaya karena anak itu cengeng banget.”
“Bodoh sekali ayah dan ibumu.” Ares menggeram tertahan, hatinya berdenyut nyeri membayangkan bocah berusia 10 tahun sudah disiksa secara fisik dan mental oleh orang tua kandungnya sendiri.
Dan yang paling membuat Ares marah adalah dirinya sendiri.
Saat mereka menghabiskan waktu bersama seharian tapi ia sama sekali tidak menyadari luka dan derita Lyra, yang dilihatnya hanya betapa menggemaskannya gadis yang membawa tas besar sambil membelikannya banyak jajan.
“Maafkan aku, Lily.” Ares menarik Lyra ke dalam dekapannya, ia menghujani pucuk kepala istrinya itu dengan kecupan penuh kasih sayang. “Saat itu aku nggak tahu apa-apa, maafkan aku, Sayang.”
“Waktu itu kita masih kecil.” Lyra terkekeh santai seakan semua baik-baik saja, tetapi hati kecilnya jelas masih menyimpan luka itu, sebab luka di masa kecil memang akan menjadi luka seumur hidup.
Namun, siapa yang bisa disalahkan?
“Oh ya, jadi bagaimana setelah itu?”
“Aku tinggal di rumah Nenek sampai SMP, dia sayang banget sama aku.” Lyra tersenyum hangat, matanya memancarkan kehangatan saat kembali teringat dengan sang nenek. “Aku juga berencana tinggal dengannya selamanya tapi sayang sekali dia … dia sudah pergi ke langit.”
Dekapan Ares semakin erat mendengar itu. “Dia pergi ke langit dan jadi bintang, apa itu yang dia katakan sebelum pergi?”
Lyra langsung mendongak. “Kok tahu?” Sebelum meninggal, mendiang neneknya memang mengatakan hal seperti itu. Dulu Lyra percaya sehingga ia sering menatap bintang di langit setiap malam saat rindu sang nenek.
Ares tersenyum samar lalu menjawab, “Karena seseorang yang sangat penting untukku juga mengatakan hal yang sama sebelum dia pergi.”
Kening Lyra berkerut, matanya berubah sayu. “Orang tuamu?” tanyanya dengan ragu, apalagi ia ingat waktu itu Ares tampak sangat sedih dan lemah. Akan tetapi, Ares hanya menjawabnya dengan senyum tipis lalu mengecup keningnya.
Lyra mengerti, suaminya tak ingin membicarakan apa hal itu. Jadi, Lyra hanya bisa memeluk pria itu.
Baik dulu maupun sekarang rasanya sama saja.
Mereka selalu bertemu saat sama-sama sedang terluka lalu bersama dan saling menyembuhkan.
Jika dulu Lyra hanya bisa menghiburnya dengan membelikan jajan, sekarang ia berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan yang jauh lebih baik dari itu.
Sementara di sisi lain, Ryan menemui Barga untuk mencari tahu tentang masa lalu Ares. Ia yakin, Barga mengetahui lebih banyak dari yang diharapkan.
“Mari kita berhenti berpura-pura,” tegas Ryan sambil seraya mengambil sebatang rokok. “Sebenarnya apa tujuanmu mendekatiku?”
Barga terkekeh santai, ia mengambil korek api dari sakunya lalu menyalakan rokok Ryan. “Ares, kamu sudah tahu itu.”
“Lebih tepatnya, apa yang kamu inginkan dari Ares?”
Raut wajah Dirga berubah tegang dengan sorot mata berapi-api, seakan kebencian dalam jiwanya telah meluap hingga ke ubun-ubun. “Hancur.”
Ryan berseringai tipis. Setelah tahu apa yang Ares lakukan untuk mendapatkan Lyra, tentu yang paling ia inginkan adalah kehancurannya. Akan tetapi, hancur yang seperti apa?
Sosok Ares yang diketahuinya hanyalah anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarganya, pria itu tidak memiliki hal lain yang bisa dihancurkan selain perusahaannya.
“Kamu menargetkan Lily Crown?”
Mendengar itu, Barga langsung tertawa mengejek, membuat Ryan sedikit bingung tapi berusaha tetap memperlihatkan sikap tenang. “Perusahaan kecil itu sama sekali nggak menarik perhatianku,” ujar Barga. “Hancur yang kumaksud adalah menghancurkan yang paling berharga dalam hidupnya.”
Ryan mengerutkan dahi. Sebagai anak adopsi yang tak punya latar belakang, tentu ia merasa Lily Crown adalah hal yang paling berharga dalam hidup Ares, sebab perusahaan itu dibangun dengan tangannya sendiri, dengan susah payah.
Tapi mengapa Barga menyebut Lily Crown hanya hal kecil?
“Sepertinya kamu belum tahu.” Barga menyesap rokoknya dengan tenang lalu melanjutkan. “Sejak delapan tahun yang lalu, Ares adalah CEO sekaligus pemegang saham tertinggi di VC Group.”
“V-VC Group? Dia CEO dan pemegang saham tertingginya? Ba-bagaimana bisa?”
Ly mungkin cinta Ares salah tapi percayalah dia tulus mencintaimu dan dia lakukan itu untuk melindungi mu.