Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang ngatur segalanya
“Ini data lengkap Xavero, Tuan.”
Nathan menerima map dari Adit—asistennya. Ia membukanya perlahan, lalu membaca setiap halaman dengan saksama. Tatapannya tajam, seolah tidak ingin melewatkan satu detail pun.
“Dia pernah menikah dengan putri kedua dari keluarga Mahendra,” gumam Nathan, suaranya cukup pelan namun masih bisa didengar oleh Adit.
“Iya, Tuan. Tapi keluarga Mahendra menutupinya. Pernikahan putri keduanya dianggap aib, karena mereka menikah akibat warga yang mengira mereka melakukan sesuatu yang tidak senonoh di rumah kosong saat hujan deras. Padahal kenyataannya sama sekali tidak seperti itu,” jelas Adit.
Nathan kembali membalik lembar demi lembar, matanya berhenti pada satu nama.
“Xavero Ravindra,” ucapnya pelan. “Hebat juga keluarga Mahendra bisa menutup pernikahan putrinya sampai sejauh ini.”
“Tapi sekarang mereka sudah bercerai, Tuan,” tambah Adit.
Nathan mengangkat sedikit kepalanya, lalu menatap Adit. “Kamu tahu alasannya, Dit? Kenapa pria seperti Xavero bisa disingkirkan begitu saja oleh mereka?”
Adit terdiam sejenak sebelum menjawab. “Status, Tuan. Xavero hanya anak yatim piatu, dan pekerjaannya pun hanya buruh pabrik.”
Nathan akhirnya mengangguk paham, lalu menutup map itu perlahan.
“Status,” gumamnya pelan.
Ia bersandar di kursinya, tatapannya menerawang sejenak, seolah sedang menyusun sesuatu di dalam pikirannya.
“Orang-orang seperti mereka memang selalu mengukur segalanya dari itu,” lanjutnya dingin.
Adit tetap berdiri tegak di hadapannya, menunggu instruksi selanjutnya.
Nathan kembali membuka map itu, menatap foto Xavero beberapa detik lebih lama.
“Menarik,” ucapnya pelan. “Dia punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang.”
Adit mengangkat sedikit alisnya. “Maksud Tuan?”
Nathan menutup map itu kembali, lalu meletakkannya di atas meja.
“Ketahanan,” jawabnya singkat. “Orang yang sudah jatuh berkali-kali tapi masih bisa berdiri, biasanya lebih berbahaya dari yang terlihat kuat sejak awal.”
Hening sejenak.
Nathan meraih ponselnya, mengetuk sesuatu sebentar, lalu kembali meletakkannya.
“Besok dia akan datang ke kantor.”
“Tuan yakin?” ucap Adit pelan.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia beranjak dari duduknya, lalu melangkah mendekati jendela transparan. Pandangannya tertuju pada deretan bangunan tinggi di luar sana, matanya menyipit seolah sedang memikirkan sesuatu yang lebih dalam.
“Yakin,” jawabnya akhirnya. “Berikan dia assessment. Saya ingin menilai potensinya.”
Nada suaranya tenang, namun tegas, seolah keputusan itu sudah bulat.
“Baik, Tuan,” balas Adit hormat.
°°
“Sayang, bagaimana dengan permintaanku?”
Liora memeluk manja Arga di balik selimut.
Arga tersenyum tipis, lalu mengecup kening Liora lebih dulu. “Tentu saja, sayang. Aku sudah mengabulkannya. Bawahanku sudah memecatnya.”
Liora tersenyum puas mendengar jawaban itu.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan mata berbinar penuh kemenangan.
“Kamu memang tidak pernah mengecewakan aku,” ucapnya manja.
Arga mengusap lembut pipi Liora, senyumnya tipis namun penuh kendali.
“Selama itu yang kamu inginkan." balasnya tenang.
Liora menyandarkan kepalanya di dada Arga, jemarinya bermain pelan di kancing kemeja pria itu.
“Kamu kenal dia?” tanya Arga.
Liora mengangguk pelan. “Iya, dia hanya debu bagi keluarga Mahendra." jawabnya ringan.
Ia sengaja menyembunyikan kebenaran, tidak ingin Arga mengetahui bahwa ia pernah menikah dengan pria itu.
Arga menatap Liora beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik jawabannya.
“Hanya itu?” tanyanya pelan, nadanya tenang tapi mengandung tekanan halus.
Liora tidak terlihat ragu. Ia mengangkat bahu ringan, lalu kembali tersenyum.
“Orang seperti dia tidak penting untuk dibahas lebih jauh,” ucapnya santai.
Arga mengangguk kecil, meski tatapannya masih tertahan pada wajah Liora.
“Baik,” jawabnya singkat. "Jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja padaku. Aku akan menyingkirkannya."
Liora tersenyum penuh kepuasan, lalu menganggukkan kepala pelan.
"Ronde kedua?" tanya Arga, alisnya terangkat sedikit dengan nada menantang.
"Tentu saja, sayang. Aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan." balas Liora sebelum bibirnya menyambar bibir Arga dengan lembut namun mendesak. Pertarungan intim di antara mereka pun kembali terjadi, membiarkan suasana di sekeliling mereka tenggelam dalam kehangatan yang hanya mereka rasakan berdua.
Tanpa mereka sadari, di sudut ruangan yang tersembunyi, sebuah kamera pengawas terus berputar, merekam setiap gerak-gerik yang mereka anggap hanya milik berdua.