Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Fajar Menyentuh Bumi
Keheningan yang merayap di lantai 88 Menara Narendra kini bukan lagi keheningan yang mencekam, melainkan sisa-sisa kedamaian yang rapuh setelah badai besar berlalu. Sinar matahari pagi yang semula tertahan oleh ketegangan, kini tumpah sepenuhnya menembus dinding kaca raksasa. Cahaya keemasan itu menyepuh lantai marmer, mengusir sisa-sisa hawa dingin yang sempat mengendap di sudut-sudut griya tawang.
Di tengah ruangan, Kenji masih berdiri mematung. Laptop titanium di tangannya terasa hangat—sebuah saksi bisu dari perang tak kasat mata yang baru saja meratakan sebuah bunker di Zurich. Jari-jemarinya yang beberapa menit lalu bergerak secepat kilat mendatangkan petir digital, kini beristirahat dengan tenang di sisi tubuhnya. Matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah ranjang medis di dalam kamar.
Di sana, di bawah pendar lampu indikator yang kini kembali hijau stabil, Hana perlahan menggerakkan jemarinya.
Kelopak mata gadis itu bergetar halus, seolah sedang berjuang melepaskan diri dari belenggu mimpi buruk yang panjang. Sebuah lenguhan lirih, nyaris tak terdengar, lolos dari bibirnya yang mulai kembali merona.
Surya Narendra yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya, langsung menegakkan punggung. Wajah sang konglomerat yang biasanya keras dan tak tersentuh oleh emosi, kini melunak penuh harap. "Hana... Ini Papa, Sayang. Kau bisa mendengarku?"
Kenji melangkah maju. Gerakannya begitu sunyi, seolah dia tidak ingin memecah keheningan pagi yang berharga itu. Setiap langkahnya terasa berbobot, penuh dengan wibawa seorang penguasa yang baru saja turun dari takhtanya untuk kembali menjadi manusia biasa. Dia berhenti tepat di ambang pintu kamar, membiarkan bayangannya memanjang di atas lantai kayu.
Hana membuka matanya sepenuhnya. Manik matanya yang jernih berputar perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah ayahnya yang sembap, sebuah pemandangan yang asing bagi Hana.
"Papa..." suara Hana parau, seperti gesekan daun kering. Dia mencoba untuk duduk, namun rasa lemas yang luar biasa langsung mengikat otot-otot tubuhnya.
"Jangan bergerak dulu, Nona," dokter pribadi yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa berbicara dengan lega. Dia dengan cekatan memeriksa pupil mata Hana dengan senter medis kecil. "Efek dari kejutan saraf itu sudah hilang sepenuhnya, tetapi tubuh Anda masih membutuhkan waktu untuk memulihkan pasokan oksigen ke otak. Anda aman sekarang."
Hana tidak terlalu mendengarkan penjelasan medis itu. Pandangannya bergeser, melewati bahu ayahnya, dan langsung terkunci pada sosok pria yang berdiri di ambang pintu. Pria dengan pakaian sederhana, tanpa topeng montir loak yang biasa dipakainya, namun memiliki sepasang mata yang sangat dia kenali.
"Kenji..." Hana berbisik. Sebuah senyuman tipis, tulus, dan penuh kehangatan mekar di wajahnya yang masih pucat. "Kau... kau tidak apa-apa?"
Mendengar pertanyaan itu, Surya Narendra tertegun. Putrinya baru saja lolos dari maut yang dikendalikan dari belahan bumi lain, dan hal pertama yang dia khawatirkan adalah kondisi pemuda yang selama ini menyamar di bengkel loak mereka. Surya menoleh ke arah Kenji, memberikan tatapan yang dipenuhi rasa hormat yang mendalam—sebuah pengakuan dari seorang penguasa dunia nyata kepada sang penguasa dunia siber.
