Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Bertemu Daddy Axel Dominic
Air masih menetes dari rambutnya ketika sudah berada di toilet. Ia mengambil tisu untuk mengeringkan rambut dan bajunya.
Violet menatap cermin dan bergumam, "Baru hari pertama, sudah dibuat seperti ini, gimana dengan hari-hari lain. Semoga saja setelah balik dari toilet, tidak ada kejadian apapun."
Violet pun merapikan rambut dan bajunya, setelah dirasa rapi, ia segera balik ke kelas.
Sepanjang lorong kelas, murid-murid kembali berbisik, namun masih terdengar oleh Violet.
"Gila... dia mulai berani melawan geng aster,"
"Tapi aku setuju dengan apa yang dilakukan oleh Violet."
"Iya, aku pun setuju."
"Mereka sudah sering berbuat onar, tapi tak ada yang berani untuk melawan."
Sedangkan yang sedang dibicarakan, tengah berbincang dengan Aerin dalam pikirannya.
"Vio, kamu berhasil menunjukkan kemampuanmu," ucap Aerin dengan antusias.
"Aku hanya melawan karena mereka sudah keterlaluan," jawab Violet.
"Tapi, bagaimanapun juga, aku salut sekali sama kamu, Vio. Orang seperti mereka patut dibalas seperti itu," ucap Aerin dengan semangat.
"Oh iya, Kamu tadi mengatakan bahwa kamu tau tentang rahasia Agnesia?" tanya Aerin.
"Iya, aku tau. Karena semalam, Violet datang lagi pada mimpiku," jawab Violet.
"Benarkah? Apa itu kalau boleh aku tau?" tanya Aerin dengan penasaran.
"Nanti juga kamu akan tahu," balas Violet dengan senyuman tipis.
"Wah... aku jadi penasaran."
Dan tak terasa, Violet pun sudah sampai di depan pintu kelas khusus.
Ketika membuka pintu-
Bruukkk!
Setumpukan sampah jatuh dari atas.
"Hahaha"
Violet terkejut mendapatkan itu. Ia langsung melihat ke sekeliling. Mereka menertawakan dirinya.
"Wah-wah wah, sepertinya ada yang kena hujan sampah, nih?" ejek Revan.
"Tapi memang bagus sih, sampah dihujani sampah," lanjutnya.
Violet menarik napas pelan, namun sesuatu dalam dirinya, berusaha keluar. Dan akhirnya, ketika membuka matanya, warna mata Violet telat berubah.
Namun sesuatu terjadi.
Ding... Ding... Ding...
..."Perhatian kepada seluruh siswa, karena sebentar lagi akan ada rapat antar guru, maka hari ini, seluruh siswa belajar di rumah. Terima kasih atas perhatiannya."...
Ding...Ding... Ding...
Semua murid termasuk murid dari kelas khusus, bersorak-gembira mendengar pemberitahuan itu.
Dan dalam diri Violet, matanya kembali menjadi gelap.
Beruntungnya semua orang belum memperhatikan dirinya.
"Rose... tenangkan dirimu. Kita sekarang pergi menemui Daddy Axel di restoran yang berada di Jalan Cinta Pertama," ucap Violet menenangkan dalam batinnya.
"Huft... beruntung aku belum sempat bergejolak emosi, tiba-tiba pengumuman itu itu langsung terdengar," jawab Rose yang mulai stabil emosinya.
Violet pun masuk ke dalam dan mengambil tas nya.
Ia segera keluar dari kelas tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Setibanya di parkiran, ternyata sopir Tuan X masih menunggunya di halaman parkiran.
"Pak, seharusnya Anda tidak perlu menunggu saya seperti ini," ucap Violet saat sudah di hadapan sopir Tuan X.
"Tidak apa-apa, nona. Itu sudah menjadi tugas saya," jawab sang sopir.
"Baiklah. Oh iya, pak, sebelum ke rumah, bisakah Anda mengantarkan saya ke restoran yang ada di Jalan Cinta Pertama?" pinta Violet.
"Tentu bisa, nona. Apakah mau pergi sekarang?" tanya sopir.
"Iya. Lebih cepat lebih baik."
"Oke, nona. Kalau begitu, silakan masuk, nona."
Violet pun mengangguk.
Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Sang sopir pun mengemudikan mobil itu dan meninggalkan halaman parkiran Sekolah Prima Navara.
Selama dalam mobil, Violet memandangi bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.
Violet pun teringat sesuatu. Sesuatu ketika ia bertemu dengan Violet asli dalam mimpinya.
Pada saat itu, ia mengatakan bahwa yang menyebabkan kecelakaan itu temannya sendiri, Selena.
Violet pun langsung membuka ponselnya, yang beruntung saat itu Violet asli telah memberitahukan password ponselnya.
Violet pun membuka handphone nya dan mulai bergerak mengetikkan sesuatu.
Jarinya terus bergerak dengan cepat, di layar terlihat angka-angka dan huruf-huruf yang saling berderet dengan begitu cepat. Dan-
Gotcha.
Akhirnya ia berhasil meretas cctv yang ada di tempat balap itu.
Ia pun mulai memperhatikan satu-satu tangkapan layar itu. Hingga akhirnya, ia menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan.
Di sana, ia melihat Selena tengah celingak-celinguk seolah mengamati sesuatu.
Dan ketika tidak ada yang melihatnya, ia pun membuka mobil milik Irene perlahan dan ia pun masuk ke dalam mobil itu.
Dari rekaman cctv, Selena terlihat sedang bergerak ke sana-sini seolah sedang melakukan sesuatu. Bahkan dari gerakannya pun terlihat buru-buru.
