Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Sehari Dua Wanita
Mau tak mau Gerry pun bertanggung jawab untuk mengantar Emeery pulang. Di dalam mobil awalnya begitu sunyi, karena Gerry tak mengeluarkan sepatah kata pun, sedangkan Emeery melirik pendek-pendek.
"Maaf kalo aku terkesan terlalu ikut campur. Aku cuma seneng ngeliat mereka ketawa dan nyalurin hobi tanpa harus dimarahi," ucap Emeery setelah sekian lama. Dia mengakui supaya Gerry mau bicara dan tidak berpikir dia hanya gadis yang kekanak-kanakan. Kan Emeery mau sekali dayung dua pulau terlampaui, anaknya dapat, bapaknya juga dapat.
Gerry menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar, dia melirik Emeery sekilas yang memakai baju milik ibunya. Ketika diam begini, Emeery memang terlihat jauh lebih normal dan seperti gadis polos.
"Iya tapi yang mereka lakukan itu kesalahan, dan kesalahan itu harus diperbaiki!" balas Gerry dengan suaranya yang menekan, entah kenapa dekat dengan Emeery bawaannya pengen marah-marah terus.
"Aku tahu, diperbaiki bukan berarti dimarahi, tapi diarahkan. Aku juga pernah kecil," jawab Emeery sambil menggembungkan pipinya.
Ye, lu emang masih kecil!
Gerry membatin.
"Terus motivasi kamu menikah apa? Pengen punya anak yang bisa diarahkan?" tanya Gerry. Dia penasaran tentang ini, kenapa? Kenapa Emeery ngebet menerima perjodohan setelah tahu dia punya dua anak.
"Eum ...."
Emeery mulai berpikir keras, kalau bisa jawabannya harus meyakinkan Gerry kalau dia memang menginginkan pernikahan, bukan untuk sekedar main-main. Tapi apa?
"Jadi ibu kan memang mulia, walaupun anak-anak itu nggak keluar dari perut aku, apalagi jadi istri, katanya menikah itu ibadah paling panjang," papar Emeery dengan dramatis kayak orang bener. Padahal isi otaknya hanya duit, duit dan duit.
Gerry sedikit tertegun mendengar penuturan itu, ternyata Emeery kalau diajak bicara yang serius ada sisi benarnya juga. Namun, pembicaraan hanya terputus sampai di sana, karena tak berapa lama kemudian Emeery meminta belok dan tak jauh dari sana mereka telah sampai di kediaman gadis tersebut.
"Makasih ya, Om, udah anterin aku. Om mau mam—"
Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Gerry sudah turun dari mobil. Dia memang tidak bersikap romantis dengan membukakan pintu, tapi dia gentle untuk sekedar menyapa orang tua Emeery.
"Om beneran mau mampir?" tanya Emeery yang segera menyusul Gerry. Pria itu tidak menjawab karena ayah Emeery sudah menampakkan batang hidungnya.
"Permisi Om, sebelumnya kenalin, aku Gerry, anaknya Pak Jerry. Aku anterin Mery pulang karena mobilnya sedikit terkendala ulah anakku, dan sekarang sedang diperbaiki, sebagai orang tua aku mewakilinya minta maaf," terang Gerry sambil membungkukkan badan sopan.
"Oh iya, Ger, Om udah denger dari Pak Jerry. Santai saja, lagi pula seharian ini pasti Emeery merepotkanmu kan? Terima kasih ya sudah mengantarnya," balas Bryan sambil menepuk-nepuk bahu pria itu. "Kalo gitu ayo masuk dulu," lanjutnya mengajak Gerry masuk, tapi hari sudah hampir gelap. Dia juga baru dikirimi pesan bahwa malam ini seseorang akan datang.
"Maaf, Om, aku masih punya pekerjaan, jadi mungkin lain kali saja," tolak Gerry dengan lembut sambil melirik Emeery yang sedang ngupil tanpa memperhatikan sekitar. Gadis ini benar-benar apa adanya.