Kenji tidak langsung menjawab. Dia berjalan mendekat, berhenti tepat di sisi ranjang yang berlawanan dengan Surya. Dipandangnya gadis yang beberapa saat lalu hampir kehilangan nyawanya hanya karena sebaris kode dari Swiss. Di mata Kenji, semua kalkulasi rumit, algoritma Olympus, dan kehancuran Aliansi Hitam mendadak kehilangan maknanya. Semua itu tidak lebih penting daripada helai napas teratur yang keluar dari dada Hana saat ini.
"Aku tidak apa-apa," jawab Kenji, suaranya mengalun sangat rendah, puitis, dan dipenuhi kelembutan yang jarang dia tunjukkan pada dunia. "Badainya sudah lewat, Hana. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu."
Hana mengangguk pelan. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Kenji. Pria di depannya ini tidak lagi tampak seperti montir yang pasrah menerima nasib buruk dunia. Ada aura agung yang melingkupinya, sesuatu yang membuat Hana merasa bahwa bahkan jika langit runtuh sekalipun, pria ini akan menahannya dengan sebelah tangan agar tidak menimpa dirinya.
"Terima kasih," kata Hana lirih, sebelum matanya kembali terasa berat. Efek obat penenang darurat yang disuntikkan dokter mulai bekerja, membimbingnya masuk ke dalam tidur alami yang menyembuhkan. Dalam hitungan detik, dia kembali terlelap, kali ini dengan napas yang jauh lebih tenang dan damai.
Surya Narendra perlahan melepaskan tangan putrinya dan menyelimutinya dengan hati-hati. Dia berdiri, lalu berbalik menghadapi Kenji. Dua pria paling berpengaruh di bidangnya masing-masing itu kini saling berhadapan dalam jarak dekat.
"Tuan Kenji... atau harus kupanggil Anda Zeus?" Surya membuka suara, nadanya penuh takzim. "Aku tidak tahu bagaimana cara membalas apa yang telah Anda lakukan hari ini. Anda tidak hanya menyelamatkan Narendra Group dari kehancuran hukum, tetapi Anda juga menyelamatkan nyawa putriku."
Kenji memutar laptop titanium di tangannya, memasukkannya ke dalam ransel taktis hitam yang tergeletak di atas sofa dengan satu gerakan halus. "Aku tidak melakukannya untuk Narendra Group, Surya. Aku melakukannya untuknya."
Surya mengangguk, memahami sepenuhnya arti kalimat itu. "Aku tahu. Tapi Aliansi Hitam... mereka tidak akan tinggal diam setelah Anda meratakan markas mereka di Zurich. Eksekusi mati terhadap Vanguard Legal dan Raden Baskoro juga pasti akan memicu guncangan hebat di tingkat regional. Jakarta akan menjadi sangat panas setelah ini."
Kenji berjalan menuju dinding kaca, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai bergeliat di bawah sana. Dari ketinggian lantai 88, mobil-mobil yang merayap di jalan protokol tampak seperti koloni semut yang sibuk. Di layar televisi besar di ruang tengah, berita utama masih menyiarkan secara langsung detik-detik penangkapan Raden Baskoro yang diseret keluar dari rumah mewahnya di Menteng dengan pakaian yang berantakan—sebuah kejatuhan paling dramatis dalam sejarah hukum Indonesia.
"Biarkan mereka berdarah di dunia nyata, Surya," kata Kenji tanpa menoleh. "Tugasmu adalah menggunakan pengaruh finansial dan politikmu untuk mengambil alih sisa-sisa aset Vanguard Legal yang telah kuhancurkan di bursa saham Singapura. Jadikan itu makanan bagi Narendra Group. Sementara untuk Aliansi Hitam..."
Kenji menjeda kalimatnya. Udara di sekitarnya mendadak kembali berdesir tajam.
"...mereka telah melakukan kesalahan terbesar dengan menggunakan Hana sebagai sandera. Di dunia digital, sekali kau memicu amarah Zeus, tidak akan ada tempat bersembunyi, bahkan di dalam jaringan terdalam sekalipun."
Tepat pada saat itu, earphone nirkabel di telinga Kenji bergetar pendek. Suara Poseidon masuk dengan nada bicara yang meledak-ledak, dipenuhi oleh tawa puas yang mengguncang jalur komunikasi privat mereka.
