Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
"Hana," ucap Reiga.
Hana yang tengah menyembunyikan wajahnya dibalik bantal kecil yang disewanya dari pihak bioskop menoleh kearah Reiga. Gadis itu sejak tadi sibuk memikirkan cara, menentukan posisi yang paling pas agar tidak terlalu takut sepanjang nonton film hantu. Gara-gara Lana dan Arnold, Hana jadi terpaksa bohong hingga berujung nonton genre film yang paling dia takutkan.
"Ya?"
Raut wajah Reiga yang tak lagi ramah seperti tadi sudah lebih dulu menakutkan Hana ketimbang scoring pembuka film horor yang mereka tonton.
"Kenapa, Rei?" tanya Hana menyadari ada hal yang tak biasa sudah terjadi sampai membuat muka Reiga yang biasanya chillin' itu mendadak kaku.
"Masih suka banget ya sama Arnold?" tanya Reiga.
Keraguan yang mencuat meski Reiga juga paham bahwa hati tidak semudah itu berpaling. Apalagi ia bisa melihat isi hati orang. Hana pun bilang, tidak semua itu menghapus kenangan. Namun payahnya, Reiga tetap kalah dengan yang namanya cemburu.
"Enggak gitu! Kamu salah paham, Rei," ujar Hana sekarang paham kemana arah pertanyaan Reiga.
"Terus ngapain kita di sini kalau nggak gitu?"
Reiga hanya ingin mendengar Hana mengatakan apa yang bisa membuatnya tenang.
Hana menghela napas. Percuma juga berbohong sama Reiga.
"Aku cuma males aja lihat mereka. Bukan berarti aku masih cinta sama Arnold ya, Rei! Tahu kan istilah lebih baik menghindari hal-hal yang bisa buat kita sedih," jawab Hana.
"Dengan nonton hantu?"
Hana menelan ludah.
"Aku lebih senang lihat hantu daripada lihat Lana senang di atas penderitaan aku," tandas Hana.
Ganti Reiga yang menghela napas.
"Berarti masih suka kan?"
"Enggak gitu!"
"Tadi kamu bilang penderitaan, Han," ujar Reiga gemas.
Hana tertegun. Baru pertama kali Hana mendengar Reiga menaikkan tensi ucapan dengannya. Dengan ekspresi tegang. Sedikit galak. Kelihatan rahang tegasnya. Bukannya takut atau kaget. Hana malah berdebar. "Emang udah gila lu, Han!" Hana berujar dalam pikirannya.
"Segalanya butuh waktu, Rei."
"Berarti masih suka kan?"
"Enggak,"
"Terus kenapa kita di ..."
"Enggak! Aku nggak suka!" potong Hana dengan galak.
Mereka saling memandang dan menatap.
"Kalau masih suka juga nggak apa-apa," ujar Reiga meski faktanya hatinya sudah kenapa-napa.
"Aku nggak suka ya, Reishard!"
"Tuh marah kan. Padahal aku tanya baik-baik," ucap Reiga. "Berarti masih suka..."
"Aku nggak marah dan nggak suka!" dalih Hana dengan wajah sewot.
Reiga tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Iya deh yang nggak marah dan nggak suka,"
ledek Reiga yang heran kemana resah dalam dirinya menghilang.
Hana cemberut.
"Malah ketawa," sebal Hana.
"Terus maunya aku gimana?" tanya balik Reiga.
Hana terdiam.
"Ya aku maunya kamu... aku maunya..." Hana tidak bisa menuntaskan ucapannya sendiri. Wajah tampan nan teduh milik Reiga mendistraksinya. Dua mata yang selalu menatap Hana saksama.
Memberi perhatian sepenuhnya hanya pada Hana.
"Aku cemburu, Han," aku Reiga mendahului Hana bicara.
Hana terhenyak. Ini laki kenapa jujur banget ya, celetukan Hana dalam hatinya.
Mereka kembali saling memandang. Reiga mendekatkan wajahnya kearah Hana. Lengan kirinya mengelus punggung Hana perlahan dan lembut.
"Aku rasa aku memang udah gila karena membiarkan seseorang untuk pertama kalinya menempatkan aku pada posisi yang nggak jelas pada sebuah hubungan," gumam Reiga dengan senyum tipis.
"Siapa bilang posisi kamu nggak jelas? Posisi kamu jelas banget, Reishard," sahut Hana lalu membiarkan hawa nafsu menyelubungi logikanya saat dengan sablengnya ia mencium bibir Reiga duluan. Memagutnya selama tiga detik.
Mengejutkan Reiga sampai kedua mata pria itu membuka.
