Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Sabotase Santan dan Tumpeng Penakluk Diplomat
[H-1 Perjamuan Agung - Kediaman Jenderal]
"Kau yakin mau melakukan ini sendirian?" Arga mondar-mandir di kamarku saat aku sedang mengepak set pisauku.
"Arga, duduklah. Kau bikin aku pusing," keluhku.
"Ini bukan acara makan malam biasa, Tantri," Arga berhenti, menatapku serius. "Ini jamuan diplomatik untuk Utusan Kerajaan Galuga. Mereka sekutu penting. Kalau ada satu lalat saja di sup mereka, itu bisa jadi insiden internasional. Dan Sengkuni... dia pasti mengincar momen ini."
Aku tersenyum menenangkan, lalu berjalan menghampirinya. Kurapikan kerah jubahnya yang sedikit miring.
"Dengar, Jenderal. Di duniaku .... maksuku kemarin aku sudah bisa buat hidangan untuk 50 prajurit dalam waktu singkat. Tekanan adalah sahabatku. Dapur adalah wilayah kekuasaanku. Sengkuni boleh menguasai ruang rapat, tapi di dapur, akulah Rajanya."
Arga menatap mataku. Keyakinan yang terpancar di sana membuatnya sedikit tenang. Dia menghela napas, lalu mengecup keningku singkat.
"Baiklah. Wira akan menempatkan penjaga di setiap pintu dapur istana. Tidak ada yang boleh masuk tanpa izinmu."
"Sip. Doakan istrimu ini tidak salah masukin garam jadi gula ya."
[Dapur Agung Istana Kerajaan - Hari H, Pukul 14.00]
Dapur Istana ternyata lima kali lipat lebih besar dari dapur Jenderal. Ada 20 tungku api, 30 asisten koki, dan bahan makanan yang melimpah ruah.
Tapi, suasananya kaku.
Kepala Koki Istana, Ki Sastro, seorang pria tua yang konservatif, menatapku dengan tatapan meremehkan. Baginya, aku hanyalah istri pejabat yang "main masak-masakan".
"Nyonya Tantri," kata Ki Sastro dingin. "Kami sudah menyiapkan menu standar: Sup Buntut dan Bebek Panggang. Nyonya tinggal duduk manis saja memberi perintah."
"Batalkan semua," potongku tegas.
"Apa?!" Ki Sastro melotot.
"Sup Buntut terlalu berantakan makannya. Bebek Panggang terlalu berminyak. Tamu kita dari Galuga, daerah kepulauan. Mereka suka rempah."
Aku berjalan ke tengah ruangan, menepuk tangan.
"Hari ini kita akan membuat NASI TUMPENG KUNING KOMPLIT."
Para koki saling pandang bingung.
"Tumpeng? Makanan selametan desa?" cibir salah satu asisten.
"Tumpeng adalah simbol gunung emas. Simbol kemakmuran dan ketinggian derajat," jelasku. "Kita akan buat Tumpeng raksasa setinggi satu meter. Lauknya: Ayam Bekakak, Perkedel Kentang, Urap Sayur, Sambal Goreng Ati, dan tentu saja... Rendang."
Aku membagi tugas dengan cepat dan efisien. Aura kepemimpinanku (aura Executive Chef) perlahan membuat mereka tunduk. Tidak ada yang berani membantah saat aku mulai mengiris bawang dengan kecepatan kilat menggunakan pisau Damaskus.
Namun, aku tidak menyadari, di pojok ruangan, seorang asisten koki muda bernama Tejo sedang mengawasi panci santan kental dengan tangan gemetar.
Di saku celananya, ada bungkusan kertas kecil dari Laras.
[Pukul 16.00 - Insiden Santan]
Kesibukan di dapur mencapai puncaknya. Asap mengepul, aroma kunyit dan serai memenuhi udara.
Aku sedang sibuk mencicipi bumbu Ayam Bekakak ketika mataku menangkap gerakan mencurigakan.
Tejo.
Dia berdiri di depan kuali besar berisi santan kental yang akan dipakai untuk Nasi Kuning dan Rendang. Dia celingukan kanan-kiri.
Tangannya merogoh saku, mengeluarkan bungkusan kecil, dan dengan cepat menaburkan bubuk putih ke dalam santan yang mendidih.
Jantungku berhenti sejenak.
Apakah itu garam? Gula?
Tidak. Garam dan gula ada di toples meja. Kenapa dia bawa dari saku?
Instingku berteriak: BAHAYA.
Tejo mengaduk santan itu cepat-cepat, lalu buru-buru menjauh seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku meletakkan sendok cicipku. Aku berjalan tenang—sangat tenang—menuju kuali santan itu.
