SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 APARTEMEN GIAN DAN REO
Di lorong Apartemen lantai 2, tepat di depan pintu bernomor 15, Reo berdiri bersandar sambil bersedekap dada. Wajahnya ditekuk masam, sebelah kakinya mengetuk-ngetuk lantai tak sabar seperti penagih utang yang diabaikan. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu di sana karena kunci apartemennya dibawa oleh teman serumahnya yang tak lain dan tak bukan adalah si es balok.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu muncul dari ujung lorong. Gian berjalan dengan santainya, menenteng sebuah kantong kresek putih di tangan kanan, sementara tangan kirinya masuk ke dalam saku celana. Tatapan matanya lurus ke depan, sedingin kulkas dua pintu.
Yang membuat Reo naik pitam adalah, Gian berjalan melewatinya begitu saja! Pemuda itu nyelonong membuka pintu apartemen tanpa menoleh sedikit pun, seolah Reo yang berdiri di sebelahnya ini hanyalah sebuah pot tanaman hias.
"Heeeey, Gian?!" pekik Reo kesal sampai urat lehernya menonjol. "Lo nggak lihat gue berdiri di sini dari tadi?!"
Gian menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia berbalik badan perlahan, lalu mendengus dengan senyum miring yang luar biasa menyebalkan. "Oh, ada orang toh? Sorry, tadi gue kira lo pajangan yang baru dibeli ibu kos. Makanya gue lewat aja," ejek Gian dengan nada datar namun sangat memancing keributan.
"Wah, ngajak ribut nih anak!" Reo yang kehabisan kesabaran langsung meraih tas ransel Gian yang sedari tadi ia bawakan, lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah kepala temannya itu. "Makan tuh pajangan!"
Namun, dengan refleks ala ninja kelas atas, Gian menangkap tas yang melayang itu hanya dengan satu tangan tanpa bergeser seinci pun dari posisinya. Tatapan Gian berubah menjadi tajam bak elang yang siap menerkam mangsa.
"Berani-beraninya lo ngelempar tas gue," desis Gian, auranya mendadak gelap.
Bukannya takut, Reo malah menjulurkan lidahnya sambil memutar bola mata. "Nye nye nye nye! Bodo amat!" ledek Reo sambil menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam apartemen melewati Gian.
"Dasar kau Reo jelmaan curut!" pekik Gian kehilangan cool-nya. Dengan gerakan kilat, tangan kokoh Gian menyambar kerah seragam belakang Reo tepat sebelum pintu tertutup. Ia menariknya sekuat tenaga hingga Reo terhuyung ke belakang dengan posisi nyaris tercekik.
"Eh, eh, eh! Ampun! Ampun, Tuan Muda Gian! Cekekannya tolong dilonggarin dikit, nyawa gue udah di ujung tenggorokan nih!" seru Reo panik sambil menepuk-nepuk tangan Gian. "Gue janji nggak bakal lempar tas lo lagi, deh! Suwer!"
Melihat wajah melas Reo yang sudah seperti kucing tercebur got, tatapan mematikan Gian akhirnya meredup. Ia mendengus kasar, lalu melepaskan cengkeramannya dari kerah Reo. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gian membalikkan badan, berjalan ke arah dapur kecil mereka, dan meletakkan kantong kresek putihnya di atas meja makan dengan gerakan sangat hati-hati—seolah kresek itu berisi bom waktu berlian. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu pelan.
Reo yang masih mengelus-elus lehernya hanya bisa mendumel pelan. "Dasar es balok kutub utara. Giliran sama gue galaknya ngalahin ibu tiri."
Namun, gerutuan Reo seketika terhenti saat hidungnya menangkap sebuah aroma manis yang menguar dari arah dapur. Matanya tertuju pada kantong kresek putih yang baru saja diletakkan Gian.
"Apaan nih? Tumben banget si manusia kulkas bawa tentengan," batin Reo penasaran.
