Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah
Saat ini Erlangga berdiri mematung di tengah kamar yang luas, dikelilingi oleh kemewahan yang mendadak terasa mencekik. Sunyi. Terlalu sunyi hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Tatapannya jatuh pada ranjang yang berantakan di depannya. Seprai kusut, selimut yang terlempar ke lantai, dan bercak darah yang masih jelas terlihat di atas kain putih itu, sebuah bukti bisu atas kehancuran yang ia ciptakan semalam.
Dadanya langsung terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak habis. Semua memori dari jam-jam terakhir kembali berputar di kepalanya seperti film horor yang diputar berulang. Isak tangis Zea yang menyayat hati, tatapan benci yang menghujam jantungnya, cara tubuh gadis itu gemetar hebat saat berusaha menjauh darinya sembari menahan rasa sakit fisik.
Dan kalimat terakhirnya, sebuah kalimat yang meruntuhkan segala kesombongan yang selama ini ia bangun. “Harga diri saya tidak bisa dibeli.”
“Brengsek!” Erlangga menggeram, mengusap wajahnya dengan kasar.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, Erlangga Mahardika Pratama benar-benar membenci dirinya sendiri. Ia merasa seperti monster yang dibalut setelan jas mahal. Kekuasaan yang selama ini ia agungkan ternyata tidak memberinya hak untuk merusak satu-satunya anomali yang tulus dalam hidupnya.
Ponselnya di atas meja marmer bergetar, memecah kesunyian yang menyakitkan itu. Dengan nama di layar 'Rian'.
Erlangga menarik napas panjang, mencoba mengembalikan wibawa suaranya yang serak sebelum mengangkat telepon. “Iya.”
“Langga,” suara Rian terdengar santai dari seberang sana. “Gimana meeting semalam sama Mr. Dong? Kontraknya aman? Lo nggak apa-apa, kan? Gue baru mendarat di Surabaya nih, baru mau check-in hotel.”
Erlangga menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta yang mulai sibuk. Suaranya keluar dengan nada rendah, dingin, dan mengandung ancaman mematikan yang belum pernah Rian dengar sebelumnya.
“Putus semua koneksi dengan perusahaan Mr. Dong. Sekarang juga.”
Rian langsung terdiam di seberang sana. Keheningan tercipta selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. “Hah? Apa maksud lo? Kita baru aja tanda tangan kesepakatan besar, Langga. Ada masalah apa di lapangan? Bukannya semalam dia kooperatif?”
“Hancurkan perusahaannya,” perintah Erlangga tanpa emosi, namun setiap katanya terasa seperti vonis mati.
“Langga, tunggu dulu—hancurkan? Kita bicara soal salah satu vendor logistik terbesar di Singapore. Efek dominonya bisa ke mana-mana kalau lo tarik investasi Mahardika secara sepihak—”
“Dengan cara apa pun, Rian. Aku tidak peduli,” potong Erlangga tegas. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. “Kalau ada perusahaan atau bank lain yang berani membantu mereka, mereka otomatis akan menjadi target Mahardika Group berikutnya. Aku ingin pria itu kehilangan segalanya sebelum minggu ini berakhir.”
Di seberang sana, Rian menghela napas panjang, menyadari bahwa sahabatnya sedang tidak bermain-main. “…Oke, gue laksanakan. Gue bakal urus secepatnya dengan cara yang paling agresif. Tapi, Langga... lo beneran nggak apa-apa?”
Erlangga mengabaikan pertanyaan itu. “Satu lagi.”
“Apa?”
“Cari seseorang.”
Rian mengernyit, tangannya yang semula memegang koper kini beralih menyiapkan tablet untuk mencatat. “Siapa? Kolega baru? Atau ada saksi dari pihak Mr. Dong?”
“Zea.”
Keheningan kembali terjadi. Rian menunggu kelanjutan nama tersebut, namun Erlangga hanya diam.
“Zea? Zea siapa? Nama lengkapnya?” tanya Rian bingung.
“Hanya Zea,” jawab Erlangga pendek.
Rian tertawa hambar, mengira bosnya sedang bercanda. “Langga, jangan konyol. Lo nyuruh gue nyari orang di kota sebesar Jakarta cuma pake nama panggilan? Lo tau ada berapa ribu orang yang namanya Zea di database kependudukan? Belum lagi kalau itu cuma nama panggung atau nama akrab. Masa harus nyari info lengkap orang cuma pake nama panggilannya doang?”
