NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: BENIH YANG TERSANDERA

Kantor pusat Hardianto Group—nama yang baru saja dipulihkan—terasa sunyi meskipun jam kerja baru saja dimulai. Larasati duduk di kursi kebesaran ayahnya, menatap pemandangan kota dari balik jendela kaca raksasa. Ia mengenakan blus putih tulang yang elegan, namun wajahnya tampak pucat. Kemenangan yang ia raih ternyata menyisakan lubang besar di dadanya. Surat cerai yang ia ajukan kepada Baskara masih tergeletak di atas meja, belum ditandatangani oleh pria itu.

"Ayah... aku sudah melakukannya. Aku sudah mengambil kembali apa yang menjadi milik kita," bisik Larasati. Namun, tidak ada rasa lega yang ia harapkan. Yang ada hanyalah bayangan wajah Baskara yang hancur saat ia meninggalkannya di rumah sakit.

Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya diketuk dengan keras. Aditama masuk dengan wajah yang sangat cemas.

"Laras, kita punya masalah besar," ucap Aditama sambil meletakkan sebuah tablet di depan Larasati.

Di layar tablet itu, terpampang sebuah video viral. Maya, dengan wajah yang tampak sembap dan memelas, sedang melakukan siaran langsung di media sosial. Ia berdiri di depan gedung rumah sakit, memegang sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah yang jelas.

"Semua orang mencaciku, semua orang bilang aku istri yang jahat... tapi apakah pantas seorang istri sah diusir saat dia sedang mengandung benih suaminya sendiri?" isak Maya dalam video itu. "Baskara, aku tahu kamu terpengaruh oleh wanita itu. Tapi tolong, demi anak kita... jangan biarkan dia menghancurkan keluarga kita."

Darah Larasati seolah membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Anak? Maya... hamil?"

Aditama menghela napas panjang. "Berita ini sudah menyebar ke seluruh portal gosip. Sentimen publik mulai berbalik, Laras. Orang-orang mulai melihatmu sebagai 'pelakor' yang kejam, yang merebut perusahaan dan suami orang saat istrinya sedang hamil. Jika ini benar, proses perceraian Baskara dan Maya akan menjadi sangat rumit secara hukum."

Larasati menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya yang baru saja ia bangun kembali runtuh seketika. "Ini pasti siasat, Adit. Maya tidak mungkin hamil sekarang. Dia hanya ingin menjebak Baskara agar tidak menceraikannya."

"Kita harus memastikannya, Laras. Tapi Baskara... dia sudah menuju ke rumah persembunyian Maya setelah melihat video itu," lanjit Aditama.

Di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, Baskara berdiri di depan pintu dengan napas memburu. Ia menendang pintu itu hingga terbuka. Di dalamnya, ia menemukan Maya sedang duduk di sofa, mengelus perutnya dengan senyum yang sangat aneh.

"Mas... akhirnya kamu datang," ucap Maya lirih.

Baskara mencengkeram bahu Maya, menatap matanya dengan kemarahan yang meluap. "Apa-apaan ini, Maya? Kamu berbohong, kan? Kamu hanya ingin mempermalukanku lagi!"

Maya tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru mengambil tangan Baskara dan meletakkannya di atas perutnya yang masih rata. "Tanya pada doktermu sendiri, Mas. Usianya sudah delapan minggu. Saat kita merayakan ulang tahun pernikahan kita yang terakhir... saat itu aku baru saja mengandungnya."

Baskara menarik tangannya dengan kasar, seolah-olah kulitnya terbakar. "Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu baru mengatakannya setelah semua kebusukanmu terbongkar?"

"Karena aku takut, Mas! Aku takut kamu akan membenciku karena apa yang dilakukan ayahku. Aku ingin menjaga bayi ini sebagai kejutan untukmu. Tapi sekarang... wanita itu, Gendis atau Laras atau siapapun dia, sudah mengambil segalanya dariku! Apa kamu tega membiarkan anakmu lahir tanpa ayah dan tanpa rumah?" Maya mulai menangis histeris, memeluk kaki Baskara.

Baskara memejamkan matanya rapat-rapat. Pikirannya kacau. Ia sangat mencintai Larasati, namun ia dibesarkan dengan nilai-nilai keluarga yang kuat. Baginya, anak adalah segalanya. Kehadiran janin ini adalah rantai yang mengikatnya kembali ke neraka yang bernama Maya.

"Aku akan membawamu ke dokter pilihanku. Jika ini benar... aku tidak akan menceraikanmu sampai anak ini lahir. Tapi jangan harap aku akan memberikan cintaku padamu lagi, Maya," ucap Baskara dengan nada suara yang mati rasa.

Maya tersenyum di balik isakannya. Ia menang. Meskipun ia kehilangan kemewahan perusahaan, ia masih memiliki "sandera" yang paling berharga untuk mengikat Baskara dan menyiksa batin Larasati.

