seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengumuman tengah malam
Langit malam di atas Akademi Zenith tampak lebih gelap dari biasanya.
Awan hitam bergerak perlahan menutupi cahaya bulan, sementara lampu-lampu biru akademi memantul di permukaan gedung kaca seperti lautan cahaya dingin. Dari jendela kamarnya di Menara Orion, Alya bisa melihat para siswa berjalan menuju aula utama setelah pengumuman mendadak dari pihak akademi tersebar beberapa menit lalu.
Namun sejak menerima notifikasi itu, perasaan Alya tidak tenang.
Ia berdiri di depan jendela sambil menggenggam gelang digitalnya erat.
“Pengumuman penting…”
Entah kenapa, kata-kata itu terasa berat.
Terlebih setelah semua kejadian aneh sejak ia datang ke Zenith.
Tentang ayahnya.
Tentang Lorong Barat.
Tentang Project Elysium.
Dan terutama… tentang Reno.
Alya menghela napas panjang sebelum akhirnya keluar kamar.
Koridor Menara Orion malam itu jauh lebih ramai dibanding biasanya. Para siswa berbicara pelan satu sama lain sambil berjalan cepat menuju lift.
“Apa ada masalah di akademi?”
“Mungkin soal sistem AI tadi.”
“Katanya Direktur Adrian sendiri yang akan bicara.”
Alya ikut masuk ke lift bersama beberapa siswa lain.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung hening saat seorang siswa melirik Alya sekilas.
“Dia lagi…”
Bisikan itu kecil, tetapi cukup terdengar.
Alya pura-pura tidak mendengar.
Ia mulai terbiasa dengan tatapan aneh orang-orang sejak insiden simulasi.
Namun tetap saja rasanya tidak nyaman.
Lift akhirnya tiba di lantai dasar.
Alya berjalan keluar menuju jalur utama akademi yang dipenuhi cahaya malam. Angin dingin berembus lembut di antara pepohonan sintetis yang bercahaya biru kehijauan.
Ratusan siswa bergerak menuju aula utama seperti arus manusia tanpa suara.
Semuanya terasa aneh.
Terlalu tenang.
Saat Alya sedang berjalan, seseorang tiba-tiba menyamai langkahnya.
“Halo, ranking 127.”
Alya langsung mengenali suara itu.
Hana.
Alya tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.
“Kamu sengaja mengejekku?”
“Sedikit.”
Hana tersenyum jahil lalu menyerahkan minuman kaleng dingin padanya.
“Kamu kelihatan stres.”
“Aku memang stres.”
“Minum dulu.”
Alya menerima minuman itu pelan.
“Terima kasih.”
Mereka berjalan bersama menuju aula utama.
“Aku tidak suka suasana malam ini,” kata Hana tiba-tiba.
Alya menoleh.
“Kamu juga merasa aneh?”
Hana mengangguk pelan.
“Zenith jarang membuat pengumuman mendadak malam-malam begini.”
Jantung Alya kembali berdegup tidak nyaman.
Mereka akhirnya tiba di aula utama.
Tempat itu jauh lebih megah saat malam hari. Langit-langit transparannya memperlihatkan awan gelap di atas akademi, sementara ribuan lampu hologram melayang di udara seperti bintang buatan.
Semua siswa sudah duduk rapi.
Suasana sangat hening.
Alya dan Hana duduk di barisan tengah.
Beberapa menit kemudian, lampu aula perlahan meredup.
Layar hologram raksasa menyala terang.
Dan Direktur Adrian muncul di atas panggung.
Pria tua itu tetap terlihat tenang dan berwibawa dengan jas hitam panjangnya.
“Selamat malam,” suaranya menggema di seluruh ruangan.
Tidak ada seorang pun yang bicara.
“Saya tidak akan berbasa-basi.”
Tatapan Adrian menyapu seluruh aula.
“Malam ini terjadi gangguan pada sistem evaluasi akademi.”
Bisikan kecil mulai terdengar.
Alya langsung menegang.
“Gangguan tersebut berasal dari satu siswa.”
Layar hologram berubah.
Dan nama Alya muncul besar di tengah aula.
Alya Rahman.
Seluruh ruangan langsung gempar.
Hana membelalakkan mata.
“Astaga…”
Wajah Alya langsung pucat.
Semua siswa kini menatapnya.
Bisikan mulai terdengar dari segala arah.
“Itu dia.”
“Anak beasiswa itu?”
“Serius?”
Alya merasa dadanya sesak.
Ia ingin menghilang saat itu juga.
Namun Adrian melanjutkan dengan nada tetap tenang.
“Sistem AI Zenith gagal membaca data neural siswa Alya Rahman.”
Layar berubah memperlihatkan grafik kacau dari simulasi tadi.
“Dalam sejarah akademi ini, kejadian seperti itu belum pernah terjadi.”
Ruangan semakin ribut.
Alya menggigit bibir kuat-kuat.
Ia merasa seperti terdakwa di depan seluruh akademi.
“Namun,” lanjut Adrian, “setelah pemeriksaan awal, kami menemukan sesuatu yang lebih penting.”
Layar hologram tiba-tiba mati beberapa detik.
Lalu muncul simbol aneh berbentuk lingkaran bercabang.
Mata Alya langsung membesar.
Itu simbol yang sama dengan kalung peninggalan ayahnya.
Tangannya refleks menyentuh kalung di balik seragam.
“Simbol itu…” bisiknya pelan.
Di sisi lain aula, Reno yang duduk di belakang langsung menatap panggung tajam.
Ekspresinya berubah serius.
Adrian kembali bicara.
“Sebagian dari kalian mungkin tidak mengenal lambang ini.”
Suasana aula sunyi total.
“Namun lambang tersebut pernah menjadi bagian dari proyek terbesar yang pernah dibuat Zenith.”
Jantung Alya berdetak keras.
Project Elysium.
Nama itu langsung muncul di pikirannya.
Dan benar saja—
“Project Elysium.”
Ruangan langsung dipenuhi bisikan bingung.
“Apa itu?”
“Aku pernah dengar namanya…”
“Bukankah proyek itu ditutup bertahun-tahun lalu?”
Tatapan Adrian perlahan berubah lebih tajam.
“Dua puluh tahun lalu, Zenith menciptakan proyek penelitian untuk menghubungkan kecerdasan manusia dengan sistem AI generasi baru.”
Layar hologram menampilkan berbagai data dan gambar laboratorium futuristik.
“Tujuannya adalah menciptakan manusia dengan kemampuan berpikir melampaui batas normal.”
Alya menahan napas.
“Ayahmu…” suara kecil Reno terdengar pelan dari belakang.
Namun Alya tidak sempat menoleh.
“Project Elysium dipimpin oleh beberapa peneliti terbaik Zenith,” lanjut Adrian. “Salah satunya adalah Arman Rahman.”
Nama itu menggema di seluruh aula.
Dan untuk sesaat…
Dunia Alya terasa berhenti.
Ayahnya.
Benar-benar disebut di depan seluruh akademi.
Bisikan para siswa langsung semakin ramai.
“Arman Rahman?”
“Bukankah dia peneliti yang menghilang?”
“Katanya proyek itu menyebabkan kecelakaan besar.”
Kepala Alya mulai terasa pening.
Ia memandang Adrian dengan mata gemetar.
“Tidak…”
Selama ini ibunya selalu mengatakan ayahnya hanyalah pekerja biasa.
Namun sekarang…
Semuanya ternyata bohong.
“Karena alasan tertentu,” lanjut Adrian tenang, “Project Elysium dihentikan secara resmi.”
Layar hologram berubah menjadi tulisan besar:
PROJECT CLOSED.
“Tetapi,” suara Adrian berubah lebih dalam, “beberapa data proyek tidak pernah ditemukan.”
Ruangan mendadak sunyi lagi.
Tatapan Adrian perlahan jatuh tepat ke arah Alya.
Dan itu membuat bulu kuduk Alya meremang.
“Munculnya gangguan sistem pada siswa Alya Rahman menunjukkan kemungkinan bahwa… warisan Project Elysium belum benar-benar hilang.”
Ruangan langsung kacau.
Semua siswa mulai berbicara bersamaan.
“Apa maksudnya?”
“Warisan?”
“Jangan-jangan dia eksperimen?”
Wajah Alya pucat pasi.
Eksperimen?
Tidak…
Tidak mungkin.
Hana langsung memegang lengan Alya.
“Jangan dengarkan mereka.”
Namun Alya hampir tidak bisa berpikir.
Pikirannya penuh.
Suara-suara di aula terasa semakin jauh.
Lalu tiba-tiba—
Brak!
Pintu aula utama terbuka keras.
Semua orang menoleh.
Seorang pria berseragam keamanan masuk tergesa.
“Direktur Adrian!”
Ekspresi Adrian langsung berubah.
“Ada apa?”
Pria itu terlihat panik.
“Sistem utama Menara Zenith diretas.”
Ruangan langsung hening.
“Apa?” gumam banyak siswa bersamaan.
Mustahil.
Zenith memiliki sistem keamanan terbaik di negara ini.
Siapa yang bisa meretasnya?
Lampu aula mendadak berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu seluruh layar hologram berubah hitam.
Suasana langsung gelap.
Beberapa siswa mulai panik.
“Ada apa?!”
“Lampunya!”
Tiba-tiba sebuah suara muncul dari speaker aula.
Suara pria.
Terdistorsi.
“Zenith telah menyembunyikan kebenaran terlalu lama.”
Seluruh ruangan membeku.
Adrian menatap layar mati dengan ekspresi dingin.
“Siapa kamu?”
Suara itu tertawa pelan.
“Kalian menyebut Project Elysium sebagai kegagalan.”
Layar hologram tiba-tiba menyala lagi.
Namun kali ini bukan logo akademi yang muncul.
Melainkan rekaman laboratorium rahasia.
Orang-orang berjas putih.
Mesin besar.
Dan seorang pria muda…
Ayah Alya.
Mata Alya langsung membesar.
“Itu Ayah…”
Suara misterius kembali terdengar.
“Tetapi kebenaran sebenarnya jauh lebih mengerikan.”
Rekaman berubah kacau.
Alarm berbunyi.
Orang-orang berlari panik.
Lalu terdengar suara ledakan besar.
Beberapa siswa menjerit kecil.
“Project Elysium bukan eksperimen untuk menyelamatkan manusia.”
Suara itu terdengar semakin dingin.
“Melainkan proyek untuk menciptakan manusia yang bisa dikendalikan AI.”
Ruangan langsung sunyi total.
Wajah Adrian berubah gelap.
“Matikan siaran ini sekarang,” perintahnya keras.
Namun layar terus berjalan.
Dan tepat sebelum rekaman berakhir…
Wajah ayah Alya muncul sangat jelas.
Pria itu menatap kamera sambil berkata:
“Kalau sesuatu terjadi padaku… lindungi Alya.”
Tubuh Alya langsung membeku.
Darahnya terasa dingin.
“Ayah…”
Lalu—
Seluruh layar mati bersamaan.
Lampu aula kembali menyala.
Suasana langsung kacau total.
Para siswa berdiri panik sambil berbicara keras.
“Apa tadi nyata?!”
“Tidak mungkin…”
“Zenith menyembunyikan semua itu?”
Sementara Alya hanya duduk diam.
Air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia mendengar suara ayahnya lagi setelah bertahun-tahun.