Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pendakian Menuju Langit Semeru
Suara baling-baling helikopter siluman Gatotkaca-03 menderu rendah, menyapu pucuk-pucuk pohon pinus yang menyelimuti lereng bawah Gunung Semeru. Di dalam kabin yang diterangi cahaya temaram dari instrumen navigasi, Kirana Larasati duduk terdiam. Matanya tertuju pada jendela, menatap siluet raksasa Mahameru yang berdiri tegak menembus awan badai. Gunung itu tampak seperti dewa kuno yang sedang murka, sesekali kilat menyambar di puncaknya, menerangi kepulan asap vulkanik yang menyerupai naga hitam yang meliuk-liuk.
Adyatma duduk di hadapannya, sedang mengkalibrasi sarung tangan taktisnya yang telah diintegrasikan dengan kristal resonansi perak. Wajahnya keras, rahangnya mengatup rapat. Ia bisa merasakan energi di tempat ini—energi yang sangat mirip dengan kutukan di nadinya, namun dalam skala yang jutaan kali lebih besar.
"Kita sudah memasuki zona anomali," ucap Reno melalui saluran komunikasi satelit yang mulai statis. "Nyonya, Tuan... sensor kami mendeteksi perisai elektromagnetik berbentuk kubah yang menutupi radius lima kilometer dari puncak. Jika kita memaksakan helikopter masuk, seluruh sistem elektronik kita akan terbakar dalam hitungan detik."
Kirana mengangguk. Ia meraih tas taktisnya yang berisi perangkat pemancar frekuensi portable. "Turunkan kami di Ranu Pani. Dari sana, kita akan mendaki lewat jalur kuno yang ada dalam catatan Ibu. Adyatma, bersiaplah. Medan ini tidak akan membiarkan kita lewat dengan mudah."
Ranu Pani: Gerbang Kabut Hitam
Saat kaki mereka menyentuh tanah di tepian Ranu Pani, suasana sangat mencekam. Danau yang biasanya indah itu kini tampak gelap dan berminyak. Kabut hitam yang tebal merayap di atas permukaan air, membawa hawa dingin yang tidak alami. Tidak ada suara serangga, tidak ada kicauan burung; hanya keheningan yang menyesakkan.
Kirana segera membuka perangkat Google Maps - Satelite Layer yang telah dimodifikasi dengan filter frekuensi spiritual. Di layar ponselnya, jalur pendakian biasa menghilang, digantikan oleh garis-garis emas yang berkelok-kelok menembus hutan primer.
"Ini adalah 'Jalur Cendana'," bisik Kirana. "Ibu membangun jalur ini sebagai pintu belakang jika suatu saat Mahameru diaktifkan secara paksa. Setiap pohon di jalur ini adalah pemancar sinyal pasif yang akan melindungi kita dari deteksi radar Dewan Tetua."
"Tapi tidak melindungimu dari penjaga fisik mereka," Adyatma menyahut tajam. Ia menarik pedang peraknya. Dari balik kegelapan hutan, sepasang mata merah mulai bermunculan.
Serangan Penjaga Mekanik-Magis
Bukan manusia yang menyerang mereka kali ini. Dari balik pepohonan, muncul makhluk-makhluk yang tampak seperti macan tutul, namun tubuh mereka terbuat dari perpaduan otot organik dan lempengan logam hitam. Di punggung mereka, terdapat antena kecil yang memancarkan cahaya ungu—tanda bahwa mereka adalah produk eksperimen bioteknologi Dewan Tetua yang dikendalikan oleh Sang Arsitek.
"Kloning hibrida..." geram Adyatma. "Kakekmu benar-benar tidak memiliki rasa kemanusiaan."
Makhluk-makhluk itu melesat dengan kecepatan yang mustahil bagi hewan biasa. Adyatma menyambut mereka dengan tebasan perak yang presisi. Setiap benturan pedang dengan cakar logam menciptakan percikan api yang menerangi kegelapan hutan. Adyatma bergerak layaknya badai, setiap gerakannya adalah sinkronisasi antara kekuatan naga dan teknik bertarung tingkat tinggi.
Sementara itu, Kirana tidak tinggal diam. Ia menyadari bahwa makhluk-makhluk ini dikendalikan oleh sinyal frekuensi dari puncak. Ia segera mengakses fitur Google Workspace - Security Command di pergelangan tangannya.
"Reno! Bantu aku melakukan jamming pada frekuensi 433 MHz di sektor ini! Aku akan mencoba memutus tautan saraf mereka!" teriak Kirana.
Jari-jari Kirana bergerak cepat di atas layar holografik. Ia menciptakan sebuah 'Dinding Api' digital yang melingkari area pertempuran. Begitu ia menekan perintah execute, makhluk-makhluk itu tiba-tiba berhenti di tengah gerakan mereka. Mereka mengerang kesakitan, sirkuit di kepala mereka mengeluarkan asap hitam, sebelum akhirnya tumbang tak bernyawa.
"Kerja bagus, Kirana," ucap Adyatma, menyeka darah hitam yang menciprat ke pipinya. "Tapi ini baru pemanasan. Semakin tinggi kita mendaki, semakin kuat frekuensi yang harus kita lawan."
