Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
"Pak, ini semua laporan hasil pencarian Nona Zeya."
Riko, asisten pribadi Dewangga, berdiri beberapa langkah dari tempat duduk bosnya sambil menyerahkan sebuah map hitam.
Dewangga tidak duduk di kursi atau di tempat tidur.
Ia duduk di lantai kamar, bersandar pada dinding dekat jendela yang tirainya setengah terbuka. Cahaya sore masuk samar, jatuh di wajahnya yang terlihat jauh lebih pucat dibandingkan beberapa hari lalu.
Di sekelilingnya, botol minuman berserakan tanpa aturan.
Beberapa bahkan sudah kosong dan tergeletak di lantai.
Asbak di dekatnya penuh dengan puntung rokok. Asap tipis masih menggantung di udara, membuat kamar itu terasa pengap dan berat.
Riko menarik napas pelan.
Sudah satu minggu sejak Zeya pergi.
Dan selama satu minggu itu pula Dewangga tidak pernah keluar dari kamar. Ia hanya sibuk mengalihkan semua rasa sakitnya pada minuman itu, berharap bisa mengurangi sedikit saja luka di dalam hatinya.
"Taruh saja di sana," gumam Dewangga serak tanpa menoleh.
Riko meletakkan map itu di meja kecil dekat mereka, lalu kembali menatap bosnya dengan ragu.
"Pak… tim kita sudah menyisir bandara, stasiun, dan beberapa kota yang mungkin menjadi tujuan Nona Zeya. Tapi sampai sekarang....”
"Diam."
Suara Dewangga tiba-tiba memotong kalimatnya.
Riko refleks menunduk dan terdiam. Ia tidak berani berkata apa-apa lagi, karena salah bicara sedikit saja bisa saja membuat salah satu botol di lantai itu melayang ke kepalanya.
Dewangga akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau terlalu banyak alkohol.
"Jadi… hanya ini hasil pencarian kamu selama ini?" tanyanya perlahan.
Riko menelan ludah.
"Pak, kami sudah..."
Belum selesai ia berbicara, Dewangga tiba-tiba berdiri dengan kasar.
Map hitam yang tadi diberikan Riko disambar dan langsung dilempar ke lantai.
Berkas-berkas di dalamnya berserakan.
"SEMINGGU, RIKO!" bentak Dewangga.
Suara kerasnya menggema di kamar yang sempit dan berantakan itu.
"Seminggu kamu cari dia, dan kamu datang ke sini cuma buat bilang belum ketemu?!"
Riko menunduk semakin dalam.
"Maaf, Pak. Kami masih terus berusaha"
"Berusaha?"
Dewangga tertawa pendek, tetapi tawa itu terdengar lebih seperti ejekan pahit.
"Kalau kamu benar-benar berusaha, Zeya sudah ada di depan saya sekarang!"
Ia menendang botol kosong di dekat kakinya. Botol itu menggelinding keras hingga menabrak dinding.
"Pergi!" bentaknya tiba-tiba.
Riko terdiam.
"Pak"
"SAYA BILANG PERGI!"
Bentakan Dewangga kali ini jauh lebih keras, membuat udara di ruangan itu terasa semakin tegang.
Riko akhirnya hanya bisa menunduk dalam.
"Baik, Pak."
Ia memungut map dan berkas yang berserakan secepat mungkin, lalu mundur perlahan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia sempat menoleh sebentar.
Dewangga sudah kembali duduk di lantai, menundukkan kepalanya sambil memegang rambutnya sendiri dengan kedua tangan, seolah mencoba menahan sesuatu yang hampir meledak dari dalam dirinya.
Riko hanya bisa menghela napas pelan sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu kamar itu.
Sekarang kamar itu benar-benar sunyi, menyisakan Dewangga yang hancur karena kehilangan kekasih hatinya.
Dewangga duduk diam beberapa saat.
Napasnya masih berat setelah meluapkan amarahnya tadi.
Tangannya meraih botol minuman yang masih setengah penuh di lantai.
Ia meneguknya langsung tanpa gelas.
Cairan pahit itu mengalir di tenggorokannya, tetapi tidak sedikit pun mengurangi sesak di dadanya.
"Zeya…" gumamnya pelan.
Bayangan wajah perempuan itu terus muncul di kepalanya.
Wajah yang terakhir ia lihat… wajah dengan senyum cerianya yang selalu membuatnya candu menatapnya.
Tangannya gemetar.
Botol di tangannya jatuh ke lantai.
