Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: RETAKAN DI HATI DAN RAHASIA YANG TERKUNCI
Deru mesin mobil mewah itu mereda saat memasuki jalanan protokol menuju kediaman Hutama. Di dalam kabin yang sejuk, atmosfernya justru terasa sesak. Vanya gelisah di kursinya. Ia berkali-kali melirik Reyhan dari sudut matanya, mencoba mencari celah di balik wajah setenang telaga itu.
"Rey," panggil Vanya, suaranya berusaha dibuat sedingin mungkin meski hatinya sedang berantakan. "Jujur sama aku. Kamu kenal sama Pak Ragil di mana? Nggak mungkin dekan se-intelek dia hormat begitu sama supir kalau nggak ada apa-apanya."
Reyhan tidak menoleh. Tangannya masih lincah memutar setir. "Oh, itu... Pak Ragil itu langganan anteran paketku dulu. Sering pesan buku-buku tebal, jadi kami sering ngobrol sebentar di depan gerbang."
"Kamu bohong!" potong Vanya cepat. "Tadi dia panggil kamu 'Pak Rey'. Mana ada dekan panggil kurir paket dengan sebutan 'Pak' seformal itu?"
Reyhan terkekeh kecil, sebuah suara yang entah kenapa terdengar sangat menyebalkan sekaligus merdu di telinga Vanya. "Ya sudah kalau tidak percaya. Orang sepertiku memang tidak mungkin kenal orang hebat seperti Pak Ragil, kan? Tapi kenyataannya, saat aku sering kirim paket ke rumahnya, kami jadi akrab. Mungkin dia terkesan karena aku kurir yang paling cepat mengantar bukunya."
Vanya terdiam. Logika itu cukup masuk akal di kepalanya yang sedang kacau. Mungkin benar, Reyhan cuma mantan kurir teladan, batinnya mencoba menenangkan diri. Namun, rasa kesal lain muncul ke permukaan.
"Rey, satu lagi. Aku nggak suka ya kalau kamu tebar pesona di kampus tadi. Kamu itu di sana bertugas sebagai supir, bukan jadi objek foto mahasiswi gatal!"
"Siapa yang tebar pesona, Nona?" Reyhan akhirnya menoleh saat lampu merah. "Tidak perlu ditebar pun, pesonaku sepertinya sudah menyebar dengan sendirinya. Itu alami, bukan disengaja."
"Ih! Dasar! Tukang paket bintang satu saja sombongnya selangit!" Vanya memalingkan muka, pipinya menggembung.
"Memangnya kenapa? Kamu cemburu, ya?" goda Reyhan dengan nada jenaka.
"Nggak! Kata siapa? Siapa juga yang mau cemburu sama kamu?"
"Itu buktinya tadi di koridor. Sampai deklarasi 'istri' segala. Padahal biasanya kamu panggil aku 'Begal' atau 'Gembel'."
Vanya merasa tertangkap basah. Ia membetulkan posisi duduknya dengan kikuk. "Itu... itu karena kamu masih punya kontrak sama aku! Jadi secara hukum, kamu itu milik aku. Milik keluarga Hutama! Termasuk itu... senyumanmu! Jangan berikan ke orang lain tanpa izin dariku!"
Reyhan menghentikan tawa kecilnya, ia menatap Vanya dengan tatapan yang mendadak dalam. "Serakah banget sih, Nona Manja. Senyuman jelek saja mau dimiliki juga? Katanya tadi jelek, mirip ulat nangka. Kalau jelek ya lebih baik aku buang ke siapa saja yang mau menampung, kan?"
Jantung Vanya mencelos. Ada rasa aneh yang menyesakkan dada—campuran antara takut kehilangan dan keinginan untuk memiliki. Kenapa aku begitu posesif? Rasa apa ini? Jangan-jangan aku benar-benar jatuh cinta? Tidak! Sadar Vanya, sadar! Dia itu gembel yang kamu fitnah jadi begal! batinnya berteriak keras.
"Baiklah... terserah Nona Manja saja," ucap Reyhan lembut. Ia lalu memberikan sebuah senyum manis, senyum paling tulus yang pernah Vanya lihat. "Nikmati saja senyumku ini sekarang, Nona. Mumpung aku masih di sini."
Vanya terpaku, merasa berbunga-bunga sekaligus ngeri.
"Sebab nanti, setelah kontrak satu tahun itu habis... mungkin kamu tidak akan pernah melihat senyumanku lagi. Jangankan senyum, namaku pun mungkin hanya akan jadi kenangan pahit untukmu."
Kata-kata Reyhan barusan bagaikan petir di siang bolong. Vanya merasa takut. Bayangan tentang hari di mana Reyhan melangkah keluar dari rumahnya dengan tas ransel tua itu mendadak menjadi mimpi buruk yang paling nyata.
Tiba di rumah, suasana terasa lebih berat.
"Assalamu’alaikum..." ucap mereka hampir bersamaan.
"Wa’alaikum salam," sahut Melly yang menyambut di ruang tengah.