Aku mengambil sendok sayur, mengambil sedikit santan itu.
Warnanya normal.
Baunya normal.
Tapi aku melihat ada sedikit buih aneh di pinggir kuali yang tidak mau pecah. Itu reaksi kimia yang tidak wajar.
"Tejo," panggilku lembut.
Tejo tersentak kaget. Wajahnya pucat. "Y-ya, Nyonya?"
"Sini sebentar. Coba cicipi santan ini. Rasanya kok kurang gurih ya?"
Tejo menelan ludah. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahinya.
"S-saya... saya sedang puasa, Nyonya."
"Oh ya? Puasa apa hari ini? Setahuku tidak ada hari puasa," aku tersenyum miring, memainkan pisau di tanganku. "Lagipula, seorang koki wajib mencicipi masakan. Itu aturan nomor satu."
Aku menyodorkan sendok sayur berisi santan panas itu ke mulut Tejo.
"Ayo. Satu sendok saja. Kalau kau tidak mau, berarti ada yang salah dengan santan ini."
Seluruh dapur hening. Ki Sastro dan koki lain berhenti bekerja, menatap ketegangan itu.
Tejo mundur. Kakinya gemetar. Dia tahu apa isi bubuk itu. Itu pencahar kuda dosis tinggi. Kalau dia minum, dia bisa buang air sampai pingsan.
"S-saya tidak bisa, Nyonya..."
"KENAPA TIDAK BISA?!" bentakku tiba-tiba. Mode Hell's Kitchen on. "APA YANG KAU MASUKKAN KE SANA?! RACUN?!"
Tejo ambruk berlutut, menangis. "Ampun Nyonya! Ampun! Saya dipaksa! Saya butuh uang untuk ibu saya yang sakit! Nona Laras... Nona Laras yang menyuruh saya!"
Bingo.
Para koki lain terkesiap. Sabotase di dapur istana? Itu hukuman mati!
Aku menatap kuali santan besar itu. 20 liter santan rusak.
Kalau aku buang sekarang, kami kehabisan waktu untuk memeras kelapa lagi. Pasar sudah tutup. Stok kelapa habis.
"Nyonya..." Ki Sastro mendekat, wajahnya cemas. "Kita tidak punya santan lagi. Tanpa santan, Nasi Kuning gagal. Rendang gagal. Kita tamat."
Aku memutar otak.
Waktu tinggal 2 jam sebelum penyajian.
Tidak ada santan \= Bencana.
Tunggu.
Di gudang bahan makanan tadi, aku melihat stok susu sapi segar dan kacang almond (hadiah dari pedagang Arab).
Chef Kirana tidak pernah kehabisan akal.
Substitusi.
"Buang santan ini ke selokan! Pastikan tidak ada hewan yang meminumnya!" perintahku pada pengawal. "Tejo, ikat dia di gudang belakang. Kita urus pengkhianat ini nanti."
Aku berbalik menghadap tim dapur yang panik.
"DENGAR SEMUANYA! JANGAN PANIK!"
"Kita tidak punya santan? Kita pakai SUSU dan SARI KACANG!"
"Hah? Nasi Kuning pakai susu?" Ki Sastro melongo.
"Ya! Susu sapi akan memberikan rasa gurih yang creamy. Sari kacang almond akan memberikan kekentalan dan aroma kacang yang enak. Tambahkan lebih banyak daun jeruk dan pandan untuk menutupi aroma susu. KITA BISA!"
"KERJAKAN SEKARANG! SAYA TIDAK MAU MENDENGAR KATA GAGAL!"
Semangat para koki terbakar kembali melihat ketegasanku. Mereka bergerak cepat. Mengganti santan dengan susu.
Ini perjudian besar. Nasi Kuning Susu (Milk Rice)? Rendang Susu?
Di dunia modern, Rendang Sapi pakai susu sudah biasa untuk versi sehat. Tapi di sini? Ini revolusi.
[Balairung Istana - Pukul 19.30]
Perjamuan dimulai.
Raja Cempaka duduk berdampingan dengan Duta Besar Galuga, pria gemuk yang terlihat ramah tapi kritis soal makanan.
Arga duduk di barisan pejabat, wajahnya tegang. Dia terus melirik ke arah pintu dapur.
Sengkuni duduk di seberangnya, tersenyum licik sambil memilin janggutnya. Dia menunggu momen "bencana" itu.
Laras (yang ikut hadir) duduk di belakang, kipas-kipas santai. Sebentar lagi... sebentar lagi Tantri akan diseret keluar, batinnya.
Pintu dapur terbuka.
Para pelayan berbaris masuk membawa nampan emas raksasa.