Cairan alkohol tumpah membasahi karpet.
Dewangga menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Seminggu.
Seminggu ia mencari.
Tapi Zeya benar-benar menghilang.
Ia membawa anak mereka… dan pergi tanpa meninggalkan jejak.
Dada Dewangga terasa semakin berat.
Napasnya mulai tidak stabil.
Tubuhnya yang sejak beberapa hari terakhir hampir tidak makan, kurang tidur, dan terus dipenuhi alkohol akhirnya mulai kehilangan tenaga.
Pandangan Dewangga mulai berkunang-kunang.
Ia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya malah terhuyung.
Tangannya mencoba menahan tubuhnya ke dinding.
Namun gagal.
Tubuhnya jatuh ke lantai dengan suara cukup keras.
Kesadarannya perlahan menghilang.
......................
Rissa, yang khawatir dengan kondisi anaknya yang sudah seminggu tidak keluar kamar dan tidak mengizinkan siapa pun masuk.
Makanan selalu dibawakan ke kamar, tetapi tetap tidak tersentuh.
Ia berdiri didepan pintu kamar Dewangga dengan perasaan khawatir.
Rissa berjalan mondar-mandir di depan pintu itu. Sesekali ia mengangkat tangan ingin mengetuk, memastikan kondisi anaknya, tetapi keraguan selalu menahannya, terlebih setelah tadi ia mendengar Dewangga memarahi asistennya dengan suara yang begitu keras.
"Mas?" panggilnya pelan.
Dengan keberanian yang akhirnya ia kumpulkan, dan rasa khawatir yang jauh lebih besar daripada rasa takutnya, ia mengetuk pintu kamar putranya.
Suara Rissa terdengar dari luar kamar.
Ia menunggu dengan cemas respon dari pemilik kamar, tetapi hanya kesunyian yang ia dapatkan.
"Nak, Dewangga… ini Mama. Boleh Mama masuk?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pintu beberapa kali lagi.
Namun tetap tidak ada balasan.
Rasa cemas di dadanya semakin besar.
"Dewangga?"
Tetap tidak ada suara.
Setelah lama mengetuk dan memanggil putranya tanpa mendapat respon, rasa takut mulai menguasai pikirannya.
Rissa akhirnya membuka pintu kamar itu perlahan.
Begitu pintu terbuka, bau alkohol dan asap rokok langsung menyeruak keluar.
Ia menutup hidungnya sebentar sebelum masuk ke dalam.
Langkahnya berhenti tiba-tiba.
"Ya Tuhan…"
Ia melihat Dewangga tergeletak di lantai.
Rissa berlari menghampiri Dewangga. Wajah panik dan takut bercampur menjadi satu saat melihat kondisi putranya yang sudah tidak sadarkan diri, dengan keadaan yang sangat kacau.
Botol-botol berserakan di sekelilingnya.
Ia berlutut di samping tubuh Dewangga dan mengguncangnya dengan panik.
"Dewangga!"
"Mas… bangun, Nak!"
Tidak ada respons.
Wajah Dewangga pucat, napasnya sangat lemah.
Tangan Rissa langsung bergetar.
"Mas Malvin!" teriaknya panik.
"Riko!"
"Linda!"
Suara teriakannya menggema ke seluruh rumah, membuat semua orang yang ada di dalam rumah berlari panik menuju kamar Dewangga.
"Ma, ada apa?"
Linda adalah orang pertama yang sampai di kamar Dewangga. Begitu pintu terbuka, ia langsung berlari masuk menghampiri ibunya yang sedang menangis sambil memangku kepala Dewangga.
"Mas…"
Langkah Linda terhenti sejenak saat melihat keadaan kakaknya.
Penampilan Dewangga berantakan. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan dari mulutnya tercium bau alkohol yang sangat menyengat. Kamar itu sendiri tak kalah kacau, botol minuman berserakan di lantai, puntung rokok memenuhi asbak, bahkan beberapa kertas dan barang lain tergeletak tanpa aturan.
"Mah, Mas Dewangga kenapa?" tanya Linda panik.
Rissa hanya menangis. Tangannya terus memegang kepala anaknya yang terkulai di pangkuannya, sementara air mata tak berhenti mengalir di pipinya. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan putrinya.
Linda ikut berjongkok di samping Dewangga. Dengan wajah cemas, ia menggoyangkan lengan pria itu cukup keras.
"Mas… Mas!"
Namun tetap tidak ada respons.
Tubuh Dewangga sama sekali tidak bergerak.
"Ada apa ini, Mah?"