Wajah Hana memerah, namun tidak pernah ada hal yang sememuaskan ini terjadi pada hidupnya. Seakan Hana telah mengambil keputusan besar dan benar dalam hidupnya. Sungguh Hana merasa amat sangat lega.
"Udah jelas belum posisinya?" tanya Hana sambil menatap Reiga.
Menunggu pria itu bereaksi. Entah atas pertanyaannya barusan. Atau ciuman sablengnya tadi.
Reiga tidak langsung menjawab. Ia tersenyum.
Baik dengan bibir maupun matanya.
"Jelas banget," jawab Reiga seraya meraih rahang kiri Hana lalu mencium bibir si pencuri hatinya itu dengan sepenuh jiwanya.
Hana tidak pernah membayangkan ciuman pertamanya akan terjadi di studio bioskop di sela penayangan film horor pula. Tapi bibir Reiga yang menciumnya, bagai kepingan bentuk yang telah lama hilang lalu kembali terpasang. Candu dan menghanyutkan. Cengkraman tangan pria itu dipinggangnya. Kuat namun terasa lembut. Hidung mancung mereka berdua yang menusuk pipi satu sama lain, menimbulkan gelak tawa kecil dalam jeda ciuman itu. Hana belum pernah sebebas ini.
Rasanya seperti terbang dengan ratusan ribu gelembung pecah disekelilingnya.
"Hihihihihihihihihihi...."
Cekikikan kuntilanak dalam film menjeda ciuman mereka. Membuat mereka saling menatap lalu tertawa kecil kemudian.
Reiga mengecup kening Hana. Menggenggam tangan kanan Hana erat.
"Ain't i your boyfriend now?" tanya Reiga.
"Kalau calon suami gimana?" jawab Hana asal dengan maksud meledek Reiga.
"Benar ya," sahut Reiga dengan muka balik meledek Hana.
Hana hanya tersenyum.
"Hihihihihihi..."
Suara kuntilanak itu kembali mengejutkan Hana.
"Keluar aja yuk," ajak Hana sambil memeluk lengan kiri Reiga erat.
Reiga terkekeh. "Kalau di luar ketemu Lana gimana?" ledek Reiga.
"Bodo amat ah!" sahut Hana.
"Padahal ini nggak ada seram-seramnya tahu, Han," ujar Reiga.
Hana mencium bau-bau cerita horor yang akan keluar dari mulut pacarnya itu. Iya. Pacarnya! Jadi dia punya pacar sekarang. Kenapa Hana jadi tersipu sendiri?
"Stop! Jangan cerita!"
"Aku pernah ketemu sama yang lebih seram," aku Reiga.
"Nggak ada yang tanya!" galak Hana.
Reiga makin tersenyum jahil.
"Suara mereka aslinya juga nggak kayak gitu, Han."
"Idih! Bodo amat!"
Tawa Reiga berderai.
"Di rumah kamu juga a..."
Hana sudah membekap mulut Reiga dengan tangan kanannya.
"I hate you!" sebal Hana.
Reiga malah menunjukkan senyum lewat matanya.
*
Hana menarik Reiga masuk ke dalam Venchi, toko cokelat dan gelato asal italia yang merupakan favoritnya. Padahal pria itu tengah membaca pesan dari Zidane.
Zidane
Di mana sih lu, Nyet?
Hana baik-baik aja kan?
Tadi Brandon bilang dia liat Arnold
Reiga membalas pesan Zidane dan memberitahu kalau Hana sedang beli gelato dulu. "Malam, Kak Hana," sapa kasir yang sudah akrab dengan Hana saking seringnya ia kemari.
"Malam. Order yang biasa ya, Kak," ucap Hana tersenyum.
"Satu atau dua?" tanya kasir melihat cowok tinggi tegap nan ganteng berdiri sambil memeluk Hana dari belakang sejak tadi dengan satu lengan.
Sungguh wajah yang mengalihkan dunia.
Bohong kalau kasir wanita itu tidak terpaku atas betapa tampannya Reiga. Wajah yang mereka kenali sebagai pria yang memeluk Hana di depan rumah berdasarkan foto yang telah di take down itu.
"Kamu mau, Sayang?" tanya Hana menoleh kearah Reiga.
Pria itu tertegun dipanggil Sayang oleh Hana.
Ada rasa senang yang mencuat.
"Disuapin aja boleh nggak. Aku nggak terlalu suka manis. Kamu pengecualian sih," jawab Reiga membuat Hana tersenyum geli.
"Heh! Jawabnya bisa biasa aja nggak?!" lagak Hana seakan kesal.
Si Mbak kasir juga ikutan tersipu seakan dia yang tengah digombalin Reiga.
