"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Setelah menunggu hampir satu jam di gang itu, Meli duduk bersandar pada tembok yang dingin, memangku kedua bayi yang kini tertidur pulas setelah kelelahan menangis. Matanya terus menatap ujung gang, berharap ada sosok yang muncul dan menjemput mereka—mungkin orang tua, saudara, atau siapa pun yang mencari. Tapi harapan itu tinggal harapan. Tak ada satu pun bayangan manusia melintas, tak ada langkah kaki, tak ada suara.
Hanya sunyi, dan dua bayi malang yang kini tergolek tanpa masa depan yang pasti.
Dengan berat hati, Meli akhirnya memutuskan membawa mereka ke kantor polisi. Untung saja ada Polsek di ujung gang sana, tidak terlalu jauh, sekitar dua ratus meter dari tempat ia berdiri. Ia menghela napas panjang, menguatkan hatinya.
Perlahan, ia meletakkan kedua bayi itu kembali ke dalam kardus, memastikan selimut mereka cukup hangat dan posisi mereka aman. Ia mengangkat kardus itu dengan hati-hati, lalu berjalan cepat menuju kantor polisi.
Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu dan menyapa dengan suara sopan.
"Permisi, Pak..."
Dua orang polisi yang berjaga di meja resepsionis menoleh. Salah satunya—berpakaian santai dengan jaket terbuka—melirik ke arah kardus di tangan Meli dengan tatapan mencurigakan.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya singkat.
Meli melangkah maju. "Saya... saya baru saja menemukan dua bayi di ujung gang belakang. Mereka ditinggalkan begitu saja. Saya takut ini kasus pembuangan atau mungkin penculikan..."
Seketika, atmosfer berubah. Kedua polisi itu saling pandang, lalu wajah mereka mengeras.
"Jangan coba-coba bohong ya, Dik," ucap polisi yang satunya—lebih tua, nada bicaranya langsung menuduh. "Jangan kira kami nggak pernah lihat kejadian begini. Itu anak kamu sendiri, kan? Kamu buang, terus sok-sokan pura-pura nemu biar nggak kelihatan salah."
Meli terbelalak. "Apa?! Tidak, Pak! Demi apapun, saya hanya lewat dan menemukannya di sana. Saya bahkan nggak tahu siapa orang tua mereka!"
"Iya, iya, semua juga bilang begitu. Modusnya sama. Habis 'main', hamil, malu, terus bikin cerita dramatis seolah-olah pahlawan. Udah, kami nggak sebodoh itu, Dik." Polisi yang lebih muda menambahkan sambil menyilangkan tangan di dada.
"Tapi saya tidak berbohong! Kalau Bapak tidak percaya, mari ikut ke lokasi! Saya tunjukkan tempatnya!" suara Meli mulai gemetar, bukan karena takut, tapi karena kecewa dan marah. Ia tak menyangka akan diperlakukan seperti ini.
"Udah, udah, kami ini polisi, bukan pengasuh bayi. Kalau kamu punya masalah pribadi, selesaikan sendiri. Jangan nyeret kami. Bawa aja tuh anak kamu pulang."
Meli menatap mereka tak percaya. Dadanya sesak. Matanya panas.
Apa ini artinya menjadi perempuan muda di mata mereka? Tak peduli sebaik apa niatnya, tetap dicurigai. Tak peduli betapa tulus perbuatannya, tetap dicap buruk.
Tangannya meremas sisi kardus. Ia ingin marah, tapi ia tahu takkan ada gunanya berteriak. Ia menghela napas panjang, berusaha menahan tangis yang mengganjal di tenggorokan.
"Baik, kalau begitu... saya akan cari bantuan di tempat lain." ucapnya pelan, namun matanya bersinar oleh tekad.
Ia membalikkan badan dengan langkah berat, memeluk kardus yang kini seolah memuat seluruh dunia di dalamnya—dua jiwa kecil yang tak bersalah. Keluar dari kantor polisi dengan hati remuk, Meli terus melangkah tanpa arah pasti.
Langit malam menggantung kelabu, angin dingin menyelusup di antara sela-sela bajunya. Jalanan sudah lengang, lampu jalan menyala temaram, dan setiap langkah terasa seperti beban baru yang ditambahkan di pundaknya.
Ia menatap kedua bayi yang mulai bergerak pelan di dalam kardus.
"Kalian ini siapa, sebenarnya?" gumamnya lirih, suaranya nyaris tertelan angin malam. "Siapa orang tua kalian? Kenapa mereka tega meninggalkan kalian begitu saja? Apa kalian... tidak diinginkan?"
Pertanyaan itu menghantam dadanya sendiri. Ia menggigit bibir, menahan emosi yang mengaduk-aduk.
Ia berhenti sejenak di tepi trotoar, memandangi gelapnya gang di kejauhan. Sebuah pikiran buruk sempat melintas.
"Apa... aku harus kembalikan kalian ke tempat tadi saja? Mungkin... orang tua kalian akan datang nanti?"