Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Pertemuan Tahunan dan Bara yang Memercik
Kawasan industri terbengkalai di pinggiran Jakarta Selatan malam itu berubah menjadi lautan jaket kulit dan deru mesin yang memekakkan telinga. Ratusan motor dari berbagai faksi geng motor terbesar di ibu kota berkumpul untuk menghadiri pertemuan tahunan—sebuah tradisi sakral untuk menjaga gencatan senjata, atau justru menjadi panggung bagi deklarasi perang baru.
Di tengah-tengah area, sebuah ring lingkaran besar dibentuk dari barisan motor yang menyalakan lampu utamanya, menerangi area tengah bagai panggung coliseum.
Vrrroooammm!
Suara lengkingan mesin Kawasaki H2 Carbon yang sangat khas memecah keriuhan. Rombongan VULTURES memasuki area dengan formasi penuh yang luar biasa intimidatif. Jayden Xeno Frederick memimpin di depan, mengenakan jaket kulit hitam kebanggaannya yang dibiarkan terbuka, menampilkan kaus hitam polos di dalamnya. Aura dominasi yang menguar dari tubuh tinggi tegapnya seketika membuat faksi-faksi kecil menunduk hormat, memberi jalan bagi sang penguasa Jakarta Pusat.
Di belakang Jayden, Shaka, Erlan, dan Haikal mengiringi dengan pandangan mata yang waspada.
"Ramai juga malam ini, Bos," celetuk Erlan setelah menurunkan standar motornya. "Anak-anak Wolfangs udah stand by di sudut barat. Tatapan si Alka dari tadi kayak mau nelan orang hidup-hidup."
Jayden turun dari motornya, meletakkan helm full-face di atas tangki bensin. Sepasang netra hitamnya bergerak lambat, menyapu area barat hingga pandangannya mengunci sosok Alkana Putra Adhytama yang sedang bersedekap dada dengan wajah mengeras. Di sisi Alka, Nalendra, Rafka, dan Matthew juga menatap kubu Vultures dengan kilat permusuhan yang kentara.
Jayden tidak membalas tatapan itu dengan amarah. Ia justru berjalan dengan langkah tenang namun angkuh menuju meja bundar di tengah area, tempat para petinggi geng berkumpul.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Smith, Elleanor sedang duduk di tepi ranjang kamarnya dengan perasaan campur aduk. Di tangannya, ponsel putih yang sudah dimodifikasi oleh Haikal itu tergeletak diam. Ia baru saja menyadari bahwa ia benar-benar terisolasi dari Alka dan teman-temannya.
"Brengsek lo, Muka Tembok," umpat Elle lirih, menatap langit-langit kamarnya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Kenzie masuk dengan setelan kasual, memegang segelas susu hangat untuk adiknya. "Belum tidur, El? Masih mikirin kejadian di sekolah tadi?" tanya Kenzie lembut, menduduki kursi belajar di dekat kasur Elle.
Elle menghela napas, menerima gelas itu. "Gua cuma ngerasa kayak tahanan kota, Bang. Di rumah dijagain abang-abang posesif, di sekolah dikepung sama cowok psikopat berkedok ketua geng. Hidup gua yang damai di Amerika berasa ilang dalam semalam."
Kenzie tersenyum tipis, mengacak rambut Elle dengan sayang. "Abang cuma gak mau lo kenapa-napa, El. Keluarga Frederick itu punya sisi gelap yang gak main-main. Tapi lo tenang aja, Gua sama Kenzo gak bakal biarin lo disentuh sama Jayden. Malam ini, anak buah abang juga lagi pantau pergerakan Vultures."
Mendengar kata 'Vultures', indra perasa Elle sebagai seorang racer langsung terpelatuk. "Emangnya Vultures lagi ada acara apa malam ini, Bang?"
"Pertemuan tahunan geng motor di Jaksel. Jayden pasti ada di sana. Makanya malam ini pengawalan di rumah kita diperketat, takutnya anak buahnya bertindak nekat selagi ketuanya gak ada," jelas Kenzie tanpa curiga.
Begitu Kenzie keluar dari kamar setelah mengucapkan selamat tidur, mata Elleanor langsung berkilat cerah. Sifat barbarnya dan darah Queen Racer-nya mendadak bergejolak.