Dan di tengah-tengah, Nasi Tumpeng Kuning setinggi satu meter berdiri megah, dihiasi lipatan daun pisang yang artistik. Asapnya mengepul, membawa aroma gurih yang berbeda—lebih lembut, lebih buttery.
Aku masuk terakhir, membungkuk hormat.
"Persembahan untuk Yang Mulia dan Tamu Terhormat. Tumpeng Emas Nusantara."
Duta Besar Galuga melihat tumpeng itu. "Indah sekali. Tapi bagaimana rasanya?"
Dia menyendok nasi kuning dan sepotong rendang.
Masuk mulut.
Arga menahan napas.
Sengkuni menahan napas (menunggu reaksi sakit perut).
Laras menahan napas.
Duta Besar itu mengunyah. Matanya membelalak.
"Ini... Gurih sekali! Teksturnya pulen! Dan daging hitam ini... lembut seperti mentega! Rempahnya meledak di mulut!"
"Enak! Enak sekali!" seru Duta Besar itu, langsung nambah porsi.
Raja Cempaka ikut mencicipi. "Wah! Benar! Rasanya lebih gurih dari biasanya! Tantri, apa rahasianya?"
Aku tersenyum misterius. "Rahasia dapur, Yang Mulia. Dibuat dengan cinta dan... integritas."
Sengkuni melotot. Laras membelalak.
Kenapa mereka tidak sakit perut? Kenapa mereka malah lahap?!
Apa Tejo gagal?!
Perjamuan berlangsung sukses besar. Nasi Tumpeng ludes. Duta Besar Galuga bahkan minta bungkus Rendang untuk dibawa pulang. Diplomasi perut berhasil total.
[Setelah Perjamuan - Koridor Istana]
Arga menungguku di lorong sepi. Begitu melihatku, dia langsung memelukku erat. Erat sekali.
"Kau berhasil. Kau hebat. Aku bangga padamu."
Aku membalas pelukannya, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan setelah seharian stress di dapur. "Hampir saja gagal, Arga. Ada sabotase."
Arga melepaskan pelukan, wajahnya mengeras. "Sabotase? Siapa?"
"Anak buah Laras. Tejo. Dia memasukkan pencahar kuda ke santan. Untung ketahuan."
Rahang Arga mengeras. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. "Laras... Dia sudah keterlaluan. Ini pengkhianatan negara. Aku akan menyeretnya ke penjara bawah tanah malam ini juga."
"Jangan," tahanku.
"Kenapa? Dia mencoba mencelakaimu! Mencelakai Raja!"
"Kalau kita tangkap dia sekarang, Sengkuni akan cuci tangan. Dia akan menuduh Laras bertindak sendiri karena cemburu. Kita butuh bukti yang mengaitkan Sengkuni."
Aku tersenyum licik—senyum Tantri yang asli.
"Selain itu... aku sudah menyiapkan hukuman kecil untuk Laras malam ini."
"Hukuman apa?"
"Lihat saja besok pagi."
[Kamar Laras - Tengah Malam]
Laras pulang dengan perasaan dongkol dan bingung. Rencananya gagal total. Tejo menghilang (sudah diamankan Wira).
Dia merasa lapar karena di pesta tadi dia terlalu gelisah untuk makan.
Di meja kamarnya, ada tudung saji. Di bawahnya, ada semangkuk Kolak Pisang yang tampak lezat dengan pesan di kertas:
Untuk Adikku Laras,
Maaf tadi tidak sempat ngobrol. Ini sisa santan dari dapur istana, sayang kalau dibuang. Kubuatkan kolak spesial untukmu.
Kak Tantri.
Laras curiga. Tapi perutnya lapar. Dia mencium baunya. Harum pandan dan gula merah.
"Ah, paling dia cuma mau pamer," pikir Laras. "Dia tidak mungkin berani meracuniku terang-terangan."
Laras memakan kolak itu sampai habis. Rasanya enak, manis, creamy.
Satu jam kemudian.
KRUYUUUUUK.
Perut Laras berbunyi nyaring seperti guntur. Rasa mulas yang dahsyat menyerang ususnya.
Laras membelalak. Dia berlari ke kamar mandi.
"Aaaaaaaa! Perutkuuu!"
Ternyata, santan yang dipakai untuk kolak itu adalah Santan yang sudah dicampur Bubuk Pencahar Kuda oleh Tejo.
Aku tidak membuangnya ke selokan. Aku menyimpannya semangkuk khusus untuk Laras.
Mengembalikan senjata makan tuan.
Malam itu, Paviliun Teratai Putih bergema oleh teriakan Laras yang bolak-balik ke toilet sampai pagi.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal