Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Dengan Sang Detektif
Keheningan yang mencekam dan berat menyelimuti ruang trauma rumah sakit itu, seolah-olah waktu sedang membeku dalam kengerian. Bau darah yang amis dan tajam berbaur dengan aroma ozon yang aneh—sisa-sisa energi murni dari dimensi lain yang baru saja merembes masuk melalui celah takdir. Reyhan berdiri terpaku di ambang pintu, tangan kanannya masih menggenggam radio panggil yang kini hanya mengeluarkan suara statis yang berderak pelan, memecah kesunyian yang tidak wajar itu. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mengintimidasi penjahat paling kelas kakap sekalipun, kini melebar sempurna karena rasa tidak percaya yang luar biasa.
Di depannya, Feng Yan—pria yang baru saja dinyatakan mati secara medis oleh tiga dokter spesialis terbaik—sedang berdiri santai di depan cermin wastafel stainless steel. Dia sama sekali tidak tampak seperti korban kecelakaan truk kontainer yang mobilnya ringsek tak berbentuk. Sebaliknya, dia tampak seperti seorang model papan atas yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, penuh energi dan aura yang mematikan.
"Lian, lihat ini," Feng Yan memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, mengamati pantulan dirinya dengan mata menyipit penuh selera. "Garis rahang raga ini sangat tajam, hampir sebanding dengan pedang keduaku dulu. Hidungnya juga sempurna, melancip di sudut yang sangat tepat. Ah, untung saja truk bodoh itu tidak mengenai wajahku. Itu akan menjadi kejahatan internasional jika aset seindah ini hancur berkeping-keping menjadi debu."
Feng Yan mengusap dagunya dengan jari-jarinya yang panjang, lentur, dan tampak sangat kuat, mengabaikan fakta bahwa kemeja rumah sakit hijau yang dia kenakan terbuka lebar di bagian punggung, mengepalkan otot punggungnya yang kini bersih mengkilap tanpa ada satu pun luka gores atau memar bekas benturan hebat tadi.
Chen Lian, yang berdiri tegak di samping ranjang sebelah, hanya bisa menghela napas panjang yang sarat akan kesabaran. Aura wibawanya sebagai Tuan Muda di kehidupan kuno tetap melekat kuat, namun kini dia harus berperan sebagai penengah bagi kegilaan narsis sahabatnya itu. Dia menatap Reyhan dengan tatapan yang jauh lebih dewasa, tenang, namun penuh tekanan mental.
"Maafkan temanku ini, Petugas Reyhan. Dia memang... memiliki sedikit obsesi yang berlebihan pada penampilannya sendiri sejak ribuan tahun lalu," ucap Chen Lian dengan suara rendah yang sangat berwibawa, membuat udara di ruangan itu terasa semakin dingin.
Reyhan akhirnya bisa kembali menguasai suaranya, meski nada bicaranya terdengar bergetar karena emosi yang campur aduk antara takut dan marah. "Obsesi? Terbentur kepalanya?! Dokter baru saja mencatat waktu kematian kalian lima menit yang lalu, Yan! Garis lurus di monitor! Tak ada napas! Lo berdua itu mayat yang seharusnya sekarang sedang didorong menuju kamar jenazah untuk diotopsi, bukan malah sibuk berdebat soal kegantengan di depan cermin wastafel!"
Reyhan melangkah maju dengan hentakan sepatu botnya yang berderit keras di lantai keramik yang dingin. Dia adalah polisi veteran dari unit khusus Benang Merah Takdir Berdarah, seorang pria yang hidup dan bernapas dalam dunia fakta, logika, dan bukti fisik yang nyata. Apa yang dia lihat saat ini melampaui segala laporan kasus supranatural yang pernah dia tangani seumur hidupnya di kepolisian.
Feng Yan berbalik dengan gerakan yang sangat luwes, seolah-olah seluruh sendi di tubuhnya terbuat dari sutra cair yang mematikan. Dia menatap Reyhan dengan kilat mata keemasan yang muncul sekilas—mata rubah purba—sebelum kembali berubah menjadi hitam pekat yang cerdas dan licik.
"Mati? Ah, itu hanyalah istilah medis yang sangat membosankan, kaku, dan kurang kreatif, Petugas Reyhan," ucap Feng Yan sambil berjalan mendekati Reyhan dengan langkah predator yang anggun. "Sebut saja kami sedang melakukan meditasi singkat tingkat tinggi untuk memperbaiki sel-sel raga yang rusak. Lagipula, jika aku mati sekarang, siapa yang akan menghukum orang-orang yang sudah berani mengotori jas mahalku dengan darah kotor mereka?"
Reyhan menggelengkan kepala, mencoba mengumpulkan sisa-sisa akal sehatnya yang hampir runtuh total. "Gue nggak peduli soal meditasi atau sihir gila apa pun yang lo pake. Gue polisi. Ada truk yang sengaja menghantam mobil lo dengan presisi. Ada jejak rem yang dipotong. Ada orang yang sangat menginginkan lo membusuk di dalam tanah malam ini juga. Dan sekarang, lo mau gue laporin apa ke markas besar? Bahwa korban pembunuhan berencana bangkit lagi dari kematian karena merasa terlalu tampan untuk dikubur?!"