Layaknya seekor rakun yang menemukan harta karun di tempat sampah, Reo mengendap-endap mendekati meja dapur. Dengan perlahan, ia membuka ikatan kresek tersebut. Saat melihat isi di dalamnya, mata Reo langsung berbinar-binar memancarkan cahaya ilahi.
"Wah gila! Ini kan kue bolu cokelat! Bentuk dan wanginya mirip banget sama bekalnya Gretta kemaren!" gumam Reo.
Air liurnya nyaris menetes membayangkan kelembutan kue itu. Tanpa berpikir dua kali, apalagi memikirkan nasib nyawanya nanti, Reo langsung menyomot potongan pertama.
"Mmm! Gila, enak banget! Lumer di mulut, meresap sampai ke relung hati!" serunya dalam hati. Satu potong masuk, disusul potongan kedua, ketiga, hingga tanpa sadar, tangan Reo bergerak lebih cepat dari mesin ketik. Dalam hitungan kurang dari lima menit, kue bolu cokelat yang berharga itu ludes tak bersisa di perut karet seorang Reo.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Gian sedang menikmati momen kedamaiannya. Di bawah guyuran shower air hangat, pemuda dengan badan indahnya itu mengusapkan busa sabun dengan tenang dan penuh penghayatan. Sambil sesekali memejamkan mata.
Setelah ritual mandinya selesai, Gian keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa segar. Ia mengenakan kaos tanpa lengan berwarna putih tulang dengan sablon angka '22' besar di bagian dada—dipadukan dengan celana pendek hitam yang sengaja dirobek di bagian lutut. Tak lupa, ia mengoleskan deodoran, lalu mengacak-acak rambutnya yang masih setengah basah di depan cermin. Sempurna.
Dengan langkah tegap dan suasana hati yang berbunga-bunga (di dalam hati), Gian berjalan keluar kamar menuju dapur, teringat bahwa dia memiliki kue cokklat di atas meja makan.
Gian membuka ikatan kresek putih di atas meja dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Namun, saat tangannya merogoh ke dalam...
Kosong.
Gian mengerjap. Ia membuka kresek itu lebih lebar. Masih kosong. Ia bahkan membalik wadah plastik di dalamnya dan mengocoknya ke udara. Tidak ada satupun remah yang jatuh. Hanya tersisa wadah plastik transparan yang terlihat sangat menyedihkan dan bau cokelat yang seolah mengejeknya.
Alis Gian menukik tajam hingga menyatu. Urat di pelipisnya berdenyut kencang. Ia tahu betul siapa satu-satunya makhluk hidup di apartemen ini yang memiliki kapasitas lambung seperti lubang hitam.
Gian menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh udara di paru-parunya, lalu berteriak hingga membuat cicak di dinding berjatuhan.
"REOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!"
Di kamarnya, Reo yang baru saja selesai mandi dan sedang sibuk berganti pakaian, tersentak kaget. Ia buru-buru keluar dari pintu kamarnya hanya dengan mengenakan celana pendek kolor dan handuk kecil yang ia usap-usapkan ke kepalanya yang basah.
"Apaan sih teriak-teriak kayak Tarzan kesurupan?! Gue nggak budek kali, gue denger!" sahut Reo santai tanpa dosa, sambil terus mengeringkan rambutnya. Ia menatap Gian yang saat ini berdiri di dapur dengan wajah merah padam seperti panci presto yang mau meledak.
"KAMU—!" Gian menunjuk Reo dengan jari telunjuk yang gemetar menahan amarah, tangan kirinya mencengkeram wadah plastik kosong. "Kamu berani-beraninya makan dan menghabiskan kue cokelatku tanpa sisa?! SATU BUTIR REMAH PUN NGGAK ADA?!" pekik Gian frustrasi.
Reo menghentikan gerakan tangannya, menatap wadah kosong itu dengan wajah tanpa dosa. "Yaelah, maaf kali. Lagian dari aromanya aja gue udah tahu itu pasti kue buatan mamanya Gretta. Wanginya tuh menggoda banget, siapa yang kuat coba? Lagian ya..." Reo menggaruk dagunya, "Waktu di kelas, pas ditawarin Gretta, gaya lo sok-sokan nolak, nggak suka yang manis-manislah, apalah. Jadi daripada mubazir, ya mending gue pindahin ke perut gue."
"KAMUUUU...!" Gian kehabisan kata-kata. Tangannya masih menunjuk Reo dengan gemetar, wajahnya yang biasa dingin kini beringas ingin menelan Reo hidup-hidup.
"Lagian aneh banget sih lo," sela Reo bingung, melihat reaksi Gian yang sangat berlebihan. "Kenapa lo marah banget cuma gara-gara gue makan kuenya? Biasanya juga lo rela-rela aja makanan lo gue embat."
"KARENA AKU SUKA KUENYA, BODOH!" teriak Gian meledak, tanpa sadar mengutarakan isi hatinya yang paling dalam.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Reo menganga sejenak, lalu sebuah senyum tengil penuh kelicikan perlahan mengembang di wajahnya.
"Ohoooo..." Reo melangkah maju satu langkah, menatap Gian dengan pandangan menggoda. "Jadi ceritanya lo suka kuenya ya? Tapi bentar deh... waktu di kelas kenapa lo ragu-ragu jawabnya? Wah, jangan-jangan... lo marahnya bukan karena kuenya habis, tapi karena itu pemberian mertua—eh, maksudnya mamanya Gretta?" ejek Reo dengan alis naik turun bergantian.
SKAKMAT.
Wajah Gian yang tadi merah karena marah, kini berubah menjadi merah seperti tomat karena malu yang luar biasa. Bahkan warna merah itu menjalar hingga ke ujung telinganya.
"K-k-kamu benar-benar mau mati ya, Reo?!" Gian tergagap, langsung membuang muka ke arah kulkas sambil memeluk dadanya sendiri, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah tidak tertolong malunya. "S-siapa yang peduli soal itu! Gue cuma laper!"
Melihat Gian yang mati kutu dan salah tingkah (tsundere tingkat dewa), Reo tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Hahahaha! Ututututu, ngambek nih ceritanya? Iya deh, iya, gue minta maaf karena makan kue milik lo tanpa izin. Nanti gue janji bakal beliin gantinya, gue nitip sama Gretta besok di sekolah, oke?" bujuk Reo dengan nada bicara seperti membujuk anak TK.
"Sudahlah! Lupakan saja!" ketus Gian, membuang muka tak mau menatap Reo. "Dasar rakus. Aku mau masak saja, perutku sudah lapar gara-gara kau!"
"Yaudah, silakan Chef Gian. Gue mau balik ke kamar. Bye, Tuan Muda Tsundere!" seru Reo sambil tertawa ngakak, lalu kembali masuk ke kamarnya, meninggalkan Gian yang masih mendengus kesal.
Setelah memastikan Reo lenyap dari pandangan, Gian membuka pintu kulkas dengan penuh semangat, berharap bisa memasak sesuatu yang mewah untuk mengobati patah hatinya karena kehilangan kue cokelat.
Namun, realita kembali menamparnya keras-keras. Saat pintu kulkas terbuka, hanya ada hawa dingin yang berhembus. Di dalamnya hanya tersisa sebotol air mineral yang tinggal setengah, sebutir telur yang ukurannya mencurigakan, dan separuh bawang bombay yang sudah layu.
Gian menghela napas panjang hingga embun keluar dari mulutnya. "Sepertinya aku harus beli bahan makanan dulu," batinnya merana.
Dengan langkah pelan, Gian kembali ke kamarnya, mengambil ponsel dan dompetnya. Ia menyambar jaket hitam kebesarannya, lalu berjalan keluar dari apartemen menuju lift. Demi perutnya yang meronta-ronta, ia harus rela turun ke lantai bawah dan berjalan kaki sekitar 10 menit ke minimarket terdekat. Sepanjang jalan, ia terus meratapi nasibnya: Sudah kuenya dimakan curut, ketahuan salting, sekarang harus disuruh jalan malam-malam beli bahan makanan.
Benar-benar hari yang sangat sial, batin Gian tersenyum miris menahan tangis.