NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Dian terbangun sebelum Subuh. Hari ini ibunya akan kembali ke Bintan. Entah mengapa, sejak semalam ia tak bisa tidur nyenyak.

Apa yang ibu katakan ada benarnya, pikir Dian. Uangnya akan ditabung saja. Aku takut suatu hari Andi benar-benar lalai menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah. Sekarang saja, uang nafkah sudah disalurkan lewat ibu mertuanya.

Batin itu terus berputar di kepalanya, mengiringi gerakan tangannya yang sedang mencuci beras di dapur. Suara air yang mengalir seakan menjadi saksi kegelisahan yang ia pendam sendirian.

Setelah itu, Dian menyalakan mesin cuci untuk memutar cucian. Ia lalu bersiap menunaikan salat Subuh terlebih dahulu, sebelum kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Saat Dian masuk ke kamar, ternyata Bu Eni juga sudah bangun. Ia hendak ke dapur ketika berpapasan dengan Dian.

“Eh, Nak, sudah bangun?” tanya Bu Eni dengan suara lembut.

“Iya, Bu. Sudah,” jawab Dian. “Ini mau salat Subuh. Yuk, salat bareng,” ajaknya sambil tersenyum kepada ibunya.

Usai salat, Dian dan Bu Eni menuju dapur. Dian membilas pakaian yang tadi ia putar di mesin cuci, sementara Bu Eni mulai menyiapkan sarapan. Awalnya Dian sempat menolak, namun Bu Eni bersikeras ingin memasakkan untuk putrinya.

“Nak, kemarin Sinta banyak memberi ibu oleh-oleh waktu berkunjung ke rumah,” ujar Bu Eni sambil memasak. “Ibu jadi rindu masa-masa kalian sekolah dulu, sebelum keluarga Sinta pindah.”

“Iya, Bu, benar yang ibu bilang,” jawab Dian sambil memasukkan pakaian ke pengering. “Dian juga rindu masa-masa itu, saat hidup belum punya banyak beban, selain belajar.”

Ucapan itu meluncur pelan, membawa kenangan lama yang terasa begitu jauh.

Bu Eni memasak nasi goreng kampung dengan cabai hijau, makanan kesukaan Dian, lalu menyeduh teh hangat. Aroma sederhana itu memenuhi dapur, membawa rasa nyaman yang jarang Dian rasakan belakangan ini.

“Bu, Pak Wira sama Bu Seli jam berapa jemput ibu?” tanya Dian sambil duduk berhadapan dengan ibunya.

“Katanya jam delapan. Pak Wira mau cepat, Nak,” jawab Bu Eni lembut. Pandangannya tak lepas dari putri semata wayangnya. “Dian, kamu nggak apa-apa ibu tinggal?”

Sejujurnya, Dian masih ingin ibunya lebih lama di sini. Ia rindu, sangat rindu. Namun keadaan membuatnya harus belajar menahan perasaan itu.

“Enggak dong, Bu,” jawabnya, meski nadanya dibuat manja. “Tapi Dian masih kangen.”

Bu Eni tersenyum lirih, lalu mengusap punggung tangan Dian dengan lembut.

“Ibu juga rindu sama kamu, Nak. Tapi sekarang kamu sudah berumah tangga. Ada suami yang harus kamu dampingi, ada rumah tangga yang perlu kamu jaga,” ucapnya pelan namun penuh makna.

Dian menunduk. Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat di dadanya. Ia tahu nasihat ibunya benar, meski hatinya belum sepenuhnya siap menerima kenyataan yang sedang ia jalani.

“Iya, Bu…” jawab Dian lirih, nyaris tak terdengar. Ia menggenggam tangan ibunya erat, seolah takut kehilangan kehangatan itu begitu saja.

Pukul delapan tepat, suara mobil Pak Wira terdengar berhenti di depan rumah. Dian bergegas keluar kamar, sementara Naya yang sudah terbangun ikut berjalan tertatih kecil di belakang ibunya.

“Nenek pergi?” tanya Naya polos, lalu tiba-tiba merengek ingin ikut.

Bu Eni segera jongkok, mengusap pipi cucunya dengan senyum hangat. “Naya kan anak pintar. Nenek cuma pulang sebentar, nanti kalau Naya sudah besar, nenek ajak main lama-lama ya,” ujarnya lembut sambil memeluk Naya.

Entah bagaimana, rengekan itu perlahan reda. Naya mengangguk kecil, lalu kembali tenang di gendongan Dian.

