NovelToon NovelToon
Menjalani Cinta Terlarang

Menjalani Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MCT 23

Sesuai janji Aldri pulang dari kantor lebih awal. Ia akan memindahkan semua barangnya ke kamar Antika. Pria itu memilih kamar Antika karena dirinya sering melihat gadis itu menikmati indahnya langit dari jendela kamarnya.

Antika membantu Aldri memindahkan beberapa barang. Ia pun membantu menata semuanya. Gadis itu tampak bahagia.

"Hati - hati, Tika. Yang berat jangan diangkat. Biarkan aku saja. Sini!".

"Nggak berat kok, Darling."

"Sudah sini."

"Eum baiklah." Antika menyerah untuk berdebat.

Gadis cantik itu mulai usil. Melihat Aldri yang sangat serius dengan aktivitasnya, Antika mulai mencari cara untuk mengganggunya. Senyum jahil menghiasi bibirnya. Antika meniup telinga Aldri.

Pria itu mencinta karena terkejut dan geli. "Tika, kamu ini. Oh, jadi kamu mau main-main ya?" Aldri mulai mendekat dengan wajah tak kalah jahilnya.

Antika berpura-pura ketakutan dan hendak berlari menghindar. "Ampun Darling bercanda." Gadis itu menahan tawa.. Namun Aldri tetap mendekat.

Aldri menarik tubuh Antika dari belakang. Tangan nya meraih pinggang Antika untuk mendekat kepadanya. Kemudian jari-jarinya menggelitik perut Antika.

Tak tahan menahan geli, Antika tertawa lebar. "Ampun Darling. Udah- udah berhenti kapok aku." Aldri tak memperdulikan perkataan Antika. Ia tetap saja menggelitiknya sampai gadis itu tertawa lepas diikuti air mata.

Mereka tertawa bahagia hingga kelelahan dan menjatuhkan diri di kasur empuk milik Antika. Keduanya saling mengatur nafas yang ngos-ngosan akibat tertawa yang berlebihan. Setelah puas bercanda dan nafas keduanya mulai teratur, mereka saling menoleh dan menatap sepasang mata masing-masing.

"Apa kamu bahagia bersamaku Tika?"

Antika terdiam cukup lama. Gadis itu sedang menikmati sajian vitamin wajah tampan yang ada dalam tatapan matanya.

"Tika." Lanjut Aldri setelah lama tak mendapat respon.

"Sangat." Antika akhirnya bersuara. " Aku sangat bahagia darling." tangan nya mendekat ke wajah Aldri dan membelai pipi pria itu.

"Apa kamu juga bahagia bersama denganku? Apa kamu nggak akan nyesel milih aku?" Kali ini tatapan Antika lebih serius.

Aldri memegang tangan Antika yang sedang berada di pipinya. Ia pun membalas tatapan Antika dengan serius.

"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini bersama orang lain selain ibuku, Tika. Kebahagiaan itu semakin sempurna karena perasaan yang kumiliki mendapat balasan. Terima kasih, Sayang." Antika tersenyum dan mengedipkan matanya sebagai jawaban.

"Sudahlah, kenapa jadi melow seperti ini? Ayo, kita lanjutkan lagi. Masih banyak yang belum selesai."

Keduanya bangun dan melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda karena kejahilan Antika.

Semua barang sudah terterapi saat petang menjelang. Indira pun akhirnya membantu merapikan kamar Aldri yang lama.

"Akhirnya selesai juga. Sudah jam segini. Tika kamu mandi dulu sana. Sisanya aku yang akan membereskan."

"Baiklah, Darling."

Aldri membereskan sisa barang yang masih belum rapi. Pikiran nya melayang mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Aldri menggeleng menepis pikiran nakalnya. Ia memilih pergi dari kamar.

"Al, ke mana Antika?" Indira membiarkan lamunan Aldri ketika mendapati putranya sendirian di dapur sedang minum.

"Sedang mandi, Bun"

"Oh." Indira mengangguk. Tangannya dengan sigap mulai menyiapkan dan menghangatkan makanan untuk makan malam.

"Ada yang bisa kubantu, Bu?"

"Tidak usah, Al. Kamu duduk saja di situ. Al, kapan rencana mau meresmikan pernikahan kalian?"

"Bukan nya pernikahan kami memang sudah resmi, Bu?"

"Ah, bukan bukan. Maksud Ibu kapan kamu akan melangsungkan acara resepsi? Apa kamu tidak ingin semua orang tahu kalau kamu sudah menikah?"