Sore harinya, Larasati pulang ke rumah Ibu Rahayu. Ia ingin berpamitan. Ia tidak bisa lagi tinggal di sana setelah apa yang terjadi. Namun, saat ia masuk ke ruang tengah, ia melihat Baskara dan Maya sudah ada di sana. Ibu Rahayu sedang memeluk Maya sambil menangis.

"Laras... kamu dengar kan? Maya hamil," ucap Ibu Rahayu dengan suara yang bergetar. Sebagai seorang nenek, egonya runtuh di depan calon cucu. "Ibu tahu apa yang Maya lakukan itu jahat, tapi anak ini tidak berdosa, Laras."

Larasati berdiri mematung di ambang pintu. Ia menatap Baskara. Pria itu tidak berani menatap matanya. Ia hanya menunduk, memegang surat cerai yang sudah basah oleh keringat.

"Jadi... ini keputusanmu, Baskara?" tanya Larasati, suaranya sangat tenang, namun di dalamnya terdapat luka yang sangat dalam.

Baskara mendongak, matanya merah. "Laras... aku tidak bisa meninggalkan anakku. Aku minta maaf. Aku tidak bisa menandatangani surat cerai ini sekarang."

Larasati tertawa pendek, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Hebat. Siasat manis istri kedua dikalahkan oleh drama kehamilan istri pertama. Dunia ini memang adil, ya?"

Maya menatap Larasati dengan tatapan kemenangan yang sangat tajam. "Pulanglah ke perusahaanmu, Larasati. Kamu punya harta, tapi aku punya Baskara. Kamu punya kekuasaan, tapi aku punya masa depan keluarga ini."

Larasati melangkah maju, mendekati Maya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Nikmatilah kemenangan sementaramu, Maya. Jika benar ada anak di dalam sana, aku kasihan padanya karena memiliki ibu sepertimu. Tapi ingat satu hal... aku adalah Larasati Hardianto. Aku tidak akan pernah mundur."

Larasati menoleh ke arah Baskara. "Baskara, mulai hari ini, kita adalah musuh. Kamu memilih sisi yang salah. Dan jangan pernah datang padaku untuk memohon maaf saat kamu sadar bahwa kamu sedang memelihara ular di dalam rumahmu."

Larasati berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengemudi dengan kecepatan tinggi. Air matanya akhirnya tumpah, membasahi kemudi. Ia berteriak di dalam mobil, meluapkan seluruh rasa sesak di dadanya.

"Kenapa? Kenapa harus begini, Ayah?" isaknya.

Ia teringat malam-malam yang ia lalui bersama Baskara. Kelembutan pria itu, janji-janji manisnya, dan bagaimana pria itu selalu melindunginya. Semuanya terasa seperti abu yang terbang tertiup angin.

Larasati menghentikan mobilnya di tepi jembatan. Ia keluar dan menatap aliran sungai di bawahnya. Ia mengeluarkan liontin perak pemberian ibunya dan menggenggamnya erat.

"Aku tidak boleh lemah," gumamnya, menghapus air matanya dengan kasar. "Dendam ini belum tuntas. Jika Maya menggunakan anak itu sebagai tameng, maka aku akan menghancurkan tameng itu dengan kebenaran yang lebih kejam."

Larasati mengambil ponselnya dan menghubungi Aditama. "Adit, cari tahu tentang dokter kandungan Maya. Aku ingin rekam medisnya yang asli. Dan satu lagi... cari tahu siapa pria yang sering ditemui Maya di hotel bintang lima dua bulan yang lalu, saat Baskara sedang dinas ke luar kota."

Mata Larasati berkilat dingin di bawah lampu jalan. Ia tahu Maya bukan wanita yang setia. Ia curiga bahwa anak itu mungkin bukan anak Baskara. Dan jika kecurigaannya benar, itu akan menjadi paku terakhir di peti mati Maya.

"Air Mata Pernikahan ini belum berakhir, Maya," bisik Larasati pada angin malam. "Kita baru saja memasuki babak yang paling berdarah."

Malam itu, Larasati kembali ke kantornya. Ia tidak pulang ke rumah. Ia tidur di sofa ruang kerjanya, dikelilingi oleh dokumen-dokumen perusahaan. Ia siap bertransformasi sepenuhnya. Tidak ada lagi Gendis yang manis. Tidak ada lagi wanita yang mengharapkan cinta. Yang ada hanyalah penguasa Hardianto Group yang siap menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya.

Esok harinya, berita besar kembali meledak. Larasati Hardianto mengumumkan bahwa ia akan melakukan audit total terhadap seluruh aset pribadi keluarga Pratama dan akan menyita rumah yang sekarang ditempati oleh Baskara dan Maya karena rumah itu dibeli dengan uang hasil penggelapan dana Hardianto Tekstil.

"Jika kamu ingin tetap bersamanya, Baskara... maka hiduplah dalam kemiskinan bersamanya," ucap Larasati saat melihat berita itu di televisi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!