NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Kilau Blitz dan Realita Tanah Basah

Dunia perfilman adalah binatang buas yang berbeda dari dunia literasi. Jika di balik meja tulis Arumi adalah penguasa tunggal atas setiap titik dan koma, di lokasi syuting, ia hanyalah satu suara di tengah ratusan kepala yang memiliki visi berbeda. Adaptasi film "Akar yang Menghujam" mulai memasuki tahap pra-produksi yang intens, dan Arumi mendapati dirinya terjebak dalam pusaran glamor yang melelahkan.

Setiap hari, mobil jemputan dari rumah produksi datang ke rumah mereka yang asri di Jakarta Selatan. Arumi harus menghadiri pertemuan dengan penata busana, sutradara, hingga audisi pemain. Ia melihat bagaimana kisah hidupnya dipreteli, diubah warnanya, dan terkadang didramatisasi hingga terasa asing.

"Arumi, kita butuh adegan di mana karakter Adrian mengejarmu di tengah hujan saat kamu mencoba lari dari pernikahan kontrak itu," ujar Bramantyo, sang sutradara muda yang ambisius, dalam sebuah rapat skenario.

Arumi mengernyitkan dahi. "Tapi itu tidak pernah terjadi, Bram. Kami memulai pernikahan itu dengan kesepakatan yang sangat dingin dan transparan. Tidak ada drama lari-larian di bawah hujan."

"Ini sinema, Arumi! Penonton butuh katarsis. Jika terlalu datar, mereka tidak akan merasakan urgensi emosionalnya," balas Bramantyo bersikukuh.

Arumi menghela napas. Ia menoleh ke arah Adrian yang kebetulan hadir dalam rapat itu sebagai pendukung moral. Adrian hanya tersenyum tipis, memberikan isyarat bahwa ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Arumi.

"Bram," Arumi memulai dengan nada tenang namun tegas. "Kekuatan cerita ini bukan pada dramatisasi fisik, tapi pada kehampaan emosional yang perlahan terisi. Jika kamu mengubahnya menjadi film romansa picisan, kamu baru saja mengkhianati jutaan pembaca yang merasa terwakili oleh realitas hubungan kami."

Ketegasan Arumi akhirnya memenangkan argumen, namun itu hanyalah satu dari sekian banyak pertempuran kecil yang harus ia hadapi setiap hari.

Sementara Arumi bergelut dengan naskah dan lampu sorot, Adrian menghadapi realitas yang jauh lebih kasar. Eco-Tech Nusantara bukan lagi sekadar perusahaan rintisan; perusahaan itu telah menjadi simbol perlawanan Adrian terhadap sistem korporasi lama. Ia sedang mencoba memenangkan tender internasional untuk pengolahan limbah mandiri di beberapa kota satelit di Asia Tenggara.

Namun, tanpa nama besar Pramoedya Group di belakangnya, Adrian harus turun langsung ke lapangan. Ia tidak lagi duduk di kursi kulit di lantai 45. Ia berada di lokasi proyek, mengenakan rompi keselamatan dan helm proyek, berdiri di tengah bau sampah yang menyengat dan debu konstruksi.

Suatu siang, Arumi memutuskan untuk memberi kejutan dengan mengunjungi lokasi proyek Adrian di pinggiran Bekasi. Ia melihat suaminya sedang berdiskusi seru dengan para insinyur muda, wajahnya berkeringat, namun matanya memancarkan gairah yang tidak pernah Arumi lihat saat Adrian masih menjadi CEO di menara gadingnya.

"Mas!" panggil Arumi.

Adrian menoleh dan tersenyum lebar. Ia mendekat, meskipun bajunya kotor terkena noda semen. "Apa yang dilakukan bintang film kita di tempat kotor seperti ini?"

Arumi tertawa, menyeka keringat di dahi Adrian dengan tisu. "Aku merindukan suamiku yang asli, bukan pria di dalam skenario Bramantyo.

Bagaimana progresnya?"

"Berat, Rum. Pesaing kita dari luar negeri punya modal besar. Tapi teknologi kita lebih efisien dan ramah lingkungan. Aku sedang berusaha meyakinkan pemerintah daerah bahwa investasi jangka panjang lebih berharga daripada keuntungan instan."

Di tengah pembicaraan mereka, seorang pria bersetelan rapi mendekat. Ia adalah perwakilan dari konsorsium asing yang menjadi saingan berat Adrian.

"Tuan Adrian," sapa pria itu dengan nada meremehkan. "Sayang sekali melihat bakat sebesar Anda berakhir di tempat pembuangan sampah seperti ini. Tawaran kami masih berlaku. Jual teknologi Anda kepada kami, dan Anda bisa kembali ke kehidupan mewah Anda dalam sekejap."

Adrian menatap pria itu dengan tenang.

"Kemewahan saya tidak diukur dari seberapa bersih sepatu saya, Tuan. Tapi dari seberapa bermanfaat apa yang saya bangun. Silakan lanjutkan perjalanan Anda."