"Aku tuh biasanya nggak mau berbagi soal gelato Venchi tapi khusus kamu pengecualian," ujar Hana membalas gombalan Reiga.
"Satu aja, Mbak," jawab Hana sudah berbalik.
Reiga mengeluarkan kartu dari dompetnya.
Mendahului Hana untuk membayar. Hana terkesiap dan langsung menatap Reiga.
"Aku bi ..."
"Just let me take care of you," ujar Reiga memotong ucapan Hana.
Hana terenyuh. Ini bukan pertama kalinya ia dibayarin cowok. Masalahnya kalimat Reiga barusan sungguh menggugah jiwanya.
"Ibu suka coklat di sini juga?"
Hana mengangguk.
"Mbak, saya pesan yang biasa dibeli sama ibunya Kak Hana, 2 kotak ya," ujar Reiga.
Kasir kembali menghitung lalu kemudian mengembalikan kartu American Express milik Reiga.
"Itu kebanyakan, Rei," ujar Hana tidak enak.
"Kebanyakan tuh kalau aku beli semuanya, Han," ujar Reiga.
Tak lama pesanan mereka datang. Bersama dua ibu setengah baya yang mengenali Hana.
"Adrianne Hana yang main film Hujan di Akhir Maret ya?" tanyanya.
Hana mengangguk sambil tersenyum ramah.
"Boleh foto bareng nggak?" tanya mereka.
"Boleh kok, Tan," jawab Hana.
Mereka menyiapkan handphone lalu menyadari kehadiran Reiga.
"Siapa?"
Hana menoleh kearah Reiga.
"Pacar saya, Bu. Ganteng nggak?"
Pengakuan Hana membuat Reiga tersenyum senang hingga rasanya mau terbang. Norak memang. Tapi memang begitu adanya.
"Gantenggggg," ucap Ibu 1.
"Cocok banget!" ujar Ibu 2.
Hana meminta tolong Reiga untuk memotret mereka. Lalu setelahnya, kedua ibu itu berterima kasih senang. Pesanan Hana jadi lalu mereka pergi menuju restoran tempat genk Reiga sudah menunggu mereka.
"Setiap hari kayak gitu?" tanya Reiga setelah menerima suapan gelato dari Hana.
"Kayak gitu? Maksudnya?"
"Dimintain foto. Ditanya-tanya," jawab Reiga.
Hana mengangguk.
"Nggak nyaman ya?"
Hana merasa tak enak.
"Sebel," jawab Reiga.
Dahi Hana mengerut.
"Kok!?"
"Kamu ramah banget sama mereka tapi giliran sama aku galak banget, padahal sama-sama ketemu pertama kali," jawab Reiga meledek Hana.
Jawaban yang membuat Hana mengingat pertemuan pertama mereka.
"Heh!" seru Hana sambil senyum.
Reiga melingkarkan lengan kirinya di pinggang Hana seraya menarik pacarnya itu mendekat.
"Makasih ya, Sayang?"
"Untuk? Berbagi gelato favorit aku?"
Reiga terkekeh.
"Mengakui aku sebagai pacar," jawab Reiga.
Hana terkesiap mendengarnya. Langkah kakinya sampai berhenti.
"Emangnya ada yang aneh sama itu?"
"Aku kira kamu mau ini jadi rahasia," jawab Reiga lalu mengecup kepala Hana.
Hana menyipitkan mata.
"Sampai lubang semut di gurun Sahara sekalipun akan aku umumin kalau kamu punya aku, Reishard!" ujar Hana serius.
Reiga tertawa.
"I'm so happy to hear that," ucap Reiga.
"Busettttt! Pacaran muluuuu!!! Dicariiiiinnn juga!!!" protes Zidane.
Hana dan Reiga tertawa mendengar omelan dokter bedah jantung.
"Lu iri aja sih, Dane. Nanti gue kenalin sama sepupu gue. Dokter juga. Namanya Arana. Mau nggak?" ujar Hana sudah merangsek menghampiri Zidane. Hana tak malu lagi merangkul lengan Zidane dan Brandon. Muka Zidane berubah lembut.
"Benar nih, Han?"
Brandon mencibir.
"Tai lah! Disogok cewek langsung kalem," ledek Brandon.
Zidane spontan menyipitkan mata. "Prihatin dikit kenapa sih lu, Ndon sama jomblo kayak gue," keluh Zidane.
"Gue juga dikenalin kek, Han," protes Hana.
Hana tergelak.
"Mana kuat Zidane tanding sama lo, Ndon," sahut Hana.
Zidane langsung berwajah asam.
"Mulut lo mulai sejahat Syein ya, Han," timpal Zidane.