Arcapada: Tangga Menuju Langit
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam menembus hutan yang mencekam, mereka sampai di Arcapada—sebuah pelataran kuno di batas vegetasi terakhir sebelum mencapai puncak pasir. Di sana stood dua patung raksasa yang sudah terkikis usia, namun di dada mereka terpasang perangkat teknologi modern yang memancarkan cahaya ungu konstan.
Tiba-tiba, suara tawa yang sangat dikenal Kirana menggema dari speaker tersembunyi di sekitar pelataran. Suara yang dalam, berwibawa, dan dingin.
"Selamat datang, cucuku tersayang. Dan selamat datang kembali, Sang Naga yang telah jinak," suara Sang Arsitek Agung memenuhi udara. "Kalian berhasil sampai di Arcapada lebih cepat dari yang kuprediksi. Sepertinya darah Larasati di nadimu benar-benar telah menyatu dengan teknologi sampah milik ibumu."
Kirana mendongak ke arah puncak gunung yang diselimuti petir. "Hentikan kegilaan ini, Kakek! Kau akan menghancurkan Nusantara demi ego pribadimu!"
"Ego? Tidak, Kirana. Ini adalah evolusi," suara itu menjawab dengan tenang. "Dunia ini sudah terlalu kotor oleh manusia-manusia lemah yang tidak tahu cara menggunakan teknologi. Dengan Mahameru, aku akan menyaring mereka. Hanya mereka yang memiliki frekuensi yang tepat yang akan bertahan dan membangun peradaban baru di bawah kepemimpinanku. Dan kau... kau adalah kuncinya."
Jebakan Frekuensi Nol
Tiba-tiba, kedua patung di Arcapada itu memancarkan gelombang suara yang sangat tinggi hingga telinga Kirana berdenging hebat. Pandangannya mengabur. Ini adalah 'Frekuensi Nol', sebuah getaran yang mampu menghancurkan resonansi seluler manusia dalam hitungan menit.
Kirana terjatuh berlutut, memegangi kepalanya yang terasa seperti akan meledak. Adyatma mencoba mendekat, namun ia sendiri terhambat oleh beban gravitasi yang mendadak meningkat sepuluh kali lipat di sekitar pelataran tersebut.
"Adyatma... berikan... tanganmu..." rintih Kirana.
Dalam kondisi kritis itu, Kirana menyadari bahwa ia tidak bisa lagi hanya mengandalkan perangkat digitalnya. Ia harus menggunakan Protokol Resonansi Jiwa secara maksimal. Ia meraih tangan Adyatma yang gemetar.
Seketika, cahaya perak meledak dari tubuh mereka berdua. Kirana tidak lagi menggunakan aplikasi atau ponsel; ia menggunakan pikirannya sebagai prosesor utama. Ia menyatukan frekuensi jantungnya dengan detak jantung gunung Semeru.
“Gema Nusantara... Aktifkan!” teriak Kirana dalam batinnya.
Sebuah gelombang energi emas murni memancar keluar dari tubuh Kirana, menabrak gelombang ungu dari patung Arcapada. Benturan dua kekuatan besar itu menciptakan ledakan energi yang menghancurkan perangkat teknologi di dada patung-patung tersebut. Keheningan kembali meraja, namun kali ini adalah keheningan yang menang.
Menuju Puncak Mahameru
Kirana terengah-engah, tubuhnya lemas akibat penggunaan energi yang masif. Adyatma segera memeluknya, menyalurkan energi naganya untuk menopang kesadaran Kirana.
"Kau hampir mati melakukannya, Kirana," bisik Adyatma penuh kekhawatiran.
"Aku tidak akan mati sebelum melihat wajahnya secara langsung," jawab Kirana dengan mata yang kini berpendar emas sepenuhnya. "Ayo, Adyatma. Puncak pasir sudah di depan mata. Di sana, di kawah Jonggring Saloko, kakekku sedang menanti pengadilannya."
Mereka mulai mendaki lereng pasir yang curam. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena kemiringan medannya, tapi karena tekanan spiritual yang semakin pekat. Di atas sana, langit seolah terbelah, memperlihatkan lubang hitam raksasa di atas kawah—sebuah gerbang dimensi yang mulai terbuka akibat aktivitas mesin Mahameru.
Kirana membuka dokumen Google Drive terakhir yang diberikan ibunya sebelum meninggal. Dokumen itu berisi satu baris instruksi terakhir yang hanya bisa dibaca dengan cahaya mata emasnya:
"Hancurkan Jantungnya, maka Jiwanya akan bebas. Tapi ingat, Jantung Mahameru adalah cerminan dari hatimu sendiri."
Kirana menutup matanya sejenak, menyiapkan mentalnya. Ia tahu bahwa konfrontasi di Bab 23 bukan hanya akan menentukan nasib Nusantara, tapi juga akan memaksanya untuk menghadapi sisi gelap dari garis keturunannya sendiri.
*** [Bersambung ke Bab 23...]