"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Dilema
Selama perjalanan, Sukma lebih banyak diam. Ia termenung sambil menatap kosong suasana malam yang terhampar di luar jendela mobil.
Sesekali Sukma menghela napas berat, berusaha menghempas beban yang kian sesak memenuhi rongga dada. Ia mencoba menghibur diri, menguatkan hati dengan untaian zikir yang terus terlantun lirih di dalam batinnya.
Biasanya, sebelum waktu menunjuk angka dua belas malam, ia dan almarhum kakaknya akan berbincang santai di taman belakang. Mereka kerap bercanda dan tertawa lepas. Namun kini, semua momen indah yang pernah dilewatinya bersama Hamdan telah menjelma menjadi kenangan yang menyakitkan.
Satu hal yang membuat Sukma teramat sedih dan terpukul adalah... cara kakaknya pergi meninggalkan dunia fana ini. Bunuh diri. Tindakan nekat yang seolah menjadi tiket VVIP untuk mendapat murka Tuhan-nya.
"Bi, apa... orang yang bunuh diri itu masih ada kesempatan untuk mencium bau surga?" tanyanya tiba-tiba, memecah suasana hening yang menyelimuti seisi kabin.
Bi Jayanti bergeming. Lidahnya kelu dan ia ragu untuk memberikan jawaban yang justru berisiko mematahkan hati nonanya.
"Bi..." panggil Sukma sekali lagi, suaranya terdengar begitu putus asa.
"Sukma," panggil Ayu lembut. Ia memutar sedikit tubuhnya ke belakang, mengunci atensi sepenuhnya pada Sukma yang duduk di baris kedua kabin.
Ayu menatap lekat netra Sukma, menyalurkan ketenangan lewat sorot matanya. "Bunuh diri memang perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Karena hidup dan mati adalah hak mutlak milik-Nya. Tapi ingat, kita nggak pernah punya hak untuk menutup pintu rahmat Allah bagi siapa pun, termasuk bagi Kak Hamdan."
Ayu menjeda kalimatnya sejenak, meraih jemari Sukma yang dingin, lalu mengusapnya perlahan. "Kak Hamdan udah selesai dengan urusannya di dunia. Sekarang, tugasmu bukan meratapi bagaimana cara dia pergi atau menghakimi tempatnya di akhirat. Tugasmu sebagai adik adalah menjadi jalan keluar baginya."
"Jalan keluar... maksud Kak Ayu?" tanya Sukma lirih, menuntut kejelasan.
"Jalan keluar untuk mengetuk pintu rahmat Allah bagi kakakmu melalui untaian doa dan istigfar yang tak pernah putus dari bibirmu, Sukma," tutur Ayu lembut. "Doa dari adik yang salihah adalah hadiah paling berharga yang Insya Allah bisa meringankan beban Kak Hamdan di sana, memohonkan ampunan yang mungkin tidak sempat dia ucapkan sebelum pergi," lanjutnya.
"Mulai sekarang, fokuslah untuk melanjutkan hidupmu dan selalu berprasangka baik pada Tuhan kita. Allah Maha Tahu seberat apa badai yang menghantam Kak Hamdan sampai dia kehilangan arah. Pasrahkan Kak Hamdan pada pemilik-Nya. Tugasmu sekarang adalah menjaga dirimu sendiri dan berproses menjadi insan yang pantas mendapat rida-Nya."
Sukma terdiam, menyimak setiap bait kalimat Ayu dengan dada yang bergemuruh. Ia membiarkan untaian kata itu meresap jauh ke dalam benak.
"Allah..." bisiknya lirih sembari memejamkan sepasang matanya sejenak--mengilhami desiran lembut yang menghadirkan setitik ketenangan.
Pukul setengah dua belas malam, roda mobil yang dikendarai oleh Arjuna menginjak tanah merah Desa W. Tepatnya, di halaman rumah luas milik keluarga Abimana.
Setelah membukakan pintu untuk istrinya, Arjuna berganti membuka pintu baris kedua kabin, mempersilakan Sukma dan Bi Jayanti untuk keluar.
Di teras rumah, Opa Abimana dan Oma Kirana ternyata sudah berdiri menunggu. Kedua lansia itu menyambut kedatangan mereka dengan tatapan hangat serta senyum yang terulas tulus.
"Assalamu'alaikum, Opa, Oma," sapa Arjuna dan Ayu hampir bersamaan begitu menginjakkan kaki di teras.
"Wa'alaikumsalam..." balas kedua pemilik rumah dengan nada suara yang meneduhkan.