Masalah mulai muncul ketika proses produksi film mulai mengganggu privasi Abimanyu.

Karena popularitas buku Arumi dan berita tentang film tersebut, fotografer paparazzi mulai sering membuntuti mereka.

Suatu sore, sebuah foto Abi yang sedang bermain di taman belakang rumah muncul di sebuah situs gosip dengan judul: "Calon Ahli Waris Pramoedya Hidup Sederhana, Apakah Adrian Bangkrut?".

Adrian sangat murka. "Ini yang aku takutkan, Arumi. Film ini membuat kita menjadi target lagi. Kita pindah ke sini untuk menjauh dari semua ini, tapi sekarang kamu malah membawa lampu sorot itu ke pintu depan kita."

Arumi tertegun. Kalimat Adrian terasa seperti tamparan. "Mas, aku melakukan ini untuk membagikan pesan tentang integritas kita. Aku tidak menyangka mereka akan mengejar Abi."

"Pesan? Atau validasi?" suara Adrian meninggi karena kelelahan dan tekanan proyeknya.

"Terkadang aku merasa kamu terlalu menikmati perhatian ini sampai lupa bahwa ada harga yang harus dibayar oleh keluarga kita."

Keheningan yang dingin menyelimuti ruang tengah. Ini adalah pertama kalinya mereka saling melempar tuduhan sejak meninggalkan Paman Bram. Arumi merasa terluka karena Adrian meragukan niatnya, sementara Adrian merasa Arumi tidak peka terhadap ancaman privasi yang ia coba lindungi mati-matian.

Malam itu, Arumi tidak bisa tidur. Ia pergi ke perpustakaannya dan mulai menulis di jurnal pribadinya. Ia menyadari bahwa kesuksesan memang memiliki sisi gelap. Ia mencintai Adrian, dan ia mencintai karyanya, namun menyeimbangkan keduanya ternyata jauh lebih sulit daripada menulis plot novel.

Ia mendengar langkah kaki mendekat. Adrian masuk, membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di lantai di samping kursi Arumi.

"Maafkan aku, Rum," bisik Adrian. "Aku terlalu stres dengan proyek Bekasi. Aku tidak seharusnya bicara seperti itu. Aku tahu betapa kerasnya kamu bekerja untuk menjaga agar cerita kita tetap jujur di tangan Bramantyo."

Arumi meletakkan jurnalnya dan mengelus rambut Adrian. "Aku juga minta maaf, Mas. Mungkin aku memang sedikit terlena dengan proses kreatifnya. Aku akan bicara dengan pihak produksi. Aku ingin klausul tambahan: tidak ada promosi yang melibatkan wajah Abi, dan lokasi rumah kita harus dirahasiakan sepenuhnya dari pers."

Adrian mengangguk, menyesap tehnya. "Kita harus tetap menjadi tim, Rum. Dunia di luar sana ingin kita terpecah. Pihak dewan sesepuh masih menunggu kita gagal agar mereka punya alasan untuk mengambil kembali kendali."

Keesokan harinya, saat Arumi berada di kantor produksi, ia menerima telepon dari Siska. Suara kakaknya terdengar panik namun penuh tekad.

"Arumi, kamu harus hati-hati. Aku mendengar sesuatu dari Bayu. Salah satu investor tersembunyi di balik rumah produksi filmmu... ternyata memiliki hubungan dengan perusahaan asing yang mencoba menjatuhkan proyek Adrian di Bekasi."

Arumi merasa darahnya membeku. "Apa maksudmu, Kak?"

"Mereka menggunakan film ini untuk mengalihkan perhatianmu, sementara mereka mencoba menyabotase paten teknologi Adrian. Mereka ingin membuat skandal di sekitar filmmu agar nama Adrian tercemar, sehingga dia kehilangan kredibilitas di depan pemerintah daerah."

Arumi menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam jebakan yang sangat rapi. Film ini bukan hanya tentang seni; itu adalah senjata yang disiapkan musuh untuk menghancurkan mereka dari dalam.

Arumi berdiri di depan cermin di ruang rias, menatap bayangannya sendiri. Ia bukan lagi gadis polos yang hanya tahu cara menulis cerita indah. Ia adalah perisai bagi keluarganya. Jika mereka ingin menggunakan seninya untuk menghancurkan suaminya, maka mereka telah salah memilih lawan.

"Bramantyo," panggil Arumi saat masuk kembali ke ruang rapat. "Aku ingin merombak seluruh babak ketiga skenario ini. Dan kali ini, kita akan memasukkan adegan tentang bagaimana sebuah pengkhianatan korporasi dibongkar oleh seorang istri."

Senyum Arumi hari itu tidak lagi lembut. Itu adalah senyum seorang pejuang yang siap membakar panggung untuk menyelamatkan rumahnya.

1
Safira Indahcahyani
ulet bulunya keok 🤣🤣
Safira Indahcahyani
novelmu bagus thor, saya suka alurnya...
pemeran utama wanita g menye2...
semangat thor💪💪
sefira🐼: makasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!