Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Kultivator Iblis
Jeritan parau Wang Hao memecah udara hutan yang dipenuhi bau anyir darah. Pemuda yang beberapa jam lalu masih berdiri dengan arogansi selangit itu kini tergeletak di atas lumpur, memegangi perutnya yang berlumuran darah. Dantian-nya, wadah bagi seluruh energi spiritual dan masa depan kultivasinya, telah hancur lebur tanpa sisa akibat hantaman brutal monster baja tersebut.
"Dantian-ku... Dantian-ku hancur! Kakak Senior, tolong aku! Beri aku pil, beri aku apa saja!" raung Wang Hao, air mata dan ingus bercampur baur di wajahnya yang pucat pasi. Ia kini benar-benar menjadi manusia fana yang cacat.
Para murid sekte luar yang berkerumun di sekitarnya tampak pucat. Beberapa menatapnya dengan iba, namun lebih banyak yang menatapnya dengan tatapan meremehkan. Di sekte, seorang kultivator yang kehilangan Dantian-nya tidak lebih berharga dari segumpal tanah.
Su Yue melangkah maju, pedang es-nya masih meneteskan darah biru yang membeku dari babi hutan pertama. Wajah cantiknya sedingin pualam, tidak menunjukkan simpati sedikit pun pada Wang Hao. Baginya, kepengecutan Wang Hao yang mencoba menjadikan pelayan sebagai tameng daging adalah aib bagi sekte.
"Hentikan tangisan menyedihkanmu," ucap Su Yue dengan nada datar yang menusuk tulang. "Beri dia Pil Pembeku Darah agar dia tidak mati kehabisan darah, lalu ikat dia di keranjang perbekalan. Kita..."
Belum sempat Su Yue menyelesaikan kalimatnya, bulu kuduknya berdiri. Naluri spiritualnya yang tajam menangkap kejanggalan yang mengerikan. Udara di sekitar mereka yang sebelumnya lembab dan dingin, mendadak berubah menjadi kental, lengket, dan berbau karat yang teramat pekat.
Di antara barisan pelayan yang meringkuk ketakutan, Lin Ye mencengkeram tanah berlumpur di bawahnya. Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya tidak lagi bergetar gelisah, melainkan berputar dengan brutal seolah mencium keberadaan mangsa sekaligus predator yang sangat mematikan. Pori-pori kulit Lin Ye tertutup rapat, secara naluriah menekan seluruh hawa kehidupannya hingga ke titik nol.
Itu bukan Binatang Iblis, batin Lin Ye, matanya menyipit menjadi garis setajam silet dari balik lengannya yang kotor. Itu aura Qi darah murni. Kultivator manusia... dan kekuatannya jauh, jauh di atasku.
"Formasi Bertahan! Lingkari area!" teriak Su Yue tiba-tiba, suaranya mengandung sedikit kepanikan yang jarang terjadi. Ia mengangkat pedang es-nya tinggi-tinggi, memancarkan Qi spiritual Tingkat Keenam secara maksimal.
Namun, perintah itu terlambat.
Dari kedalaman bayang-bayang pohon ek raksasa, kabut merah darah yang pekat bergulung-gulung keluar, menyapu tanah bagai ombak lautan neraka. Semak belukar yang tersentuh oleh kabut itu seketika layu dan hancur menjadi debu abu-abu, seolah seluruh esensi kehidupannya telah dihisap kering.
"Hahahaha! Sekte Pedang Awan Mengalir sungguh murah hati. Aku sedang kekurangan bahan untuk memurnikan Pil Penempa Darah, dan kalian mengirimkan dua puluh murid muda yang segar dengan Qi murni."
Sebuah suara serak dan berderak, terdengar seperti gesekan dua tulang manusia, bergema dari dalam kabut merah tersebut.
Dari balik kabut, melangkah keluar sesosok pria kurus kering berjubah merah compang-camping. Kulitnya pucat seperti mayat yang sudah lama dikubur, namun sepasang matanya menyala merah darah. Di lehernya, tergantung untaian kalung yang terbuat dari tengkorak-tengkorak kecil—tengkorak bayi binatang iblis.
"Kultivator Iblis!" teriak salah satu murid luar dengan suara gemetar, kakinya mundur selangkah.
Mata Es Spiritual Su Yue memindai pria itu, dan hatinya seketika tenggelam. Aura yang memancar dari pria berjubah merah itu bagai jurang yang tak berdasar. Riak Qi darahnya sangat stabil dan menekan, menandakan kultivasinya berada di tingkat yang sangat tinggi.
