Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Sutradara di Balik Layar
Udara Jakarta terasa lebih ringan setelah badai hukum menerjang Paman Bram, namun kata-kata Clara di Singapura terus berputar di benak Arumi seperti kaset rusak. Seseorang ingin pernikahanmu dengan Siska hancur agar mereka bisa mengendalikanmu melalui 'istri pengganti'.
Siapa yang cukup tenang, cukup dekat, dan cukup licik untuk mengatur bidak catur serumit ini?
Pagi itu, rumah baru mereka kedatangan Pandu. Editor setia Arumi itu datang dengan wajah sumringah, membawa map tebal berlogo rumah produksi film terbesar di tanah air.
"Arumi, ini berita besar! Akar yang Menghujam secara resmi dipinang untuk diadaptasi menjadi film layar lebar. Mereka tidak hanya ingin hak ceritanya, mereka ingin kamu menjadi konsultan skenario utama," ujar Pandu penuh semangat.
Arumi tersenyum, namun pikirannya terbagi. "Ini luar biasa, Ndu. Tapi, siapa investor di balik produksi ini? Aku tidak ingin cerita pribadiku dipelintir oleh kepentingan korporat lagi."
Pandu membuka halaman terakhir kontrak.
"Konsorsiumnya cukup bersih. Dipimpin oleh Lentera Media. Tapi yang menarik, salah satu donatur budayanya adalah Yayasan Pramoedya bidang Seni, yang sekarang dikelola secara independen oleh... Pak Hardi."
Mendengar nama Pak Hardi, jantung Arumi berdegup kencang. Pak Hardi adalah sesepuh yang paling vokal mendesak kurikulum kaku untuk Abi, namun dia juga yang paling pertama memberikan ucapan selamat saat Adrian memutuskan mundur dari CEO. Dialah "paman" yang selalu tampak bijak dan netral.
Arumi menerima tawaran film tersebut bukan hanya karena ambisi seni, melainkan sebagai pintu masuk untuk mengamati Pak Hardi lebih dekat. Di kantor pusat Lentera Media, Arumi mulai sering bertemu dengan tim dari yayasan.
Suatu sore, saat sedang mendiskusikan penokohan karakter "Sang Ayah" dalam naskah film, Arumi sengaja memancing reaksi salah satu asisten senior Pak Hardi yang sudah bekerja di keluarga Pramoedya selama tiga puluh tahun.
"Saya ingin karakter Ayah ini tampak seperti pengatur ulung," ujar Arumi sambil mencorat-coret naskah. "Seseorang yang bahkan bisa mengatur kegagalan sebuah pernikahan demi tujuan yang lebih besar. Menurut Anda, apakah itu realistis dalam keluarga seperti Pramoedya?"
Asisten itu, seorang pria tua bernama Pak Danu, terdiam sejenak. Tangannya yang memegang kacamata sedikit gemetar. "Di keluarga ini, Nyonya, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Bahkan pelarian Nona Siska dulu pun... memiliki jadwalnya sendiri."
Kata-kata itu sudah cukup bagi Arumi.
Sementara Arumi bergerak di dunia seni, Adrian mulai melakukan audit forensik terhadap sistem komunikasi internal Pramoedya Group dari periode sebelum pernikahan kontrak mereka. Dengan bantuan tim IT kepercayaannya dari Eco-Tech, Adrian mencari jejak komunikasi antara Siska dan pihak luar sebelum hari pernikahan yang gagal itu.
"Mas, lihat ini," lapor salah satu tim IT. "Ada serangkaian email anonim yang dikirim ke alamat pribadi Nona Siska dua minggu sebelum pernikahan. Isinya adalah dokumen-dokumen palsu yang menyatakan bahwa Anda, Pak Adrian, sudah memiliki istri simpanan dan anak di luar negeri. Dokumen itu dibuat sangat rapi."
Adrian mengepalkan tangan. Siska, yang memang memiliki mental yang rapuh dan trauma pada pengkhianatan, pasti langsung hancur membaca itu. Itulah alasan sebenarnya mengapa Siska lari—dia merasa ditipu, padahal dokumen itu adalah fitnah total.
"Lacak alamat IP pengirimnya," perintah Adrian dingin.
"Sudah, Pak. Pengirimnya menggunakan server internal Yayasan Pramoedya. Komputer yang digunakan terdaftar atas nama ruang kerja penasihat senior."
Malam itu, diadakan pameran amal di galeri seni yang didanai oleh Pak Hardi. Adrian dan Arumi datang bersama, namun kali ini mereka bukan datang sebagai tamu yang patuh. Mereka datang sebagai detektif yang siap membongkar kedok sang sutradara.
Pak Hardi menyambut mereka dengan senyum kebapakan yang khas. "Adrian, Arumi! Saya dengar perkembangan filmnya sangat bagus. Inilah yang dibutuhkan keluarga kita, sentuhan budaya untuk membersihkan nama baik."
"Terima kasih, Pak Hardi," jawab Arumi tenang.
"Bicara soal budaya, saya baru saja menambahkan satu adegan penting dalam film itu. Adegan tentang seseorang yang mengirim email fitnah kepada seorang pengantin wanita agar dia melarikan diri, sehingga sang pria terpaksa menikahi adiknya yang dianggap lebih 'mudah dikendalikan'."
Senyum di wajah Pak Hardi membeku. Sorot matanya yang biasanya hangat berubah menjadi sedingin es dalam sekejap. "Arumi, imajinasi penulis terkadang bisa sangat berbahaya jika terlalu liar."
Adrian melangkah maju, berdiri di samping istrinya. "Imajinasi itu menjadi fakta ketika didukung oleh jejak digital dari komputer Anda, Pak. Kenapa? Apa yang Anda inginkan dengan menghancurkan Siska dan menjebak Arumi dalam kontrak itu?"
Pak Hardi menghela napas panjang, lalu memberi isyarat agar mereka menjauh dari kerumunan tamu. Di balkon yang sepi, ia akhirnya melepaskan topengnya.
"Siska terlalu mirip ayahnya—ambisius dan tidak bisa diatur. Jika dia menjadi istrimu, Adrian, dia akan membawa pengaruh keluarganya untuk menguasai Pramoedya. Saya butuh seseorang yang bersih, seseorang yang tidak punya power politik di belakangnya. Arumi adalah kandidat sempurna. Seorang penulis muda yang butuh perlindungan, yang ayahnya berutang budi pada kita. Saya pikir, dengan Arumi di sisimu, saya bisa tetap mengarahkan kebijakan perusahaan melalui 'saran-saran' saya kepadamu."
"Anda meremehkan istri saya," ujar Adrian, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan.
"Ya," aku Pak Hardi tanpa rasa bersalah. "Saya tidak menyangka Arumi memiliki 'taring'. Saya tidak menyangka dia akan membuatmu menjadi pria yang berani melawan dewan. Rencana saya sempurna, sampai Arumi mulai menulis memoar itu dan mengubah narasinya."
"Lalu bagaimana dengan Abi?" tanya Arumi.
"Apakah kurikulum elit itu juga bagian dari rencana Anda untuk membentuknya menjadi boneka baru?"
Pak Hardi tertawa kecil. "Tentu saja. Generasi ketiga harus dibentuk sejak awal. Tapi sepertinya saya kalah dalam ronde ini. Kalian berdua jauh lebih tangguh daripada yang saya perkirakan."
"Anda tidak hanya kalah dalam ronde ini, Pak Hardi," ujar Adrian sambil menunjukkan ponselnya yang sedang dalam mode merekam.
"Anda baru saja memberikan pengakuan yang cukup untuk membuat dewan sesepuh memecat Anda secara tidak hormat dari semua posisi yayasan dan penasihat. Kejahatan manipulasi keluarga adalah tabu terbesar di Pramoedya."
Wajah Pak Hardi pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia telah meremehkan kekuatan sebuah persatuan yang tidak lagi didasarkan pada kontrak, melainkan pada cinta dan kepercayaan mutlak.
Keesokan harinya, pengunduran diri Pak Hardi dari seluruh struktur keluarga diumumkan dengan alasan "kesehatan". Tidak ada skandal publik, namun di dalam lingkaran internal, semua orang tahu bahwa Adrian Pramoedya telah membersihkan rumahnya hingga ke akar-akarnya.
Di rumah mereka yang asri, Arumi duduk di teras sambil memperhatikan Abimanyu yang sedang belajar menyiram bunga bersama Adrian. Sinar matahari pagi jatuh di wajah mereka, menciptakan pemandangan yang lebih indah dari adegan film mana pun.
Pandu menelepon lagi. "Arumi, sutradara filmnya ingin tahu, apakah adegan penutupnya ingin dibuat romantis atau dramatis?"
Arumi menatap suami dan anaknya, lalu tersenyum. "Katakan padanya, buatlah adegan penutup yang menunjukkan bahwa tidak ada lagi rahasia. Karena pada akhirnya, kebenaran bukan hanya membebaskan, tapi juga memberikan kekuatan untuk mulai menulis bab baru tanpa takut pada bayang-bayang masa lalu."