Suara berat Malvin terdengar dari pintu. Ia datang bersama Riko, asisten Dewangga.
Begitu melihat tubuh anaknya tergeletak di lantai dengan kondisi seperti itu, wajah keduanya langsung diliputi kekhawatiran.
Malvin segera menghampiri, sementara Riko berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Cepat telepon dokter!" teriak Rissa panik.
"Baik, Nyonya," jawab Riko cepat.
Ia langsung mengangguk patuh. Dengan langkah tergesa ia mundur keluar kamar, merogoh ponselnya dari saku, lalu menekan nomor dokter keluarga mereka.
Di dalam kamar, suasana terasa semakin tegang.
Malvin dan Linda dengan hati-hati mengangkat tubuh Dewangga dari lantai. Tubuh pria itu terasa lemas dan tidak memberikan perlawanan sama sekali.
Mereka membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya perlahan.
"Ada apa ini sebenarnya, Mah?" tanya Malvin lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih khawatir.
Ia menatap wajah anaknya yang pucat sebelum beralih pada istrinya.
Rissa menggeleng pelan. Tangannya terus menyeka air mata yang jatuh.
“Aku nggak tahu, Mas,” ucapnya lirih. “Tadi aku dengar dia marah-marah dari dalam kamar.”
Napasnya masih tersengal.
"Aku khawatir… jadi aku masuk buat cek keadaannya."
Rissa menatap Dewangga dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Ternyata dia sudah seperti ini," lanjutnya dengan suara gemetar.
Linda yang berdiri di sisi tempat tidur hanya bisa menatap kakaknya dengan perasaan campur aduk. Wajahnya tegang, tangannya mengepal tanpa sadar.
Beberapa menit kemudian, langkah cepat terdengar dari luar.
Seorang dokter paruh baya masuk ke kamar bersama Riko yang berjalan di belakangnya.
"Permisi," ucap dokter itu singkat sambil mendekat ke tempat tidur.
Rissa langsung berdiri memberi ruang.
“Dok, tolong anak saya,” ucapnya dengan suara yang masih bergetar.
Dokter mengangguk singkat sebelum mulai memeriksa kondisi Dewangga.
Ia membuka kelopak mata pria itu dengan hati-hati, memeriksa reaksi pupilnya, lalu menempelkan stetoskop di dada Dewangga untuk mendengar detak jantungnya.
Setelah itu, ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan.
Suasana kamar mendadak sangat hening.
Tidak ada yang berani bersuara, semua menunggu dengan cemas.
Linda menatap setiap gerakan dokter dengan gelisah, sementara Rissa berdiri di samping Malvin sambil menggenggam lengan suaminya.
Beberapa saat kemudian dokter menarik napas pelan.
"Dia pingsan karena kelelahan fisik dan mental yang sangat berat," jelasnya akhirnya.
Semua orang langsung menatapnya.
"Tubuhnya juga mengalami dehidrasi," lanjut dokter itu. "Selain itu, kadar alkohol dalam tubuhnya cukup tinggi.”
Dokter menatap Malvin dan Rissa dengan wajah serius.
"Sepertinya sudah beberapa hari dia tidak makan dengan baik, kurang tidur, dan terlalu banyak mengonsumsi alkohol."
Rissa menutup mulutnya dengan tangan, menahan tangis yang kembali ingin pecah.
Dokter kembali memeriksa tekanan darah Dewangga sebelum melanjutkan penjelasannya.
“Untungnya kondisinya masih bisa ditangani. Tapi kalau keadaan seperti ini terus berlanjut, tubuhnya bisa benar-benar kolaps.”
Malvin mengangguk pelan, wajahnya terlihat sangat tegang.
"Sekarang yang paling penting adalah istirahat total,” lanjut dokter itu. "Dia harus berhenti minum alkohol, makan dengan teratur, dan kondisinya harus terus dipantau."
Ia menatap Dewangga yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Selain itu… kondisi mentalnya juga sangat tidak stabil. Jika dia terus memaksakan diri seperti ini, bukan hanya fisiknya yang akan bermasalah.'
Kata-kata dokter itu membuat suasana kamar semakin berat.
Linda menatap kakaknya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Pria yang selama ini selalu terlihat kuat di matanya… kini terbaring lemah di hadapan mereka.
Sementara di samping tempat tidur, Rissa hanya bisa menggenggam tangan anaknya dengan perasaan cemas dan kasihan melihat kondisi putra satu-satunya ini berantakan setelah ditinggal oleh Zeya.