"Alam Pengumpulan Qi Tingkat Kedelapan..." gumam Su Yue, tangannya yang memegang pedang sedikit berkeringat. Perbedaan antara Tingkat Keenam dan Tingkat Kedelapan adalah jurang pemisah yang nyaris mustahil diseberangi. Tingkat Kedelapan berarti Qi spiritual telah memadat menjadi setengah cair di dalam Dantian, memberikan kekuatan destruktif yang melipatgandakan dirinya sendiri.
Pria tua itu menyeringai, memamerkan giginya yang hitam. "Bocah perempuan yang bermata tajam. Kau bisa memanggilku Tetua Xue Sha. Tiga hari ini, entah siapa yang telah mencuri mangsa-mangsa serigalaku dan menyedot darah mereka hingga kering. Aku mengira ada rekan sejalan yang menyusup ke wilayahku. Tapi tak kusangka, yang datang justru sekawanan domba."
Di tanah, Lin Ye mendengarkan dengan saksama. Jadi, dia mengira bangkai serigala yang kuciptakan adalah ulah kultivator iblis lain. Ironis. Lin Ye terus mempertahankan postur meringkuknya, menolak untuk bergerak, matanya mencari setiap celah dan kelemahan dari pria bernama Xue Sha tersebut.
"Jangan panik! Gunakan Jimat Api! Bersama-sama, kita serang dia!" komando salah satu murid senior yang berada di Tingkat Kelima, berusaha mengangkat moral rekan-rekannya.
Tiga murid luar langsung menarik jimat kuning dari kantong mereka, membakarnya dengan Qi spiritual, dan melemparkannya ke arah Xue Sha. Tiga bola api sebesar kepala manusia melesat dengan kecepatan tinggi.
Xue Sha bahkan tidak repot-repot menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya yang kurus kering dan menjentikkan jarinya.
BUM!
Kabut darah di depannya memadat menjadi dinding merah transparan. Tiga bola api itu membentur dinding darah dan langsung padam dengan suara mendesis, seolah bara api yang dilemparkan ke dalam lautan.
"Serangan anak kecil," cibir Xue Sha. Matanya tiba-tiba memancarkan kekejaman. "Giliranku."
Ia mengayunkan lengan bajunya yang besar. Kabut merah di sekitarnya seketika terpecah menjadi belasan panah darah yang melesat secepat kilat.
Crass! Crass! Crass!
"ARGGGH!"
Dalam satu tarikan napas, lima murid sekte luar yang berada di barisan terdepan tertembus panah darah tepat di dada mereka. Tubuh mereka terlempar ke belakang dan dipaku ke batang pohon. Yang lebih mengerikan, panah darah itu hidup. Panah itu mulai menyedot darah dan Qi dari tubuh para murid tersebut, membuat tubuh mereka mengering dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang.
Kepanikan meledak. Barisan murid yang tadinya gagah berani kini hancur lebur. Beberapa mencoba melarikan diri menggunakan Teknik Langkah Angin, meninggalkan rekan-rekan mereka.
"Tidak ada yang bisa lari dari Jaring Darahku," tawa Xue Sha bergema.
Tepat ketika Xue Sha hendak melancarkan serangan kedua, suhu di udara tiba-tiba anjlok hingga ke titik beku.
"Teratai Es Penghancur Tulang!"
Su Yue melesat ke udara, pedangnya berputar membelah angin, menciptakan ilusi bunga teratai raksasa yang terbuat dari energi es murni yang sangat tajam. Kelopak-kelopak es itu melesat memotong udara, mengarah langsung ke leher Xue Sha.
"Oh? Qi Yin murni? Tubuh yang sangat bagus untuk dijadikan tungku kultivasiku!" mata Xue Sha berbinar cabul. Ia membentuk segel tangan yang rumit, dan sebuah cakar raksasa yang terbuat dari energi darah muncul, mencoba meremas teratai es Su Yue.
BLAAARRR!
Bentrokan antara energi es Tingkat Keenam dan energi darah Tingkat Kedelapan meledak di tengah hutan. Gelombang kejutnya membuat pohon-pohon di sekitar berderak mau patah. Para pelayan fana terpelanting belasan tombak jauhnya, muntah darah hanya karena terkena tekanan angin dari bentrokan tersebut.
Su Yue terdorong mundur sejauh tiga tombak. Mulutnya memuntahkan setetes darah segar. Wajahnya semakin pucat. Meskipun ia adalah jenius, jurang dua tingkat kultivasi terlalu besar. Cakar darah Xue Sha berhasil menghancurkan teratai esnya dan menggores lengan kiri jubahnya, meninggalkan sensasi terbakar yang menjalar ke dalam meridiannya.
