Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga hari ....
Ruangan itu tidak terlalu luas, tapi tertata dengan cara yang membuatnya terasa hidup. Di salah satu sudut rumah, sebuah meja kerja menghadap jendela, membiarkan cahaya siang masuk dan menyapu permukaan layar komputer yang menyala.
Sebuah tanaman hijau kecil berdiri di dekat jendela, memberi sedikit kesegaran di tengah suasana canggung sepasang suami istri.
Sejak Rinjani menyuarakan keputusannya, belum terdengar keputusan apapun dari pria yang duduk di dekat tanaman hijau.
Pria itu fokus memandang Rinjani, meski objek tujuannya seolah tidak menganggapnya ada di sana. Rinjani hanya fokus pada layar laptop. Entah memang sibuk atau pura-pura sibuk.
Permintaan Rinjani untuk berpisah secara baik-baik ditolak oleh akal sehat dan hatinya. Benar banyak hal yang harus dipertimbangkan apalagi pernikahan mereka tidak didasari oleh cinta. Lebih tepatnya ... dia mencintai seorang diri mungkin sampai hari ini?
Tidak mudah menjalani hubungan jarak jauh di saat usia pernikahan baru dua bulan. Apalagi mungkin saja Rinjani memiliki trauma hubungan jarak jauh dengan kekasih sebelumnya.
"Ibu menelepon menyuruh kita ke rumah buat makan siang," ujar Ikhram.
Ikhram tersenyum melihat Rinjani menutup laptopnya dan berjala lebih dulu. Setidaknya wanita itu tidak membantah meski urung mengeluarkan suara.
Tiba di anak tangga, Rinjani hampir saja terjatuh andai Ikhram tidak sigap meraih pinggangnya.
"Suhu tubuhmu hangat. Mau periksa ke dokter?"
"Nggak!" Suara Rinjani tiba-tiba meninggi. "Maksudnya saya nggak apa-apa sampai harus ke rumah sakit."
"Baiklah ...." Sampai melewati semua anak tangga, tangan Ikhram terus berada di pinggang Rinjani dan tidak ada penolakan sedikit pun.
Setibanya di rumah Ikhram, Rinjani sama sekali tidak membahas apapun pada ibu dan ayah mertuanya. Makan seakan-akan pembicaraan tadi tidak pernah ada.
"Jadi berapa hariki di sini nak? Lama-lama ji toh?" Ibu Ikhram membuka pembicaraan.
"Sepertinya nggak bu, sebentar malam Jani harus kembali karena ada urusan."
"Aduh, padahal haruski itu sama-sama terus. Bagaimanaki mau saling cinta kalau sedikit-sedikit berpisah."
"Maklum, punya menantu sibuk Bu." Ikhram terkekeh demi mencairkan suasana.
Saat makan siang selesai dan dia melihat Rinjani ke kamar. Ia pun mengayungkan langkahnya, menyusul demi memastikan sesuatu.
"Sudah pesan tiket untuk pulang?"
"Baru mau pesan. Dan keputusan saya masih sama. Saya datang dan membicarakannya secara langsung karena menghargaimu sebagi seorang suami."
"Nanti antar saya ke ...." Bola mata Rinjani hampir keluar dari tempatnya ketika Ikhram tiba-tiba maju dan menempelkan bibir mereka.
Ia mendorong pelan hendak menjauh tetapi pinggangnya di tekuk begitu erat sampai ia hanya bisa pasrah. Matanya terpejam, memberikan Ikhram akses mengabsen setiap inci mulutnya.
Ia mengalungkan tangan di leher Ikhram, membuka matanya dan menemukan air mata di sana. Ikhram menangis, tetapi urung melepaskan pangutan panas yang pria itu lakukan.
"Jangan ...." Menahan dada Ikhram saat ia sadar sudah terbaring di tempat tidur. Tatapan itu penuh tanda tanya, jelas Ikhram penasaran alasan kenapa Rinjani tidak ingin disentuh lebih jauh.
"Kamu bisa melakukan apapun tapi nggak yang satu itu." Menoleh ke samping hingga daun telinganya hampir saja dicium.
Rinjani memejamkan matanya merasakan ranjang terguncang akibat Ikhram berbaring di sana dengan kaki menjuntai ke lantai.
"Beri saya waktu tiga hari ...." Terdengar helaan napas panjang dari Ikhram.
"Untuk berpikir?" Rinjani melirik Ikhram dengan ekor matanya.
"Bersamamu, menciptakan momen bahagia sebelum kita berpisah sesuai keinginanmu. Saya nggak mau menyesal dikemudian hari dengan menyetujui permintaanmu tanpa melakukan apapun."
Haruskah Rinjani bahagia mendengar Ikhram akhirnya setuju untuk berpisah meski memberikan syarat?
....
Zira dan Meli hampir saja jantungan akibat kedatangan Ardian yang langsung mengacau. Memukul meja dan melakukan hal seenaknya mentan-mentan atasan mereka sedang tidak ada.
Zira berdiri tepat di seberang meja, berhadapan langsung dengan Ardian yang duduk di kursi Rinjani.
"Saya nggak akan pergi sebelum tahu di mana Rinjani!" ujar pria itu dengan tatapan menukik tajam
Arian mengira Rinjani akan berlari padanya, memeluk dan meminta kembali setelah melihat hasil benda yang dia berikan.
"Kami nggak tau di mana bu Jani berada Pak. Bu Jani hanya mengatakan ada urusan untuk beberapa hari ke depan."
"Kamu bisa menghubunginya?"
"Bisa." Zira mengangguk cepat. "Saya akan memberitahukan pada bu Jani bahwa anda mencarinya."
Zira refleks mundur melihat Aridan menumpu tangan di tas meja dan mencondongkan tubuhnya. "Secepatnya ...." Dan berlalu pergi.
Tepat pintu kantor tertutup rapat, Zira dan Meli menghela napas panjang. "Mantan bu Jani benar-benar gila. Dia yang selingkuh tapi merasa paling tersakiti." Zira ngedumel sambil menjawab pangilan dari telepon kantor.
"Ouh astaga, maafkan saya pak. Ini kesalahan saya. Apakah pak Restu bersedia menunggu saya beberapa menit lagi?" Karena kedatangan Ardian, dia lupa akan mewakili bu Rinjani menemui klien baru mareka.
"...."
"Terimakasih banyak untuk kesabarannya pak."
Untung saja kliennya orang baik, atau mereka akan membatalkan dan mengancam mencari desain grafis lain.
.
.
.
Sepi banget kayak kuburan.
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,