NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Kantin yang Menyesakkan

Kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada jam makan siang adalah representasi dari sebuah kekacauan masal. Suara dentingan sendok beradu dengan piring, aroma kuah soto yang mengepul, tawa riuh para mahasiswa, dan dengung obrolan menciptakan sebuah atmosfer yang bising dan hidup.

Namun bagi Anandara, yang baru saja melangkah masuk melewati pintu kaca kantin, suasana itu adalah sebuah ruang kedap udara yang siap membunuhnya secara perlahan.

Langkah kakinya terasa luar biasa berat, seolah ada beban berton-ton yang diikatkan pada pergelangan kakinya. Wajahnya telah ia basuh dengan air dingin berulang kali di toilet perpustakaan, memastikan tidak ada lagi jejak air mata atau sembab yang tertinggal. Nyonya Es itu telah kembali mengenakan zirah pelindungnya yang terbuat dari keangkuhan dan logika. Ia telah siap. Atau setidaknya, itulah yang ia sugestikan pada otaknya.

Mata hitam legam Anandara menyapu lautan manusia, mencari letak circle pertemanannya. Dan di sudut kantin yang strategis dekat jendela, ia menemukan mereka.

Sebuah pemandangan yang seketika menghentikan aliran darah di nadinya.

Di meja panjang itu, Sinta sedang duduk bersebelahan dengan Angga Raditya. Jarak mereka sangat dekat. Sinta tampak sedang menunduk, sibuk melihat-lihat deretan angka di buku catatan akuntansi yang tadi mereka bahas di perpustakaan.

Di seberang mereka, Rehan dan Reza sedang saling pukul menggunakan sedotan plastik yang masih terbungkus kertas, berdebat konyol tentang hero mana yang lebih pantas di-nerf (diturunkan kemampuannya) oleh developer game. Kiera dan Ami sedang tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan duo beban negara itu. Dan di ujung meja, duduklah Dimas yang sedang mengaduk es tehnya dengan tenang.

Angga telah berbaur ke dalam circle-nya. Lingkaran pertahanan yang selama ini menjadi tempat perlindungan Anandara, kini telah disusupi oleh pemuda yang kehadirannya memporak-porandakan hatinya.

Anandara menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Ia memaksa kakinya melangkah maju, memangkas jarak menuju meja itu. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti berjalan di atas hamparan bara api. Hatinya menjerit, memohon untuk berbalik dan berlari pergi, namun logikanya memaksa tubuhnya untuk terus berjalan layaknya seorang martir menuju tiang pancung.

Saat jarak Anandara tersisa sekitar tiga meter dari meja, kebisingan kantin seolah diredam paksa dari telinganya.

Angga, yang sejak tadi duduk diam memperhatikan keributan Rehan dan Reza, entah karena insting yang tak bisa dijelaskan oleh sains, tiba-tiba memutar kepalanya ke arah lorong.

Mata elang pemuda itu langsung bertabrakan dengan mata hitam legam Anandara.

Langkah Anandara terhenti.

Waktu seketika membeku. Tiga detik. Hanya tiga detik secara kronologis, namun bagi mereka berdua, detik-detik itu merenggang, mengembang menjadi tiga abad penuh penyiksaan dan teka-teki yang menyayat hati.

Di dalam tiga detik yang terasa abadi itu, dinding es yang selama ini memenjarakan jiwa Anandara retak. Topeng arogansinya meluruh tanpa ia sadari. Mata legam gadis itu memancarkan seluruh rahasia yang ia kubur hidup-hidup. Ada jurang luka yang luar biasa dalam, menganga lebar dan berdarah-darah. Ada sebuah pengorbanan yang menyayat nurani, dan yang paling mematikan... ada sebersit pengharapan yang memilukan. Harapan seorang gadis yang ingin dicintai, namun merelakan cintanya dirampas oleh sahabatnya sendiri.

Tataplah dia, Angga, jerit batin Anandara merintih pedih, sebuah doa sunyi yang ia rapalkan dengan sisa nyawanya. Jangan menatapku. Kumohon, bencilah aku seperti yang kau lakukan di kelas tadi. Aku adalah gadis tak berhati yang mengusirmu. Lihatlah Sinta di sebelahmu. Dia hangat, dia tulus, dia tidak memiliki silsilah pengkhianat sepertiku. Mencintaiku hanya akan membawamu pada kehancuran. Rasanya sakit sekali... Tuhan, dadaku sakit sekali... Tolong bunuh saja perasaan ini agar Sinta bisa bahagia.

Di seberangnya, Angga terpaku. Kopi es di depannya tak lagi menarik. Jantung pemuda yang selalu stabil itu berdebar dengan ritme yang kacau dan menyakitkan.

Angga melihatnya. Ia melihat dengan sangat jelas runtuhnya topeng gadis itu. Tatapan tajam dan dingin yang mengusirnya di kelas tadi pagi telah lenyap, digantikan oleh sepasang mata yang berteriak meminta pertolongan dalam kebisuan yang paling menyayat.

Topeng apa yang sedang kau pakai, Anandara? batin Angga meronta, dipenuhi oleh kebingungan yang menyesakkan dada sekaligus sebuah pengharapan yang menolak untuk mati. Kenapa matamu terlihat sangat hancur? Kenapa kau menatapku seolah kau sedang melepaskan separuh nyawamu, padahal mulutmu sendiri yang menyuruhku pergi? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan di balik keangkuhan palsumu itu? Kenapa kau mendorongku pada Sinta, jika matamu justru memenjarakanku?

Mereka berdua terjebak dalam resonansi penderitaan yang sama. Saling bertatap, saling menyakiti, dan saling mencari jawaban yang tertahan oleh sebuah jurang bernama persahabatan.

Di ujung meja, Dimas menghentikan adukan es tehnya. Mata di balik kacamata frame hitam itu menangkap kontak mata yang sarat akan tragedi tersebut. Dimas bisa melihat aura tak kasat mata yang mengikat Angga dan Anandara di tengah keramaian kantin.

Pemuda pendiam itu membuang napas berat, meniup poni yang sedikit menutupi dahinya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, sangat pelan, dengan senyum sinis yang getir.

Ironi yang memuakkan, batin Dimas mengejek takdir. Dua orang yang hatinya saling berteriak, tapi memilih untuk saling membisu dan menyiksa diri. Drama pengorbanan konyol macam apa ini? Nanda menghancurkan hatinya demi Sinta, dan Angga kebingungan di tengah puing-puing kebohongan.

Dimas menunduk, membiarkan rahasia yang ia ketahui tetap menjadi beban di pundaknya sendirian.

"Woy, Reza! Itu kuah soto lo nyiprat ke baju gue, kampret!" teriakan Rehan tiba-tiba memecah gelembung keheningan itu dengan kasar.

"Ya elah, cipratan seupil doang! Lagian baju lo kan warnanya hitam, nggak kelihatan, lebay lo!" sahut Reza tak mau kalah, memukul lengan Rehan dengan sendok makan.

"Bukan masalah warnanya, Za! Ini masalah harga diri outfit kampus gue!"

Keributan duo kocak itu secara paksa menarik Angga dan Anandara kembali ke realita. Tiga detik yang terasa seperti tiga abad itu berakhir.

Anandara tersentak kecil, buru-buru memutus kontak mata itu. Ia langsung menunduk, menarik napas dalam-dalam, dan memasang kembali topeng senyum palsunya. Dinding es titanium itu ia bangun kembali dalam sekejap mata.

Sinta, yang sejak tadi sibuk menatap rumus jurnal penyesuaian di bukunya sama sekali tak menyadari drama diam-diam yang baru saja terjadi hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, akhirnya mendongak.

"Eh, Nanda udah datang!" seru Sinta dengan wajah berbinar-binar cerah, mengangkat tangannya melambai tinggi-tinggi. "Sini, Nan! Kebetulan banget lo datang, kursi di sebelah gue masih kosong nih!"

Anandara melangkah mendekat, bibirnya melengkung membentuk senyum bersahabat yang sangat sempurna. Ia duduk di kursi yang ditunjuk Sinta, yang ironisnya, berada tepat di seberang Angga.

Udara di meja itu mendadak terasa mencekik leher Anandara. Bau parfum Sinta bercampur dengan aroma peppermint Angga menciptakan sebuah gas beracun yang menyiksa saluran pernapasannya.

"Lo lama banget sih di perpus," cerocos Sinta sambil menutup bukunya. "Gue sampai berhasil culik Angga dan Dimas buat makan bareng kita loh."

"Iya, tadi cari bukunya agak susah, ketelip di rak paling atas," bohong Anandara dengan suara yang stabil dan ringan. Ia lalu melirik Angga sekilas dengan tatapan datar, seolah kejadian tiga detik tadi tidak pernah ada. "Loh, Angga dan Dimas tumben mau gabung sama circle kita yang berisik ini?"

Angga menatap Anandara lekat-lekat, rahangnya sedikit mengeras melihat perubahan ekspresi gadis itu yang luar biasa cepat. Pembohong yang ulung, batin Angga.

"Diculik sama Sinta," jawab Angga singkat, nada suaranya dingin dan berat. Ia sengaja menyebut nama Sinta untuk melihat reaksi Anandara. "Sebagai rasa terima kasih katanya karena gue udah ngajarin dia di perpus tadi."

Di bawah meja, tangan Anandara meremas ujung kemejanya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih, menyalurkan rasa sakit yang menyayat ulu hatinya. Namun di atas meja, Nyonya Es itu tersenyum lebar.

"Wah, bagus deh kalau gitu," balas Anandara dengan nada riang. "Sinta emang butuh ekstra kesabaran kalau diajarin. Makasih ya, Angga, udah mau bantuin sahabat gue. Lo emang penyelamat."

Angga terdiam. Kata-kata Anandara terdengar sangat wajar, tapi di telinga Angga, itu adalah sebuah deklarasi penolakan yang dipertegas kembali. Gadis ini benar-benar mendorongnya menjauh, menancapkan paku batas yang tak boleh ia lewati.

Di sebelah Angga, Sinta tersipu malu hingga pipinya memerah. Ia memukul bahu Anandara pelan. "Ih, Nanda! Jangan jelek-jelekin gue di depan Angga dong! Nanti dia kapok ngajarin gue lagi."

"Lah, emang bener kan? Lo pas SMA aja nilai akuntansinya kayak roller coaster, untung ada Nanda yang narik lo," timpal Rehan tanpa dosa dari ujung meja, lalu dengan cepat menyuapkan kerupuk ke dalam mulutnya sebelum Sinta sempat protes.

"Rehan! Diem lo!" dengus Sinta kesal, membuat seisi meja tertawa, kecuali Angga, Anandara, dan Dimas.

Anandara ikut tertawa pelan, memaksakan matanya menyipit agar kebohongannya terlihat meyakinkan. Di tengah meja kantin yang riuh dan penuh canda tawa teman-temannya ini, Nyonya Es itu duduk mematung. Dadanya sesak. Ia merasa seperti sedang tenggelam di lautan yang sangat dalam, tidak bisa bernapas, tidak bisa berteriak, dan membiarkan air mata kepedihannya hanya mengalir ke dalam lambungnya sendiri, menjadi racun yang perlahan-lahan membunuh hatinya.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!