Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Diplomasi Kafe Le Quartier
Lonceng besar di menara kampus Le Cordon Bleu berdentang nyaring, membelah langit Paris di Jumat sore yang cerah namun berangin. Suara itu seolah menjadi melodi kebebasan bagi ratusan mahasiswa yang sedari tadi berkutat dengan uap panas dan tekanan mental di dapur praktik.
Kiandra menghela napas panjang, sebuah embusan lega yang terasa sangat nikmat. Ia merapikan set pisau profesionalnya ke dalam tas gulung kulit dengan gerakan yang jauh lebih santai dari biasanya. Ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
"Seminggu ini Enzo anehnya tenang banget," batin Kiandra sambil mengunci tas pisaunya. "Nggak ada tugas dadakan yang bikin nangis, nggak ada sindiran maut yang bikin nyesek. Damai sekali hidupku. Apa dia lagi kena hidayah atau emang lagi capek gangguin aku, ya?"
Bruk!
Pintu loker di sebelah Kiandra ditutup dengan sentakan keras yang tidak santai. Mei Ling langsung menghambur, merangkul bahu Kiandra dengan energi yang seolah tidak ada habisnya meski mereka baru saja berdiri berjam-jam.
"TGIF! Thank God It's Friday!" seru Mei Ling heboh. "Kelas kelar lebih cepat adalah anugerah terindah minggu ini. Kita wajib nongkrong di Le Quartier sekarang juga. Titik. Nggak pakai tapi!"
"Aku ikut! Tapi kita butuh formasi lengkap hari ini," sahut sebuah suara berat dari arah belakang.
Jaxson Cole berjalan melewati mereka sambil melempar tas ranselnya ke bahu dengan gaya santai. Ia menyeringai lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang kontras dengan kulit gelapnya yang atletis.
Di belakang Jaxson, Louis Barbier berjalan dengan punggung tegak, sibuk merapikan kerah seragam Chef-nya agar tidak ada satu pun lipatan yang mengganggu estetika aristokratnya.
Jaxson mendadak merangkul bahu Louis, membuat pria Prancis itu tersentak kaget dan hampir kehilangan keseimbangan.
"Lepaskan, Jaxson. Aku harus ke perpustakaan untuk mereview catatan Escoffier," protes Louis dengan nada formal yang kaku.
"Aduh, Louis! Jangan terlalu serius belajar, Bro! Kamu itu sudah kaya tujuh turunan, nggak bakal jatuh miskin cuma gara-gara bersantai satu jam di kafe," goda Jaxson sambil tertawa keras.
Louis menghela napas panjang, memutar bola mata abu-abunya dengan ekspresi pasrah yang jarang ia tunjukkan. "Baiklah. Hanya satu jam. Tidak lebih."
***
Rombongan itu berjalan menyusuri trotoar Rue de l'Université yang estetik. Aroma biji kopi panggang yang kuat dan wangi mentega dari croissant yang baru keluar dari oven mulai mendominasi udara sore, memancing selera makan siapa pun yang lewat.
Kafe Le Quartier menyambut mereka dengan suasana hangat. Kiandra memilih duduk di kursi rotan sudut yang menghadap langsung ke jalanan berbatu. Ia menyesap es teh leci pesanannya, membiarkan rasa dingin dan manis itu membasahi kerongkongannya yang kering.
Di sekeliling meja, dinamika pertemanan mereka mulai terasa hidup. Diya Kapoor sedang memainkan kacamata hitam mahalnya, bercerita dengan tangan yang bergerak lincah tentang desain interior lobi hotel baru ayahnya di Mumbai.
Adele Moreau mendengarkan dengan senyum lembut, menopang dagu sambil menatap jalanan Paris dengan tatapan puitisnya yang khas. Sementara itu, Juliette Laurent menyesap espresso-nya dengan gaya yang sangat elegan, sesekali menimpali cerita Diya dengan bahasa Prancis yang sangat fasih dan cepat.
"Louis, kamu kalau pegang cangkir teh kenapa harus kaku banget begitu, sih? Kayak bangsawan abad pertengahan yang takut cangkirnya pecah," celetuk Jaxson, memicu tawa kecil dari yang lain.
Louis menjawab dengan nada datar namun tajam, "Ini namanya etiket, Jaxson. Sesuatu yang jelas tidak diajarkan di negaramu yang serba santai itu."
Kiandra tertawa kecil melihat mereka. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Ternyata Paris tidak seburuk itu kalau ia tidak sedang terjebak di dapur bersama monster Italia bernama Enzo Romano.
Ting!
Lonceng pintu kafe bergemerincing nyaring.
Udara di sekitar meja mereka mendadak berubah. Sebuah aroma citrus yang segar bercampur dengan wangi leather mewah memotong aroma kopi di udara. Kiandra merasakan firasat aneh yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang.
Blake Harrington melangkah masuk. Ia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya dilinting rapi hingga siku, dipadukan dengan celana chino yang sangat pas. Aura aristokrat Inggris-nya terpancar begitu kuat, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arahnya.
Mata biru es Blake memindai ruangan dengan cepat, lalu terkunci dengan presisi pada meja Kiandra.
Mei Ling menyikut rusuk Kiandra dengan keras di bawah meja, matanya membelalak heboh memberi sinyal darurat. Diya Kapoor langsung duduk tegak, merapikan rambut tebalnya dengan gerakan refleks yang sangat elegan.
Blake berjalan mendekat dengan senyum menawan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun. Ia berhenti tepat di samping kursi rotan Kiandra.
"Bonjour. Semoga aku tidak mengganggu waktu bersantai kalian," sapa Blake dengan suara yang jernih.
Louis mengangguk sopan, mengenali sesama pria dari kalangan atas. "Monsieur Harrington."
Blake membalas anggukan Louis sekilas, namun pandangannya segera kembali mengunci wajah Kiandra. "Kiandra. Senang melihatmu tidak sedang sibuk dengan panci dan kaldu hari ini."
Kiandra mendongak, tersenyum canggung sambil meremas gelas es tehnya yang mulai berembun. "Hai, Blake. Kebetulan kelas kami selesai lebih cepat."
Blake mencondongkan tubuhnya sedikit, mengabaikan tatapan penasaran dari seluruh penghuni meja. "Kalau begitu, ini waktu yang tepat. Aku ingin menebus insiden tumpahan sampanye minggu lalu."
Kiandra mengernyit bingung. "Insiden itu kan salahku, bukan salahmu, Blake."
Blake tersenyum halus, suaranya merendah dengan aksen British yang sangat memikat. "Tetap saja. Besok malam, izinkan aku membawamu makan malam. L'Ambroisie, Place des Vosges. Hanya kita berdua."
Uhuk!
Kiandra nyaris tersedak es tehnya. Matanya membulat sempurna. L'Ambroisie? Itu adalah restoran Michelin bintang tiga yang legendaris. Tempat yang biasanya harus dipesan berbulan-bulan sebelumnya dan harganya bisa setara dengan biaya hidupnya sebulan di Paris.
Mei Ling menendang pelan sepatu Kiandra di bawah meja, memberikan isyarat mata yang berteriak 'TERIMA SEKARANG JUGA!'. Juliette dan Adele juga menatapnya dengan binar antusias yang tidak bisa disembunyikan.
"Itu Michelin tiga bintang, Darling. Jangan gila untuk menolak," bisik Diya sangat pelan di telinga Kiandra.
Kiandra menelan ludah, menatap mata biru es Blake yang menunggunya dengan penuh percaya diri. "L'Ambroisie? Itu... sangat formal, Blake. Aku tidak yakin punya baju yang pantas."
"Kamu pantas mendapatkan sesuatu yang formal dan indah, Kiandra," potong Blake dengan lembut. "Jam tujuh malam. Aku jemput di apartemenmu?"
Deg!
Apartemenku?! Jantung Kiandra seolah berhenti berdetak. "Mati aku! Kalau Blake sampai bertemu Enzo di depan pintu, atau lebih parah lagi, kalau Enzo keluar cuma pakai handuk pas Blake jemput... tamat riwayatku!" batin Kiandra panik.
"A-aku... aku akan menunggumu di depan gedung saja. Di Rue de Rivoli. Biar lebih gampang," jawab Kiandra cepat, suaranya sedikit bergetar karena panik.
Blake tersenyum puas, menganggap itu sebagai sebuah jawaban 'ya' yang mutlak. "Sempurna. Sampai jumpa besok malam, Kiandra."
Blake mengangguk sopan pada seluruh meja, lalu berbalik meninggalkan kafe dengan langkah tenang yang berwibawa. Begitu pintu kafe tertutup, meja itu langsung meledak.
"Gila! Michelin bintang tiga! Kamu baru saja diajak kencan resmi sama Pangeran Sciences Po!" Mei Ling memekik tertahan sambil mengguncang bahu Kiandra.
Kiandra hanya bisa mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Jantungnya berdegup tak karuan. Ada rasa senang yang membuncah, tapi rasa panik membayangkan reaksi Enzo jauh lebih mendominasi pikirannya sekarang.