"Rajaku! Kau harus melihat ini!" seru Poseidon dari belahan bumi lain. "Sisa-sisa dewan direksi Aliansi Hitam di Jenewa dan London sedang panik luar biasa. Mereka mencoba menghapus seluruh jejak digital yang menghubungkan mereka dengan bunker Zurich yang kita bakar tadi. Tapi terlambat! Hades telah mengunci dompet kripto bayangan mereka yang berisi ratusan juta euro. Apakah kita harus mengurasnya sekarang?"
Kenji menyentuh sensor di telinganya. "Jangan sentuh uangnya, Poseidon."
"Eh? Kenapa, Rajaku?" Poseidon terdengar kecewa.
"Alirkan seluruh dana dari dompet digital mereka ke rekening badan-badan kemanusiaan internasional dan organisasi perlindungan anak di seluruh dunia secara acak," perintah Kenji datar. "Biarkan mereka melihat uang haram mereka menguap untuk sesuatu yang tidak bisa mereka sentuh kembali. Buat mereka bangkrut secara ideologi."
"Hahaha! Luar biasa! Perintah diterima, Zeus! Ini akan menjadi sumbangan paling berdarah dalam sejarah dunia siber!" Poseidon tertawa terpingkal-pingkal sebelum memutus jalur komunikasi.
Kenji menurunkan tangannya. Dia kembali menatap Surya Narendra yang masih setia berdiri di belakangnya. "Aku akan pergi dari menara ini sekarang. Keberadaanku di sini terlalu mencolok bagi satelit mata-mata asing yang mungkin sedang memindai Jakarta."
"Anda ingin kembali ke bengkel loak itu?" tanya Surya dengan nada heran. Bagi seorang konglomerat seperti dirinya, sangat sulit membayangkan bagaimana seorang dewa siber yang bisa mengguncang bursa saham dunia dalam sepuluh menit memilih untuk tinggal di sebuah tempat kumuh berdebu.
Kenji membalikkan tubuhnya, menyampirkan ransel taktisnya di salah satu bahu. Sepasang matanya kembali tenang, sedalam sumur tua yang tak berdasar.
"Tempat terbaik untuk menyembunyikan cahaya yang paling terang adalah di dalam kegelapan yang paling pekat, Surya," jawab Kenji puitis. "Biarkan dunia mencari Zeus di menara-menara kaca Eropa atau di dalam pusat data tersembunyi di Amerika. Mereka tidak akan pernah menduga bahwa badai yang menghancurkan mereka berasal dari sebuah obeng berkarat di pinggiran Jakarta."
Surya Narendra membungkuk dalam-dalam saat Kenji melangkah melewati dirinya. "Genta akan mengawal Anda keluar melalui jalur evakuasi rahasia bawah tanah, Tuan Besar."
Kenji tidak menyahut, dia hanya mengangkat sebelah tangannya perlahan sebagai tanda perpisahan. Langkah kakinya yang konstan terdengar menjauh, meninggalkan griya tawang lantai 88 yang kini telah sepenuhnya dikuasai oleh kehangatan matahari pagi.
Di pintu lift khusus yang mengarah langsung ke ruang bawah tanah, Genta sudah menunggu dengan wajah tegak lurus, menjaga setiap jengkal koridor dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Saat pintu lift besi itu terbuka dan menelan sosok Kenji, sang mantan perwira militer itu tahu bahwa dunia baru saja menyaksikan awal dari sebuah era baru. Era di mana hukum tidak lagi ditulis di atas kertas-kertas pengadilan yang bisa dibeli dengan belasan juta franc Swiss, melainkan ditulis dengan barisan kode biner yang mematikan dari balik bayangan Olympus.
Pintu lift tertutup dengan bunyi klik yang halus, membawa sang dewa kembali turun ke dunia manusia, siap untuk merajut kembali jaring-jaring pembalasannya yang belum sepenuhnya selesai.