"Lah elu baru tahu kalau Hana dan Syein itu si kembar yang terpisah," tukas Brandon. Karena mulut Hana memang sebelas dua belas soal ceplas-ceplos. Persis seperti Syein.
Mereka semua tergelak dalam tawa. Bahkan Sella yang selalu malu. Ikut tertawa bersama mereka. Bukan salahnya juga sih. Teman-teman Tristan kaliber Megalodon semua. Baik profesi sampai isi dompet. Kendaraan yang mereka bawa pun kalau ditukar bisa mendapat empat mobil miliknya. Siapa yang tidak rendah diri? Terlebih jejeran pacar teman-teman Tristan. Yang paling terbaru! Adrianne Hana. Siapa yang bisa melampaui itu jika Adrianne Hana yang dijadikan standar?
"Lusa datang semua ke premiere film gue ya. Di sini juga kok! Udah gue kirim undangan online-nya di grup. Awas pokoknya kalo nggak datang," ujar Hana seraya masuk ke dalam restoran sambil menggandeng Zidane dan Brandon.
Sontak mereka semua langsung melihat handphone. Dan Hana memang mengirim undangan. Brandon berwajah sumringah.
"Apa lu cengar-cengir kayak gitu, Ndon? Jangan jadikan gue mucikari ye," tukas Hana.
Brandon si yang paling terkenal sebagai playboy cuma cengengesan.
"Rei, lu memacari orang yang tepat," ujar Brandon pada Reiga yang masih di belakang. Pria itu tersenyum tipis. Apalagi sesaat saat pandangannya bertemu Hana. Mereka saling melempar senyum.
Mereka berdua sontak beralih pada Zidane yang sedang terharu.
"Lo kenapa, Dane?" tanya Hana heran.
"Gue... Gue nggak sangka akan tiba waktu di mana gue bisa menghadiri premiere film seorang Adrianne Hana langsung. Bakal gue pamerin di grup sih ini mah!!!" ujar Zidane antusias.
Mereka semua bengong lalu pecah dalam tawa. Tristan tertawa paling geli mendengarnya.
"Ini kalau nggak ada Sella, udah gue tampol lu, Dane saking gemesnya," ujar Tristan.
Mereka semua masuk restoran sambil terus
saling bercanda satu sama lain. Reiga memandanginya dari belakang. Pertama kalinya, semua sahabatnya akrab dengan pacarnya. Perasaan menyenangkan apa ini. Perasaan yang belum pernah dirasakannya.
"Please say, Hana is the right one, please,"
gumamnya sendiri seakan tengah bicara dengan Tuhan.
Arnold yang tengah menunggu Lana selesai toilet tidak sengaja melihat keakraban Hana dengan semua sahabat Reiga. Juga kemesraan Hana dengan Reiga pun tidak luput dari matanya. Ada nyeri dalam hatinya. Padahal Hana memang bukan siapa-siapanya. Tidak pernah juga berniat dijadikan apa-apanya. Tapi sakit kehilangan Hana sampai segininya.
Ketidarelaan macam apa ini?
Apa karena Hana malah tampak sangat bahagia setelah rantai yang membelenggu gadis itu putus?
Atau karena Arnold mulai tanpa sadar mengakui kalau Reiga memang paling cocok sama Hana ketimbang dirinya. Pria yang tadi sempat menyadari kehadirannya. Menatapnya tenang dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sedikit mengulum senyum tipis. Sampai tanpa sadar Arnold menyerukan dalam hatinya kalau Hana berada dalam pelukan pria yang tepat.
Sialan!
Hatinya makin sakit.
"Beib," panggil Lana.
Arnold menoleh. Tersenyum. Hatinya yang sakit entah kemana. Lana memang penyembuhnya.
"Udah?"
Lana menggeleng.
"Belum," jawab Lana.
Dahi Arnold mengerut.
"Lama banget. Banyak ibu-ibu. Aku kalah saing," jawab Lana cengengesan.
Arnold bengong lalu ikut tertawa. Ia lalu merangkul Lana.
"Terus gimana? Pipis itu nggak boleh ditahan loh, Bu Dokter," ujar Arnold.
"Iya tahu, Pak Produser. Di apartemen kamu aja gimana? Keraton kan?"
Arnold agak terkejut.
"Serius nih mau ke apartemen aku?"
Lana mengangguk.
"Tapi jangan nakalin aku ya," ujar Lana sengaja meledek Arnold.
"Enggaklah!" seru Arnold.
Mereka saling melempar senyum. Lana terhenyak dengan kelakuannya sendiri yang mulai keluar dari latar belakang koridor hubungan ini.
Lama-lama ia menikmati hubungannya dengan Arnold yang masih seumur jagung ini.
Dicintai ternyata seenak ini ya?