“Aku tidak peduli seberapa banyak nama itu di luar sana,” suara Erlangga mendalam, menunjukkan otoritas yang absolut. “Dia bekerja di sini. Dia petugas cleaning service di apartemenku. Cari di database vendor kebersihan kita atau cari dengan cara apapun”
“Cleaning service?” Rian terdengar semakin tidak percaya. “Bentar, bentar. Lo mau gue ngerahin tim intelijen Mahardika buat nyari biodata lengkap petugas kebersihan? Lo serius? Masa nggak ada ciri-ciri lain atau nama belakangnya?”
“Cari semuanya, Rian!” bentak Erlangga, membuat Rian di seberang sana tersentak. “Nama lengkap. Latar belakang keluarga. Tempat tanggal lahir. Alamat rumah saat ini. Saudara. Kampus tempat dia kuliah. Cari tahu setiap detail hidupnya tanpa ada yang terlewat. Aku ingin laporannya ada di mejaku sebelum makan siang.”
Rian terdiam cukup lama, menyadari gairah yang tidak biasa di balik suara Erlangga. “Tumben banget lo nyuruh gue nyari biodata cewek sedetail ini. Lo naksir? Atau dia nyuri sesuatu dari unit lo?”
Erlangga menatap bercak darah di ranjangnya dengan rasa perih yang menjalar di dadanya. “Dia tidak mencuri apa pun. Justru aku yang mencuri darinya.”
Rian tertegun. Kalimat itu terdengar sangat ambigu dan penuh misteri. “Langga... apa yang terjadi semalam?”
“Laksanakan tugasmu, Rian. Jangan banyak tanya. Cari dia sampai ketemu atau lo nggak usah balik dari Surabaya.”
Klik.
Telepon diputus sepihak. Erlangga menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar yang kini gelap. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah menemukan Zea. Ia tidak tahu kata-kata apa yang pantas diucapkan untuk menebus dosa semalam. Ia hanya tahu satu hal pasti: ia tidak akan membiarkan gadis itu menghilang begitu saja dari jangkauannya setelah ia merusak dunianya.
Baru saja ia hendak meletakkan ponsel, benda itu kembali berdering. Kali ini 'Mama'.
Erlangga memejamkan mata sejenak sebelum menjawab. “Iya, Ma.”
“Kamu kenapa tidak pulang semalam? Sopir bilang kamu bawa mobil sendiri dan tidak bisa dihubungi,” nada suara sang ibu terdengar sarat akan kecurigaan.
“Aku tidur di apartemen. Capek,” jawabnya singkat, jawaban standar untuk menghindari interogasi lebih lanjut.
“Kamu harus pulang malam ini, Erlangga. Tidak ada alasan. Ada hal penting yang harus Mama bicarakan, ini soal Sarah dan keluarga Hendrawan.”
Erlangga menghela napas pelan, menatap kekacauan di kamarnya dengan rasa sesak yang kembali menghimpit. “Baik. Aku pulang malam ini.”
Setelah telepon ditutup, tatapannya kembali tertuju pada ranjang itu. Bayangan Zea yang meringkuk ketakutan seolah terproyeksi di sana. Dengan gerakan kasar dan penuh kebencian pada diri sendiri, ia menarik seluruh kain seprai dari kasur, menggulungnya dengan kuat, dan membuangnya ke tempat sampah besar di sudut ruangan.
Ia segera menghubungi layanan kebersihan apartemen. “Bersihkan kamar saya sekarang. Ganti semuanya dengan yang baru.”
Ia melangkah masuk ke kamar mandi, menyalakan pancuran air dengan suhu paling dingin. Air mengguyur tubuhnya, namun dinginnya air tidak cukup untuk menghapus rasa panas dan penyesalan yang terus menempel di kulitnya. Erlangga menunduk, kedua tangannya bertumpu pada dinding marmer yang beku. Mata terpejam rapat.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Erlangga Mahardika tidak tahu bagaimana cara menghadapi sebuah situasi. Uang yang melimpah, kekuasaan yang absolut, dan nama besar keluarga—semuanya tidak ada gunanya untuk memperbaiki kehormatan seorang gadis yang telah ia rampas.
Satu jam kemudian, dengan jas yang tersusun rapi dan wajah yang kembali dingin serta tanpa ekspresi, Erlangga keluar dari apartemennya. Namun, hanya dia yang tahu bahwa pria yang melangkah menuju kantor pagi itu bukan lagi pria yang sama. Ia kini membawa sesuatu yang lebih berat daripada tanggung jawab perusahaan.
Ia membawa penyesalan—sebuah beban yang akan mengubah setiap langkahnya mulai detik ini.