"Pertemuan tahunan, ya?" gumam Elle dengan seringai liar yang sudah lama tidak muncul di wajah cantiknya. "Jayden pikir dia bisa ngurung gua di sekolah? Malam ini gua bakal tunjukin ke dia, kalau burung hantu yang dia kurung... punya sayap buat terbang bebas."
Dengan gerakan cepat, Elle mengganti pakaian tidurnya dengan celana jins hitam, kaus gelap, dan jaket bomber andalannya. Ia membuka jendela kamarnya di lantai dua, menatap pohon mangga besar yang berada tepat di samping balkon—sebuah keahlian memanjat yang sudah terasah sejak ia hobi mencuri mangga kepala sekolah di Amerika. Dalam beberapa gerakan tangkas, Elle berhasil turun ke area halaman belakang tanpa terdeteksi oleh pengawal jurnalan abangnya, lalu melompati pagar samping dan menyetop taksi yang lewat di jalan raya.
Kembali ke area sirkuit terbengkalai Jaksel, diskusi formal antar geng baru saja selesai, namun ketegangan utama justru baru dimulai.
Alka melangkah maju ke tengah lingkaran cahaya lampu motor, berdiri tepat di hadapan Jayden yang sedang menyalakan sebatang rokok dengan pemantik zippo-nya.
"Urusan wilayah barat udah selesai, Jayden," ucap Alka, suaranya lantang, menggema di antara ratusan pasang telinga yang kini mendadak senyap. "Tapi sekarang, gua mau bahas urusan pribadi gua sama lo."
Jayden mengembuskan asap rokoknya perlahan ke udara, menatap Alka dengan pandangan meremehkan dari balik jajaran asap tipis. "Gua gak punya urusan pribadi sama pecundang, Adhytama."
"Jangan berlindung di balik nama Vultures, bajingan!" bentak Alka emosi, memajukan tubuhnya. "Gua tahu lo manipulasi sistem sekolah buat mindahin Elle ke kelas lo. Gua juga tahu lo nyita dan ngerusak ponsel dia! Lepasin cengkeraman gila lo dari Elle, atau malam ini gua pastiin lo keluar dari sini dengan tubuh hancur!"
Mendengar nama Elleanor disebut di depan ratusan anggota geng motor se-Jakarta, sorot mata Jayden langsung berubah drastis. Rokok di selipan jarinya ia jatuhkan ke aspal, lalu diinjaknya hingga padam. Aura kegelapan yang begitu pekat dan posesif seketika meledak dari tubuh sang ketua Vultures. Sisi obsesifnya merasa terhina karena milik mutlaknya diklaim oleh orang lain di depan publik.
Jayden maju satu langkah, mengikis jarak hingga ia dan Alka saling berhadapan dengan dada yang hampir bersentuhan.
"Gua udah peringatin lo berkali-kali, Adhytama," desis Jayden, suaranya begitu rendah, berat, dan sarat akan ancaman membunuh yang nyata. "Elleanor itu udah mutlak ada di dalam sangkar gua. Sekali lagi lo sebut nama dia pakai mulut kotor lo itu... gua pastikan malam ini jadi malam terakhir lo bisa ngeliat aspal Jakarta."
"Gua gak takut sama ancaman lo, brengsek!" teriak Alka, tangannya sudah melayang, siap mendaratkan pukulan mentah ke rahang tegas Jayden.
Sreeett!
Tepat sebelum tinju Alka mengenai wajah Jayden, suara decitan ban mobil taksi yang mengerem mendadak di tepi lingkaran motor membuat semua orang menoleh serentak.
Pintu taksi terbuka, dan dari dalam sana, Elleanor melangkah keluar dengan gaya barbarnya yang kelewat santai, berjalan membelah kerumunan ratusan anak geng motor yang langsung melongo menatap kehadirannya.
"Heh, Muka Tembok! Serigala Jalanan! Bisa gak sih semalam aja lo berdua gak usah rebutan gua kayak rebutan bansos?!" seru Elle lantang sambil berkacak pinggang di tengah lingkaran.
Jayden dan Alka membeku seketika. Seringai kemenangan di wajah Jayden lenyap, digantikan oleh kilat amarah yang begitu gelap saat melihat gadis yang seharusnya aman di dalam rumahnya, kini justru berdiri di tengah-tengah sirkuit malam yang berbahaya ini. Sisi obsesif Jayden mendadak berada di ambang batas kegilaan melihat mangsanya kembali berontak keluar dari sangkar.