Dian memeluk ibunya erat sebelum berpisah. “Hati-hati di jalan, Bu,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, kamu juga jaga diri baik-baik, jaga Naya,” balas Bu Eni sambil menepuk bahu putrinya pelan.

Mobil Pak Wira pun melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Dian berdiri cukup lama di ambang pintu, menatap hingga bayangan ibunya menghilang dari pandangan, sementara Naya menyandarkan kepala di dadanya, ikut terdiam seolah ikut merasakan perpisahan itu.

Rumah kembali sepi. Kesunyian itu menekan dada Dian, membuat langkahnya terasa berat. Ia menurunkan Naya perlahan ke lantai, lalu menyodorkan keranjang berisi mainan warna-warni.

“Main dulu ya, Nak,” ucapnya lembut.

Naya mulai membongkar isi keranjang, matanya berbinar setiap kali menemukan mainan favoritnya. Suara mainan yang beradu pelan menjadi satu-satunya pengisi ruangan.

Dian duduk di sofa, menatap kosong ke depan. Pikirannya melayang jauh. Tangannya terangkat, menyentuh pipinya sendiri—bekas jerawat yang belum sepenuhnya hilang terasa jelas di bawah sentuhan jari.

“Aku sepertinya harus libur jualan dulu,” gumamnya lirih. “Pelan-pelan… aku rawat lagi badanku.”

Ia menarik napas panjang. Bukan karena ingin menyerah, tapi karena ia sadar dirinya juga butuh dipulihkan. Demi Naya, dan demi dirinya sendiri.

Dian meraih ponselnya, membuka aplikasi toko oren yang sudah akrab di matanya. Satu per satu ia memilih baju sederhana namun rapi, lalu beralih ke etalase skincare—bukan yang mahal, hanya yang ia tahu cukup untuk merawat dirinya perlahan.

Pesanan dikonfirmasi. Layar ponsel meredup.

Dian tersenyum tipis, lebih kepada dirinya sendiri.

“Pelan-pelan, Dian… kamu pasti bisa kembali seperti dulu,” bisiknya, seolah sedang memberi semangat pada hati yang sempat lelah.

Ia menoleh ke arah Naya yang masih asyik bermain di lantai. Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, Dian bergumam lagi,

“Ayah, lihatlah nanti… perubahan aku.”

Bukan untuk siapa pun, bukan pula untuk membuktikan apa-apa. Hanya sebuah janji kecil pada dirinya sendiri—bahwa ia layak bangkit, layak dirawat, dan layak bahagia.

Lalu Dian beranjak dari duduknya. Ia menoleh sekali lagi memastikan Naya aman bermain dengan keranjang mainannya, lalu melangkah ke luar rumah.

Keranjang pakaian ia angkat, satu per satu baju basah dijemurnya di bawah matahari pagi. Angin berembus pelan, membuat jemuran bergoyang perlahan. Dian bekerja dalam diam, pikirannya masih berkelana, namun tangannya tetap cekatan.

Sesekali ia menoleh ke dalam rumah, memastikan Naya masih di tempatnya. Hatinya terasa lebih tenang—meski lelah belum sepenuhnya pergi, setidaknya pagi itu ia sedang belajar merawat diri dan hidupnya, setahap demi setahap.

Siang itu Dian menidurkan Naya yang sudah mengantuk. Setelah napas putrinya teratur, Dian meraih ponsel. Jemarinya ragu sejenak sebelum akhirnya mengetik pesan untuk suaminya.

Ayah semangat kerja yaaa… aku sama Naya rindu.

Pesan itu terkirim, namun seperti biasa tak ada balasan. Dian menghela napas pelan, lalu meletakkan ponsel di samping bantal. Ia menatap wajah Naya yang polos, hatinya kembali menguat meski perih belum sepenuhnya reda.

---

Di Batam, Bu Minah sibuk di butik langganannya. Deretan kain dan gaun pesta memenuhi ruangan. Hari itu ia melakukan fitting baju untuk pernikahan putra keduanya. Tak hanya untuk dirinya, Bu Minah juga memesan baju untuk Tasya yang kebetulan ikut menemani.

Bu Minah memperhatikan Tasya yang berdiri di depan cermin, gaun lembut membingkai tubuhnya dengan anggun. Di sisi lain, Nuri—calon menantu satunya—tak kalah cantik dengan balutan busana serasi.