"Baiklah kalau begitu, lain kali pastikan kamu ke sini lagi," balas Bryan tanpa paksaan. "Emeery ...." Matanya beralih pada sang anak.
"Eh iya, Om, hati-hati di jalan ya, dadah," sambar Emeery dengan cepat, sambil menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri.
Setelah mobil Gerry menghilang dari pandangan, ayah dan itu baru masuk.
"Emang parah ya, Mer, lukisan di mobilnya?" tanya Bryan memastikan.
Tanpa banyak Emeery langsung mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah foto pada sang ayah. "Calon cucu Daddy sangat kreatif."
Melihat itu, Bryan langsung megap-megap.
"Ini sih calon-calon Emeery part dua," gumam Bryan.
***
Malam itu ternyata yang datang ke rumah Gerry adalah Mona. Gerry sudah meminta untuk bertemu di luar, tapi Mona kekeuh datang dengan membawa banyak sekali buah tangan. Dalam sehari, rumah itu ditandangi oleh dua wanita sekaligus.
"Kenapa begini? Kamu mau buat malam ini sebagai malam perpisahan?" tanya Gerry sambil melipat tangannya di dada, kini mereka sedang bicara empat mata. Gerry berpikir kedatangan Mona ini untuk berpamitan padanya karena dia sudah diterima di universitas luar negeri.
"Sikapmu dingin sekali, Kak, duduklah dulu, dari tadi kamu hanya berdiri dan berusaha mencecarku," balas Mona dengan suara manja dan bahasa tubuh yang merayu. Hingga akhirnya Gerry sedikit luluh, tapi masih memberi jarak.
"Sekarang apa? Apa yang ingin kamu sampein?" tanya Gerry lagi, dia tidak mau basa-basi jika akhirnya dia yang sakit hati.
Mona menarik napas dalam-dalam, kini wajahnya terlihat lesu.
"Aku gagal," jawabnya sambil menundukkan kepala. Hasil tesnya telah keluar, dan dia gagal untuk maju ke universitas luar negeri, saingannya terlalu berat.
"Apa? Maksudnya kamu nggak lulus tes?" Gerry tampak terkejut, tapi ada sedikit sisipan rasa bahagia.
Mona mengangguk-angguk kecil. "Iya, aku kurang kompeten, dan salah satunya mungkin karena aku nggak dapat dukungan dari kamu. Tapi nggak apa-apa aku masih bisa lanjutin semuanya di sini, dan aku mau ...." Mona meraih lembut tangan Gerry dengan wajah sok tegar. "Aku mau lanjutin hubungan kita. Aku tahu kamu maunya kita nikah, aku bakal turutin tapi tunggu tiga bulan buat aku mutusin ya."
Deg!
Jantung Gerry terasa berdebar sangat kencang. Apakah ini akhirnya? Setelah kekecewaan yang sempat hinggap, dan perkenalan orang baru yang terasa tak sejalan dengan kriterianya. Akhirnya Mona kembali dan memutuskan mau menikah dengannya.
"Kamu ragu ya? Takut aku main-main, it's okey aku ngerti, tapi percayalah aku bakal yakinin Kakak kalo aku juga serius," sambung Mona karena Gerry terus bergeming sambil menatapnya.
Tak banyak pembicaraan mereka di malam itu, dan akhirnya setelah makan malam Mona langsung memutuskan untuk pulang.
Dan ketika Gerry ingin beranjak ke kamar, tiba-tiba putra sulungnya menyeletuk. "Kalo Daddy cuma mikirin diri sendiri, silahkan pilih Tante Mona. Aku sama Sansan nggak apa-apa."
Mendengar itu, tentu semua orang yang ada di meja makan langsung tertegun. Kenapa bisa Ethan bicara begitu?
***
Emeery nemenin kalian ngabuburit 😍