Setelah saling melepas rindu dengan berpelukan, Oma Kirana mempersilakan para tamunya untuk masuk ke dalam rumah. Walaupun sudah sepuh, wanita tua yang dulu mendapat julukan 'Istri Comel' itu tetap berjalan lincah. Bahkan, sisa-sisa kecomelannya di masa muda masih terlihat jelas. Begitu pula dengan Opa Abimana. Meski usianya tak lagi muda, tubuhnya masih terlihat tegap gagah, wajahnya memancarkan aura keteduhan, dan senyumnya pun masih tampak menawan.
"Mari, silakan duduk," ucap Oma Kirana ramah pada keempat tamunya.
Arjuna, Ayu, Sukma, dan Bi Jayanti segera mengindahkan ucapan pemilik rumah. Mereka mendudukkan diri di sofa ruang tamu yang terasa nyaman.
"Opa, Oma, seperti yang sudah Juna sampaikan lewat telepon tadi sore, mulai malam ini Sukma dan Bi Jayanti akan tinggal di desa ini," tutur Arjuna membuka obrolan, memecah keheningan malam.
Opa Abimana mengangguk pelan sembari menatap Arjuna dengan pandangan penuh kearifan yang menenangkan. "Kami sama sekali tidak keberatan, Jun. Bahkan, dengan senang hati kami menerima Sukma dan Bi Jayanti sebagai bagian dari Desa W."
"Alhamdulillah, terima kasih, Opa..." sahut Arjuna lega.
Obrolan berlanjut diselipi canda tawa yang mencipta keakraban, sebelum akhirnya Arjuna dan Ayu pamit untuk pulang kembali ke kota. Pasangan suami istri itu menolak dengan halus tawaran Oma Kirana untuk bermalam, karena tidak tega jika harus terlalu lama meninggalkan Aruna--putri kecil mereka.
Sepeninggal Arjuna dan Ayu, Oma Kirana mengantarkan Sukma dan Bi Jayanti menuju rumah joglo yang berdiri tepat di sebelah rumah utama. Ketiga wanita berbeda generasi itu berjalan beriringan sembari melanjutkan obrolan yang sempat terjeda. Bukan mengenai ujian berat yang tengah dialami Sukma, melainkan tentang tugas yang akan diemban Sukma sebagai bagian dari Yayasan Abimana.
"Sukma, mulai sekarang, anggap kami sebagai keluargamu sendiri. Jangan pernah segan untuk berbagi beban batin ataupun meminta bantuan pada kami. Insya Allah, kami akan membantu semampu kami," tutur Oma Kirana tulus begitu mereka sampai di depan pintu kamar.
Lagi dan lagi, segumpal daging yang bersemayam di dada Sukma seketika menghangat mendengar kalimat teduh yang menyiratkan empati sedalam itu.
Di dasar lubuk hatinya, ia sangat berharap, mulai malam ini takdir indah akan berbalik memeluknya dengan erat.
"Iya, Oma. Terima kasih banyak," ucap Sukma setelah terdiam sesaat.
"Istirahatlah. Tenangkan pikiranmu. Tanggalkan bebanmu di atas sajadah sebelum pergi memeluk mimpi," tutur Oma Kirana sembari mengusap lembut bahu Sukma, mengalirkan kehangatan dan kasih sayang seorang nenek yang kian menenteramkan jiwanya yang lelah itu.
Berbeda dengan Sukma yang kini menemukan kehangatan dalam dekapan kasih orang-orang baik, Xavier justru kian dirundung penyesalan yang mendalam.
Ia dilema dalam menentukan langkah. Tetap menjadi seorang pengecut dengan menyimpan rahasia busuk rapat-rapat, atau bersikap kesatria selayaknya The Unbeatable sejati: mengaku pada keluarganya dan menikahi wanita yang telah ia nodai marwahnya.
Xavier mengembus napas kasar, menyugar rambutnya frustrasi, lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Meski berusaha keras mengusir dosa besar yang terus membayang, kilasan ritual malam kelam itu terus menghantui ruang pikir, membuatnya kian tersiksa. Kamar mewah yang biasanya menjadi tempat paling nyaman, kini mendadak terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap dan siap menguburnya hidup-hidup.
Setiap kali ia memejamkan mata, isak tangis Sukma yang pilu seolah menggema di sudut ruangan, mencabik-cabik harga dirinya sebagai seorang lelaki.
Sang Narendra benar-benar kehilangan kedigdayaannya malam ini, tak berdaya dihantam gelombang rasa bersalah yang ia ciptakan sendiri.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier