Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Langkah Aleta berhenti tepat di depan ruangan terbuka, dia terkekeh kecil begitu melihat banyaknya orang yang berkumpul di sana. Meski sudah menduga bahwa pria itu tidak akan datang sendirian, tapi dia tak menyangka jika orang yang di bawanya akan sebanyak ini.
Sekitar ada sepuluh orang di dalam ruangan terbuka itu, termasuk pria yang dia temui di belakang sekolah bersama Clara siang tadi.
"Wow, aku terkejut kau membawa banyak sekali orang hanya untuk bertemu denganku." Aleta menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa aku sebegitu menakutkan?"
"Cih, rupanya kau hanya gadis belagu. Kami ke sini karena ingin mencincang tubuhmu, wajar saja kalau Bos membawa banyak orang."
Salah satu bawahan pria itu menjawab, nada bicaranya sangat sombong seakan meremehkan Aleta yang hanya gadis remaja SMA.
"Terserah," Aleta mengalihkan pandangannya ke arah pria yang berdiri tepat di depannya dengan jarak lima langkah. "Apa tujuanmu mengintaiku bahkan menyuruh Clara untuk membully diriku di sekolah."
"Tidak ada alasan khusus, hanya menuruti perintah." Jawab pria bernama Barok tersebut.
Aleta mengangguk singkat. "Siapa yang menyuruhmu?"
"Kau penasaran?"
Aleta tak menjawab, dia sebenarnya malas basa-basi tapi dia perlu memastikan dalang di balik pengintaian itu lebih dulu.
Melihat Aleta diam, Barok mengikis jarak di antara mereka berdua. Dia menyentuh dagu Aleta dan menariknya ke atas agar mata mereka saling menatap.
"Sayang sekali, aku tidak berniat untuk memberitahumu. Lebih baik kau menyiapkan diri untuk ma..."
Krak!
Aleta memelintir tangan Barok dengan cepat, gerakannya begitu tiba-tiba hingga pria itu tak sempat bereaksi. Bunyi retakan kecil terdengar, membuat Barok menggeram kesakitan.
"Jangan sembarangan menyentuhku," ucap Aleta dingin.
Dorongan keras dari kakinya membuat tubuh Barok terhuyung ke belakang. Namun, sebelum Aleta sempat menarik napas panjang, suara langkah kaki bergema dari segala arah.
"Serang!"
Perintah itu menggema, dan dalam hitungan detik, sepuluh orang langsung bergerak bersamaan.
Aleta mendecak pelan. "Dasar pengecut."
Satu orang maju lebih dulu, melayangkan pukulan ke arah wajahnya. Aleta menunduk cepat, menghindar, lalu membalas dengan siku yang menghantam perut pria itu. Orang itu terbatuk dan mundur, tapi celah itu langsung digantikan oleh dua orang lainnya.
Buk!
Pukulan berhasil mendarat di bahu Aleta, membuat tubuhnya sedikit tergeser. Dia meringis tipis, belum sempat membalas ketika tendangan datang dari samping.
Brak!
Tubuhnya terpental dan menabrak lantai kasar. Debu tipis beterbangan.
Belum selesai dengan itu, satu orang kembali muncul dan menarik kerah jaketnya, memaksanya bangkit, sementara yang lain langsung menghujamkan pukulan bertubi-tubi.
Buk! Buk! Buk!
Aleta menahan serangan dengan kedua lengannya, tapi jumlah mereka terlalu banyak.
"Sekarang mana gaya sombongmu, hah?" ejek salah satu dari mereka.
Aleta tersenyum tipis, meski sudut bibirnya mulai terluka. "Tenang saja, aku bukanlah pengecut seperti kalian."
Dia menghentakkan kepalanya ke depan.
Duk!
Kepala orang yang memegangnya langsung terhantam, membuat pria itu terhuyung. Tanpa membuang waktu, Aleta memutar tubuhnya dan menyapu kaki dua orang di depannya.
Bruk!
Keduanya jatuh bersamaan. Namun lagi-lagi, jumlah mereka menjadi masalah. Seseorang menghantam punggungnya dari belakang, diikuti tendangan yang mendarat di perutnya.
"Akh—"
Tubuh Aleta terdorong mundur beberapa langkah. Napasnya mulai tidak teratur. Rambutnya yang tadi rapi kini berantakan menutupi sebagian wajahnya.
Barok, yang tadi sempat terjatuh, kini berdiri kembali sambil memegangi pergelangan tangannya.
"Sialan... ternyata kau tidak selemah kelihatannya."
Aleta mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tetap tajam, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.
"Lalu kenapa masih berdiri di sana?" ucapnya pelan. "Kalau mau mengeroyok, sekalian saja sampai habis."
Ucapan itu seperti bahan bakar. Mereka kembali menyerbu. Satu pukulan berhasil mengenai pipinya. Tendangan lain menghantam kakinya hingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
Namun, Aleta tidak tinggal diam. Dia menangkap kaki seseorang yang hendak menendangnya, menariknya kuat hingga orang itu ikut jatuh, lalu menghantamkan kepalan tangannya ke wajah pria itu tanpa ragu.
Buk!
"Aakhh!" teriakan menggema di dalam tempat itu.
Tapi kali ini, ada empat orang sekaligus yang menahannya. Tangannya ditarik, pundaknya ditekan, dan satu pukulan telak mendarat di perutnya.
"Agh—!"
Napasnya terhenti sesaat. Pandangannya sempat mengabur. Barok berjalan mendekat, menepuk pelan pipi Aleta yang kini tertahan.
"Sudah cukup bermainnya. Kau memang kuat, tapi tetap saja... kau sendirian."
Aleta terdiam beberapa detik. Kemudian dia tertawa pelan. Suara itu lirih, tapi cukup membuat semua orang di sana merasakan sesuatu yang aneh.
"Siapa bilang aku sendirian?"
Kalimat itu menggantung di udara. Dan untuk pertama kalinya ekspresi Barok berubah heran.
Melihat lawannya lengah, Aleta kembali menyerang dengan brutal. Gerakannya meledak tanpa peringatan.
Brak!
Kepalanya dihantamkan ke wajah pria di depannya. Pegangan di kedua lengannya langsung mengendur. Tanpa memberi celah, Aleta memutar tubuhnya dengan paksa, menarik salah satu tangan yang masih mencengkeramnya.
Krak!
Sendi itu terpelintir. Pria itu menjerit kesakitan. Belum selesai dengan hal itu. Aleta menyikut rahang pria lain di sisi kirinya, lalu menghantamkan lututnya ke perut orang di depannya.
Buk! Duk!
Dua orang langsung tumbang bersamaan. Sisa yang lain sempat terpaku sesaat, cukup lama bagi Aleta untuk mengambil alih keadaan.
"Kenapa diam?" gumamnya dingin. "Tadi kalian sangat berisik."
Satu orang maju dengan amarah, melayangkan pukulan lurus ke wajahnya. Aleta tidak menghindar. Dia justru menangkap tangan itu di udara, menggenggamnya kuat, lalu...
Gubrak!
Dia membanting tubuh pria itu ke lantai dengan keras. Tanpa ragu, kepalan tangannya kembali menghantam wajah lawannya berkali-kali.
Buk! Buk! Buk!
Darah mulai mengalir dari sudut bibir pria itu sebelum akhirnya dia tak bergerak. Orang-orang lain mulai panik.
"Serang bersama! Jangan kasih dia ruang!"
Tiga orang sekaligus maju. Aleta melangkah mundur setengah langkah, lalu menyambar kursi kayu di sampingnya. Dengan satu ayunan dia menyerang mereka bertiga.
Brak!
Kursi itu hancur saat menghantam bahu salah satu dari mereka. Orang itu terjatuh sambil berteriak kesakitan. Tanpa berhenti, Aleta memutar sisa rangka kursi itu dan menghantamkannya lagi ke kepala pria lain.
Duk!
Yang terakhir mencoba menyerang dari belakang, namun Aleta sudah lebih dulu berbalik. Tangannya menangkap kerah pria itu, lalu menghantamkan dahinya dengan keras.
Krak!
Pria itu langsung ambruk. Napas Aleta mulai berat, tapi matanya masih menyala penuh ambisi layaknya predator. Satu per satu tak ada yang tersisa dalam posisi berdiri.
Beberapa mengerang pelan, sebagian lain sudah benar-benar pingsan dengan tubuh babak belur di lantai. Ruangan itu kini dipenuhi suara napas berat dan erangan kesakitan.
Di tengahnya Aleta berdiri dengan wajah penuh luka, sudut bibir berdarah, dan tubuh yang dipenuhi lebam… namun tetap tegak. Tatapannya perlahan beralih menuju satu orang yang tersisa.
Barok.
Pria itu kini benar-benar terdiam. Tak ada lagi seringai meremehkan di wajahnya. Hanya keterkejutan dan sedikit ketakutan yang mulai merayap.
Aleta melangkah maju perlahan. Suara langkahnya menggema di antara tubuh-tubuh yang tergeletak.
"Katamu aku sendirian?" ucapnya pelan. Dia berhenti tepat di depan Barok. arak mereka kini hanya satu langkah. Aleta mengangkat tangannya, mengusap darah di sudut bibirnya, lalu tersenyum tipis.
"Aku memang sendirian," lanjutnya lirih, "tapi itu sudah cukup untuk menghancurkan kalian."
Barok menelan ludah. Untuk pertama kalinya dia mundur tanpa di sadari, "Si-siapa kau sebenarnya?"
Aleta menyeringai. "Aku... Aurelia. Ah, ralat. Maksudku, One."
Seketika wajah Barok berubah pias. "O-One?"
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