Cantik-cantik banget calon mantu aku, batin Bu Minah, matanya berbinar puas.

Tasya dan Nuri kemudian menghampirinya.

“Tan, Tasya suka banget… cantik banget bajunya,” ujar Tasya dengan senyum lebar.

“Iya, sayang. Cocok banget sama kamu yang memang cantik,” jawab Bu Minah penuh kebanggaan.

Lalu pandangannya beralih ke Nuri. “Kamu juga cantik, Nak,” ucapnya lembut.

Keduanya tersenyum, sementara Bu Minah merasa hatinya penuh. Di tengah kesibukan dan kebahagiaan itu, tak terlintas sedikit pun di benaknya tentang Dian—menantu yang kini jauh, sibuk berjuang sendirian di rumah, menjaga anak dan hatinya yang perlahan terluka.

Setelah selesai fitting, perut mereka pun mulai terasa lapar. Sejak pagi berkeliling butik, belum satu pun yang sempat makan dengan tenang.

“Nuur, kamu mau makan di mana?” tanya Tasya sambil bersiap menyalakan mobil.

“Kita ke Grand Mall aja yuk, sekalian belanja,” jawab Nuri santai.

Ia lalu menoleh ke kursi belakang. “Mama mau ikut ke sana, nggak?”

Bu Minah tersenyum puas. “Mama ikut aja,” ujarnya singkat.

Mobil pun melaju meninggalkan butik. Di sepanjang perjalanan, tawa kecil dan obrolan ringan memenuhi kabin. Tasya dan Nuri sibuk membahas menu makanan, baju, hingga rencana pernikahan yang semakin dekat. Bu Minah hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali, wajahnya terlihat begitu puas dan bahagia.

Tak ada rasa canggung, seolah mereka sudah lama menjadi satu keluarga.

Sementara itu, jauh di rumah, Dian masih terlelap di samping Naya, tak tahu bahwa di tempat lain, namanya semakin jarang disebut—bahkan nyaris terlupakan.

Sore itu, Dian memakaikan baju terbaik yang ia punya untuk Naya. Gaun sederhana berwarna pastel membuat putrinya terlihat semakin menggemaskan. Dian sendiri mengenakan baju baru pemberian ibunya kemarin, jilbab yang masih licin dan wangi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menatap pantulan dirinya di cermin agak lama.

“Cantik ya kita, Nak,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis.

Naya tertawa kecil, seolah mengerti.

Ponsel Dian kembali bergetar. Beberapa pelanggan menanyakan apakah ia open jualan hari ini. Dian menarik napas dalam-dalam lalu membalas satu per satu dengan sopan.

> Maaf ya kak, minggu ini Dian libur dulu. Stok juga tinggal sedikit. Minggu depan insyaAllah open lagi.

Ada rasa tidak enak di hati, tapi Dian tahu tubuh dan pikirannya butuh jeda. Ia sudah memutuskan—satu minggu ini ia ingin fokus pada dirinya dan Naya. Tak apa, ia masih punya simpanan. Uang yang tidak diketahui Andi maupun mertuanya. Uang yang untuk pertama kalinya membuat Dian merasa punya pegangan.

Ia menggendong Naya, mengunci pintu rumah, lalu melangkah keluar.

Mereka memilih makan di luar, di tempat yang sederhana namun bersih. Dian menyuapi Naya dengan sabar, sesekali mengelap mulut kecil itu dengan tisu. Melihat anaknya makan lahap, hati Dian terasa hangat.

Selesai makan, Dian masuk ke toko skincare. Ia berdiri di depan rak cukup lama, membaca satu per satu label produk. Tangannya sempat gemetar saat mengambil facial wash dan pelembap.

“Pelan-pelan ya, Dian,” bisiknya pada diri sendiri. “Kamu juga berhak dirawat.”

Ia membayar semua belanjaan, lalu keluar toko dengan perasaan yang aneh—campuran antara takut, bersalah, tapi juga lega. Untuk pertama kalinya, ia melakukan sesuatu bukan untuk menyenangkan mertua, bukan untuk menunggu kabar suami, melainkan untuk dirinya sendiri.

Di perjalanan pulang, Naya tertidur di gendongannya. Dian menatap wajah putrinya yang polos, hatinya menguat.

“Apa pun yang terjadi nanti,” lirih Dian, “ibu harus kuat. Demi kamu.”

Langkahnya mantap menuju rumah, membawa satu tekad baru—meski kecil, tapi nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!