Setelah beberapa menit, Selena pun menutup pintu mobil itu perlahan dan kembali ke tempat semula. Dan Irene pun terlihat sudah kembali dari toilet.
Violet mengepalkan tangannya, "Sialan. Jadi benar Selena yang melakukannya."
"Aku harus memberitahu ini pada Daddy, sebelum Daddy terkena pengaruh Selena," ucapnya dengan pasti.
Dan tak terasa, akhirnya mobil itu pun telah memasuki area parkiran restoran The Golden Ember.
"Non, sudah sampai," ucap pak sopir pada Violet.
"Iya pak. Kalau begitu saya masuk dulu, bapak kalau mau makan, makan dulu aja, takutnya saya kelamaan di dalam," jawab Violet.
"Baik, nona."
Violet pun masuk ke dalam restoran itu, dan ketika di meja resepsionis, Violet pun mengatakan bahwa ia telah memesan meja atasan nama Axel Dominic.
"Atas nama tuan Axel, sudah dipesan nona. Pelayan tolong tunjukkan meja atas nama tuan Axel."
Pelayan itu mengangguk dan memerintahkan Violet untuk mengikutinya.
"Ini nona, mejanya."
"Terima kasih."
Pelayan pun segera pergi setelah menunjukkan mejanya.
Dan di meja itu, Tuan Axel sudah berada di sana. "Silakan duduk, nona..."
"Violet," ucap Violet.
"Ah, iya. Silakan duduk, nona Violet."
" Terima kasih. Maaf sudah menunggu lama Tuan Axel."
"Tidak apa-apa. Saya juga baru sampai."
Tuan Axel berdehem pelan.
"Nona Violet, seperti yang Anda sampaikan di telpon malam tadi, Anda mengatakan bahwa Anda adalah Irene, putri saya," ucap Axel.
" Iya, saya memang putri Anda, Irene Dominic," ucap Violet.
"Bagaimana saya bisa mempercayai Anda bahwa kamu adalah putri saya Irene? Sedangkan putri saya sudah meninggal 2 hari yang lalu," ucap tegas Axel.
"Karena dalam diri Irene, ada alter ego yang ia miliki bernama Rose. Tapi jika itu masih kurang meyakinkan Anda, saya bisa menunjukkan bahwa saya Irene dengan memperlihatkan bola mata saya yang berwarna merah, karena itu hanya dimiliki oleh Irene asli," jelas Violet.
"Baiklah, bagaimana Anda bisa menunjukkannya?"
"Rose, lakukanlah sekarang."
Violet pun menarik napas panjang dan ketika membuka matanya, terlihat jelas warna bola mata itu berubah merah.
Tuan Axel menyipitkan matanya,"Jika hanya seperti itu, semua orang juga bisa memiliki alter ego dengan hanya mengubah bola mata saja. Saya ingin yang lebih pasti dan bisa meyakinkan saya bahwa Anda adalah alter ego putri saya, Irene."
Violet yang bola matanya masih berwarna merah, berucap pelan. " Saya bisa menjelaskan bagaimana putri Anda, Irene mendapatkan alter ego nya."
"Silakan, jelaskan."
Violet pun menarik napas panjang." Ketika Irene berusia 19 tahun, ia pernah mendapatkan tantangan dari Anda, Tuan Axel, yaitu untuk melepaskan seorang iblis yang berada di sebuah lembah. Awalnya Irene menolak, tetapi, Anda terus meyakinkan bahwa iblis itu akan menjagamu nanti. Akhirnya, Irene pun mengangguk setuju."
"Irene berangkat keesokan siangnya menuju lembah yang ditunjukkan oleh Daddy nya, Axel Dominic. Ketika sampai sana, Irene masuk sendirian ke dalam lembah yang gelap. Tetapi, ketika pertengahan jalan, ia mendapatkan bisikan dari seseorang, seperti menunjukkan tempat yang akan ia tuju. Namun dengan syarat, ia tidak boleh melihat ke arah kiri, kanan atau belakang. Ia hanya bisa menatap lurus ke arah depan."
Violet menarik napas dalam-dalam, seolah-olah ia tengah masuk ke dalam cerita itu.
" Akhirnya, Irene pun sampai di tempat yang dituju. Suara itu kembali berbisik, 'Teteskan darahmu pada pintu gerbang itu. Jika ia menerimanya, darah itu akan masuk ke dalam lubang kunci. Namun jika ia menolak, darah itu akan terlempar ke sembarang arah dan mungkin akan membuatmu terpukul mundur'. Irene pun mulai menusuk jarinya, dan meneteskan darah itu pada lubang kunci. Sambil menunggu, darah itu masih terlihat berputar-putar dan perlahan mulai terserap ke dalam lubang kunci itu."
BRAAAKKK!
"Cukup!" ucapnya dengan tangan yang bergetar.
Semua orang yang berada di restoran itu terkejut.
Tuan Axel yang seolah tahu bahwa para pengunjung menatap dirinya segera membungkukkan badan untuk meminta maaf.
Setelah itu semua orang kembali pada aktivitasnya masing-masing. Begitu pun juga dengan Tuan Axel.
Dengan air mata yang berderai melalui sudut matanya, Tuan Axel berbicara dengan parau, "Saya... saya tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, tolong jangan diteruskan."
Violet yang menatap Tuan Axel pun ikut menangis.
"Irene," ucapnya sambil membuka tangannya yang seolah ingin memeluk putrinya dengan erat.
Violet pun langsung berhambur dalam pelukan itu.
"Daddy..." ucap Violet dengan lirih dengan air mata yang mulai menetes melewati pipi.
...... To be continued ......