NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Dingin itu tidak lagi hanya terasa di permukaan kulit.

Ia sudah meresap jauh ke dalam, ke dalam tulang, ke dalam napas, ke dalam setiap detak yang terasa semakin berat dari sebelumnya. Pearl meringkuk di bawah selimut tipis di atas sofa yang sudah beberapa malam terakhir menjadi satu-satunya tempat yang bisa ia sebut miliknya di mansion ini. Suara hujan yang menghantam kaca jendela terdengar seperti ribuan jarum kecil yang mengetuk tanpa henti.

Kepalanya berdenyut.

Napasnya terasa panas padahal tubuhnya menggigil.

Pearl mencoba bangkit untuk mengambil air tapi dunianya berputar seketika dan memaksanya kembali jatuh ke bantal dengan napas yang tersengal. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Matanya terasa berat seperti diisi pasir.

"Ibu..." gumamnya tanpa sadar, suara itu nyaris hilang ditelan keheningan kamar yang terlalu luas untuk satu orang.

**

Bunyi pintu kamar mandi terbuka.

Aroma sabun maskulin memenuhi ruangan. Lorcan keluar dengan hanya mengenakan celana kain gelap, handuk putih tersampir di lehernya dan melirik ke arah sofa dengan tatapan datar yang sudah Pearl hafal.

"Bangun. Sudah lewat jam tujuh."

Pearl mencoba menjawab.

Yang keluar hanya erangan kecil.

Lorcan mengerutkan kening. Ia tidak terbiasa diabaikan, Pearl sudah cukup paham itu dalam beberapa hari terakhir. Dengan langkah yang sama tegasnya seperti selalu, ia mendekati sofa.

"Pearl." Nada peringatannya naik satu tingkat. "Jangan berpura-pura tidak mendengar."

Ia meraih bahu Pearl untuk memaksanya bangkit.

Dan berhenti.

Kulitnya terasa seperti bara.

Lorcan melepaskan tangannya, menatap wajah Pearl yang memerah tidak merata pipinya merah, bibirnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya meski tubuhnya menggigil di bawah selimut tipis.

"Sial," gumamnya pelan. "Kamu demam?"

Pearl membuka matanya sedikit, memandang Lorcan dengan tatapan yang tidak fokus, seperti seseorang yang sedang berusaha keras untuk tetap sadar. "Maaf... kepalaku..."

Lorcan melepaskan tangannya.

Ada kilat kekesalan di matanya, tapi di baliknya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan ia sendiri tampaknya tidak tahu harus diapakan.

Ia menatap Pearl yang menggigil di depannya.

Dan ia tahu persis siapa yang bertanggung jawab atas ini.

Semalam. Balkon. Hujan yang ia biarkan membasahi Pearl karena amarahnya sendiri yang butuh tempat untuk diletakkan.

"Vanya!"

Tak lama, perempuan tua berambut putih keperakan itu masuk dengan langkah cepat, wajahnya langsung berubah begitu matanya jatuh ke arah Pearl di sofa.

"Tuan? Ada apa--"

"Panggil dokter keluarga sekarang. Dan siapkan air hangat." Suara Lorcan tidak meninggalkan ruang untuk pertanyaan. "Dia demam."

Vanya mengangguk cepat dan keluar.

Lorcan berdiri di tempat, menatap Pearl yang kini sudah tidak sadar sepenuhnya.

Ia seharusnya merasa tidak terganggu oleh ini. Pearl hanyalah bagian dari kontrak. Kesehatannya adalah investasi, bukan kepedulian.

Tapi entah mengapa, ia tidak bisa berpindah dari tempat ini.

**

Dokter datang, memeriksa, dan berbicara dengan nada yang lebih serius dari yang Lorcan antisipasi.

"Kelelahan fisik yang cukup berat dikombinasikan dengan paparan udara dingin berlebihan, Tuan Lorcan. Tubuhnya drop. Ia butuh istirahat total dan asupan yang baik setidaknya dua hari ke depan."

Lorcan tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk sekali, dan dokter itu pamit.

Kamar kembali sunyi.

Lorcan menarik kursi kerjanya, bukan memanggil Vanya, bukan menyuruh pelayan lain dan duduk sendiri di samping sofa. Di meja kecil di sebelahnya sudah ada baskom berisi air hangat dan kain kecil yang Vanya siapkan sebelum pergi.

Lorcan menatap benda-benda itu sebentar.

Lalu, dengan gerakan yang terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri, ia mencelupkan kain itu, memerasnya, dan meletakkannya di dahi Pearl.

Saat jarinya menyentuh pipi Pearl untuk memastikan posisi kain itu, ia merasakan tekstur kulitnya yang lembut di bawah panasnya yang tidak wajar. Dan ada sesuatu yang berdenyut di dadanya, sesuatu yang ia tidak suka, sesuatu yang tidak ia minta untuk ada.

Pearl, saat tertidur seperti ini, tidak terlihat seperti perpanjangan dari semua hal yang ia benci dari keluarga Rowan.

Ia hanya terlihat seperti seseorang yang sangat kelelahan.

"Kenapa kamu tidak melawan?" bisik Lorcan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Pearl yang tidak sadar. "Kakakmu akan melawan. Kakakmu akan mencari celah. Tapi kamu hanya diam dan menerima semuanya."

Pearl mengigau.

Pelan, tidak jelas, tapi Lorcan cukup dekat untuk mendengarnya.

"Ibu... jangan pergi... Pearl akan patuh... Pearl akan baik..."

Tangan Lorcan yang hendak membenahi kain kompres itu berhenti di udara.

Ia menatap wajah Pearl yang bahkan dalam ketidaksadarannya masih menyimpan ketakutan yang sama. Masih berjuang untuk hal yang sama.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!