Feng Yan terdiam sejenak. Aura narsisnya mendadak menguap seperti embun, digantikan oleh aura predator yang sangat dingin, kelam, dan mencekam—aura Rubah Ekor Sembilan yang sebenarnya sedang terbangun. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit dan menyesakkan saat Feng Yan berdiri tepat di hadapan wajah Reyhan, hanya berjarak beberapa senti.
"Reyhan," suara Feng Yan merendah menjadi bariton yang dalam, getarannya terasa hingga ke sumsum tulang Reyhan. "Lupakan soal protokol medis yang tidak berguna itu. Fokuslah pada truk kontainer itu. Kakakku, Feng Yao... dia pasti sedang merayakan kemenangannya dengan segelas wine termahal di kelab malam saat ini. Dia pikir dia sudah berhasil menyingkirkan kerikil tajam di sepatunya dengan cara yang bersih."
Feng Yan tersenyum miring—sebuah senyum licik yang membuat Reyhan secara insting meraba sarung pistol di pinggangnya karena merasa terancam. "Biarkan dia berpesta malam ini. Biarkan dia percaya sepenuhnya bahwa aku sudah menjadi abu yang tidak berarti. Karena besok pagi, aku akan kembali ke Feng Group bukan sebagai adiknya yang lemah, kaku, dan mudah ditindas, tapi sebagai mimpi buruknya yang paling nyata. Seorang Rubah tidak akan pernah membiarkan pemburunya tidur dengan tenang sebelum mencabik tenggorokannya."
Reyhan menatap mata Feng Yan dalam-dalam, mencari setitik kebohongan atau kegilaan. Namun, dia tidak melihat rasa takut atau trauma pasca-kecelakaan di sana. Dia hanya melihat kekuatan murni yang melampaui logika manusia manapun. Sebagai polisi yang sering berhadapan dengan sisi paling gelap dari jiwa manusia, Reyhan tahu kapan harus mengikuti aturan protokol dan kapan harus mengikuti insting keselamatannya untuk bekerja sama.
"Oke," Reyhan akhirnya menghela napas panjang yang berat, menyimpan kembali radio panggilnya ke dalam saku jaket kulitnya. "Gue bakal bantu 'menyembunyikan' keajaiban medis yang nggak masuk akal ini dari laporan resmi untuk sementara. Gue bakal bilang ada kesalahan teknis pada peralatan medis yang sudah tua atau apa pun itu. Tapi ingat, Feng Yan... utang penjelasan lo ke gue itu bakal panjang banget sampai subuh. Dan jangan harap gue bakal diem aja kalau lo bikin kekacauan berdarah di kota ini."
Feng Yan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun penuh rahasia gelap yang menggoda. Dia menepuk bahu Reyhan dengan akrab, seolah-olah mereka adalah kawan lama dari zaman perang. "Kesepakatan yang bagus dan bijaksana, Polisi Gagah. Sekarang, bisakah kau carikan kami pakaian yang layak dan mahal? Aku tidak bisa memulai revolusi bisnis dan menghancurkan harga diri kakakku dengan mengenakan baju rumah sakit yang memamerkan punggungku yang indah ini, bukan? Itu sangat merusak estetika penguasa."
Chen Lian melangkah maju, berdiri dengan tegap di samping Feng Yan, auranya seperti pengawal kaisar. "Kami juga butuh ponsel pribadi yang aman dan akses internet tanpa jejak, Reyhan. Jika Feng Yao sudah mulai menggerakkan pion-pionnya di dewan direksi, kita harus bergerak sepuluh langkah lebih cepat daripada dia."
Reyhan hanya bisa menghela napas pasrah, merasa harga dirinya sebagai aparat hukum sedang diinjak-injak oleh dua orang ajaib ini. Dunianya sebagai polisi yang logis baru saja hancur berkeping-keping menjadi debu, digantikan oleh kenyataan baru yang aneh, liar, dan sangat berbahaya. Dia berbalik menuju pintu untuk melaksanakan "tugas" barunya, namun sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi dengan raut wajah yang berubah serius.
"Satu hal lagi yang penting," ucap Reyhan dengan nada yang dalam. "Ada seorang karyawan wanita dari Mandala Group yang tadi mencoba menolong kalian di lokasi kejadian dengan berani. Dia terus menangis histeris dan mengikuti ambulans ini sampai ke sini dengan motor kecilnya. Namanya Lin Diya. Dia masih setia menunggu di ruang tunggu luar, menolak untuk pergi sebelum memastikan keadaanmu."
Mendengar nama itu disebut, jantung Feng Yan memberikan reaksi yang sangat aneh—sebuah denyutan hangat, perih, namun manis yang tidak dia pahami dengan logika rubahnya. Nama itu terasa sangat akrab di telinganya, seolah-olah nama itu sudah terukir permanen di jiwanya sejak ribuan tahun yang lalu dalam sebuah takdir yang tragis.
"Lin Diya..." gumam Feng Yan pelan, matanya menatap pintu ICU dengan rasa penasaran dan kerinduan yang mendalam. "Sepertinya, selain mengurus kakakku yang berkhianat itu, aku punya urusan takdir lain yang jauh lebih menarik dan penting untuk diselesaikan malam ini."