Xue Sha sendiri mundur selangkah, alisnya sedikit berkerut melihat lapisan es tipis menutupi telapak tangannya. "Bakat yang menakutkan. Jika kau kubiarkan hidup lima tahun lagi, kau mungkin bisa memotong kepalaku. Sayangnya, kau akan mati hari ini."
Xue Sha melesat maju, kecepatannya meninggalkan bayangan merah di udara. Ia berniat menangkap Su Yue hidup-hidup.
Di saat Su Yue bersiap untuk membakar esensi darahnya demi serangan putus asa, tidak ada yang menyadari bahwa salah satu "pelayan fana" yang terlempar ke dekat akar pohon raksasa, kini telah bangkit ke posisi berjongkok.
Mata Lin Ye memancarkan cahaya ungu redup di balik keremangan hutan. Kuali Bintang di Dantian-nya berputar hingga batas maksimal, mendidihkan darah fisiknya ke puncak kemampuan Alam Bina Tubuh Tingkat Keenam.
Kultivator Qi terlalu bergantung pada indra spiritual mereka untuk mendeteksi ancaman, pikiran Lin Ye berputar cepat, menghitung setiap kemungkinan dengan ketenangan mutlak. Xue Sha memusatkan seluruh kewaspadaannya pada Su Yue dan fluktuasi Qi di sekitarnya. Dia tidak memancarkan perisai pelindung Qi di punggungnya secara penuh karena dia merasa tidak ada kultivator lain yang bersembunyi.
Dan Lin Ye... Lin Ye tidak memiliki setetes Qi pun di tubuhnya. Bagi indra spiritual Xue Sha, pergerakan Lin Ye hanyalah setara dengan daun kering yang jatuh, atau batu yang menggelinding.
Di tanah berlumpur tepat di samping tangan kanan Lin Ye, tergeletak sebilah pedang besi panjang milik salah satu murid luar yang tewas tadi.
Napas Lin Ye berhenti total. Detak jantungnya ditekan hingga satu detakan per sepuluh detik. Otot-otot betis dan pahanya mengencang ekstrem, memadat seperti pegas raksasa yang terbuat dari baja ilahi.
Saat Xue Sha melompat ke udara, tangannya membentuk cakar darah untuk mencekik leher Su Yue...
Lin Ye meledak.
BOOM!
Bukan ledakan spiritual, melainkan ledakan fisik murni. Tanah berlumpur di bawah kaki Lin Ye amblas sedalam setengah meter, meninggalkan kawah kecil. Tubuhnya melesat membelah udara, nyaris lebih cepat dari sambaran kilat murni dari kekuatan ototnya.
Tidak ada riak Qi, tidak ada cahaya magis, tidak ada suara auman. Hanya sesosok bayangan hitam yang meluncur dari arah yang sama sekali tak terduga.
Xue Sha, yang sedang memusatkan seluruh kekuatannya pada Su Yue, tiba-tiba merasakan bahaya yang sangat fatal dan tidak masuk akal. Naluri bertarungnya yang terasah selama puluhan tahun menjerit, memaksanya menoleh ke arah kanan bawah.
Di sanalah ia melihat wajah datar tanpa emosi dari seorang pelayan berbaju lusuh. Di mata pelayan itu, tidak ada ketakutan, hanya kekosongan kosmik.
Di tangan pelayan itu, tergenggam erat sebuah pedang besi biasa.
Belum sempat pikiran Xue Sha memerintahkan tubuhnya untuk membentuk perisai Qi, pedang besi di tangan Lin Ye—yang didorong oleh kekuatan fisik murni belasan ribu kati dan dilapisi oleh hawa dingin mutlak dari sumsum es hitam yang tersembunyi di tulangnya—melesat menusuk ke depan.
SLAASSSHH!
Suara robekan daging dan patahan tulang terdengar tajam.
Ujung pedang besi itu menembus tepat di bawah tulang rusuk kanan Xue Sha, merobek organ dalamnya, menembus paru-parunya, dan keluar dari punggungnya, memuncratkan darah hitam ke udara.
Mata Xue Sha melotot hampir keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka lebar, mencoba berteriak, namun hawa Yin mutlak dari tangan Lin Ye telah mengalir melalui bilah pedang besi tersebut, seketika membekukan darah dan organ-organ di sekitar luka tusukannya.
Waktu di Hutan Darah Besi seakan berhenti berdetak. Su Yue yang sudah bersiap menerima serangan mematikan, terbelalak tak percaya melihat pemandangan mustahil di depan matanya.