Aldri tersedak mendengar pertanyaan ibunya. Ia sempat terdiam sejenak untuk berpikir.

"Al, apa kamu masih belum yakin dengan hubungan kalian?"

"Tidak, Bu. Bukan masalah itu. Hanya saja...."

"Apakah kamu takut dengan pikiran orang-orang?"

"Sama sekali tidak, Bu."

"Lantas apa, Nak yang membuatmu masih bimbang?"

"Baiklah, Bu Saya akan memikirkan dan mempersiapkannya."

"Terima kasih, Al. Bukan nya apa-apa, Nak. Justru Ibu tidak ingin ada pikiran buruk tentang kalian. Seandainya semua tahu pasti tidak akan ada lagi salah paham."

"Saya mengerti, Bu."

"Ya sudah sekarang cepat mandi sana. Gantian sama Tika. Bau itu badan keringat semua."

Aldri tertawa. "Siap, Bu." Aldri melangkah pergi.

Antika yang menguping sejak tadi pun bergegas masuk ke kamar pura-pura tak mendengar apapun.

"Sudah selesai mandinya?"

" Udah. Aku mau bantu ibu dulu kalau gitu."

" Iya. Aku juga mau mandi." Aldri mengangguk. Antika keluar dari kamar.. sebenarnya apa yang suamiku pikirkan? Kenapa sepertinya dia berat untuk mutusin tentang resepsi pernikahan kami. Padahal aku pasti akan sangat bahagia bisa memakai gaun pengantin dan bersanding bersamanya.

Karena tak melihat jalan, Antika tersandung lantai. "Ish Kamu ini kenapa bisa ada di sini. Bukan nya seharusnya masih di depan sana." Atika memarahi lantai yang membuatnya tersandung. Indira yang melihatnya tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Makanya hati-hati kalau berjalan. Dilihat jalannya."

"Eh, iya, Bu maaf." Antika tersenyum kikuk.

"Sini, Bu. Aku bantuin." Indira mengangguk.

Sementara itu Aldri yang berada di kamar mandi masih memikirkan perkataan ibunya. Bukan nya dirinya tidak mau melaksanakan resepsi. Namun ada yang membuatnya ragu. Akan kah pernikahannya nanti dapat berjalan lancar. Ataukah akan ada seseorang yang akan membuat masalah?

Semua dikarenakan hingga detik ini, Aldri belum menemukan pemuda brengsek yang telah merudapaksa Antika. Aldri khawatir pemuda itu akan datang dan membuat masalah. Aldri terkiki ngeri memikirkan semua kemungkinan itu.

Ia segera mengguyur kepalanya yang mulai gerah karena banyak yang sedang dipikirkan. Usai menyelesaikan aktivitasnya Aldri bergabung bersama ibu dan istrinya.

Di suatu tempat di salah satu rumah sakit di Jakarta. Seorang pemuda mulai tersadar dari, selama 3 bulan lamanya. Ujung jari telunjuknya bergerak. Tubuhnya yang masih lemah hanya mampu menggerakkan jarinya.

Amara yang tengah duduk memperhatikan kondisi putranya yang sangat memperihatinkan terkejut ketika mendapat pergerakan dari putranya.

"Mas. Mas lihat." amarah mengejutkan sang suami ketika mendapati jari putranya bergerak.

"Sayang, aku panggilkan dokter dulu." Andika bergegas keluar ruangan.

"Syukurlah, Nak." Amara menangis di sisi putranya.

Dokter yang datang segera memeriksa kondisi pasiennya. Kedua orang tua pasien menunggu dengan cemas.

"Alhamdulillah. Bapak dan ibu, putra anda sudah sadar. Kita akan melakukan observasi lebih lanjut. Selamat ya, Pak, Bu."

"Alhamdulillah." Andika dan Amara berucap syukur bersamaan.

"Ti-Ka." pemuda itu menggumamkan sebuah nama.

"Sayang, kamu sudah sadar, Nak." Amara memeluk tubuh putra semata wayangnya. Andika pun terharu dalam tangis.

"Ti-Ka." Anggara kembali menggumamkan nama seseorang.

Andika dan Amara saling pandang. Mereka sama sekali tidak memahami mengapa putranya memanggil nama itu.

"Ti-Ka." Anggara memanggil nama itu sekali lagi sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

"Gara!" Andika dan Amara panik.

1
Ar-Rasyid Fikri
semangat berkarya Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!