Vanya segera menghampiri Melly dan mencium tangannya. Sesuatu yang kini mulai menjadi kebiasaan baru yang manis. "Mah, Papa di mana? Sudah sehat belum?"
"Iya, Vanya... Papa di ruang kerja. Dia sudah menunggu kamu," jawab Melly sambil mengelus rambut Vanya.
Tak lama, Bramantyo muncul dengan langkah yang sedikit gontai namun tetap berwibawa. Wajahnya masih agak pucat, tapi matanya tajam menatap putrinya.
"Papa sudah sehat?" tanya Vanya cemas.
"Mendingan," jawab Bram singkat. "Sini, Papa mau ngobrol sama kamu. Duduk."
Vanya duduk di sofa kulit dengan perasaan was-was. Bram menatapnya lurus. "Vanya, Papa perhatikan belakangan ini... kamu ada apa dengan Derian? Kenapa setiap ada dia, kamu sinis sekali? Bukankah dulu kamu yang bilang dia kakak tingkat terbaikmu?"
"Gak apa-apa, Pah. Cuma masalah pribadi saja," jawab Vanya sambil menunduk, memainkan jemarinya.
"Bukankah dia hanya teman kuliah? Kenapa rasanya ada ketegangan yang tidak biasa?" Bram menyelidik. "Dan tadi... Derian bilang padaku kalau kamu menggandeng Reyhan di depannya dengan sengaja. Kenapa?"
"Supaya dia cemburu, Pah!" ceplos Vanya tanpa sadar.
Bram tertegun. "Cemburu? Maksud kamu...?"
"Busyet! Aku salah ngomong lagi!" rutuk Vanya dalam hati. Wajahnya memucat. "Aku... itu... maksud aku... aku nggak pacaran kok sama Derian, Pah! Sumpah!"
"Siapa yang nanya kamu pacaran?" suara Bram meninggi, namun ada nada kecewa di sana. "Apa jangan-jangan selama ini kamu membohongi Papa? Kamu pacaran dengan manajer di kantor Papa?"
Vanya tidak bisa berkutik. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "I... iya Pah. Maaf. Tapi aku sudah putusin dia! Dia jahat, Pah! Dia selingkuh!"
Bram menghela napas panjang. Ia memegang tangan Vanya, mencoba menenangkan putri tunggalnya itu. "Vanya, sekarang kamu sudah dewasa. Sebenarnya... Papa setuju kalau kamu sama Derian. Dedikasinya bagus, dia pintar, dan dia bisa meningkatkan nilai perusahaan kita. Papa tadinya berpikir untuk menjodohkan kalian secara resmi agar masa depanmu dan perusahaan terjamin."
"Tapi Pah—!"
Tepat saat itu, Reyhan masuk ke ruangan. Langkahnya terhenti sejenak melihat pemandangan mengharu biru itu. Ia melangkah mendekat dan meletakkan kunci mobil di atas meja di depan Bram.
"Ini kunci mobilnya, Tuan," ucap Reyhan datar.
Namun sebelum ia berbalik, matanya bertemu dengan mata Vanya. Ada tatapan yang sulit diartikan di sana—dingin, namun seperti ada luka yang tersembunyi. Reyhan telah mendengar semuanya. Tentang bagaimana Papa Bram lebih menginginkan Derian, sang manajer sukses, daripada dirinya yang hanya dianggap "supir kontrak".
Vanya merasa dadanya sesak. Ia merasa Reyhan sedang cemburu, atau mungkin... kecewa.
"Rey, tunggu!" panggil Vanya saat Reyhan hendak melangkah pergi ke arah gudang belakang.
Reyhan berhenti, tapi tidak berbalik sepenuhnya.
"Eh... soal tadi... ucapan Papa jangan didengar ya!" Vanya berdiri dan mengejar Reyhan. Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sejumlah uang tunai. "Ini buat kamu. Kamu nggak ngojek kan hari ini karena mengantar aku? Anggap saja ini ongkos ganti rugi karena kamu sudah menjagaku di kampus."
Reyhan menatap uang di tangan Vanya, lalu menatap wajah gadis itu. Sebuah senyum tipis yang getir menghiasi bibirnya. "Terima kasih, Nona. Anda memang sangat royal kepada supir Anda."
Reyhan mengambil uang itu, lalu berbalik tanpa kata lagi.
"Rey, jangan salah paham ya! Aku nggak bermaksud begitu!" batin Vanya menjerit, namun suaranya tertahan di kerongkongan.
Bramantyo memerhatikan interaksi itu dengan kening berkerut. Ia melihat bagaimana mata Vanya terus mengikuti punggung Reyhan yang menghilang di balik pintu dapur. Ada sebuah rahasia besar yang sedang tumbuh di rumah itu, sebuah rasa yang tidak seharusnya ada, namun kini mulai membakar segalanya.
Vanya kembali duduk di samping Papanya dengan bahu yang lunglai. Hari ini ia memenangkan pertempuran di kampus, tapi ia merasa baru saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga di rumahnya sendiri.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan